Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Yovi vs Arief


__ADS_3

Sore hari semua bersiap untuk pulang Iin sudah pergi lebih


dahulu menyisakan Arief dan Kiki.


“Hati-hati ya kak” Kiki sudah bersiap diatas motornya.


“Iya kamu juga” Arief memegang helm.


“Jangan lupa nanti malam kita bertemu di kafe x ya kak”


“Hemm.. perlu aku jemput?”


“Tidak perlu kak bertemu disana saja, ya sudah Kiki duluan ya


kak”


“Iya..hati-hati”


Merekapun akhirnya berpisah. Tanpa diduga ada sebuah mobil


yang mengikuti Kiki dari belakang Kiki menyadari jika ada yang mengikutinya


namun dia hanya mengabaikannya dia hanya berharap mobil itu tidak ada maksud


jahat terhadapnya.


Angin jalanan perlahan membelainya bersamaan dengan sang


surya yang kembali ke peraduannya. Tidak terasa dia sudah sampai di depan


kostnya pak Asep dengan sigap membuka gerbang besi itu. Kiki menyapa seperti


biasa.


Tanpa disadari ada sepasang mata dibalik kemudi yang


memperhatikan gadis yang masuk dalam kost itu. Tampak dia tersenyum


menyeringai seperti serigala yang berhasil menemukan mangsanya. Tidak berhenti


disitu cukup lama Ia mengintai sang mangsa memperhatikan keadaan sekitar.


Syukurlah ikut lega


rasanya. Pria itu


berlalu menuju tempat selanjutnya hingga sampai pada sebuah kafe x Ia mengintai


dibalik kemudinya. Azan magrib berkumandang pria itu keluar dari mobilnya menuju


mushola kafe untuk menunaikan sholat magrib. Setelah selesai kembali Ia


terduduk di dalam mobilnya.


20 menit menunggu datang Arief yang memasuki kafe Ia memilih


duduk di bagian sudut kafe. Arief duduk menghadap pintu masuk disusul pria


misterius yang masuk kafe dengan mengenakan hoodie hitam dan topi hitam yang dipakai hingga menutupi wajahnya. Duduk dibelakang Arief.


Tidak berapa lama Kiki muncul Arief melambaikan tangan


menunjukkan letak duduknya. Dari pantulan dinding kaca, pria misterius itu bisa


melihat keadaan sekitar termasuk kedatangan Kiki.


Pelayan datang menghampiri meja Arief dan Kiki menyerahkan


buku menu lalu menuju meja belakang Arief tempat pria misterius itu berada.


“Silahkan mau pesan menu apa kak?” sapa pelayan ramah. Sontak


pria misterius itu menatap tajam pelayan dan memberi isyarat dengan telunjuk


menutup mulutnya seperti mengatakan ku mohon diamlah pelayan bodoh jangan


mengajakku bicara. Sang pelayan menatap dengan heran mengapa ada manusia aneh


seperti ini.


Pria misterius itu asal menunjuk pada buku menu tidak peduli


pada pesanannya Ia hanya ingin fokus pada dua orang itu.


“Ada lagi kak?” lagi-lagi pelayan itu mendapat tatapan tajam


dari sang pria misterius kemudian menutup buku menu dengan kasar dan mengusir


pelayan dengan gerakan tangannya. Pelayan membalas dengan senyum manisnya


berusaha sabar menghadapi pengunjung aneh itu.


Pelayan kembali ke meja Arief dan Kiki. Melakukan hal yang


sama menanyakan pesanan dan mencatatnya dengan seksama pelayan berlalu dari


hadapan mereka selesai dengan urusan menu mereka kembali berbincang banyak hal


yang mereka obrolkan mulai dari urusan pekerjaan hingga hal-hal remeh lainnya.


Tidak berapa lama pelayan kembali dengan membawa pesanan


mereka. Pelayanan meletakkan hidangan di meja Arief dan Kiki yang memesan dua


pasta dan lemon tea serta kue cokat dan greentea.


Pelayan kembali datang lagi menuju meja pria misterius itu


meletakkan sup krim jamur dan minuman rempah. Pria misterius membulatkan


matanya merasa ada yang salah dengan pesanannya ingin Ia berteriak protes namun saat Ia melihat lagi


memang sudah benar sesuai catatan yang dilampirkan saat pelayan menyajikan


makanan.


