
Hampir dua hari Kiki, bu Imah dan Isa menghabiskan waktunya
di klinik.. jam menunjukkan pukul 08.00 WIB. Kiki duduk di sofa memperhatikan
Isa, Ibu sedang di kamar mandi. Perlahan Isa mulai mengerjapkan matanya,
menggerakkan tangannya dan memanggil ibu dan kakaknya.
“Bu... Ibu” panggil Isa lirih namun tidak ada sahutan.
“Kak.. kak Kiki” suara Isa serak khas bangun tidur Kiki
samar-samar mendengar ada yang memanggil namanya. Ia lalu bangkit menuju sumber
suara itu.
“Iya dek kakak disini.. syukurlah kamu sudah kembali sadar”
Kiki lega melihat adiknya sudah membuka mata.
“Dimana ini kak?” Isa linglung terakhir kali yang di ingatnya
adalah saat dirinya bersiap pulang, mengapa terasa bukan di rumahnya.
“Kita masih di klinik sayang” Kiki berujar lembut.
“Hah” Isa heran mengapa pula ia belum meninggalkan tempat
ini.
“Sudah jangan banyak bergerak” Kiki memperingatkan. Ibu
datang menghampiri mereka.
“Anak ibu sudah bangun” sapa bu Imah lembut. Isa hanya
tersenyum.
Sebelumnya dokter dan suster datang memeriksa kondisi Isa,
kondisinya cukup stabil kemudian dokter menyarankan untuk melepas selang
oksigennya.
“Sebentar kakak panggil dokter dulu” Kiki mencari dokter
untuk memeriksa kembali keadaan Isa.
Dokter datang memeriksa keadaan Isa. Kondisi nya sudah stabil
dan diperbolehkan pulang, mereka lalu bersiap untuk pulang dengan mengendarai
mobil pamannya. Satu jam perjalanan mereka tiba dirumah, Ibu menuntun Isa ke
kamarnya Isa terduduk di tepi ranjang. Isa merasa gerah dan ingin menyegarkan
badannya di bawah guyuran air.
“Bu Isa ingin mandi” pinta Isa pada ibu yang menemaninya
duduk di ranjang.
“Boleh.. tapi biar ibu yang memandikan mu” Ibu khawatir jika
Isa kembali masuk kamar mandi dan melihat genangan air akan seperti saat di
klinik dan Ibu tidak mau hal itu terjadi lagi.
“Bu, memangnya Isa masih TK.. malu lah kalau di mandiin”
protes Isa mengerucutkan bibirnya.
“Bukan begitu sa, kamu mandinya di lap-lap saja ya.” Pinta
ibu agar Isa tak perlu ke kamar mandi.
“Kenapa begitu bu?” Isa tidak mengerti mengapa Ibunya
melarangnya mandi.
“Kata dokter Kamu tidak boleh banyak bergerak sayang. Sebentar
ya ibu siapkan air nya dulu.” Ibu bangkit untuk menyiapkan keperluan mandi Isa
walaupun cuma mandi bebek.
“Benar itu dek kamu itu harus banyak-banyak istirahat.. jangan
bantah kalau di kasih tau!” Kiki tiba-tiba datang dan menimpali ucapan ibu.
Setelah ibu berlalu Kiki mendekati Isa dan duduk di sampingnya memegang tangan
Isa lembut.
“Dek.. kakak minta maaf ya gara-gara kakak kamu harus
menderita begini.” Ucap Kiki penuh penyesalan.
“Tidak perlu meminta maaf kak, kakak tidak sepenuhnya salah..
hanya saja aku kurang hati-hati” Isa tersenyum menatap lekat Kakaknya seperti
mengatakan sudahlah kak jangan menyesali apa yang telah terjadi, sekarang aku
sudah baik-baik saja.
Ibu datang membawa baskom stainles cukup besar yang di isi
air hangat dan diletakkan di nakas sebelah ranjang, lalu menuju lemari Isa
mengambil handuk kecil.
“Ayo sayang airnya sudah siap, sini lepas baju mu” ibu
mendekat dan mengarahkan tangannya untuk melepas baju Isa.
