
Sore hari semua bersiap untuk pulang Iin sudah pergi lebih
dahulu menyisakan Arief dan Kiki.
“Hati-hati ya kak” Kiki sudah bersiap diatas motornya.
“Iya kamu juga” Arief memegang helm.
“Jangan lupa nanti malam kita bertemu di kafe x ya kak”
“Hemm.. perlu aku jemput?”
“Tidak perlu kak bertemu disana saja, ya sudah Kiki duluan ya
kak”
“Iya..hati-hati”
Merekapun akhirnya berpisah. Tanpa diduga ada sebuah mobil
yang mengikuti Kiki dari belakang Kiki menyadari jika ada yang mengikutinya
namun dia hanya mengabaikannya dia hanya berharap mobil itu tidak ada maksud
jahat terhadapnya.
Angin jalanan perlahan membelainya bersamaan dengan sang
surya yang kembali ke peraduannya. Tidak terasa dia sudah sampai di depan
kostnya pak Asep dengan sigap membuka gerbang besi itu. Kiki menyapa seperti
biasa.
Tanpa disadari ada sepasang mata dibalik kemudi yang
memperhatikan gadis yang masuk dalam kost itu. Tampak dia tersenyum
menyeringai seperti serigala yang berhasil menemukan mangsanya. Tidak berhenti
disitu cukup lama Ia mengintai sang mangsa memperhatikan keadaan sekitar.
Syukurlah ikut lega
rasanya. Pria itu
berlalu menuju tempat selanjutnya hingga sampai pada sebuah kafe x Ia mengintai
dibalik kemudinya. Azan magrib berkumandang pria itu keluar dari mobilnya menuju
mushola kafe untuk menunaikan sholat magrib. Setelah selesai kembali Ia
terduduk di dalam mobilnya.
20 menit menunggu datang Arief yang memasuki kafe Ia memilih
duduk di bagian sudut kafe. Arief duduk menghadap pintu masuk disusul pria
misterius yang masuk kafe dengan mengenakan hoodie hitam dan topi hitam yang dipakai hingga menutupi wajahnya. Duduk dibelakang Arief.
Tidak berapa lama Kiki muncul Arief melambaikan tangan
menunjukkan letak duduknya. Dari pantulan dinding kaca, pria misterius itu bisa
melihat keadaan sekitar termasuk kedatangan Kiki.
Pelayan datang menghampiri meja Arief dan Kiki menyerahkan
buku menu lalu menuju meja belakang Arief tempat pria misterius itu berada.
“Silahkan mau pesan menu apa kak?” sapa pelayan ramah. Sontak
pria misterius itu menatap tajam pelayan dan memberi isyarat dengan telunjuk
menutup mulutnya seperti mengatakan ku mohon diamlah pelayan bodoh jangan
mengajakku bicara. Sang pelayan menatap dengan heran mengapa ada manusia aneh
seperti ini.
Pria misterius itu asal menunjuk pada buku menu tidak peduli
pada pesanannya Ia hanya ingin fokus pada dua orang itu.
“Ada lagi kak?” lagi-lagi pelayan itu mendapat tatapan tajam
dari sang pria misterius kemudian menutup buku menu dengan kasar dan mengusir
pelayan dengan gerakan tangannya. Pelayan membalas dengan senyum manisnya
berusaha sabar menghadapi pengunjung aneh itu.
Pelayan kembali ke meja Arief dan Kiki. Melakukan hal yang
sama menanyakan pesanan dan mencatatnya dengan seksama pelayan berlalu dari
hadapan mereka selesai dengan urusan menu mereka kembali berbincang banyak hal
yang mereka obrolkan mulai dari urusan pekerjaan hingga hal-hal remeh lainnya.
Tidak berapa lama pelayan kembali dengan membawa pesanan
mereka. Pelayanan meletakkan hidangan di meja Arief dan Kiki yang memesan dua
pasta dan lemon tea serta kue cokat dan greentea.
Pelayan kembali datang lagi menuju meja pria misterius itu
meletakkan sup krim jamur dan minuman rempah. Pria misterius membulatkan
matanya merasa ada yang salah dengan pesanannya ingin Ia berteriak protes namun saat Ia melihat lagi
memang sudah benar sesuai catatan yang dilampirkan saat pelayan menyajikan
makanan.
