
Jam menunjukkan 13.30 WIB saat Kiki dan Arief kembali setelah
makan siang,, alih-alih bahagia Kiki justru datang dengan wajah yang memerah
seperti menahan marah dengan hembusan nafas kasar ia menghampiri meja kerja
Iin. Iin yang melihat pemandangan seperti itu pun merasa aneh.. bukan wajah
sumringah yang ia lihat justru wajah Kiki yang ditekuk.. Iin menyapa untuk
menenangkan hati Kiki..
“Mba Marwa sudah kembali” sambil menatap heran kearah Kiki..
“Iya.. ini makan siang mu.. maaf membuatmu menunggu ”Kiki
menaruh makanan bungkusan diatas meja..
“Tidak kok mba.. maaf malah merepotkan” jawab Iin merasa
tidak enak hati karena bosnya repot-repot membelikan makanan. Padahal Iin sudah
membawa bekal.. walaupun hanya sepotong roti dan susu kotak namun baginya itu
lebih dari pengganjal untuk menemani makan siangnya.
“Tidak apa-apa santai saja..” jawab Kiki singkat karena masih
menahan kesal di hatinya. Iin yang mengamati Kiki menatap heran ada apa dengan
bos nya ini lalu memberanikan diri untuk bertanya.
“Mba Marwa kenapa, kok wajahnya di tekuk begitu.. apa terjadi
sesuatu?” tanya Iin menyelidik takut terjadi sesuatu dijalan. Kiki hanya
menyahut dengan senyum yang dipaksakan.
“Aku tidak papa-papa kok.. ya sudah aku sholat dulu..” Kiki
berjalan menuju ruangan paling belakang dekat ruang Editing untuk menunaikan sholat meninggalkan Iin yang masih
dipenuhi rasa penasaran.
Tidak berapa lama Arief pun masuk, seperti biasa yang
menampilkan wajah datarnya. Arief memang lelaki yang selalu menunjukkan
keangkuhannya pada wanita. Tak heran jika ia sampai saat ini masih betah
menyendiri. Sejujurnya banyak wanita yang menambakannya namun karena sifatnya
itu membuat wanita lebih baik menahan perasaannya dalam-dalam daripada bernasib
tragis karena dicampakkan.
Iin yang melihat Arief memasuki ruangan berusaha mencari tahu
dengan menanyakan sikap Kiki yang seperti menahan marah, bukannya jawaban yang
melegakan hati Iin hanya mendapat tatapan datar dari lelaki yang memiliki
rambut yang agak gondrong itu.
Saat Arief berjalan melewati meja kerja Iin, tanpa membuang
waktu Iin langsung bertanya pada Arief.
“Mas Arief” kata-kata Iin terjeda “Apa terjadi sesuatu pada
mba Marwa” Iin memang agak sungkan untuk bertanya mengingat Arief adalah orang
yang jarang bicara.. ia hanya akan menjadi aktif seperti burung beo yang pandai
mengoceh saat dihadapan Kiki saja. Mendapat pertanyaan seperti itu Arief
menatap datar Iin tanpa menjawab dan hanya mengendikkan bahunya kemudian
berlalu dari pandangan Iin.
“Dasar bos triplek bisa-bisanya tidak menjawab pertanyaan ku,
malah pergi begitu saja, untung saja dia tampan” ucap Iin yang tanpa sadar
memuji Arief tampan, lalu refleks menutup mulutnya dengan tangan kanannya takut
kalau Arief mendengarnya, bisa habis ia kalau ketahuan mengatakan bosnya
seperti triplek.
Waktu berjalan begitu cepat jam kerja pun sudah usai kini
Kiki, Arief dan Iin bersiap-siap untuk pulang.. Arief menyudahi aktifitasnya
setelah bergelut dengan kameranya kemudian keluar ruangan bersiap untuk
pulang,, sama halnya dengan Kiki yang sudah selesai membereskan ruang wardrobe dan juga ruang make up.. keduanya keluar bersamaan
namun Kiki berada didepan disusul Arief tak jauh di belakangnya.. melihat Kiki
didepannya Arief berusaha menahan Kiki supaya berjalan beriringan dengannya.
“Mawar.. tunggu..” cegah Arief agar Kiki menunggunya kemudian
berjalan bersama. Kiki tak bergeming karena masih kesal dengan Arief ia malah
semakin melebarkan langkahnya untuk menjauh. Seperti biasa sebelum pulang
mereka kumpul di meja Iin untuk mendengar jadwal kegiatan yang akan datang. Iin
dengan sigap membacakan agenda tersebut setelah melihat Kiki dan Arief
mendekat.
