
Pukul 19.00 WIB Yovi dan kedua orangtuanya bersiap menuju
restoran di sebuah mall yang telah dipilih untuk pertemuan dengan gadis pilihan
ibunya. Yovi berada di balik kemudi ibunya duduk di bangku samping. Ayahnya
duduk di bangku belakang.
Keluarga gadis sudah menunggu didalam restoran, karena akhir
pekan menyebabkan jalanan macet hingga mereka datang sedikit terlambat. Saat
akan bergabung menghampiri keluarga sang gadis Yovi merasa tidak asing dengan
gadis yang akan ditemuinya Ia berbisik pada ibunya.
“Ma.. apa kita tidak salah orang” bisik Yovi pada mama yang berada
3 meter dari meja keluarga sang gadis berada.
“Maksud kamu?” ibu Yovi menautkan alisnya mengapa Yovi bertanya
demikian.
“Apa mama yakin kita mendatangi keluarga yang benar?” tanya
Yovi lagi
“Iya sayang memang benar itu keluarga yang akan kita temui
dan lihat gadis itu dia yang akan mama kenalkan padamu, apa ada masalah?”
“Aaa tidak ada ma” Yovi tersenyum masam.
“Ya sudah ayo” ajak ibu menatap Yovi dan ayah
bergantian. Sampailah mereka didepan meja keluarga gadis itu.
“Halo jeng maaf ya kami terlambat maklum jalanan macet haha”
bu Yovi berbasa-basi memeluk ibu gadis itu dan cium pipi kanan kiri.
“Iya jeng tidak papa kami juga belum lama, mari silahkan
duduk” ibu gadis itu mempersilahkan Yovi dan kedua orangtuanya duduk di seberang
mereka.
“Vika ayo sapa om dan tante” ibu vika menyikut pelan Vika yang
duduk di sampinya sedari tadi ia hanya menunduk memainkan ponselnya tidak
menyadari kehadiran Yovi.
“Halo om tante.. loh.. pak Yovi” sapa Vika ramah ia terkejut
kenapa Yovi tiba-tiba ada di hadapannya.
Ibu dan Ayah Yovi tersenyum ramah memandangi Vika.
“Halo bu Vika” sapa Yovi ramah.
“Sebentar.. kalian saling kenal” ibu Yovi menunjuk Yovi dan
Vika bergantian.
“Haha iya begitulah” mendengar jawaban Yovi para orangtua
saling memandang, terkejut ternyata Yovi dan Vika sudah saling kenal.
“Iya tante, pak Yovi rekan kerja Vika di sekolah” Vika mempertegas bahwa dirinya dan Yovi sudah
saling kenal.
“Baguslah kalau begitu, iya nggak jeng hehe” ibu Vika tertawa
kecil selama ini Vika tidak pernah memberi tahu bahwa yang sering diceritakan
pada dirinya adalah Yovi. Yovi tersenyum masam.
Setelah selesai makan malam dan berbincang mereka sengaja
meninggalkan Yovi dan Vika dengan alasan ingin melihat pameran di mall
tersebut.
Untuk pertama kalinya mereka hanya berdua dan sedekat ini
jika biasanya hanya saling bertegur sapa sambil lalu kali duduk berdua
berhadapan membuat rasa canggung tidak terhindarkan lagi selepas kepergian
orangtua masing-masing hanya tersisa keheningan dan saling curi pandang satu
sama lain.
“Vika saya mau minta maaf atas kejadian tempo hari, saya tidak
bermaksud berbuat demikian” Yovi memecah keheningan dengan meminta maaf atas
sikapnya saat pulang dari kondangan anak pak kepala sekolah.
Apa tadi aku tidak
salah dengar pak Yovi memanggil nama ku tanpa kata ‘bu’.Gumam Vika.
“Tidak apa-apa pak.. saya yang seharusnya minta maaf karena
sudah lancang terhadap bapak” Vika terdiam sejenak Ia pun teringat kejadian di
gedung dan menyadari kesalahannya.
“Hemmm tidak masalah.. Bagaimana kalau kita nonton saja
sebagai permintaan maaf saya, oh iya ini kan di luar tidak perlu memanggil
bapak saya belum setua itu haha” Yovi terkekeh karena saat diluar Vika masih
bersikap formal padanya.
