Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Menjenguk Sherif


__ADS_3

Jam menunjukkan 13.30 WIB saat Kiki dan Arief kembali setelah


makan siang,, alih-alih bahagia Kiki justru datang dengan wajah yang memerah


seperti menahan marah dengan hembusan nafas kasar ia menghampiri meja kerja


Iin. Iin yang melihat pemandangan seperti itu pun merasa aneh.. bukan wajah


sumringah yang ia lihat justru wajah Kiki yang ditekuk.. Iin menyapa untuk


menenangkan hati Kiki..


“Mba Marwa sudah kembali” sambil menatap heran kearah Kiki..


“Iya.. ini makan siang mu.. maaf membuatmu menunggu ”Kiki


menaruh makanan bungkusan diatas meja..


“Tidak kok mba.. maaf malah merepotkan” jawab Iin merasa


tidak enak hati karena bosnya repot-repot membelikan makanan. Padahal Iin sudah


membawa bekal.. walaupun hanya sepotong roti dan susu kotak namun baginya itu


lebih dari pengganjal untuk menemani makan siangnya.


“Tidak apa-apa santai saja..” jawab Kiki singkat karena masih


menahan kesal di hatinya. Iin yang mengamati Kiki menatap heran ada apa dengan


bos nya ini lalu memberanikan diri untuk bertanya.


“Mba Marwa kenapa, kok wajahnya di tekuk begitu.. apa terjadi


sesuatu?” tanya Iin menyelidik takut terjadi sesuatu dijalan. Kiki hanya


menyahut dengan senyum yang dipaksakan.


“Aku tidak papa-papa kok.. ya sudah aku sholat dulu..” Kiki


berjalan menuju ruangan paling belakang dekat ruang Editing untuk menunaikan sholat meninggalkan Iin yang masih


dipenuhi rasa penasaran.


Tidak berapa lama Arief pun masuk, seperti biasa yang


menampilkan wajah datarnya. Arief memang lelaki yang selalu menunjukkan


keangkuhannya pada wanita. Tak heran jika ia sampai saat ini masih betah


menyendiri. Sejujurnya banyak wanita yang menambakannya namun karena sifatnya


itu membuat wanita lebih baik menahan perasaannya dalam-dalam daripada bernasib


tragis karena dicampakkan.


Iin yang melihat Arief memasuki ruangan berusaha mencari tahu


dengan menanyakan sikap Kiki yang seperti menahan marah, bukannya jawaban yang


melegakan hati Iin hanya mendapat tatapan datar dari lelaki yang memiliki


rambut yang agak gondrong itu.


Saat Arief berjalan melewati meja kerja Iin, tanpa membuang


waktu Iin langsung bertanya pada Arief.


“Mas Arief” kata-kata Iin terjeda “Apa terjadi sesuatu pada


mba Marwa” Iin memang agak sungkan untuk bertanya mengingat Arief adalah orang


yang jarang bicara.. ia hanya akan menjadi aktif seperti burung beo yang pandai


mengoceh saat dihadapan Kiki saja. Mendapat pertanyaan seperti itu Arief


menatap datar Iin tanpa menjawab dan hanya mengendikkan bahunya kemudian


berlalu dari pandangan Iin.


“Dasar bos triplek bisa-bisanya tidak menjawab pertanyaan ku,


malah pergi begitu saja, untung saja dia tampan” ucap Iin yang tanpa sadar


memuji Arief tampan, lalu refleks menutup mulutnya dengan tangan kanannya takut


kalau Arief mendengarnya, bisa habis ia kalau ketahuan mengatakan bosnya


seperti triplek.


Waktu berjalan begitu cepat jam kerja pun sudah usai kini


Kiki, Arief dan Iin bersiap-siap untuk pulang.. Arief menyudahi aktifitasnya


setelah bergelut dengan kameranya kemudian keluar ruangan bersiap untuk


pulang,, sama halnya dengan Kiki yang sudah selesai membereskan ruang wardrobe dan juga ruang make up.. keduanya keluar bersamaan


namun Kiki berada didepan disusul Arief tak jauh di belakangnya.. melihat Kiki


didepannya Arief berusaha menahan Kiki supaya berjalan beriringan dengannya.


“Mawar.. tunggu..” cegah Arief agar Kiki menunggunya kemudian


berjalan bersama. Kiki tak bergeming karena masih kesal dengan Arief ia malah


semakin melebarkan langkahnya untuk menjauh. Seperti biasa sebelum pulang


mereka kumpul di meja Iin untuk mendengar jadwal kegiatan yang akan datang. Iin


dengan sigap membacakan agenda tersebut setelah melihat Kiki dan Arief


mendekat.


