
Diandra langsung ditangani oleh dokter obgyn atas permintaan Angga, dan suami Diandra itu menceritakan semua yang dialami istri nya ketika dokter wanita itu memeriksa keadaan janin Diandra dengan alat USG.
Nampak dokter wanita tersebut mendengar kan dengan serius, sesekali mengernyit dan kemudian mengangguk-angguk. Dan beberapa saat kemudian tersenyum melihat ke layar monitor yang menampilkan gambar janin dalam rahim Diandra, "semua baik ya mas, mbak.. detak jantung bayi memang sedikit lebih cepat, tapi masih normal. Tolong dijaga ya mas Angga, agar istri nya tidak stress." Ucap dokter tersebut menjelaskan.
"Baik dok," balas Angga tegas.
"Nanti saya resepkan obat penenang khusus untuk ibu hamil, agar mbak Diandra bisa istirahat dengan nyaman." Lanjut dokter wanita tersebut, seraya tersenyum menatap Diandra. "Jangan terlalu dipikirkan kejadian yang menimpa mbak Diandra tadi ya, usahakan agar senantiasa rileks.. agar janin nya tumbuh dan berkembang dengan baik," Bu dokter menasehati Diandra.
Diandra mengangguk, "tapi dok, saya masih khawatir dengan kondisi pasien yang tadi telah menolong saya,,, bagaimana kalau dia tidak bisa di selamatkan dok?" Diandra masih nampak tegang, pasal nya saat di IGD Diandra melihat dokter dan beberapa perawat tengah sibuk keluar masuk ke ruang dimana Seno mendapatkan penanganan pertama. Dan Diandra juga sempat mendengar, bahwa kondisi Seno kritis karena kehilangan banyak darah.
"Pasrahkan semua sama Allah mbak,,, ingat, bahwa semua yang terjadi adalah takdir dari yang Maha Kuasa. Itu murni bukan kesalahan mbak," ucap dokter wanita itu dengan lembut.
"Benar sayang, itu bukan salah kamu.." Angga ikut menenangkan istri nya.
"Iya," balas Diandra singkat dan mencoba untuk tersenyum.
"Ini ya mas Angga, resepnya bisa di tebus di apotik depan," ucap bu dokter seraya memberikan resep kepada Angga.
"Baik dok, terimakasih banyak," ucap Angga sopan.
"Terimakasih dokter, mari," pamit Diandra seraya tersenyum hangat.
"Silahkan mbak, mas," balas dokter obgyn tersebut dengan ramah.
Kedua nya bergegas meninggalkan ruangan dokter obgyn, dan segera menuju ruang ICU.. karena barusan Thomas mengabarkan melalui chat bahwa Seno telah dipindahkan ke sana.
Sedangkan di ruang tunggu khusus pasien ICU, orang tua Seno nampak sudah berada di sana. Ibu nya Seno terus menangis, sementara ayah nya nampak mondar mandir sambil mengurut pelipis nya.
Kakak laki-laki Seno terlihat sibuk melakukan panggilan, sambil sesekali melongok ke dalam ruangan ICU melalui jendela kaca.
Angga dan Diandra menghampiri Thomas, Airin dan Rieke yang nampak berbincang dengan salah seorang dosen. "Di,, lu enggak apa-apa kan? Baby gimana? Semua baik-baik aja kan?" Cacar Airin, dengan banyak pertanyaan.
"Kami baik kok Rin, enggak perlu khawatir," balas Diandra mencoba untuk bersikap tenang.
__ADS_1
"Kabar nya Seno gimana?" Tanya Angga menatap Thomas.
"Masih kritis bang, dia butuh donor darah dan kebetulan stok di Rumah Sakit sini kosong. Dan semua yang ada di sini enggak ada yang cocok, denger-denger sih kakak nya mas Seno lagi cari info di PMI," balas Thomas menjelaskan.
"Emang golongan darah Seno apa?" Tanya Angga.
"B," balas Thomas singkat.
"Tadi pihak kampus juga sudah mengumumkan, barangkali ada mahasiswa kami yang golongan darah nya B. Tapi sampai sekarang belum ada kabar," ucap dosen muda yang bersama sahabat-sahabat Diandra.
Angga mengangguk-angguk, dan buru-buru mengambil ponsel nya. Angga kemudian menelpon seseorang,,, terdengar nada sambung di ponsel nya dan tak berapa lama kemudian panggilan nya di angkat.
