
Hari terus berganti, minggu pun berlalu. Genap sudah sebulan lama nya Angga tertidur dan tak ada yang tahu kapan suami dari Diandra itu akan terbangun dari tidur panjang nya.
Seperti biasa nya, pagi-pagi sekali.. papa Chandra akan datang untuk menemui putri satu-satu nya, menemani nya sarapan pagi sebelum Diandra berangkat untuk kuliah.
Airin yang setiap hari selalu menjemput sahabat nya itu juga sudah berada di sana, dan tak berapa lama di susul Aditya yang selalu siap sedia membawakan sarapan untuk mereka semua.
Semenjak hari itu, hubungan Airin dan Aditya memang terlihat semakin dekat.. namun Aditya belum juga mengungkapkan perasaan hati nya, dan Airin nampak nya tidak mempermasalahkan hal tersebut. Mereka menjalani hubungan seperti air yang mengalir, tenang namun menghanyutkan.
Karena ternyata, diam-diam Aditya telah meminta restu pada orang tua Airin. Awal nya orang tua gadis cantik pujaan hati nya itu memang menolak keinginan Aditya untuk menikahi putri nya di usia muda, apalagi mama Airin adalah seorang dosen yang notabene mementingkan pendidikan untuk putri nya itu.
Namun, demi melihat kesungguhan Aditya,, juga karena pria yang akan melamar putri nya itu terlihat sopan dan juga telah mapan, akhir nya orang tua Airin pun memberikan restu. Tentu dengan syarat, agar Aditya tetap membiarkan putri nya untuk melanjutkan pendidikan meskipun nanti nya mereka berdua telah menikah.
Antara Aditya dan kedua orang tua Airin sepakat, untuk tidak memberitahukan kepada Airin tentang permintaan dan pemberian restu tersebut. Dan nanti, di saat yang tepat.. Aditya akan memberikan kejutan kepada gadis cantik yang telah berhasil mengusik hati nya itu, dengan melamar nya secara spesial.
Kini, mereka semua tengah menikmati sarapan yang telah dibawakan oleh Aditya, dengan duduk lesehan di ruang tunggu,,, ruang perawatan khusus tempat Angga di rawat.
Mereka menikmati sarapan sambil ngobrol dengan hangat, "nak Ditya, kapan hubungan nya dengan nak Airin diresmikan?" Tanya Papa Chandra yang bisa memahami kedekatan kedua nya.
"Secepat nya om, mohon do'a nya," balas Aditya dengan tenang.
"Uhuk,, uhuk,," Airin tersedak makanan, dengan sigap Aditya menyodorkan segelas air putih kepada gadis cantik itu.
"Pelan-pelan aja makan nya," ucap Aditya dengan lembut.
"Bang Ditya sih,, enggak cepat-cepat memperjelas hubungan kalian, enggak enak kali bang di gantung?!" Protes Diandra, karena melihat hubungan kedua nya yang memang sudah sangat dekat namun menurut nya belum ada kejelasan itu.
__ADS_1
"Di,,," bisik Airin seraya cemberut dan wajah nya telah merona.
Sedangkan mama Dewi yang memang telah mengetahui niat baik anak angkat nya itu hanya tersenyum.
Semua orang terdiam tak ada yang bersuara, dan mereka melanjutkan sarapan dalam keheningan.
"Pa, kabar mbak Renny gimana?" Tanya Diandra memecah keheningan.
"Kemarin, dia di jemput oleh keluarga nya dan di pindahkan ke Rumah Sakit Jiwa di Bandung," jawab papa Chandra nampak sendu, bagaimanapun Renny pernah menjadi bagian dari hidup nya.
"Kasihan sekali ya nasib mbak Renny," ucap Airin bersimpati.
"Ya, keserakahan telah mematikan akal sehat dan hati nurani Renny, hingga kemudian menghancurkan hidup nya dengan perlahan- lahan." timpal Aditya, yang mengetahui cerita tentang Renny.
Mereka terus melanjutkan makan, hingga tiba-tiba Diandra berlari terburu-buru menuju kamar mandi. Istri dari Angga itu, memuntahkan semua makanan yang telah masuk kedalam perut nya tanpa sisa. Keringat dingin mengucur membasahi kening nya, dan tubuh nya pun menjadi lemas seketika.