“Baiklah pak.. eh Yovi” memanggil canggung.
“Memang agak aneh tapi lama-lama juga terbiasa, ya sudah ayo
sepertinya ada film bagus”
Yovi dan Vika keluar dari restoran menuju bioskop yang berada
dilantai paling atas mall tersebut. Yovi mengantri untuk membeli tiket dan
berondong serta minuman bersoda Vika menunggu di sofa panjang tidak jauh dari
Yovi. Mereka memilih film romantis yang sedang digandrungi anak muda pada saat
itu, banyak pasangan yang juga menonton karena malam akhir pekan keadaan
bioskop cukup ramai mereka mendapatkan bangku dibagian tengah. Yovi dan Kiki
sudah duduk didalam bioskop bersiap menikmati film. Filmpun mulai diputar menit
demi menit mereka habiskan dengan serius memandangi layar lebar itu.
Selama pemutaran film Vika sesekali mencuri pandang pada Yovi
ia membayangkan adegan romantis ketika sang gadis bersandar di pundak lelakinya
yang membuatnya tersenyum malu namun ia berusaha terus terjaga dengan pikiran
jernihnya Ia tak mau sikap lancangnya kembali membuat jarak antara dirinya dan
Yovi yang baru saja terhapus itu. Duduk berdekatan membuat hatinya terus
__ADS_1
berdebar tak karuan. Saat film mendekati akhir Yovi tiba-tiba memanggil
namanya.
“Vika...” Yovi mendekat dan berbisik di telingnya hembusan
nafas hangatnya serasa menembus hijab yang dikenakannya dipanggil dengan cara
seperti itu membuatnya makin berdebar lemas rasanya.
“I-iya” Vika tergagap berusaha mengendalikan debaran dalam
hatinya.
“Apa yang kamu harapkan dari pertemuan ini?” rupanya Yovi
tidak fokus menyaksikan film ia lebih memikirkan bagaimana caranya menyampaikan
kenyataan yang sedikit menyakitkan ini.
“Maksudnya?” Vika sungguh tidak bisa menebak arah pikiran
Yovi.
“Apa kau berpikir kita akan berlanjut seperti keingingan
orangtua kita yang menginginkan kita berjodoh, tapi maaf sepertinya aku tidak
bisa memenuhinya saya harap kamu bisa mengerti” Yovi terdiam mencerna
kalimatnya sendiri berharap kata-katanya cukup bisa diterima.
Seketika Vika menjadi lesu sudah tidak ada gairah lagi untuk
melanjutkan film itu, ia hanya ingin menghilang dari hadapan lelaki yang telah
berulang kali mempermainkan perasaannya seolah memberi harapan padahal hanya
jerat semu semata. Mengapa secepat itu bahkan ini belum dimulai sudah berakhir
begitu saja sungguh gadis yang malang baru saja Ia memikirkan hal-hal manis
yang akan Ia lakukan dengan Yovi seketika lenyap begitu saja. Kenyataan yang
begitu menusuk terasa nyeri hingga ke ulu hati.
Vika terus saja membisu hingga di menit terakhir film pun
usai. Melihat sekelilingnya bangkit dan meninggalkan bangku masing-masing tanpa
pikir panjang Ia pun bangkit dan meninggalkan Yovi dengan sekuat tenaga ia
melangkahkan kaki berusaha menghilang sejauh mungkin. Jika ada pilihan Ia ingin
menjadi debu saja daripada harus terlihat menyedihkan dihadapan lelaki yang
sampai kapanpun tidak akan pernah menganggapnya.
Yovi menyadari Vika sudah tidak ada disampingnya Ia pun
segera menyusulnya keluar namun sialnya Ia tidak menemukan keberadaan Vika.
“Vika kamu nggak papa?” Yovi meraih lengan Vika yang akan
masuk lift Vika menoleh dengan mata yang sedikit memerah melihat itu membuat
Yovi jadi khawatir.
“Vika..apa yang terjadi kenapa mata kamu memerah begitu?” Yovi takut
telah terjadi sesuatu pada Vika.