“Bu aku ingin mandi di kamar mandi saja mau keramas biar
seger.” Isa seolah merasakan ada air yang mengguyur di kepalanya membuatnya
bergidik dingin.
“Jangan sayang.. sudah mandi ini saja keburu airnya dingin”
suara ibu sedikit tegas.
“Kamu jangan masuk kamar mandi dulu dek” Kiki ikut mencegah
Isa, lalu beringsut duduk di tepi ranjang. Isa menatap sebal pada kakaknya yang
ikut-ikutan melarangnya masuk kamar mandi.
“Baiklah..” Isa mendengus kesal kalah telak melawan dua
wanita yang sangat berharga di hidupnya itu.
Beberapa saat Isa terdiam tidak lekas menanggalkan pakaian.
Lalu menatap bergantian pada Ibu dan Kiki.
“Nunggu apa dek.. bukannya cepat mandi” Kiki tak sabaran
melihat adiknya yang tak lekas mandi.
“Apa kakak sengaja berlama-lama di kamar ku dan ingin
melihatku mandi?” Isa kesal mengapa kakak nya tidak keluar dari kamarnya.
“Kalau iya kenapa” Kiki menggoda Isa dengan senyum genit dan
memainkan kedua alisnya.
“Keluar kak.. dasar kakak cabul” Isa kesal melempar boneka
beruang yang ada di dekatnya namun Kiki berhasil menghindar.
“Tidak kena.. weeeek” Kiki menjulurkan lidahnya
“Susttt sudah-sudah.. ayo sa keburu dingin nanti airnya..” Ibu
melerai adik kakak yang berjarak 12 tahun itu namun ketika bertemu seperti
tidak ada bedanya.
“Sudah jangan goda adikmu, kamu siapkan sarapan saja sana”
perintah Ibu pada Kiki mengingat mereka baru pulang dari klinik dan belum
membuat sarapan. Setelah membantu Isa mandi ibu keluar untuk melanjutkan
pekerjaan rumah yang lain.
Kiki keluar menyiapkan sarapan untuk mereka. 20 menit
kemudian Kiki masuk kamar Isa membawa sepiring nasi dan sop ayam yang dibawanya
dengan nampan plastik bercorak bunga-bunga itu.
“Ayo dek segera sarapan dan habis itu minum vitamin mu” Kiki
menaruh nampan di nakas.
“Kamu juga harus banyak istirahat, oh iya nanti sore ada
orang yang datang ingin bertemu dengan mu” Kiki memperingatkan adiknya.
“Siapa kak?” Isa penasaran siapa orang itu apa teman-temannya
ingin menjenguk.
“Nanti juga tahu” Kiki merahasiakan kedatangan seorang
psikiater yang akan membantu Isa mengatasi traumanya.
“Kakak tinggal dulu ya, jika butuh sesuatu kamu tinggal
teriak saja nanti kakak akan datang” Kiki keluar meninggalkan Isa menuju
kamarnya sudah beberapa hari ia tidak menghubungi rekan kerjanya.
Di dalam kamar Kiki merebahkan dirinya mengambil ponselnya
untuk menghubungi Iin menanyakan keadaan kantor.
Tut..tut..tut.. suara ponsel tersambung.
Berapa lama menunggu namun tidak ada jawaban Kiki menautkan alisnya
apa Iin sedang sibuk hingga tidak bisa menjawab panggilannya. Lalu ia mencoba
menghubungi Iin kembali lalu terdengar suara di seberang sana.
“Halo In.. apa kamu sedang sibuk” terdengar suara berisik di
seberang sana.
“Halo mba.. iya mba saya lagi di luar, menemani mas Arief
sedang pemotretan di perusahan X” jelas Iin di seberang sana.
“Begitu, ya sudah kalau kamu sedang sibuk nanti aku telpon
lagi.. semangat kerja ya” Kiki menyemangati Iin membayangkan kerepotan seperti
apa yang akan Iin hadapi jika membantu Kak Arief bekerja.
