
Jum'at siang, seperti yang telah disepakati bersama,, Diandra dan sahabat-sahabat nya berkunjung ke rumah Thomas. Diandra ingin mengikuti pengajian, seperti yang di sampai kan oleh dokter Hanna, mama nya Thomas. Dan Airin serta Rieke turut menemani sahabat nya itu.
Ketika mereka sampai dikediaman Thomas, belum banyak peserta pengajian yang hadir. Jadi mereka masih memiliki waktu untuk bercengkrama terlebih dahulu dengan dokter Hanna.
"Silahkan duduk, nak Didi, Andrew... dan yang cantik-cantik ini siapa?" Mama Thomas menyambut sahabat-sahabat dari putra nya seraya menyalami nya, dan mengajak nya untuk menunggu di ruang keluarga. Ini memang pertemuan mereka untuk yang pertama kali nya, jadi dokter Hanna belum mengenal Airin dan juga Rieke.
Kalau dengan Diandra, memang sudah sering bertemu.. tapi baru kemarin dokter Hanna tahu, bahwa Diandra adalah sahabat putra nya yang bahkan sudah sering di ceritakan oleh Thomas kepada nya. Sedangkan Andrew adalah sahabat lama Thomas, jadi dokter Hanna sudah hafal dengan wajah Andrew.
"Saya Airin tante," ucap Airin mengenal kan diri nya, seraya mencium punggung tangan wanita cantik, mama dari Thomas.
"Saya Rieke tante, sahabat Thomas yang paling baik seantero negeri," dan Rieke seperti biasa,, rame dan nerocos tak karuan.
Dokter Hanna tersenyum bahagia, melihat sahabat-sahabat putra nya yang terlihat tulus dan care satu sama lain.
Mereka ngobrol dengan hangat, hingga tanpa terasa ruang tamu kediaman Thomas itu sudah penuh dengan peserta pengajian. Dokter Hanna lantas mengajak ketiga gadis sahabat dari Thomas untuk bergabung bersama yang lain di ruang tamu, sedangkan Thomas dan Andrew langsung naik ke atas ke kamar Thomas dan tidak ikut pengajian yang emang hanya khusus untuk wanita itu.
Setelah Diandra dan kedua sahabat nya duduk, dokter Hanna nampak berdiri dan menyambut ke kehadiran wanita cantik berhijab seusia dengan dokter Hanna. Mama dari Thomas itu kemudian menuntun tamu tersebut untuk duduk di depan menghadap kepada peserta pengajian.
Seorang wanita berhijab yang nampak lebih muda, dan sudah duduk di depan sana sedari tadi, mulai membuka acara pengajian siang ini di kediaman dokter Hanna. Setelah serentetan acara, di mulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an, tahlil dan juga sambutan sambutan.. acara berikut nya adalah tausiyah.
Wanita cantik berhijab syar'i, yang tadi disambut oleh dokter Hanna ternyata adalah ustadzah yang akan mengisi acara pengajian. Dengan suara lembut tapi tegas, ustadzah mulai mengucap salam dan mengawali ceramah nya dengan puji-pujian kepada Allah Yang Maha Kuasa, serta sholawat kepada Nabi Muhammad utusan Nya.
__ADS_1
Ustadzah yang bernama Azizah tersebut kali ini menyampaikan materi, tentang perjuangan Maryam putri Imran dalam menghadapi kehamilan nya yang tanpa suami.
Semua peserta pengajian, nampak mendengarkan suara merdu ustadzah Azizah dengan khusyuk.
Ustadzah menyampaikan, bahwa ketika Maryam hamil, putri dari Imran itu merasa kesulitan,,, dan Maryam tidak tahu apa yang harus dia katakan pada orang-orang karena dia belum bersuami.
Karena orang-orang pasti tidak akan percaya dengan cerita Maryam, bahwasanya dia hamil atas kuasa Allah,,, meskipun Maryam bercerita dengan sejujur-jujur nya.
Tapi Maryam percaya dengan takdir Nya, dan memasrahkan diri sepenuh nya pada kuasa Allah. Maka, Allah kemudian memudahkan kepada Maryam dalam menghadapi orang-orang yang menghujat nya.