Cukup lama Ia hanya memandangi hidangannya. Saat sedang
mengaduk minuman dan mencoba meminumnya beberapa teguk Ia reflek menutup
mulutnya karena mual tidak kuat dengan rasa minuman yang sangat pahit. Sekuat
__ADS_1
tenaga Ia menelan minuman itu masuk tenggorokannya. Setelah itu Ia bergidik dan
menjulurkan lidahnya. Sial.. bagaimana
mungkin ada minuman sepahit ini dijual pula bahan apa yang dipakai hingga
rasanya jadi seperti ini ..huekk.. lagi-lagi Ia ingin memuntahkan isi
perutnya jika teringat dengan rasa pahit itu. Saat Ia sibuk dengan dirinya
telinganya terfokus pada suara Kiki yang mulai membicarakan tentang kejadian di
kantor tempo hari.
“Kak sebenarnya aku ingin meminta maaf atas kejadian di
kantor tempo hari lalu..”
“Tidak apa santai saja” Arief tidak terlalu ambil pusing
dengan kejadian itu.
“Maaf ya kak harus melibatkanmu seperti ini aku terpaksa
berbohong agar dia tidak lagi menggangguku”
Apa dia bilang
mengganggu memangnya aku hama.. Yovi mulai geram ingin rasanya Ia berbalik dan membawa Kiki untuk
memberinya pelajaran karena sudah berani berbohong padanya.
“Sebenarnya siapa lelaki itu?”
“Dia..dia..” Kiki nampak gusar beberapa kali meremas jari-jemarinya.
“Hemm” Arief menatap lurus Kiki meminta jawaban.
“Dia..dia..” dia hanya masa laluku kak. Ingin rasanya Kiki mengatakan itu namun lidahnya kelu tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
“Aku tunangannya” Yovi berbalik menuju meja Kiki dan Arief. Pria
misterius itu rupanya Yovi yang diam-diam mengintai mereka. Yovi menaikkan
topinya hingga wajahnya terlihat.
“Yovi.. sedang apa kau disini..?” Kiki panik bagaimana bisa
Yovi berada di tempat yang sama seperti ini apa ini sebuah kebetulan.
“Tentu saja menjemput dirimu sayang mengapa kau malah bersama
dengan lelaki br*ngsek ini” Yovi berapi-api sengaja Ia memancing amarah Arief.
“Beraninya kau menyebutku lelaki br*ngsek” Arief berdiri
tidak terima dengan sebutan itu.
“Bukankah memang itu pantas untuk mu yang dengan sengaja
mengajak tunanganku pergi berduaan seperti ini” Yovi tersenyum remeh menatap
“Sialan!!” Arief menendang kursi hingga terpental.
Para pengunjung melihat keduanya saling adu mulut. Tidak
nyaman dengan suasana seperti itu salah satu pelayan menghampiri ketiganya dan
meminta untuk menyelesaikan masalah mereka diluar kafe. Namun sebelum itu Kiki
membayar terlebih dahulu tagihan mereka, lalu menyeret keduanya keluar kafe.
Arief melepaskan dengan kasar Ia berjalan menuju area parkir.
Menunggu Kiki meminta penjelasan darinya.
“Apa benar yang dikatakan pria gila itu?”
“Apa kau bilang!” Yovi memanas beraninya dia menyebutnya pria
gila.
“Tolong hentikan ini tempat umum apa kalian mau jadi bahan
tontonan” Kiki berusaha melerai.
“Jawab aku Marwa!!” suara Arief mulai meninggi sungguh jika
itu benar tentu akan menurunkan harga dirinya bagaimana mungkin Ia selama ini
menaruh perasaan pada milik orang lain.
“Bukan seperti itu kak, aku dan Yovi hanya..” belum selesai
menjelaskan Yovi sudah menyambar.
“Saya memang benar tunangannya dia kabur seminggu sebelum
pernikahan kami untuk itu saya menyusulnya kesini” Yovi sengaja mengarang
cerita untuk lebih meyakinkan lagi.
“Hah” Arief menganga tak percaya benarkah apa yang dikatakan
lelaki ini.