Cukup lama Ia hanya memandangi hidangannya. Saat sedang


mengaduk minuman dan mencoba meminumnya beberapa teguk Ia reflek menutup


mulutnya karena mual tidak kuat dengan rasa minuman yang sangat pahit. Sekuat

__ADS_1


tenaga Ia menelan minuman itu masuk tenggorokannya. Setelah itu Ia bergidik dan


menjulurkan lidahnya. Sial.. bagaimana


mungkin ada minuman sepahit ini dijual pula bahan apa yang dipakai hingga


rasanya jadi seperti ini ..huekk.. lagi-lagi Ia ingin memuntahkan isi


perutnya jika teringat dengan rasa pahit itu. Saat Ia sibuk dengan dirinya


telinganya terfokus pada suara Kiki yang mulai membicarakan tentang kejadian di


kantor tempo hari.


“Kak sebenarnya aku ingin meminta maaf atas kejadian di


kantor tempo hari lalu..”


“Tidak apa santai saja” Arief tidak terlalu ambil pusing


dengan kejadian itu.


“Maaf ya kak harus melibatkanmu seperti ini aku terpaksa


berbohong agar dia tidak lagi menggangguku”


Apa dia bilang


mengganggu memangnya aku hama.. Yovi mulai geram ingin rasanya Ia berbalik dan membawa Kiki untuk


memberinya pelajaran karena sudah berani berbohong padanya.


“Sebenarnya siapa lelaki itu?”


“Dia..dia..” Kiki nampak gusar beberapa kali meremas jari-jemarinya.


“Hemm” Arief menatap lurus Kiki meminta jawaban.


“Dia..dia..” dia hanya masa laluku kak. Ingin rasanya Kiki mengatakan itu namun lidahnya kelu tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.


“Aku tunangannya” Yovi berbalik menuju meja Kiki dan Arief. Pria


misterius itu rupanya Yovi yang diam-diam mengintai mereka. Yovi menaikkan


topinya hingga wajahnya terlihat.


“Yovi.. sedang apa kau disini..?” Kiki panik bagaimana bisa


Yovi berada di tempat yang sama seperti ini apa ini sebuah kebetulan.


“Tentu saja menjemput dirimu sayang mengapa kau malah bersama


dengan lelaki br*ngsek ini” Yovi berapi-api sengaja Ia memancing amarah Arief.


“Beraninya kau menyebutku lelaki br*ngsek” Arief berdiri


tidak terima dengan sebutan itu.


“Bukankah memang itu pantas untuk mu yang dengan sengaja


mengajak tunanganku pergi berduaan seperti ini” Yovi tersenyum remeh menatap


“Sialan!!” Arief menendang kursi hingga terpental.


Para pengunjung melihat keduanya saling adu mulut. Tidak


nyaman dengan suasana seperti itu salah satu pelayan menghampiri ketiganya dan


meminta untuk menyelesaikan masalah mereka diluar kafe. Namun sebelum itu Kiki


membayar terlebih dahulu tagihan mereka, lalu menyeret keduanya keluar kafe.


Arief melepaskan dengan kasar Ia berjalan menuju area parkir.


Menunggu Kiki meminta penjelasan darinya.


“Apa benar yang dikatakan pria gila itu?”


“Apa kau bilang!” Yovi memanas beraninya dia menyebutnya pria


gila.


“Tolong hentikan ini tempat umum apa kalian mau jadi bahan


tontonan” Kiki berusaha melerai.


“Jawab aku Marwa!!” suara Arief mulai meninggi sungguh jika


itu benar tentu akan menurunkan harga dirinya bagaimana mungkin Ia selama ini


menaruh perasaan pada milik orang lain.


“Bukan seperti itu kak, aku dan Yovi hanya..” belum selesai


menjelaskan Yovi sudah menyambar.


“Saya memang benar tunangannya dia kabur seminggu sebelum


pernikahan kami untuk itu saya menyusulnya kesini” Yovi sengaja mengarang


cerita untuk lebih meyakinkan lagi.


“Hah” Arief menganga tak percaya benarkah apa yang dikatakan


lelaki ini.