“Lusa.. ada pemotretan maternity jam 11 siang di taman kota” jelas Iin pada kedua orang yang ada dihadapannya
itu.
Kiki hanya mengangguk mendengarkan Iin sedangkan Arief datar
seperti biasa. Tanpa basa-basi Kiki menyudahinya dan menyuruh Iin untuk segera
pulang. Rumah Iin tak jauh dari kantor kecil itu.. beruntungnya ia mendapat
kerja yang tak jauh dari tempat tinggalnya sehingga ia hanya perlu menggoes
untuk pulang pergi bersama sepeda kesayangannya itu.
“Oke cukup untuk hari ini..terimakasih untuk kerja kerasmu..
kamu boleh pulang, hati-hati dijalan ya In ingat jangan ngebut dan patuhi rambu
lalu lintas”ucap Kiki memberi petuah pada Iin seperti Ibu yang menasehati
anaknya. Meskipun kadang galak, Kiki sangatlah perhatian pada orang yang dekat
dengannya tak terkeculi pada Iin yang dikenalnya belum lama itu. Iin pun
bergegas merapikan meja kerjanya dan bergegas pulang, menyisakan dua insan yang
larut dalam pikiran masing-masing.
Saat hendak menutup folding
gate, Arief teringat ponakannya yang tengah sakit, ia pun ingin mengajak
Kiki untuk menjenguknya.
“Mawar..” seru Arief pada Kiki yang tahu jika masih kesal
dengannya.. Kiki yang berdiri tidak jauh darinya hanya ber‘hemmm’ ria.
“Hemmmm”jawab Kiki malas.
“Mau ikut aku menjenguk Sherif tidak?”ucap Arief penuh harap
pada Kiki. Mendengar nama anak Kak Santi disebut membuatnya sumringah seketika,
walaupun masih kesal ia menyetujuinya mengalahkan rasa rindu pada bocah
menggemaskan itu sehari saja tak bertemu Kiki merasakan kehilangan dihatinya.
“Baiklah aku ikut, tapi motorku bagaimana kak?” ucap Kiki
bingung menatap motornya, tidak mungkin kesana dengan naik dua motor bukankah
lebih efisien jika pergi bersama pikir Kiki.
“Masalah motor gampang, nanti ku pindahkan ke belakang”ucap
Arief santai.. dibelakang kantor memang terdapat beberapa meter ruang untuk
menaruh barang-barang yang tidak terpakai namun masih cukup untuk memarkirkan
disana.
“Baiklah” jawab Kiki singkat.
Arief melanjutkan kegiatannya menutup folding gate dan bergegas memindahkan motor Kiki ke belakang. Lalu
menyiapkan motornya, kemudian membawa Kiki untuk kerumah kakak iparnya itu.
“Ayo naik..” ajak Arief pada Kiki. Kemudian Kiki naik ke
motor dengan memegangi lengan Arief. Tunggangan berwarna merah itu sangat pas
__ADS_1
dengan Arief sehingga menambah kesan gagah pada dirinya. Motor khas pembalap
yang memiliki kapasitas 250 CC itu membawa keduanya memecah jalanan ibukota
dengan segala kesibukannya.
Keheningan lagi-lagi tercipta dari dua makhluk bumi itu.
Meskipun bukan pertama kali berboncengan dengan Arief tapi ia sangat jarang
menaiki motor yang memiliki dudukan menukik itu. Dia yang bingung harus
bersikap seperti apa saat berboncengan akhirnya memilih untuk memegang kedua
pundak Arief. Karena dudukan yang tidak rata, berulang kali tubuh Kiki merosot
dan menempel bada punggung lebar itu. Ia mencoba menahannya alhasil ia merasakan
pegal pada pinggangnya dan membuatnya frustasi.
Apa bagusnya menaiki
motor ini sih, mengapa kak Arief dari tadi hanya diam saja, apa dia tidak
merasakan pergerakanku. Tidak akan aku menaiki mu lagi wahai motor sialan. Kau
hanya membuat badan ku pegal dan kaki ku kram saja.Umpat Kiki dalam hati menyesali
mengapa harus naik motor yang hanya membuat dirinya tersiksa.