__ADS_1
“Baik mba terimakasih” Iin kembali bertenaga mendapat
suntikan semangat dari Kiki. Kiki lalu menutup panggilannya.
Di Rumah Yovi
Ayah, Ibu dan Yovi sedang berada di ruang keluarga sembari
menonton TV sedangkan adik Yovi sedang berada di luar kota sibuk mengurus
bisnis keluarga. Karena Yovi masih libur
mengajar ia memanfaatkan waktunya untuk bersantai menikmati waktu bersama
orangtuanya.
“Yovi..” panggil ibu pada Yovi yang duduk bersender di sofa
menghadap layar datar itu.
“Iya ma” Yovi hanya menyahut tanpa mengalihkan perhatiannya.
“Ada yang ingin mama sampaikan.. ini mengenai masa depan
kamu” Ibu menyampaikan dengan sehati-hati mungkin. Yovi menautkan alisnya
mengerti arah pembicaraan ibunya itu.
“Yovi.. mama ingin mengenalkan kamu pada seseorang.. dia..”
belum sempat ibu melanjutkan ucapannya Yovi segera menyambar ucapan ibu.
“Cukup ma Yovi tidak mau mendengar apapun lagi..” Ucap Yovi
datar ia tidak mau emosinya terpancing.
“Yovi mama belum selesai bicara kali ini mama mohon kamu
jangan menolak” ibu menghiba pada putra pertamanya ini agar tidak menolak
rencananya.
“Ma sampai kapan mama akan melakukan hal ini.. sudah
berkali-kali Yovi sampaikan Yovi sudah punya pilihan sendiri jadi mama tidak
perlu repot untuk melakukannya.” Yovi menatap tajam ibunya seperti pedang yang
siap membelah apapun di hadapannya.
“Baiklah.. lalu kapan kamu akan mengenalkannya pada mama” Ibu
menantang Yovi sudah lama ia menunggu tapi Yovi tidak kunjung mengenalkan
calon mantu yang di idamkannya.
“Tidak lama lagi Yovi akan membawanya kemari, mama jangan
khawatir” Yovi yakin bisa membawa Kiki kembali menemui ibunya seperti saat 8
tahun yang lalu.
Ayah Yovi hanya terdiam menyaksikan keduanya, ayah Yovi tidak
memihak siapapun karena baginya semua keputusan ada di tangan anaknya karena
anaknya lah yang akan menjalaninya
“Baiklah mama akan sabar menunggu” ibu bangkit berlalu
meninggalkan Ayah dan Yovi.
“Yovi..” Ayah menggeser duduknya agar lebih dekat dan mencoba
bicara pada Yovi.
“Apa ayah juga akan memaksa ku untuk mengikuti permintaan
mama?” Yovi mengira ayahnya akan ikut membujuknya.
“Tidak nak ayah tidak akan memaksamu, mama melakukan ini demi
melindungi mu” Ayah sangat mengerti bahwa ibu melakukan itu untuk kebaikan anaknya.
“Maksud ayah?” Yovi tidak mengerti dengan perkataan Ayahnya.
“Apa kamu tidak tahu kalau mama melakukan ini demi menjaga
harga dirimu.. saat acara peresmian beberapa waktu lalu adikmu meminta izin untuk menikah”
Ayah Yovi akhirnya memberitahukan tentang permasalahan mengapa ibu terus
menyuruhnya untuk menikah.
“Lalu apa hubungannya dengan ku?” Yovi merasa tidak ada
sangkut pautnya dengan rencana pernikahan adiknya.
“Mama mu sangat menjunjung tinggi kepercayaan leluhur, jika
dalam suatu keluarga terdapat adik kakak kemudian adiknya ingin menikah maka
kakaknya harus menikah terlebih dahulu karena jika tidak maka akan terjadi
sesuatu padanya. Karena sekarang terjadi pada keluarga kita dan kebetulan kamu
anak pertama mama ingin kamu terlebih dahulu yang menikah untuk menghindari hal
itu.” Ayah memberi pengertian pada Yovi soal mitos kepercayaan bahwa adik tidak
boleh menikah mendahului kakaknya.
