Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Di Jodohkan


__ADS_3

Pukul 19.00 WIB Yovi dan kedua orangtuanya bersiap menuju


restoran di sebuah mall yang telah dipilih untuk pertemuan dengan gadis pilihan


ibunya. Yovi berada di balik kemudi ibunya duduk  di bangku samping. Ayahnya


duduk di bangku belakang.


Keluarga gadis sudah menunggu didalam restoran, karena akhir


pekan menyebabkan jalanan macet hingga mereka datang sedikit terlambat. Saat


akan bergabung menghampiri keluarga sang gadis Yovi merasa tidak asing dengan


gadis yang akan ditemuinya Ia berbisik pada ibunya.


“Ma.. apa kita tidak salah orang” bisik Yovi pada mama yang berada


3 meter dari meja keluarga sang gadis berada.


“Maksud kamu?” ibu Yovi menautkan alisnya mengapa Yovi bertanya


demikian.


“Apa mama yakin kita mendatangi keluarga yang benar?” tanya


Yovi lagi


“Iya sayang memang benar itu keluarga yang akan kita temui


dan lihat gadis itu dia yang akan mama kenalkan padamu, apa ada masalah?”


“Aaa tidak ada ma” Yovi tersenyum masam.


“Ya sudah ayo” ajak ibu menatap Yovi dan ayah


bergantian. Sampailah mereka didepan meja keluarga gadis itu.


“Halo jeng maaf ya kami terlambat maklum jalanan macet haha”


bu Yovi berbasa-basi memeluk ibu gadis itu dan cium pipi kanan kiri.


“Iya jeng tidak papa kami juga belum lama, mari silahkan


duduk” ibu gadis itu mempersilahkan Yovi dan kedua orangtuanya duduk di seberang


mereka.


“Vika ayo sapa om dan tante” ibu vika menyikut pelan Vika yang


duduk di sampinya sedari tadi ia hanya menunduk memainkan ponselnya tidak


menyadari kehadiran Yovi.


“Halo om tante.. loh.. pak Yovi” sapa Vika ramah ia terkejut


kenapa Yovi tiba-tiba ada di hadapannya.


Ibu dan Ayah Yovi tersenyum ramah memandangi Vika.


“Halo bu Vika” sapa Yovi ramah.


“Sebentar.. kalian saling kenal” ibu Yovi menunjuk Yovi dan


Vika bergantian.


“Haha iya begitulah” mendengar jawaban Yovi para orangtua


saling memandang, terkejut ternyata Yovi dan Vika sudah saling kenal.


“Iya tante, pak Yovi rekan kerja Vika di sekolah”  Vika mempertegas bahwa dirinya dan Yovi sudah


saling kenal.


“Baguslah kalau begitu, iya nggak jeng hehe” ibu Vika tertawa


kecil selama ini Vika tidak pernah memberi tahu bahwa yang sering diceritakan


pada dirinya adalah Yovi. Yovi tersenyum masam.


Setelah selesai makan malam dan berbincang mereka sengaja


meninggalkan Yovi dan Vika dengan alasan ingin melihat pameran di mall


tersebut.


Untuk pertama kalinya mereka hanya berdua dan sedekat ini


jika biasanya hanya saling bertegur sapa sambil lalu kali duduk berdua


berhadapan membuat rasa canggung tidak terhindarkan lagi selepas kepergian


orangtua masing-masing hanya tersisa keheningan dan saling curi pandang satu


sama lain.


“Vika saya mau minta maaf atas kejadian tempo hari, saya tidak


bermaksud berbuat demikian” Yovi memecah keheningan dengan meminta maaf atas


sikapnya saat pulang dari kondangan anak pak kepala sekolah.


Apa tadi aku tidak


salah dengar pak Yovi memanggil nama ku tanpa kata ‘bu’.Gumam Vika.


“Tidak apa-apa pak.. saya yang seharusnya minta maaf karena


sudah lancang terhadap bapak” Vika terdiam sejenak Ia pun teringat kejadian di


gedung dan menyadari kesalahannya.


“Hemmm tidak masalah.. Bagaimana kalau kita nonton saja


sebagai permintaan maaf saya, oh iya ini kan di luar tidak perlu memanggil


bapak saya belum setua itu haha” Yovi terkekeh karena saat diluar Vika masih


bersikap formal padanya.


“Baiklah pak.. eh Yovi” memanggil canggung.


“Memang agak aneh tapi lama-lama juga terbiasa, ya sudah ayo


sepertinya ada film bagus”


Yovi dan Vika keluar dari restoran menuju bioskop yang berada


dilantai paling atas mall tersebut. Yovi mengantri untuk membeli tiket dan


berondong serta minuman bersoda Vika menunggu di sofa panjang tidak jauh dari


Yovi. Mereka memilih film romantis yang sedang digandrungi anak muda pada saat


itu, banyak pasangan yang juga menonton karena malam akhir pekan keadaan


bioskop cukup ramai mereka mendapatkan bangku dibagian tengah. Yovi dan Kiki


sudah duduk didalam bioskop bersiap menikmati film. Filmpun mulai diputar menit


demi menit mereka habiskan dengan serius memandangi layar lebar itu.


Selama pemutaran film Vika sesekali mencuri pandang pada Yovi


ia membayangkan adegan romantis ketika sang gadis bersandar di pundak lelakinya


yang membuatnya tersenyum malu namun ia berusaha terus terjaga dengan pikiran


jernihnya Ia tak mau sikap lancangnya kembali membuat jarak antara dirinya dan


Yovi yang baru saja terhapus itu. Duduk berdekatan membuat hatinya terus

__ADS_1


berdebar tak karuan. Saat film mendekati akhir Yovi tiba-tiba memanggil


namanya.