“Lusa.. ada pemotretan maternity jam 11 siang di taman kota” jelas Iin pada kedua orang yang ada dihadapannya


itu.


Kiki hanya mengangguk mendengarkan Iin sedangkan Arief datar


seperti biasa. Tanpa basa-basi Kiki menyudahinya dan menyuruh Iin untuk segera


pulang. Rumah Iin tak jauh dari kantor kecil itu.. beruntungnya ia mendapat


kerja yang tak jauh dari tempat tinggalnya sehingga ia hanya perlu menggoes


untuk pulang pergi bersama sepeda kesayangannya itu.


“Oke cukup untuk hari ini..terimakasih untuk kerja kerasmu..


kamu boleh pulang, hati-hati dijalan ya In ingat jangan ngebut dan patuhi rambu


lalu lintas”ucap Kiki memberi petuah pada Iin seperti Ibu yang menasehati


anaknya. Meskipun kadang galak, Kiki sangatlah perhatian pada orang yang dekat


dengannya tak terkeculi pada Iin yang dikenalnya belum lama itu. Iin pun


bergegas merapikan meja kerjanya dan bergegas pulang, menyisakan dua insan yang


larut dalam pikiran masing-masing.


Saat hendak menutup folding


gate, Arief teringat ponakannya yang tengah sakit, ia pun ingin mengajak


Kiki untuk menjenguknya.


“Mawar..” seru Arief pada Kiki yang tahu jika masih kesal


dengannya.. Kiki yang berdiri tidak jauh darinya hanya ber‘hemmm’ ria.


“Hemmmm”jawab Kiki malas.


“Mau ikut aku menjenguk Sherif tidak?”ucap Arief penuh harap


pada Kiki. Mendengar nama anak Kak Santi disebut membuatnya sumringah seketika,


walaupun masih kesal ia menyetujuinya mengalahkan rasa rindu pada bocah


menggemaskan itu sehari saja tak bertemu Kiki merasakan kehilangan dihatinya.


“Baiklah aku ikut, tapi motorku bagaimana kak?” ucap Kiki


bingung menatap motornya, tidak mungkin kesana dengan naik dua motor bukankah


lebih efisien jika pergi bersama pikir Kiki.


“Masalah motor gampang, nanti ku pindahkan ke belakang”ucap


Arief santai.. dibelakang kantor memang terdapat beberapa meter ruang untuk


menaruh barang-barang yang tidak terpakai namun masih cukup untuk memarkirkan


disana.


“Baiklah” jawab Kiki singkat.


Arief melanjutkan kegiatannya menutup folding gate dan bergegas memindahkan motor Kiki ke belakang. Lalu


menyiapkan motornya, kemudian membawa Kiki untuk kerumah kakak iparnya itu.


“Ayo naik..” ajak Arief pada Kiki. Kemudian Kiki naik ke


motor dengan memegangi lengan Arief. Tunggangan berwarna merah itu sangat pas

__ADS_1


dengan Arief sehingga menambah kesan gagah pada dirinya. Motor khas pembalap


yang memiliki kapasitas 250 CC itu membawa keduanya memecah jalanan ibukota


dengan segala kesibukannya.


Keheningan lagi-lagi tercipta dari dua makhluk bumi itu.


Meskipun bukan pertama kali berboncengan dengan Arief tapi ia sangat jarang


menaiki motor yang memiliki dudukan menukik itu. Dia yang bingung harus


bersikap seperti apa saat berboncengan akhirnya memilih untuk memegang kedua


pundak Arief. Karena dudukan yang tidak rata, berulang kali tubuh Kiki merosot


dan menempel bada punggung lebar itu. Ia mencoba menahannya alhasil ia merasakan


pegal pada pinggangnya dan membuatnya frustasi.


Apa bagusnya menaiki


motor ini sih, mengapa kak Arief dari tadi hanya diam saja, apa dia tidak


merasakan pergerakanku. Tidak akan aku menaiki mu lagi wahai motor sialan. Kau


hanya membuat badan ku pegal dan kaki ku kram saja.Umpat Kiki dalam hati menyesali


mengapa harus naik motor yang hanya membuat dirinya tersiksa.