“Tapi yah.. itu bukannya hanya sebuah mitos?” Yovi dengan
pemikiran modernnya menentang hal itu, apakah hal-hal seperti itu masih berlaku
“Semua itu dilakukan hanya untuk mencegah sesuatu yang buruk
terjadi padamu dan juga adikmu nak.” Ayah tidak ingin putra-putranya menerima
sesuatu yang buruk ketika melanggar sebuah kepercayaan,
“Perlu kamu tahu sejujurnya adikmu sudah beberapa kali
meminta izin untuk menikah tapi mama mu selalu mempertimbangkan dengan alasan
untuk menunggumu menikah terlebih dahulu” sejenak Yovi termenung benarkah ia
telah menghalangi adiknya untuk menikah, walaupun hubungan dengan sang adik
tidak begitu dekat tapi ia tidak mau menjadi penghambat kebahagiaan orang
lain bukankah itu terlalu egois.
“Sekarang semuanya terserah padamu, ayah mendukung setiap
keputusanmu hanya saja ayah berharap kamu dapat memikirkan kembali saran mamamu
yang akan mengenalkanmu pada seorang gadis” ayah tidak ingin putra
pertamanya itu menjadi seorang yang egois yang tidak bisa mendengarkan orang
lain.
“Ayah?” Yovi mulai bimbang haruskah ia menerima perjodohan
itu.
“Iya..” Ayah menunggu sepertinya Yovi ingin mengatakan
sesuatu.
“Apa ayah mau mempercayaiku, aku janji akan membawanya dalam
waktu dekat” Yovi berusaha meyakinkan ayahnya untuk menunggu sebentar lagi dan
menunjukkan gadis pilihannya.
“Apa kamu yakin dia gadis yang tepat untukmu, apa dia mau
bersamamu bagaimanapun keadaanmu?” Ayah sedikit menguji keteguhan hati Yovi
bagaimana caranya mempertahankan gadis pilihannya agar nantinya saat berhadapan
dengan orang lain terlebih ibunya tidak akan goyah.
“Apa ayah meragukan gadis pilihanku?” Yovi terlihat cemas
bagaimana nanti jika saat ia membawa Kiki tidak ada yang mau memihaknya.
“Bukan seperti itu nak ayah hanya ingin kau bahagia bersama gadis
pilihanmu siapapun itu dan tidak terus-terusan terbebani dengan mamamu yang berusaha
mengenalkanmu pada gadis pilihannya” Ayah menghela nafas berpikir sejenak.
“Begini saja bagaimana kalau kamu menuruti keinginan mamamu
untuk melegakan hatinya, sekali ini saja.” Ayah memberi sebuah pilihan yang
akan menyelamatkan anaknya.
“Apa ayah menjebakku?” Yovi terlihat kesal dengan ide sang
Ayah bagaimana mungkin saat ia menghindari itu justru di akhir ayahnya meminta
untuk melakukan keinginan ibunya.
“Tidak nak bukan itu maksud ayah.. Ini semata-mata hanya untuk
menghentikan mamamu” Ayah mencoba meyakinkan bahwa dirinya tidak bermaksud
memojokkan Yovi.
“Baiklah.. tunggu.. bukankah jika aku bertemu dengan gadis
pilihan mama artinya aku menyetujui perjodohan konyol ini ayah?” Yovi tersadar
bahwa ide ayahnya sama saja mengantarnya ke jurang bernama perjodohan.
“Haha... mengapa berpikir begitu nak.. bertemu sekali untuk
mengenal satu sama lain tidak ada salahnya kan.. masalah kelanjutannya
bagaimana itu tergantung kalian berdua” Ayah terkekeh bagaimana mungkin Yovi
berpikiran seperti itu.
“Apa ayah bisa menjamin hal itu?” Yovi sedikit mencari
bentengan agar ada yang melindunginya.
“Iya ayah janji.. menemukan jodoh tidak semudah itu asal
ketemu langsung jadi bukankah butuh proses” Ayah tersenyum mencerna pemikiran
pendek putranya ini.