“Aaaa.. ini pasti karena film tadi aku jadi terbawa suasana dan
terharu seperti ini“ Vika tersenyum paksa namun tangis sudah di ujung
matanya.
menenangkan Vika.
“Tidak usah.. Saya ingin pulang pak..” berlama-lama dengan
Yovi membuatnya frustasi.
“Baiklah” Yovi menuruti permintaan Vika. Mereka lalu menaiki
lift dan turun ke tempat parkir.
Di dalam mobil
“Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu atau ada yang ingin
kau katakan?” Yovi merasakan sejak keluar bioskop Vika jadi membisu namun
seperti menyembunyikan sesuatu.
“Tidak ada” Vika menjawab malas suasana hatinya sungguh
sangat kacau yang diinginkannya sekarang adalah menghilang dari pandangan
lelaki ini.
“Benarkah” Yovi tidak puas dengan jawaban Vika sengaja ia
tidak segera melajukan mobilnya Ia ingin Vika berkata jujur padanya. Vika
menyadari itu Ia mengambil nafas dan menghembuskannya kuat-kuat.
“Apa saya tidak semenarik itu di mata bapak apa tidak ada
celah sedikitpun untuk saya?” dengan menahan sesak Vika mengatakan
keresahannya.
“Vika.. Apa selama ini kamu menyimpan perasaan terhadapku?”
ragu Yovi menanyakan itu cukup percaya diri sekali mungkinkah Vika punya perasaan
padanya.
Pertanyaan bodoh macam
itu kalau saya tidak ada perasaan pada bapak buat apa saya melakukan ini semua.Ingin rasanya Vika berteriak dan
mengungkapkan isi hatinya namun rasa kecewa yang lebih mengungkungnya hingga
mulutnya terkunci rapat tidak ada satu katapun yang keluar. Vika hanya membalas
dengan senyum kecewa menatap lelaki yang ada disampingnya ini.
“Vika... Maaf jika saya telah membuatmu menjadi seperti ini”
melihat Vika yang tidak menanggapi Yovi ingin meluruskan apa yang telah terjadi
selama ini.
“Vika.. Tolong jangan menaruh perasaan apapun padaku.. aku
sudah punya seseorang yang ku tunggu, maaf selama ini telah membuatmu salah paham” Yovi menatap lekat
Vika yang telah menunduk Ia tahu gadis disampingnya ini amat sedih dengan
kenyataan yang diterimanya.
Kenyataan yang bertubi-tubi membuatnya hati Vika hancur
sungguh ia ingin lenyap dan menyatu dengan hembusan angin. Tidak sanggup lagi
mendengar kenyataan yang terus menyayat hatinya, Vika hanya membalas dengan
mengangkat satu tangannya seperti mengatak ‘cukup’ aku tidak ingin mendengar apapun
__ADS_1
lagi. Samar-samar terdengar isakan.
“Vika.. Apa saya boleh meminta bantuan?.” Yovi terus menatap Vika yang
makin menunduk dengan isakan yang memilukan.
“Vika.. Aku mohon padamu” Yovi menggenggam tangan Vika penuh
harap. Vika menatap sendu Ia sudah tidak peduli pada keadaannya yang
menyedihkan itu.
“Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu bapak?” dengan
terisak Vika menyelesaikan pertanyaannya.
“Cukup kamu rahasiakan ini, terlebih pada orangtua kita biar
mereka tetap mengira ini berjalan sesuai dengan rencana.” Yovi
meminta dengan penuh harap supaya Vika bisa bekerjasama dengannya.
“Akan saya usahakan seperti yang bapak minta” tidak ada daya
untuk menolak Vika memilih pasrah memenuhi permintaan Yovi tidak berpikir
panjang untuk kedepannya..
“Terimakasih kau memang rekan kerja terbaik” Yovi seketika memeluk
Vika membuat keduanya mematung lalu kembali tersadar.
“Maaf” Yovi menyadari kebodohannya yang memeluk Vika
tiba-tiba namun Ia merasa lega Vika mau membantunya.
“A-ayo kita pulang” Yovi mengusap kasar wajahnya lalu melajukan
mobil keluar dari mall memecah ramainya jalanan di malam itu.