Tahu begini mending
tadi pakai motorku saja. Sungguh ini sangat menyiksa mana rumah kak Santi masih
jauh lagi. Kalau sampai sana aku tidak sanggup jalan bagaimana. Memang hanya motor
matic yang dapat membuat ku nyaman ketika menaikinya.Umpat Kiki lagi-lagi..
Sepanjang jalan menuju rumah kak Santi ia terus mengumpat dan
bersumpah serapah. Arief yang sedari tadi menyadari tingkah Kiki yang tidak
bisa diam hanya tersenyum-senyum sembari menenangkan dadanya yang terus saja
berdebar.
Ditengah perjalanan Kiki mengingatkan Arief untuk membeli
sesuatu, lalu sebelum sampai kerumah kak Santi, Arief dan Kiki mampir ke toko
buah untuk membeli parsel buah bukankah aneh jika menjenguk orang sakit dengan
tangan kosong, pikir Kiki.
Setelah 30 menit berkendara akhirnya Kiki dan Arief telah
memasuki perumahan yang bangunannya terlihat sama, hanya nomer rumah yang
membedakannya. Sampailah di kediaman kak Santi, hunian minimalis dengan
dominasi dinding putih itu sangat cocok dengan pribadi tuan rumahnya yang
simpel namun tetap berkelas.
Kiki turun dari motor dengan tentengan di tangan kirinya
kemudian perlahan meregangkan badannya yang amat pegal itu untungnya tadi
sempat istirahat sejenak saat mampir di toko buah,, jika tidak mungkin benar
dia akan kesusahan untuk berjalan karena otot-otonya telah kaku akibat menahan
beban tubuhnya.
Kemudian kiki mendekati pagar besi yang tingginya diatasnya
lebih sedikit itu, dan perlahan mendorongnya memberi ruang agar si monster
merah dapat menepi dihalaman yang beralaskan paving blok. Ia memutuskan memberi nama motor Arief dengan julukan si
monster merah karena sangat dendam setiap bersamanya selalu membuatnya
tersiksa.. untuk itu setiap akan keluar bersama Arief, tak jarang ia berseteru
hanya karena masalah kendaraan roda dua itu.. ia lebih rela berdebat dengan
Arief daripada membiarkan badannya remuk berkendara dengan motor yang berbobot
satu kwintal lebih itu dan sudah pasti hal itu sering terjadi hampir setiap
hari terutama saat jam makan siang.
Kiki dan Arief telah berdiri diambang pintu, Kiki dengan
seperti pintu depan yang di ketuk, tok..tok..tok lalu berjalan mendekati pintu
tersebut. Diliriknya dari jendela, tengah berdiri dua orang yang tidak asing lagi..
dengan segera kak Santi memutar kunci dan membuka kenop pintu lalu
mempersilahkan masuk.
Ceklek.. Suara pintu dibuka..
“Kalian datang... mari masuk” ajak kak Santi pada keduanya
“Kok tidak bilang kalau mau mampir..” lanjut kak Santi. Namun mereka hanya
terdiam dan mengekor di belakang kak Santi.
Santi menggiring Kiki dan Arief ke ruang keluarga, yang biasa
dia pakai untuk bersantai dan melepas penat setelah seharian kerja. Diruang
yang lumayan luas itu terdapat meja dipet serbaguna diatasnya terpampang TV LED
21 inci. Di kanan kirinya tertata pohon hias yang menambah kesan sejuk. Tidak
lupa terdapat sofa satu set yang berada ditengah ruangan dengan meja bulat yang
terbuat dari kaca didepannya lagi terdapat karpet bulu yang sangat nyaman untuk
menyambut jiwa yang lelah setelah seharian bergelut dengan kesibukan duniawi.
Seperti yang dilakukan Rafi suami kak Santi dan tentunya bersama pangeran kecil
yang tengah tergeletak lemah dipangkuan ayahnya itu.
Saat mendengar mamanya menyebutkan om nya datang, bocah yang
mengenakan setelan piyama dengan corak kartun mobil favoritnya itu tidak peduli
meskipun di dahinya tertempel plester kompres berwarna biru lalu bergegas
bangkit menghamburkan dirinya ke pelukan Arief dan bergantian ke Kiki. Mereka
memposisikan diri duduk berlutut untuk menyambut Sherif.
“Sherif sayang..om Arief datang nih sama tante Marwa” ucap
kak Santi dengan nada lembut.
“Om Alip.. Celif kangen” seru Sherif dengan nada cedalnya
lalu memeluk Arief dengan lengketnya.