“Haha.. iya ayah benar” Yovi terkekeh dengan pemikirannya
sendiri.
“Jadi keputusannya?” ayah memastikan bahwa Yovi mau melakukan
pertemuan itu.
__ADS_1
“Iya ayah aku akan bertemu dengannya” Yovi tak bersemangat
mengatakan keputusannya.
“Baiklah nanti akan ayah sampaikan pada mamamu, untuk
pertemuannya biar kami yang mengatur” ayah tersenyum menepuk bahu Yovi lalu
bangkit dari duduknya.
“Hemmm” Yovi tersenyum masam mengangguk pelan lalu menatap
ayahnya.
Ayah berlalu menyusul ibu untuk segera memberitahu jika putra
nya mau melakukan pertemuan itu. Yovi termenung dengan keputusannya, apa ia
telah melakukan hal yang benar. Mengingat ucapan sang ayah membuatnya yakin
bahwa apa yang dilakukannya benar. Semua dilakukan untuk melegakan hati ibunya yang selalu ia
tolak ketika membahas soal pernikahan. Sebagai lelaki yang telah mapan dan
matang secara usia wajar bila orang tua menginginkan anaknya untuk menikah
melanjutkan silsilah keluarga.
***
Pukul 13.30 WIB seperti yang dijanjikan sebelumnya seorang
psikiater datang mengunjungi Isa. Di depan rumah Kiki dan ibu telah menunggu
kedatangan Bu Mitha psikiater rujukan dari dokter yang menangani Isa saat di
klinik.
“Mari masuk bu Mitha” Kiki sebelumnya telah menghubungi bu
Mitha sehingga dapat menjadwalkan kedatangannya hari ini.
“Terimakasih atas sambutannya” bu Mitha tersenyum dan sedikit
menyelidik mencari tahu siapa yang akan berkonsultasi dengannya. Kiki paham
dengan tatapan itu.
“Bukan saya yang akan konsultasi bu tapi adik saya, dia
sedang di kamarnya sebentar saya panggilkan” Kiki akan bangkit dari duduknya
namun terhenti.
“Kalau tidak keberatan izinkan saya masuk ke kamarnya, nantinya
kamar itu digunakan untuk ruang konsultasi sekaligus terapi bagi pasien” bu
Mitha meminta dengan sopan.
“Kalau begitu boleh bu.. apa ada yang diperlukan biar saya
siapkan” Kiki mengizinkan kamar Isa digunakan untuk ruang terapi.
“Saat ini belum ada” bu Mitha belum membutuhkan apapun untuk
terapi sesi pertama ini.
“Mohon bantuannya ya bu, besar harapan saya agar putri saya
dapat sembuh dan kembali seperti sedia kala” ibu berharap kedatangan bu Mitha
dapat membantu kesembuhan Isa.
“Baik.. saya akan berusaha semampu saya” bu Mitha.
Kiki sengaja mengundang psikiater selepas mereka meninggalkan
klinik agar kondisi isa tidak berlarut-larut dalam keadaan trauma yang menyiksa
itu.
“Mari dokter saya antar ke kamar adik saya” Kiki
mempersilahkan bu Mitha untuk mengikutinya. Ibu bergegas menyiapkan minuman dan
camilan untuk bu Mitha.
“Dek itu tamunya sudah datang” Kiki menatap pelan Isa yang
sedang duduk menyandarkan dirinya di kepala ranjang.
“Siapa kak?” Isa penasaran siapa yang di bawa kakaknya.
“Teman baru kamu” Kiki bersemangat lalu mempersilahkan bu
Mitha masuk kamar Isa.
Namun Isa hanya melihat dihadapannya seorang wanita dewasa yang
berpakaian rapi dengan blazer kotak-kotak berwarna abu-abu itu.
Teman baru apanya.. mengapa kakak membawa
ibu-ibu masuk kamarku.Gumam Isa.
“Kakak tinggal dulu ya.. yang nurut sama beliau” Kiki permisi
meninggalkan mereka.