Sepanjang jalan Vika termenung memandang keluar jendela dengan
tatapan hampa ternyata selama ini dirinya hanya dijadikan modus untuk menutupi
tirai kebohongannya. Malam ini menjadi malam paling menyedihkan lagi-lagi ia
merasakan diperlakukan dengan manis hingga membumbung tinggi ke langit ketujuh
tapi disaat yang bersamaan ia juga dihempaskan hingga kedasar bumi
membuatnya hancur tak tersisa lagi.
Bagaimana mungkin perasaannnya bisa dimainkan sedemikian rupa
atau mungkin karena dirinya yang telalu terbuai oleh sikap manis namun itu
hanyalah jerat semu yang membuatnya larut dalam sebuah harap yang tak kasat
mata.
Dasar bodoh.Umpat Vika dalam hati. Sepanjang jalan
menuju rumahnya ia terus mengutuki dirinya yang terus menaruh harapan pada
perasaannya setelah apa yang didapatkan tidak sesuai dengan keinginannya. Mobil
telah sampai di depan rumah Vika kali ini Ia langsung keluar tanpa berpamitan
rasa kesal jelas menyelimuti hatinya.
Yovi pun memahami bahkan lagi-lagi ia mengembalikan Vika
dalam kondisi kacau. Yovi menatap kepergian Vika dengan rasa bersalah ‘kencan’
pertama yang seharusnya berjalan dengan baik malah berakhir menyedihkan seperti
ini. Yovi menghembuskan nafas kasar lalu melajukan mobilnya meninggalkan rumah
Vika.
Di rumah Vika
Ibu dan ayahnya telah duduk di ruang keluarga rupanya mereka
lebih dahulu sampai rumah.
”Bagaimana kencan pertamamu nak” Ibu sangat penasaran menatap
putrinya yang akan naik ke lantai atas menuju kamarnya.
“Begitulah ma” anak tangga satu demi satu dilalui Vika dengan
rasa lelah bukan lelah fisik tapi lelah batin yang telah menguras hati dan
fikirannya.
“Kenapa kamu lesu begitu, apa telah terjadi sesuatu?” Ayah
terlihat cemas menautkan alisnya bagaimana mungkin dua anak manusia pulang
kencan dengan kondisi yang terlihat menyedihkan seperti itu.
“Tidak ada ayah Vika hanya lelah, Vika ke kamar dulu ya..
selamat malam semuanya” Vika mempercepat langkahnya menaiki anak tangga.
“Iya sayang selamat malam” ibu mengerti dengan keadaan
putrinya, ayah dan ibu saling bertatapan dengan penuh tanda tanya. Kemudian
keduanya memutuskan masuk kamar untuk istirahat.
Sesampainya di kamar Vika mengunci pintunya dan melentangkan
dirinya diatas ranjang dengan seprai bermotif mawar. Ia tidak dapat menahan kesedihannya
bulir bening berkali-kali lolos membelai pipi mulusnya. Mengapa selama ini ia
terlalu berharap, rasa sakit yang dulu saja belum kering kini Ia harus dihadapkan
bahwa Yovi memang tidak ada sedikitpun membalas perasaannya. Bahkan dirinya hanya
dijadikan modus untuk menutupi kebohongannya sebenarnya siapa gadis yang telah
mencuri hati Yovi yang dingin itu.
Apa aku kenal dengannya,
siapa dia, apa aku telah bertemu dengannya tapi dimana, selama ini aku tidak
pernah melihat Yovi dekat dengan gadis lain selain diriku, sial. Apa ini
sebabnya dia begitu dingin pada ku karena sudah ada seseorang di hatinya ah
betapa bodohnya kamu Vika berharap pada manusia sepertinya. Tapi mengapa ia tidak
menolak atau marah ketika orang lain mengira kami punya hubungan ah benar
tentunya itu ia lakukan karena tidak ingin banyak gosip lagi, bukankah aku hanya
dijadikan modusnya saja.Batin Vika, Ia terus menyusuri jalan pikirannya yang semakin buntu. Lelah ia
berpikir tampak ia lamat-lamat memejamkan matanya tidak peduli pada dirinya
yang terlihat lusuh
***
Selamat membaca...
Jangan lupa tinggalkan jejak kakak-kakak...
__ADS_1