Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Bonchap : Tiga


__ADS_3

Pagi ini, keluarga besar Angga dan Diandra semua nya telah bersiap. Aditya, juga telah siap sedari tadi. Mengenakan stelan jas berwarna putih, pria dewasa itu terlihat tampan dan gagah.


"Sudah siap Dit,, yuk berangkat sekarang," titah mama Dewi sambil berlalu menggandeng tangan putra angkat nya menuju halaman depan.


"Angga dan Didi, apa sudah siap ma. Sedari tadi, Ditya kok enggak lihat mereka berdua?" Tanya Aditya, sambil berjalan mengiringi langkah mama Dewi.


Keluarga yang lain yang sudah bersiap pun ikut mengiringi langkah mama Dewi dan Aditya menuju halaman, dimana mobil yang akan membawa mereka ke rumah Airin telah terparkir berjajar dengan rapi.


"Tadi nya mereka sudah keluar dari kamar, tapi tahu-tahu baby El rewel.. maka nya Didi membawa nya masuk lagi ke dalam kamar, mungkin haus dan mau nyusu ibu nya," balas mama Dewi menerka.


"Mbak Rahma, Didi biar satu mobil sama saya ya?" Pinta mama Dewi, sesampainya mereka di halaman depan.


"Iya jeng, nanti kami sama nak Hanna dan nak Chandra," balas bu Rahma, seraya melirik pasangan yang baru beberapa bulan menikah itu.


Dokter Hanna mengangguk pada ibu mertua nya dan tersenyum hangat, "iya bu, kita satu mobil aja. Karena Robert seperti nya akan ikut di mobil keluarga nak Shinta, bareng sama nak Raka. Ya kan dik?" Dokter Hanna menepuk lembut pundak putra bungsu nya yang pendiam itu.


Robert hanya tersenyum malu-malu, remaja itu memang jarang bersuara.. tapi kalau sama baby El, dia paling jago ngemong nya.


Tak berapa lama, Angga dan Diandra nampak keluar dengan sedikit tergesa. "Maaf, kalian jadi lama menunggu kami," ucap Diandra merasa tak enak hati, pada Aditya.


"Tak mengapa Di, masih ada banyak waktu juga kok. Gimana baby El, apa dia sudah tenang?" Tanya Aditya penuh perhatian, pria dewasa itu memang sangat menyayangi putra nya Angga dan Diandra.


"Kalau sudah siap semua,, ayo kita masuk ke mobil masing-masing," titah opa Win, pada semua keluarga nya. "Mang Diman, apa semua barang seserahan untuk calon mempelai wanita sudah masuk ke dalam mobil Mang Diman semua?" Tanya opa Win memastikan pada sopir setia nya itu.


"Sudah tuan besar," balas Mang Diman mengangguk sopan.


"Hmm,, bagus. Masuk lah ke mobil mamang, hati-hati di jalan," ucap opa Win, sambil berlalu memasuki mobil yang akan dikendarai oleh papa Chandra. Menyusul sang istri yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil bersama sang menantu, dokter Hanna.


Semua nya sudah memasuki mobil masing-masing, Aditya, mama Dewi, Diandra dan baby nya,,, berada dalam satu mobil, yang dikendarai oleh Angga.


Keluarga kecil Shinta bersama Raka dan Robert, berada dalam satu mobil, yang dikendarai oleh Raka. Dan Robert duduk di kursi depan, di samping abang ipar nya Diandra itu.


Iring-iringan mobil calon mempelai laki-laki itu pun melaju perlahan membelah jalanan ibukota, menuju kediaman keluarga mempelai wanita.


°°°°°

__ADS_1


Sementara di kediaman keluarga Herman, keluarga dekat dan kerabat jauh sudah mulai berdatangan untuk ikut menyaksikan prosesi akad nikah saudara mereka.. yaitu Airin, putri bungsu dari pak Herman dan bu Rani.


Sedangkan di kamar pengantin, Airin masih dirias oleh MUA professional dengan ditemani oleh Rieke, sahabat baik nya.


"Rin, lu yang mau nikah.. kok gue yang deg-degan ya," celetuk Rieke memecah kesunyian yang sejenak tercipta, di kamar Airin tersebut.


"Apa mbak nya mau saya rias sekalian, bisa barengan kak nikah nya? Tadi saya lihat, calon nya mbak juga kayak udah enggak sabar kan?" Goda sang MUA, sekilas melirik Rieke yang sedari tadi ada aja yang di bicara kan nya. Dan sedetik kemudian, fokus sang MUA kembali ke wajah calon pengantin untuk menyapukan kembali kuas nya di wajah cantik Airin itu.


"Hehe,, ya jangan dong mbak, kami kan masih kecil," balas Rieke seraya mengangkat kedua alis nya, dan menatap Airin melalui pantulan cermin yang ada di depan Airin.


"Terus menurut lu, gue udah tua.. gitu?!" Protes Airin, tidak terima.


"Lu emang belum tua sih Rin, tapi akan segera tua.. karena suami lu kan tua," balas Rieke terkekeh.


"Sialan lu, ngatain bang Ditya tua," maki Airin, sambil melempar tissue yang diremas-remas nya sedari tadi untuk mengusir rasa gugup nya.


