
Setibanya di rumah sakit tempat sang papa bertugas, sekaligus sebagai salah seorang pemilik nya,, Diandra langsung di tangani oleh papa Chandra bersama dokter Dina, yang diminta khusus oleh papa Chandra untuk menangani persalinan putri nya nanti.
Sebagai seorang ayah papa Chandra merasa tidak akan tega jika harus menangani langsung putri nya saat bertaruh nyawa untuk melahirkan cucu nya, itu sebab nya papa Chandra meminta pada dokter Dina yang sudah teruji sebagai salah satu dokter obgyn terbaik di rumah sakit nya.. untuk melakukan tugas tersebut dan tentu nya di bawah pengawasan papa Chandra langsung.
Diandra dibawa ke ruang khusus persalinan untuk penanganan lebih lanjut, dokter Dina segera memeriksa Diandra untuk memastikan pembukaan leher rahim. "Baru pembukaan empat ya mbak Didi, sabar ya.. kita tunggu beberapa saat lagi," ucap dokter Dina dengan tersenyum hangat.
"Berapa lama lagi dok?" Tanya Angga yang nampak sudah tidak sabar, karena suami Diandra itu tidak tega melihat sang istri yang sedari tadi sering meringis menahan sakit akibat kontraksi yang sudah mulai sering terjadi.
"Tidak bisa di pastikan Ga, karena masing-masing orang berbeda proses nya. Kalau mendengar keterangan kalian barusan, proses pembukaan Didi tergolong cepat. Kita tunggu saja, semoga proses nya di percepat dan di mudahkan," balas papa Chandra mewakili dokter Dina.
Papa Chandra pun mengajak pasangan tersebut untuk berbicara banyak hal, sesekali beliau bercanda untuk mengurai ketegangan putri dan menantu nya yang tengah menanti kelahiran buah hati mereka yang pertama.
Sehingga, meskipun kontraksi itu makin sering terjadi dengan durasi waktu yang semakin cepat.. namun Diandra tidak merasakan sakit yang berlebih, hal itu dikarenakan keberadaan sang papa dan suami tercinta yang pandai mengalihkan perhatian calon ibu muda itu dari ketegangan kelahiran pertama nya.
Dan benar saja, suasana hangat dan segar yang papa Chandra ciptakan mampu membuat putri nya menjadi lebih rileks.. hingga tanpa di sadari Diandra, dokter Dina yang sedari tadi memantau proses pembukaan nya tersenyum dan mengangguk pada papa Chandra. "Hampir lengkap dokter," ucap dokter Dina, memberitahukan pada papa Chandra.
Dua orang perawat yang sudah menyiapkan semua keperluan untuk persalinan Diandra, sudah siaga di dekat ranjang pasien.
Dokter Dina pun telah bersiap, memposisikan kaki Diandra agar siap untuk melakukan persalinan.
__ADS_1
Papa Chandra memberikan support dan mengingatkan kembali pada sang putri, agar melakukan tehnik pernafasan dengan benar sesuai yang telah beliau ajarkan. "Lakukan pernafasan dengan benar nak,, ayo tarik nafas dan hembuskan melalui mulut," ucap papa Chandra sambil mencium kening putri nya.
Sedangkan Angga yang berdiri di samping sang istri, terus menggenggam erat tangan sang istri.. seakan hendak menyalurkan energi nya, untuk membantu istri cantik nya melahirkan buah cinta mereka yang pertama. "Semangat yang, kamu pasti bisa,, kamu pasti kuat. Aku mencintaimu sayang,, sangat mencintaimu," bisik Angga di telinga sang istri, dan mencium bibir istri nya sekilas.
"Nak, jika kontraksi nya datang,, bantu dengan mengejan," bisik papa Chandra, netra coklat nya mulai berembun. Terlintas kembali kenangan nya bersama Diana.. papa Chandra dulu pernah berjanji akan menemani istri nya melahirkan, namun takdir berkata lain. Mereka harus terpisah, oleh orang terdekat nya sendiri hanya karena sebuah status sosial.
Dokter Dina yang telah siap, menuntun Diandra untuk proses selanjut nya. Papa Chandra memalingkan wajah nya, tak mau melihat wajah putri nya yang tengah mengejan dan merasakan sakit yang luar biasa dahsyat.