Psikiater mulai berkenalan dengan Isa, terlihat Isa sedikit
terganggu dengan keberadaan bu Mitha karena menanyakan tentangnya padahal ini
pertama kalinya bertemu. Banyak hal yang ditanyakan mulai dari nama lengkapnya,
nama panggilannya, kegiatan sehari-harinya, dan liburan semester di yang baru
dilakukan.
Ditengah sesi konseling Ibu masuk mengetuk pintu, membawa
nampan yang berisi secangkir teh, segelas air putih dan camilan di dalam toples
lalu menaruhnya di nakas.
“Silahkan di minum bu, maaf hanya sekadarnya” bu Imah
mempersilahkan untuk menikmati sajian. Tiba-tiba Isa mengeluh kepalanya pusing dan
memegangi kepalanya.
“Aduh.. bu kepala Isa pusing.” Ibu memberi segelas air putih
yang dibawanya tadi.
“Minum dulu sayang” Isa menerima gelas dan perlahan meneguk
isinya. Lalu menyerahkan pada ibunya lagi.
“Apa yang terjadi bu” ibu cemas dengan kondisi Isa ia takut
kejadian di rumah sakit akan terulang lagi.
“Ibu jangan khawatir pasien akan baik-baik saja.. itu hanya
respon alami ketika seseorang mengingat kembali kejadian buruk yang pernah
menimpanya apalagi sampai menimbulkan trauma”
bu Mitha menenangkan bu Imah tidak akan terjadi apa-apa pada pasiennya.
“Isa.. coba sekarang pejamkan mata kamu tarik nafas
pelan-pelan ya” bu Mitha memegang bahu Isa, memberi aba-aba. Isa melakukan
sesuai perintah.
“Bagaimana apa sekarang pusing nya sudah berkurang” bu Mitha
memastikan bahwa Isa baik-baik saja.
“Iya bu sudah sedikit berkurang” Ibu dan bu Mitha lega
mendengar jawaban itu.
“Saya rasa cukup untuk hari ini, sesi selanjutnya kita
lanjutkan minggu depan ya terimakasih Isa kamu cukup hebat untuk hari ini” bu
Mitha memuji sikap kerjasama Isa, walau awalnya seperti menolak namun seiring
berjalannya waktu Isa dapat mengikuti sesi konseling dengan baik.
“Jangan lupa istirahat ya, dan jangan terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tidak perlu”
bu Mitha tersenyum dan mengacak rambut Isa.
Setelah menikmati sajian, bu Mitha bergegas pamit pulang dan
bu Imah mengantarnya keluar.
“Bu saya pamit dulu terimakasih atas minumannya” bu Mitha
pamit lalu melangkah keluar kamar di ikuti bu Imah. Lalu di ruang tamu bertemu
dengan Kiki.
“Sudah selesai bu Mitha?” Kiki mengarahkan pandangan pada bu
Mitha dan bangkit dari duduknya.
“Sesi pertama cukup untuk hari ini, untuk membantunya agar
lebih cepat pulih bisa dilakukan dengan terapi mandiri dengan mendengarkan suara air, melihat
pemandangan danau, melihat orang berenang atau menyelam” bu Mitha memberi arahan langkah
selanjutnya yang harus dilakukan untuk membantu kesembuhan Isa.
“Iya bu, saya akan berusaha untuk membantu adik saya
melakukan terapi itu”
“Oh iya sepertinya pasien membutuhkan inhaler karena tadi sempat mengeluh pusing saya khawatir jika ada
sesuatu yang tiba-tiba mengganggu pikirannya bisa membuatnya sesak nafas..
kalau begitu saya pamit dulu.” Bu Mitha menyarankan disediakan inhaler untuk membantu jika Isa merasa
sesak nafas.
“Baiklah bu terimakasih untuk hari ini” Kiki melepas kepergian
bu Mitha.
“Hati-hati bu Mitha” bu Imah mengantar bu Mitha.
Selepas kepergian bu Mita, Kiki dan bu Imah kembali ke dalam
rumah melanjutkan aktivitasnya.
***
__ADS_1
Selamat membaca..
Jangan lupa tinggalkan jejak kakak-kakak..