Kemudian gantian memeluk Kiki dengan manjanya dan mengatakan
hal yang sama.
“Ate Wawa.. celif juga kangen” ucapnya cedal namun tetap
imut. Kiki membalas perkataan Sherif dengan mengatakan bahwa ia juga merasakan
hal yang sama.
“Iya sayang tante juga kangen sama Sherif.. cepat sembuh yang
anak pintar”seru Kiki sambil mengacak rambut hitam Sherif. Kak Santi dan
suaminya hanya memperhatikan sambil menggelengkan kepala. Mereka bahagia karena
banyak yang menyayangi Sherif.
Rafi kemudian bangkit mengajak Kiki dan Arief untuk berpindah
ke Sofa.. namun hanya Arief yang mengikutinya karena sudah pasti Sherif
menyeret Kiki untuk bermain bersamanya dan benar saja.. koleksi mainan yang
disimpan rapi didalam dipet sudah berhamburan kemana-mana mulai dari keluarga
dinosuarus hingga berbagai jenis mobil-mobilan dikenalkannya pada Kiki. Memang
khas mainan anak laki-laki.
Arief menanyakan kabar kakaknya lalu berbincang ringan
seputar rutinitasnya pekerjaan keduanya. Kak Santi juga tidak tinggal diam..
saat sebelum Arief dan Kiki datang ia tengah berperang didapur menyiapkan makan
malam untuk keluarga kecilnya.
Hidangan makan malam ala kadarnya yang ia siapkan telah
__ADS_1
tersaji di meja makan, Kak Santi gegas mengumpulkan semua orang untuk bergabung
di meja oval itu untuk menyantap makan malam agar tidak keburu dingin.
“Ayah makanan sudah siap.. ayo Arief ikut makan malam” ajak
Kak Santi pada suami dan adik iparnya. Sebenarnya Arief ingin menolak ajakan
kakak iparnya, karena ia berencana untuk mengajak makan malam Kiki diluar saat
pulang dari rumah kakaknya.. namun untuk menghargai karena kakak iparnya telah
lelah memasak maka ia urungkan niatnya itu.
Kak Santi menghampiri Kiki yang masih terjebak di perangkap
anaknya itu.
“Marwa ayo makan malam dulu..sayang biarkan tante makan dulu
ya.. sini main sama mama” pinta Kak Santi pada Sherif karena ia terus-terusan
merekat pada Kiki layaknya prangko.
“Tidak usah kak,, Marwa masih kenyang” tolak Kiki halus
merasa tidak enak karena bertamu diwaktu yang tidak tepat seperti ini. Namun
kak Santi terus membujuk akhirnya Kiki mau bergabung menyusul Arief dan Rafi
yang sudah di ruang makan. Namun ia heran mengapa kak Santi tidak ikut beranjak
malah menemani Sherif bermain sembari merapikan mainan. Kiki pun ragu untuk
melangkah dan terduduk kembali disamping mereka.
“Kak Santi tidak ikut makan?” tanya Kiki. Namun langsung
dijawab cepat oleh Kak Santi.
“Gampang nanti aku nyusul..sudah sana ke meja makan, keburu
dingin makanannya” perintah kak Santi.
Sherif yang menyadari akan kepergian Kiki merengek untuk
ikut..
“Ate mau kemana... celif ikut..” rengeknya pada Kiki.
Kesempatan ini digunakan untuk mengajak Kak Santi turut serta ke meja makan
supaya makan malam bersama-sama.
“Kakak mau makan malam sayang.. sini ikut Ate”ucap Kiki lalu
menggendong Sherif berjalan meja makan. Akibatnya Kak Santi pun mengikuti
mereka dan bergabung ke meja makan. Disana tampak dua pria yang duduk
berdampingan yang sudah menunggu.
Di meja makan sudah tertata dengan rapi sayur capcay, telur
balado dan juga sebakul nasi serta bakwan udang dan jagung. Terdapat piring
yang berisi apel, pear dan juga jeruk sebagai pencuci mulut. Awalnya Kiki
merasa tidak enak namun melihat apa yang tersaji dihadapannya membuat
cacing-cacing didalam sana berdemo meminta jatah.