Tahu begini mending


tadi pakai motorku saja. Sungguh ini sangat menyiksa mana rumah kak Santi masih


jauh lagi. Kalau sampai sana aku tidak sanggup jalan bagaimana. Memang hanya motor


matic yang dapat membuat ku nyaman ketika menaikinya.Umpat Kiki lagi-lagi..


Sepanjang jalan menuju rumah kak Santi ia terus mengumpat dan


bersumpah serapah. Arief yang sedari tadi menyadari tingkah Kiki yang tidak


bisa diam hanya tersenyum-senyum sembari menenangkan dadanya yang terus saja


berdebar.


Ditengah perjalanan Kiki mengingatkan Arief untuk membeli


sesuatu, lalu sebelum sampai kerumah kak Santi, Arief dan Kiki mampir ke toko


buah untuk membeli parsel buah bukankah aneh jika menjenguk orang sakit dengan


tangan kosong, pikir Kiki.


Setelah 30 menit berkendara akhirnya Kiki dan Arief telah


memasuki perumahan yang bangunannya terlihat sama, hanya nomer rumah yang


membedakannya. Sampailah di kediaman kak Santi, hunian minimalis dengan


dominasi dinding putih itu sangat cocok dengan pribadi tuan rumahnya yang


simpel namun tetap berkelas.


Kiki turun dari motor dengan tentengan di tangan kirinya


kemudian perlahan meregangkan badannya yang amat pegal itu untungnya tadi


sempat istirahat sejenak saat mampir di toko buah,, jika tidak mungkin benar


dia akan kesusahan untuk berjalan karena otot-otonya telah kaku akibat menahan


beban tubuhnya.


Kemudian kiki mendekati pagar besi yang tingginya diatasnya


lebih sedikit itu, dan perlahan mendorongnya memberi ruang agar si monster


merah dapat menepi dihalaman yang beralaskan paving blok. Ia memutuskan memberi nama motor Arief dengan julukan si


monster merah karena sangat dendam setiap bersamanya selalu membuatnya


tersiksa.. untuk itu setiap akan keluar bersama Arief, tak jarang ia berseteru


hanya karena masalah kendaraan roda dua itu.. ia lebih rela berdebat dengan


Arief daripada membiarkan badannya remuk berkendara dengan motor yang berbobot


satu kwintal lebih itu dan sudah pasti hal itu sering terjadi hampir setiap


hari terutama saat jam makan siang.


Kiki dan Arief telah berdiri diambang pintu, Kiki dengan


seperti pintu depan yang di ketuk, tok..tok..tok lalu berjalan mendekati pintu


tersebut. Diliriknya dari jendela, tengah berdiri dua orang yang tidak asing lagi..


dengan segera kak Santi memutar kunci dan membuka kenop pintu lalu


mempersilahkan masuk.


Ceklek.. Suara pintu dibuka..


“Kalian datang... mari masuk” ajak kak Santi pada keduanya


“Kok tidak bilang kalau mau mampir..” lanjut kak Santi. Namun mereka hanya


terdiam dan mengekor di belakang kak Santi.


Santi menggiring Kiki dan Arief ke ruang keluarga, yang biasa


dia pakai untuk bersantai dan melepas penat setelah seharian kerja. Diruang


yang lumayan luas itu terdapat meja dipet serbaguna diatasnya terpampang TV LED


21 inci. Di kanan kirinya tertata pohon hias yang menambah kesan sejuk. Tidak


lupa terdapat sofa satu set yang berada ditengah ruangan dengan meja bulat yang


terbuat dari kaca didepannya lagi terdapat karpet bulu yang sangat nyaman untuk


menyambut jiwa yang lelah setelah seharian bergelut dengan kesibukan duniawi.


Seperti yang dilakukan Rafi suami kak Santi dan tentunya bersama pangeran kecil


yang tengah tergeletak lemah dipangkuan ayahnya itu.


Saat mendengar mamanya menyebutkan om nya datang, bocah yang


mengenakan setelan piyama dengan corak kartun mobil favoritnya itu tidak peduli


meskipun di dahinya tertempel plester kompres berwarna biru lalu bergegas


bangkit menghamburkan dirinya ke pelukan Arief dan bergantian ke Kiki. Mereka


memposisikan diri duduk berlutut untuk menyambut Sherif.


“Sherif sayang..om Arief datang nih sama tante Marwa” ucap


kak Santi dengan nada lembut.


“Om Alip.. Celif kangen” seru Sherif dengan nada cedalnya


lalu memeluk Arief dengan lengketnya.