Angga terus mengusap peluh yang mengalir di kening sang istri, sedangkan netranya sendiri telah banyak mengeluarkan air mata. Ya, pria dewasa suami dari Diandra itu menangis.. dia tak bisa membayangkan, bagaimana rasa sakit yang dialami sang istri saat ini.
Dokter Dina terus memberikan arahan pada Diandra, hingga tak berapa lama suara tangisan bayi yang melengking memenuhi ruang persalinan itu. "Alhamdulillah,, baby boy ya, semua normal dan sehat," ucap dokter Dina dengan tersenyum lebar, dan segera memberikan bayi itu kepada papa Chandra sesuai permintaan rekan kerja nya itu.
Mendengar tangis putra pertama nya, Angga dan Diandra pun mengucap syukur. Angga tak henti menghujani seluruh wajah sang istri dengan ciuman, rasa haru dan bahagia berkumpul menjadi satu dan sulit rasa nya untuk dia lukiskan.
Sedangkan dokter Dina hanya mengulas senyum melihat pasangan orang tua baru itu, dokter obgyn itu tetap melanjutkan tugas nya,, setelah plasenta berhasil di keluarkan dan rahim Diandra telah di pastikan bersih, dokter Dina akan menjahit kembali sayatan di va*gi*na yang tadi dibuat nya.
Dokter Dina tadi melakukan prosedur episiotomi atau gunting va*gi*na untuk mempercepat jalannya proses kelahiran, episiotomi adalah bedah kecil di mana kulit dan otot perineum disayat untuk memperlebar ****** sehingga memudahkan jalan keluarnya bayi saat lahir.
"Aw,, sakit dok," teriak kecil Diandra, saat dokter Dina mulai menjahit luka nya. Diandra mengeratkan genggaman tangan nya dan menggigit bibir bawah nya, menahan sensasi luar biasa akibat jahitan di area sensitif nya.
__ADS_1
Angga menatap wajah istri dengan tatapan yang sulit diartikan, hati nya ikut teriris melihat sang istri merasakan sakit untuk yang kedua kali nya. Angga membisikkan kata-kata manis nya di telinga sang istri, berharap hal itu dapat mengurangi sedikit rasa sakit istri nya.
Dokter Dina telah menyelesaikan tugas nya, dan Diandra dapat bernafas dengan lega.
Perawat kemudian membersihkan tubuh bagian bawah Diandra, mengganti pakaian nya dan memakaikan pembalut khusus melahirkan untuk ibu muda itu.
Tak berapa lama, papa Chandra membawa bayi laki-laki tampan yang sudah bersih itu untuk diberikan kepada ayah nya. "Adzani dulu Ga,," titah papa Chandra.
Angga menerima putra nya dengan perasaan yang membuncah bahagia, sudut mata nya telah basah. Ayah baru itu kemudian mengadzani sang putra di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri dengan suara lirih. Dengan diiringi do'a dalam hati, agar kelak putra nya menjadi anak yang sholih.
Dokter Dina kemudian mengambil bayi itu dari tangan sang ayah, membuka kain yang menutupi tubuh mungil nya dan meletakkan bayi merah itu di atas dada polos sang ibu untuk melatih nya menyusu pada ibu nya. Cukup lama bayi itu mencari-cari dan mencoba menyesap, hingga akhir nya bayi mungil itu berhasil melakukan nya. "Aw,," Diandra terpekik lirih merasakan sakit di pu*ting nya, namun sedetik kemudian ibu muda itu tersenyum bahagia.
Diandra membelai lembut punggung polos putra nya, sambil mengucap puji-pujian pada yang maha kuasa.. air mata bahagia terus mengalir dari sudut mata nya.
Angga mengusap air mata sang istri dengan ibu jari nya, ayah baby boy itu membungkuk.. mencium puncak kepala sang putra, mencium kening istri nya dan berakhir mencium payu*dara sang istri yang tidak di susu oleh putra nya seraya berbisik. "Boy, ayah boleh pinjam yang satu kan?"
Diandra mencubit pipi sang suami, "kakak bicara apa sih, malu tuh sama papa dan bu dokter," protes Diandra.
Dokter Dina memalingkan wajah dan tersenyum kecut, sedangkan papa Chandra tersenyum bahagia menyaksikan kebahagiaan sang putri bersama keluarga kecil nya. "Diana,,, aku berjanji akan menjaga putri dan cucu-cucu kita," gumam nya dalam hati, seraya menyeka air mata nya yang sulit dikendalikan.
__ADS_1