Kiki membulatkan matanya bagaimana mungkin Yovi mengatakan hal
seperti itu.
“Bagaimana mungkin Marwa punya tunangan sudah lama aku
mengenalnya tidak mungkin hal itu terjadi.. Jangan mengada-ngada anda”
“Kau tidak percaya?”
“Tentu saja aku tidak percaya dasar laki-laki gila” Arief menatap sinis Yovi.
“Kurang ajar” tidak tahan akhirnya Yovi mencengkeram kerah
Arief dan melayangkan bogem mentah mengenai sudut bibirnya. Ariefpun jatuh
__ADS_1
tersungkur.
“Br*ngsek beraninya kau” Arief pun tersulut amarah tidak
terima lalu bangkit membalas dengan meninju pipi Yovi, Ia lalu jatuh
tersungkur.
Bugh..bugh.. bugh.. suara gaduh terdengar dari keduanya
yang saling baku hantam.
Perkelahianpun tak dapat dihindarkan saling pukul dan saling
tendang Arief benar-benar naik pitam Yovi dihajar habis-habisan awalnya Ia
membalas tapi akhirnya pasrah agar kalah dari perkelahian itu untuk mendapatkan
simpati dari Kiki.
Sedari tadi Kiki berusaha melerai keduanya dengan suara
teriakan namun tidak ada yang menggubrisnya hingga akhirnya dia nekat maju
melindungi Yovi yang akan mendapat serangan dari Arief beruntung Arief bisa
menahan tinjunya.
“Sudah-sudah apa-apaan kalian ini ... kumohon hentikan kak”
“Kakak sebaiknya pulang sebelum banyak yang melihat” Kiki
menatap Arief memohon supaya menghentikan perkelahian.
Arief menghela nafas dengan kasar.
“Bangunlah” Kiki menarik tubuh Yovi yang tersungkur dengan
wajah yang banyak luka.
“Tapi kamu bagaimana, aku tidak akan membiarkanmu bersama
lelaki gila ini”
“Tidak apa-apa kak aku akan mengurusnya percayalah padaku, kumohon
pulanglah kak maaf malah jadi kacau begini” Kiki merasa tidak enak karena acaranya
menjadi rusak.
Arief meninggalkan mereka dengan amarah yang memuncak
didadanya. Ia membanting setir dengan kasar melajukan mobil membelah jalanan
meninggalkan keduanya.
“Ayo kita kerumah sakit” perhatian Kiki kembali pada Yovi setelah
melepas kepergian Arief.
“Aku tidak papa” Yovi menolak walaupun terlihat dia meringis
menahan sakit.
“Apa kau bilang..lihat.. apa kau tidak merasakan sakit” Kiki
mengedarkan pandangan dari wajah hingga tangan Yovi yang meninggalkan luka dan
memar.
“Aku lebih sakit saat melihatmu bersamanya”
Kiki menghela nafas..
“Kau tinggal dimana ayo ku antar”
Yovi hanya menggeleng.
“Bukankah seharusnya kau tinggal di penginapan atau
sejenisnya?”
Yovi lagi-lagi menggeleng bohong.
“Aku tidak tinggal dimanapun, sejak datang kesini aku selalu
tidur di mobil” Yovi berkata dengan nada sememelas mungkin.
Kiki menghembuskan nafasnya kasar.
“Dimana mobilmu?”
Yovi menunjuk salah satu mobil yang berjejer rapi di tempat
parkir.
“Mau kemana?”
“Aku akan membawamu ke kost ku untuk mengobati lukamu” Yovi tersenyum licik namun kembali menunjukkan
rasa sakit dan memelas.
“Mana kuncinya biar aku yang membawa mobilmu tidak mungkin
kau menyetir dalam keadaan begini..”
Mereka berjalan menuju mobil hitam itu Kiki sangat lihai
mengemudikan kuda besi itu. Yovi hanya memandangi Kiki bagaimana mungkin melihatnya
menyetir bisa secantik ini, mereka melajukan mobil mengurai jalanan ibukota
yang cukup padat..
***
Selamat membaca...
Maaf jika ceritanya kurang menarik..
Baru belajar.. Mohon dukungannya kakak-kakak..
__ADS_1