Kemudian gantian memeluk Kiki dengan manjanya dan mengatakan


hal yang sama.


“Ate Wawa.. celif juga kangen” ucapnya cedal namun tetap


imut. Kiki membalas perkataan Sherif dengan mengatakan bahwa ia juga merasakan


hal yang sama.


“Iya sayang tante juga kangen sama Sherif.. cepat sembuh yang


anak pintar”seru Kiki sambil mengacak rambut hitam Sherif. Kak Santi dan


suaminya hanya memperhatikan sambil menggelengkan kepala. Mereka bahagia karena


banyak yang menyayangi Sherif.


Rafi kemudian bangkit mengajak Kiki dan Arief untuk berpindah


ke Sofa.. namun hanya Arief yang mengikutinya karena sudah pasti Sherif


menyeret Kiki untuk bermain bersamanya dan benar saja.. koleksi mainan yang


disimpan rapi didalam dipet sudah berhamburan kemana-mana mulai dari keluarga


dinosuarus hingga berbagai jenis mobil-mobilan dikenalkannya pada Kiki. Memang


khas mainan anak laki-laki.


Arief menanyakan kabar kakaknya lalu berbincang ringan


seputar rutinitasnya pekerjaan keduanya. Kak Santi juga tidak tinggal diam..


saat sebelum Arief dan Kiki datang ia tengah berperang didapur menyiapkan makan


malam untuk keluarga kecilnya.


Hidangan makan malam ala kadarnya yang ia siapkan telah

__ADS_1


tersaji di meja makan, Kak Santi gegas mengumpulkan semua orang untuk bergabung


di meja oval itu untuk menyantap makan malam agar tidak keburu dingin.


“Ayah makanan sudah siap.. ayo Arief ikut makan malam” ajak


Kak Santi pada suami dan adik iparnya. Sebenarnya Arief ingin menolak ajakan


kakak iparnya, karena ia berencana untuk mengajak makan malam Kiki diluar saat


pulang dari rumah kakaknya.. namun untuk menghargai karena kakak iparnya telah


lelah memasak maka ia urungkan niatnya itu.


Kak Santi menghampiri Kiki yang masih terjebak di perangkap


anaknya itu.


“Marwa ayo makan malam dulu..sayang biarkan tante makan dulu


ya.. sini main sama mama” pinta Kak Santi pada Sherif karena ia terus-terusan


merekat pada Kiki layaknya prangko.


“Tidak usah kak,, Marwa masih kenyang” tolak Kiki halus


merasa tidak enak karena bertamu diwaktu yang tidak tepat seperti ini. Namun


kak Santi terus membujuk akhirnya Kiki mau bergabung menyusul Arief dan Rafi


yang sudah di ruang makan. Namun ia heran mengapa kak Santi tidak ikut beranjak


malah menemani Sherif bermain sembari merapikan mainan. Kiki pun ragu untuk


melangkah dan terduduk kembali disamping mereka.


“Kak Santi tidak ikut makan?” tanya Kiki. Namun langsung


dijawab cepat oleh Kak Santi.


“Gampang nanti aku nyusul..sudah sana ke meja makan, keburu


dingin makanannya” perintah kak Santi.


Sherif yang menyadari akan kepergian Kiki merengek untuk


ikut..


“Ate mau kemana... celif ikut..” rengeknya pada Kiki.


Kesempatan ini digunakan untuk mengajak Kak Santi turut serta ke meja makan


supaya makan malam bersama-sama.


“Kakak mau makan malam sayang.. sini ikut Ate”ucap Kiki lalu


menggendong Sherif berjalan meja makan. Akibatnya Kak Santi pun mengikuti


mereka dan bergabung ke meja makan. Disana tampak dua pria yang duduk


berdampingan yang sudah menunggu.


Di meja makan sudah tertata dengan rapi sayur capcay, telur


balado dan juga sebakul nasi serta bakwan udang dan jagung. Terdapat piring


yang berisi apel, pear dan juga jeruk sebagai pencuci mulut. Awalnya Kiki


merasa tidak enak namun melihat apa yang tersaji dihadapannya membuat


cacing-cacing didalam sana berdemo meminta jatah.


Kak Santi duduk disamping suaminya, Kiki mendudukan Sherif disebelah


ibunya disusul dirinya yang duduk di sebelah Sherif, sehingga Sherif duduk


diantara Kak Santi dan Kiki. Arief duduk bersebrangan dengan Kiki. Kak Santi


mempersilahkan Arief dan Kiki, untuk menyantap makan malam diawali dengan dirinya


yang melayani suaminya terlebih dahulu..