Rieke semakin terkekeh,, sedangkan MUA tersebut hanya tersenyum. "Asyik ya mbak, kalau punya sahabat yang rame kayak mbak Rieke itu," lirih sang MUA, sambil merapikan alat make up nya. Karena pekerjaan nya telah selesai dengan sempurna, dan calon pengantin seperti nya puas dengan hasil karya nya.


"Kadang-kadang sih mbak, tapi seringnya malah bikin pusing kepala.. berisik terus soalnya," balas Airin, melirik sahabat nya yang tengah asyik dengan ponsel di tangan nya.


"Iya kah? Mbak Airin sebaik nya segera ganti baju," titah sang MUA, sambil beranjak mengambil kan kebaya pengantin untuk Airin.


Dengan dibantu sang MUA, calon istri Aditya itupun berganti pakaian.


"Duduk lah mbak, biar saya pakaikan hijab nya," titah sang MUA, mengambil hijab dari tangan Rieke.


Airin patuh, dan duduk dengan hati berdebar di depan cermin rias yang ada di dalam kamar nya. Airin menatap wajah nya sendiri, dan mencoba menyemangati diri nya sendiri agar tidak terlalu gugup.


Tak berapa lama, penampilan Airin telah terlihat sempurna. Mengenakan kebaya modern berwarna putih, dengan hijab warna senada dan hiasan head piece mewah di atas kepala nya.. Airin bagai bidadari di negeri dongeng.


Airin mematut diri di depan cermin, sang MUA tak berhenti menatap dan kagum akan kecantikan serta keanggunan calon pengantin wanita tersebut. Sedangkan Rieke, memutari Airin dengan mulut menganga karena takjub. "Masyaallah Rin, gue benar-benar pangling sama lu Rin. Cantik banget... lu kayak bidadari Rin," puji Rieke dengan tulus.


Airin tersenyum manis, "makasih Rie," balas Airin.


Ceklek,,,

__ADS_1


Terdengar pintu dibuka dari luar, "nak, sudah siap?" Tanya mama Rani melangkah masuk ke dalam kamar putri nya.


Melihat putri nya telah siap, mama Rani langsung memeluk putri nya, "putri kecil ku, kamu cantik sekali... kamu sebentar lagi akan menjadi seorang istri, dan mama berharap kalian akan selalu bahagia dengan pernikahan kalian ini," mama Rani melepaskan pelukan nya.


"Makasih ma, jangan pernah bosan mendo'akan Airin," pinta Airin dengan netra berembun.


Mama Rani menggeleng, "tidak akan pernah nak, seorang mama tidak akan pernah bosan mendo'akan anak-anak nya," balas mama Rani tersenyum hangat, "jangan nangis, ini hari bahagia mu," lanjut nya, dan kemudian menuntun sang putri untuk keluar menuju ruang tamu.. tempat prosesi akad nikah akan berlangsung, karena calon mempelai laki-laki beserta keluarga nya telah hadir beberapa saat yang lalu.


Rike turut mengiringi langkah sahabat nya, menuju tempat prosesi akad nikah.


Mama Rani mendudukkan Airin di samping Aditya, yang duduk di depan pak penghulu. Semua keluarga inti, duduk dengan tertib di ruang tamu tersebut.


Om Heru, adik nya mama Rani kembali membawakan acara untuk akad nikah pagi ini.


Acara demi acara pun mulai berlangsung dengan khidmat dan lancar, hingga tiba di acara yang di nanti-nantikan oleh kedua calon mempelai dan semua yang hadir.


Setelah di persilahkan oleh pembawa acara, pak penghulu mulai mengucap salam dan membacakan khutbah nikah. Selesai dengan khutbah nikah nya, pak penghulu tersebut menanyakan kesiapan calon mempelai laki-laki,, sekedar untuk mengurai ketegangan pemuda yang ada di hadapan nya. "Mas Aditya" sapa pak penghulu membaca identitas calon mempelai laki-laki, "apakah anda benar-benar sudah siap untuk menikah?" Tanya pak penghulu tersebut dengan tatapan teduh nya, dan tersenyum hangat.


Aditya pun mengangguk pasti, "Insyaallah pak, lahir batin saya sudah siap," jawab nya mantab.


"Baiklah, bisa kita mulai ya?" Ucap pak penghulu seraya menjabat era, tangan calon mempelai laki-laki. "Saya nikahkan dan kawinkan engkau, saudara Aditya Pratama bin Doni Pratama dengan Airin Dwi Lestari binti Herman Prokoso, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas murni seberat 100 gram, dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawin nya Airin Dwi Lestari binti bapak Herman Prakoso dengan mas kawin nya yang tersebut, tunai." Ucap Aditya dengan suara tegas dan penuh penghayatan.


"Bagiamana saksi?" Tanya pak penghulu, menoleh kearah papa Chandra dan om Heru, selaku saksi nikah dari kedua mempelai.


"Sah,," jawab papa Chandra dan om Heru bersamaan, yang dibarengi oleh semua yang hadir.


\=\=\=\=\=


Tinggal satu Bonchap.. honeymoon Aditya dan Airin.


Ada kah yang punya destinasi unik untuk honeymoon???


Aku tunggu komen kalian 😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2