Kak Santi duduk disamping suaminya, Kiki mendudukan Sherif disebelah
ibunya disusul dirinya yang duduk di sebelah Sherif, sehingga Sherif duduk
diantara Kak Santi dan Kiki. Arief duduk bersebrangan dengan Kiki. Kak Santi
mempersilahkan Arief dan Kiki, untuk menyantap makan malam diawali dengan dirinya
yang melayani suaminya terlebih dahulu..
‘’Ayo Kiki,,Arief silahkan dinikmati makan malamnya, maaf
hanya seadanya.. kalian tidak mengabari sih kalau mau kemari jadinya Kakak
tidak menyiapkan apa-apa..” ucap kak Santi lalu mengambil bakwan udang dan
ditaruh di piring suaminya.
Mendengar hal itu membuat Kiki makin merasa tidak enak karena
sangat membebani pada orang yang dianggapnya sebagai kakak perempuannya itu.
Kiki merasa apa yang tersaji sudah sangat lebih dari cukup. Namun ia tak kuasa
menimpali perkataan kak Santi akhirnya ia hanya membalas dengan senyum manisnya.
Selama menyantap sajian makan malam, Sherif terus saja meminta
Kiki untuk menyuapinya.. rasa manja pada orang yang dianggapnya tante itu semakin
menjadi saat kak Santi ingin menggantikan posisi Kiki. Namun Sherif terus
merengek dan mengancam mogok makan jika bukan Kiki yang menyuapinya.. Santi
yang gemas dengan tingkah anaknya kemudian memberi pengertian pada putra
pertamanya ini bahwa apa yang dia lakukan tidak sopan dan menganggu, karena
Sherif belum sepenuhnya mengerti ucapan ibunya ia hanya membalas dengan
rengekan bahkan menangis karena takut seolah-olah akan dipisahkan dengan Kiki.
Dua lelaki yang menyaksikan drama Sherif hanya bisa menonton
tanpa bisa berbuat apa-apa. Sedangkan tatapan Arief pada Kiki mengandung seribu
arti entah apa yang dipikirkannya.
Selesai makan semua kembali keruang tengah untuk
berbincang-bincang.. Sherif yang sudah tertidur dipangkuan Kiki segera
dipindahkan ke tempat tidurnya.. setelah membawa Sherif, kak Santi bergabung
kembali ke ruang tengah bersamaan dengan itu Arief dan Kiki berpamitan untuk
pulang.
“Kami pulang dulu ya bang, kakak ipar..”pamit Arief pada Rafi
dan Kak Santi. Diikuti Kiki yang berterimakasih sudah diajak makan malam
bersama dan memuji masakan kak Santi.
“Terimakasih jamuan makan malamnya kak Santi.. makanannya
enak hehe”ucap Kiki tulus.
Kemudian Kak Santi dan suaminya mengantar mereka sampai diambang
pintu, Rafi meraih pundak istrinya dan membawa dalam dekapannya. Merasa sudah
merepotkan karena harus menahan Kiki untuk tidak langsung pulang setelah makan
malam akibat ulah Sherif dan juga mengharuskan mereka untuk mencari dan membawa
sesuatu saat menjenguk putranya itu. Kak Santi meminta maaf dan mengingatkan
mereka untuk tidak mengulangi hal itu, Arief dan Kiki boleh datang kapanpun
pintu selalu terbuka lebar, tetapi tidak perlu repot-repot membawa apapun.
“Terimakasih sudah mampir untuk jenguk Sherif.. maaf ya sudah
merepotkan kalian.. datanglah kapanpun kalian mau, Sherif pasti akan senang
jika kalian sering berkunjung selain itu tidak perlu mambawa apapun, melihat
kalian saja Sherif sudah langsung lengket haha” ucap kak Santi tegas diakhiri
dengan tertawa kecil.
Kiki merasa apa yang ia lakukan sama sekali bukan apa-apa
tidak repot sama sekali karena memang keinginannya untuk melakukan itu. Arief
dan Kiki kemudian pamit sekali lagi dan berlalu dari hadapan mereka.
“Tidak repot sama sekali kak.. karena sudah malam kami pamit
pulang dulu ya kak” ucap Kiki. Lalu keduanya menghampiri motor yang terparkir di
garasi samping rumah tersebut. Dan melajukan kembali si monster merah membelah
padatnya jalanan ibukota mengantar Kiki ke tempat tinggalnya. Sedangkan Rafi
dan kak Santi setelah melihat motor berlalu dari pandangannya lekas masuk untuk
segera istirahat, menyusul putra mereka yang tengah dibuai mimpi.
***
Selamat membaca..
__ADS_1