Diandra yang dengan khusyuk mendengarkan tausiyah tersebut, menundukkan kepala nya dalam. Dia merasa sangat menyesal,,, karena diri nya sempat tidak menginginkan kehadiran janin dalam rahim nya.
Harus nya dia bersyukur, atas anugerah yang telah Allah berikan kepada nya.. sedangkan di luar sana, banyak sekali pasangan suami istri yang sudah sangat lama menikah namun belum juga mendapatkan amanah dari Allah yang berupa anak.
Tanpa dia sadari, bulir bening menetes membasahi pipi putih nya. Diandra terus larut dalam pikiran nya, hingga tausiyah dari ustadzah Azizah berakhir.
Setelah menikmati hidangan yang disajikan pihak tuan rumah, peserta pengajian yang terdiri dari ibu-ibu dan remaja putri itupun berpamitan pada dokter Hanna selaku tuan rumah. Begitupun dengan ustadzah Azizah, wanita cantik berhijab syar'i itupun ikut pamit, karena masih harus mengisi ceramah di tempat lain.
Sepeninggal ustadazah Azizah, Mama dari Thomas itu kemudian mengajak sahabat-sahabat dari putra nya untuk kembali ke ruang keluarga. Dan setelah di panggil oleh sang mama, Thomas dan Andrew pun segera turun dan ikut bergabung bersama Diandra dan yang lain nya di ruang tersebut.
"Tante dokter,," panggil Diandra dengan suara pelan.
__ADS_1
"Iya nak Didi, ada apa?" Tanya dokter Hanna lembut, dan menatap hangat Diandra.
"Didi pengin memakai hijab seperti tante dokter," ucap Diandra dengan mantap.
Sejenak dokter Hanna tertegun, namun sedetik kemudian dokter itu mengucap syukur, "Alhamdulillah,," ucap nya penuh haru.
"Apa nak Didi sudah mantap? Dan sudah memikirkan nya matang-matang? Maaf, jika boleh tahu.. apa motif nak Didi ingin menutup aurat dengan memakai hijab?" Cecar dokter Hanna dengan banyak pertanyaan, mama dari Thomas itu tidak ingin.. Diandra hanya terbawa emosi saja, ataupun hanya karena keinginan sesaat sehingga memutuskan untuk berhijab.
Diandra mengangguk mantap, "ya, tante dokter.. Didi sudah mantap. Ibu Didi, bu Rahma juga berhijab dan beliau sudah sering mengingatkan pada kami anak-anak nya agar menutup aurat. Tapi entahlah tante, baru kali ini Diandra merasa benar-benar yakin untuk menutup aurat dengan mengenakan hijab." Jelas Diandra penuh keyakinan.
"Perlu nak Didi tahu, menutup aurat adalah kewajiban bagi setiap muslimah. Dan berhijab itu bukan hanya sekedar mengikuti trend dalam berbusana, sehingga dapat di buka tutup sesuka hati."
"Jika sudah memutuskan untuk berhijab, hendaklah dapat istiqomah,,, dimana pun kita berada, kita harus selalu mengenakan nya. Insyallah dengan memakai hijab, itu akan menjadi pengingat bagi diri kita sendiri untuk tidak melakukan perbuatan yang melanggar syari'at Islam."
Diandra mengangguk-angguk, dia benar-benar sudah mantap untuk berhijab. Kejadian yang menimpanya beberapa waktu terakhir, membuat nya yakin bahwa semua yang terjadi pada nya adalah campur tangan Nya.
Dan siang ini, adalah awal titik balik bagi diri nya. Diandra ingin berubah dan bisa menjadi manusia yang senantiasa bersyukur seperti yang selalu diajarkan sang ibu dan Diandra ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi... bukan manusia yang selalu mengeluh dan mengingkari takdir Yang Maha Kuasa.
Airin dan Rieke yang ikut mendengarkan perkataan dokter Hanna tertunduk, kedua gadis cantik itu sibuk dengan pikiran nya sendiri.
Sedangkan Thomas tersenyum bahagia, melihat Diandra mulai semangat kembali dalam menjalani hidup... setelah sempat terpuruk ketika tahu bahwa diri nya tengah mengandung, disaat sang suami masih terbaring dalam keadaan koma.
__ADS_1