Kiki membulatkan matanya bagaimana mungkin Yovi mengatakan hal


seperti itu.


“Bagaimana mungkin Marwa punya tunangan sudah lama aku


mengenalnya tidak mungkin hal itu terjadi.. Jangan mengada-ngada anda”


“Kau tidak percaya?”


“Tentu saja aku tidak percaya dasar laki-laki gila” Arief menatap sinis Yovi.


“Kurang ajar” tidak tahan akhirnya Yovi mencengkeram kerah


Arief dan melayangkan bogem mentah mengenai sudut bibirnya. Ariefpun jatuh

__ADS_1


tersungkur.


“Br*ngsek beraninya kau” Arief pun tersulut amarah tidak


terima lalu bangkit membalas dengan meninju pipi Yovi, Ia lalu jatuh


tersungkur.


Bugh..bugh.. bugh.. suara gaduh terdengar dari keduanya


yang saling baku hantam.


Perkelahianpun tak dapat dihindarkan saling pukul dan saling


tendang Arief benar-benar naik pitam Yovi dihajar habis-habisan awalnya Ia


membalas tapi akhirnya pasrah agar kalah dari perkelahian itu untuk mendapatkan


simpati dari Kiki.


Sedari tadi Kiki berusaha melerai keduanya dengan suara


teriakan namun tidak ada yang menggubrisnya hingga akhirnya dia nekat maju


melindungi Yovi yang akan mendapat serangan dari Arief beruntung Arief bisa


menahan tinjunya.


“Sudah-sudah apa-apaan kalian ini ... kumohon hentikan kak”


“Kakak sebaiknya pulang sebelum banyak yang melihat” Kiki


menatap Arief memohon supaya menghentikan perkelahian.


Arief menghela nafas dengan kasar.


“Bangunlah” Kiki menarik tubuh Yovi yang tersungkur dengan


wajah yang banyak luka.


“Tapi kamu bagaimana, aku tidak akan membiarkanmu bersama


lelaki gila ini”


“Tidak apa-apa kak aku akan mengurusnya percayalah padaku, kumohon


pulanglah kak maaf malah jadi kacau begini” Kiki merasa tidak enak karena acaranya


menjadi rusak.


Arief meninggalkan mereka dengan amarah yang memuncak


didadanya. Ia membanting setir dengan kasar melajukan mobil membelah jalanan


meninggalkan keduanya.


“Ayo kita kerumah sakit” perhatian Kiki kembali pada Yovi setelah


melepas kepergian Arief.


“Aku tidak papa” Yovi menolak walaupun terlihat dia meringis


menahan sakit.


“Apa kau bilang..lihat.. apa kau tidak merasakan sakit” Kiki


mengedarkan pandangan dari wajah hingga tangan Yovi yang meninggalkan luka dan


memar.


“Aku lebih sakit saat melihatmu bersamanya”


Kiki menghela nafas..


“Kau tinggal dimana ayo ku antar”


Yovi hanya menggeleng.


“Bukankah seharusnya kau tinggal di penginapan atau


sejenisnya?”


Yovi lagi-lagi menggeleng bohong.


“Aku tidak tinggal dimanapun, sejak datang kesini aku selalu


tidur di mobil” Yovi berkata dengan nada sememelas mungkin.


Kiki menghembuskan nafasnya kasar.


“Dimana mobilmu?”


Yovi menunjuk salah satu mobil yang berjejer rapi di tempat


parkir.


“Mau kemana?”


“Aku akan membawamu ke kost ku untuk mengobati lukamu”  Yovi tersenyum licik namun kembali menunjukkan


rasa sakit dan memelas.


“Mana kuncinya biar aku yang membawa mobilmu tidak mungkin


kau menyetir dalam keadaan begini..”


Mereka berjalan menuju mobil hitam itu Kiki sangat lihai


mengemudikan kuda besi itu. Yovi hanya memandangi Kiki bagaimana mungkin melihatnya


menyetir bisa secantik ini, mereka melajukan mobil mengurai jalanan ibukota


yang cukup padat..


***


Selamat membaca...


Maaf jika ceritanya kurang menarik..


Baru belajar.. Mohon dukungannya kakak-kakak..

__ADS_1


__ADS_2