"Halo bro,, ada apa?" Terdengar suara Aditya di seberang sana.
"Dit, sekarang juga lu datang ke Rumah Sakit Harapan, yang dekat kampus Airin.. ada yang butuh darah golongan B, siapa tahu cocok. Sekarang ya Dit, pasien kritis," ucap Angga sambil melirik Airin, dan kemudian menutup panggilan nya tanpa menunggu jawaban Aditya di seberang sana.
"Sayang,, kamu tunggu di sini sama mereka ya, aku mau menemui dokter dan keluarga Seno. Siapa tahu darah ku cocok dan bisa di donor kan pada Seno," pinta Angga pada istri nya.
"Iya, mudah-mudahan,," ucap Airin penuh harap.
"Rin, nanti begitu calon suami lu nyampe sini, suruh langsung menemui dokter yang menangani Seno.. biar dia juga di periksa." Ucap Angga, dan kemudian berlalu mendekati keluarga Seno yang kebetulan sedang ada dokter di sana.
"Maaf dok, tadi saya dengar pasien butuh pendonor dengan golongan darah B.. benarkah?" Tanya Angga memastikan.
"Ya, benar mas. Dan sampai saat ini belum dapat pendonor nya, info dari PMI barusan stok nya sedang kosong." Balas dokter tersebut, terlihat sangat khawatir.
Kakak laki-laki Seno juga nampak cemas, netra nya berkaca-kaca. Sedangkan ayah nya, nampak duduk sambil memeluk istri nya yang masih terus menangis sejak tadi.
"Golongan darah saya B dok,,, dan saya bersedia mendonorkan darah saya, barangkali cocok," ucap Angga dengan yakin.
Kakak laki-laki Seno langsung menatap Angga, "benarkah?" Matanya nampak berbinar penuh harap.
Angga mengangguk, dan tersenyum hangat pada laki-laki yang usianya tak jauh beda dengan diri nya itu.
__ADS_1
"Baik mas, mari ikut saya," ucap dokter paruh baya tersebut, sambil berjalan cepat meninggalkan keluarga Seno.
Angga berjalan, mengekor di belakang dokter tersebut.
°°°°°
Sedangkan di kantor polisi, Vera nampak terus meronta dan berteriak.. memaki Diandra dan terus meneriakkan nama Angga dan merutuki kebodohan Seno.
Satpam yang diperintahkan ikut untuk dimintai keterangan, hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Vera.
Dan sampai saat ini, polisi belum bisa melakukan pemeriksaan.. pasal nya pelaku belum bisa dimintai keterangan, Vera masih sering histeris.
Sedangkan korban masih kritis, dan saksi lain belum di panggil karena kasus nya sedang di dalami melalui pemeriksaan rekaman CCTV yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Nampak dua orang petugas kepolisian sedang berbincang sambil menyaksikan rekaman CCTV tersebut, bersama satpam kampus yang pagi tadi bertugas.
Tadi menurut pak Satpam, pelaku bukan mahasiswi di kampus tersebut.. benarkah?" Tanya salah seorang polisi.
"Iya benar ndan, saya tidak pernah melihat pelaku.. dan menurut mahasiswa yang tadi menolong Seno, mereka belum ada yang pernah melihat wanita itu sebelum nya," jawab pak Satpam dengan tegas.
"Coba lihat, mereka keluar dari mobil yang sama. Pelaku nampak berjalan dengan tergesa menghampiri target, tapi korban mengejar nya dan kemudian menyelamatkan target dengan cara mendorong. Dan korban lah yang akhirnya kena tusuk," ucap salah seorang polisi menunjuk gambar adegan yang terekam di CCTV meski agak kurang jelas.
"Itu artinya, pelaku dan korban saling mengenal... ini ni bukti nya, pelaku menangisi korban sambil memeluk nya," ucap petugas yang lain sambil mengernyit.
"Kita bisa mulai penyelidikan dengan memanggil target dan teman-teman nya yang berada di lokasi kejadian," ucap salah seorang polisi, seraya melirik Satpam kampus.
"Apa bapak mengenali mereka?" Tanya petugas yang lain pada Satpam kampus.
"Iya pak, saya tahu mereka," balas Satpam tersebut.
"Kami akan buatkan surat panggilan sebagai saksi kepada mereka, dan tolong kerja sama nya," pinta petugas tersebut.
"Siap ndan," balas Satpam dengan tegas.
__ADS_1