"Kenapa nak?" Tanya bu Rahma nampak cemas, melihat putri nya tengah bersandar di dinding kamar mandi.
"Enggak tahu bu, mungkin Didi masuk angin," balas Diandra seraya hendak keluar.
Bu Rahma pun kemudian membantu menuntun nya untuk keluar dari kamar mandi.
"Kamu makan lagi nak, yang tadi kan keluar semua," titah bu Rahma pada putri nya, seraya hendak menyendok kan kembali makanan ke piring yang baru.
"Tidak bu,, Didi enggak mau makan lagi, rasa nya perut Didi masih mual," tolak Diandra sambil memegangi perut nya dan meremas nya pelan, sesekali nampak dia menutup mulut nya dan menahan nya agar tidak kembali muntah.
__ADS_1
Papa Chandra yang melihat ekspresi putri nya dan wajah putri nya yang memucat, mengerutkan kening.
"Nak, emm... kapan terakhir kali kamu menstruasi?" Tanya papa Chandra sedikit curiga, naluri nya sebagai ayah mengingat kan nya pada kejadian delapan belas tahun silam saat istri nya tengah hamil muda.
Diandra mengernyit, menerka-nerka arah pembicaraan sang papa. Diandra sontak menutup mulut nya, mungkin kah diri nya hamil? Sedangkan dia dan suami nya, hanya melakukan nya sekali saja? ah, tidak bukan sekali, tapi semalaman. Dan Angga melakukan nya berulang-ulang, hingga membuat diri nya lemas dan mengalami kesakitan di area pribadi nya... akibat pengaruh obat perangsang yang diminum suami nya kala itu.
Antara senang, bingung dan sedih, Diandra bersuara, "ya, pa.. Didi sudah telat" jawab nya dengan lemas.
Semua yang mendengar pun turut merasa apa yang di rasa kan Diandra, senang dan sedih bercampur jadi satu.
Papa Chandra yang sudah menyelesaikan sarapan nya sedari tadi, bangkit dan mengambil tas kerja nya yang diletakkan di meja dekat sofa. Nampak papa dari Diandra, yang masih terlihat tampan dan penuh wibawa itu membuka tas kerja nya dan mengambil sesuatu dari dalam sana.
Setelah mendapatkan yang dicari nya, papa Chandra kembali duduk di tempat nya semula dan memberikan sebuah alat tes urine untuk mendeteksi kehamilan pada putri nya. "Nak, cobalah kamu tes," titah papa Chandra pada putri nya itu, untuk meyakinkan praduga nya. Sebagai dokter kandungan, sebenar nya papa Chandra telah yakin bahwa putri saat ini tengah mengandung.
Dengan sedikit ragu, Diandra menerima alat tersebut dari papa nya dan kemudian bergegas menuju kamar mandi.
Cukup lama Diandra berada di kamar mandi, hingga membuat orang-orang yang menanti hasil dari tes nya itu merasa semakin cemas. Mama Dewi nampak berjalan mondar- mandir dan nampak gelisah, begitu pula dengan bu Rahma yang berdiri bersandar pada dinding dengan tangan menengadah keatas memanjatkan do'a.
Sedangkan Aditya dan Airin, kedua nya telah duduk di sofa, bersama papa Chandra yang nampak tenang.. meski jauh di lubuk hati nya terselip rasa kekhawatiran. Papa Chandra khawatir, kehamilan Diandra tidak dapat di terima baik oleh putri nya itu,,, mengingat kondisi Angga saat ini yang masih koma.
Saat semua orang tengah sibuk dengan pikiran nya sendiri, nampak Diandra keluar dari kamar mandi dengan langkah gontai. Wajah nya yang masih terlihat pucat, nampak basah oleh air mata.
"Gimana nak?" Tanya mama Dewi dan bu Rahma dengan tidak sabar.
"Positif,," balas Diandra dengan bibir bergetar sambil menunjukkan testpack dengan dua garis biru tersebut, kepada mama mertua dan ibu angkat nya.
__ADS_1
"Alhamdulillah,," ucap bu Rahma dan mama Dewi bersamaan, seraya menitikkan air mata. Entah itu air mata apa, mereka berdua pun tak mengerti... yang jelas mereka berdua memiliki keyakinan, bahwa Allah pasti punya rencana di balik setiap kejadian. Mungkinkah ini cara Nya, untuk membangunkan Angga yang terlelap dalam tidur panjang nya?