‘’Ayo Kiki,,Arief silahkan dinikmati makan malamnya, maaf


hanya seadanya.. kalian tidak mengabari sih kalau mau kemari jadinya Kakak


tidak menyiapkan apa-apa..” ucap kak Santi lalu mengambil bakwan udang dan


ditaruh di piring suaminya.


Mendengar hal itu membuat Kiki makin merasa tidak enak karena


sangat membebani pada orang yang dianggapnya sebagai kakak perempuannya itu.


Kiki merasa apa yang tersaji sudah sangat lebih dari cukup. Namun ia tak kuasa


menimpali perkataan kak Santi akhirnya ia hanya membalas dengan senyum manisnya.


Selama menyantap sajian makan malam, Sherif terus saja meminta


Kiki untuk menyuapinya.. rasa manja pada orang yang dianggapnya tante itu semakin


menjadi saat kak Santi ingin menggantikan posisi Kiki. Namun Sherif terus


merengek dan mengancam mogok makan jika bukan Kiki yang menyuapinya.. Santi


yang gemas dengan tingkah anaknya kemudian memberi pengertian pada putra


pertamanya ini bahwa apa yang dia lakukan tidak sopan dan menganggu, karena


Sherif belum sepenuhnya mengerti ucapan ibunya ia hanya membalas dengan


rengekan bahkan menangis karena takut seolah-olah akan dipisahkan dengan Kiki.


Dua lelaki yang menyaksikan drama Sherif hanya bisa menonton


tanpa bisa berbuat apa-apa. Sedangkan tatapan Arief pada Kiki mengandung seribu


arti entah apa yang dipikirkannya.


Selesai makan semua kembali keruang tengah untuk


berbincang-bincang.. Sherif yang sudah tertidur dipangkuan Kiki segera


dipindahkan ke tempat tidurnya.. setelah membawa Sherif, kak Santi bergabung


kembali ke ruang tengah bersamaan dengan itu Arief dan Kiki berpamitan untuk


pulang.


“Kami pulang dulu ya bang, kakak ipar..”pamit Arief pada Rafi


dan Kak Santi. Diikuti Kiki yang berterimakasih sudah diajak makan malam


bersama dan memuji masakan kak Santi.


“Terimakasih jamuan makan malamnya kak Santi.. makanannya


enak hehe”ucap Kiki tulus.


Kemudian Kak Santi dan suaminya mengantar mereka sampai diambang


pintu, Rafi meraih pundak istrinya dan membawa dalam dekapannya. Merasa sudah


merepotkan karena harus menahan Kiki untuk tidak langsung pulang setelah makan


malam akibat ulah Sherif dan juga mengharuskan mereka untuk mencari dan membawa


sesuatu saat menjenguk putranya itu. Kak Santi meminta maaf dan mengingatkan


mereka untuk tidak mengulangi hal itu, Arief dan Kiki boleh datang kapanpun


pintu selalu terbuka lebar, tetapi tidak perlu repot-repot  membawa apapun.


“Terimakasih sudah mampir untuk jenguk Sherif.. maaf ya sudah


merepotkan kalian.. datanglah kapanpun kalian mau, Sherif pasti akan senang


jika kalian sering berkunjung selain itu tidak perlu mambawa apapun, melihat


kalian saja Sherif sudah langsung lengket haha” ucap kak Santi tegas diakhiri


dengan tertawa kecil.


Kiki merasa apa yang ia lakukan sama sekali bukan apa-apa


tidak repot sama sekali karena memang keinginannya untuk melakukan itu. Arief


dan Kiki kemudian pamit sekali lagi dan berlalu dari hadapan mereka.


“Tidak repot sama sekali kak.. karena sudah malam kami pamit


pulang dulu ya kak” ucap Kiki. Lalu keduanya menghampiri motor yang terparkir di


garasi samping rumah tersebut. Dan melajukan kembali si monster merah membelah


padatnya jalanan ibukota mengantar Kiki ke tempat tinggalnya. Sedangkan Rafi


dan kak Santi setelah melihat motor berlalu dari pandangannya lekas masuk untuk


segera istirahat, menyusul putra mereka yang tengah dibuai mimpi.


***


Selamat membaca..

__ADS_1


__ADS_2