“Vika...” Yovi mendekat dan berbisik di telingnya hembusan


nafas hangatnya serasa menembus hijab yang dikenakannya dipanggil dengan cara


seperti itu membuatnya makin berdebar lemas rasanya.


“I-iya” Vika tergagap berusaha mengendalikan debaran dalam


hatinya.


“Apa yang kamu harapkan dari pertemuan ini?” rupanya Yovi


tidak fokus menyaksikan film ia lebih memikirkan bagaimana caranya menyampaikan


kenyataan yang  sedikit menyakitkan ini.


“Maksudnya?” Vika sungguh tidak bisa menebak arah pikiran


Yovi.


“Apa kau berpikir kita akan berlanjut seperti keingingan


orangtua kita yang menginginkan kita berjodoh, tapi maaf sepertinya aku tidak


bisa memenuhinya saya harap kamu bisa mengerti” Yovi terdiam mencerna


kalimatnya sendiri berharap kata-katanya cukup bisa diterima.


Seketika Vika menjadi lesu sudah tidak ada gairah lagi untuk


melanjutkan film itu, ia hanya ingin menghilang dari hadapan lelaki yang telah


berulang kali mempermainkan perasaannya seolah memberi harapan padahal hanya


jerat semu semata. Mengapa secepat itu bahkan ini belum dimulai sudah berakhir


begitu saja sungguh gadis yang malang baru saja Ia memikirkan hal-hal manis


yang akan Ia lakukan dengan Yovi seketika lenyap begitu saja. Kenyataan yang


begitu menusuk terasa nyeri hingga ke ulu hati.


Vika terus saja membisu hingga di menit terakhir film pun


usai. Melihat sekelilingnya bangkit dan meninggalkan bangku masing-masing tanpa


pikir panjang Ia pun bangkit dan meninggalkan Yovi dengan sekuat tenaga ia


melangkahkan kaki berusaha menghilang sejauh mungkin. Jika ada pilihan Ia ingin


menjadi debu saja daripada harus terlihat menyedihkan dihadapan lelaki yang


sampai kapanpun tidak akan pernah menganggapnya.


Yovi menyadari Vika sudah tidak ada disampingnya Ia pun


segera menyusulnya keluar namun sialnya Ia tidak menemukan keberadaan Vika.


“Vika kamu nggak papa?” Yovi meraih lengan Vika yang akan


masuk lift Vika menoleh dengan mata yang sedikit memerah melihat itu membuat


Yovi jadi khawatir.


“Vika..apa yang terjadi kenapa mata kamu memerah begitu?” Yovi takut


telah terjadi sesuatu pada Vika.


“Aaaa.. ini pasti karena film tadi aku jadi terbawa suasana dan


terharu seperti ini“ Vika tersenyum paksa namun tangis sudah di ujung


matanya.


menenangkan Vika.


“Tidak usah.. Saya ingin pulang pak..” berlama-lama dengan


Yovi membuatnya frustasi.


“Baiklah” Yovi menuruti permintaan Vika. Mereka lalu menaiki


lift dan turun ke tempat parkir.


Di dalam mobil


“Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu atau ada yang ingin


kau katakan?” Yovi merasakan sejak keluar bioskop Vika jadi membisu namun


seperti menyembunyikan sesuatu.


“Tidak ada” Vika menjawab malas suasana hatinya sungguh


sangat kacau yang diinginkannya sekarang adalah menghilang dari pandangan


lelaki ini.


“Benarkah” Yovi tidak puas dengan jawaban Vika sengaja ia


tidak segera melajukan mobilnya Ia ingin Vika berkata jujur padanya. Vika


menyadari itu Ia mengambil nafas dan menghembuskannya kuat-kuat.


“Apa saya tidak semenarik itu di mata bapak apa tidak ada


celah sedikitpun untuk saya?” dengan menahan sesak Vika mengatakan


keresahannya.


“Vika.. Apa selama ini kamu menyimpan perasaan terhadapku?”


ragu Yovi menanyakan itu cukup percaya diri sekali mungkinkah Vika punya perasaan


padanya.


Pertanyaan bodoh macam


itu kalau saya tidak ada perasaan pada bapak buat apa saya melakukan ini semua.Ingin rasanya Vika berteriak dan


mengungkapkan isi hatinya namun rasa kecewa yang lebih mengungkungnya hingga


mulutnya terkunci rapat tidak ada satu katapun yang keluar. Vika hanya membalas


dengan senyum kecewa menatap lelaki yang ada disampingnya ini.


“Vika... Maaf jika saya telah membuatmu menjadi seperti ini”


melihat Vika yang tidak menanggapi Yovi ingin meluruskan apa yang telah terjadi


selama ini.


“Vika.. Tolong jangan menaruh perasaan apapun padaku.. aku


sudah punya seseorang yang ku tunggu, maaf selama ini telah  membuatmu salah paham” Yovi menatap lekat


Vika yang telah menunduk Ia tahu gadis disampingnya ini amat sedih dengan


kenyataan yang diterimanya.


Kenyataan yang bertubi-tubi membuatnya hati Vika hancur


sungguh ia ingin lenyap dan menyatu dengan hembusan angin. Tidak sanggup lagi


mendengar kenyataan yang terus menyayat hatinya, Vika hanya membalas dengan


mengangkat satu tangannya seperti mengatak ‘cukup’ aku tidak ingin mendengar apapun

__ADS_1


lagi. Samar-samar terdengar isakan.


“Vika.. Apa saya boleh meminta bantuan?.” Yovi terus menatap Vika yang


makin menunduk dengan isakan yang memilukan.


“Vika.. Aku mohon padamu” Yovi menggenggam tangan Vika penuh


harap. Vika menatap sendu Ia sudah tidak peduli pada keadaannya yang


menyedihkan itu.


“Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu bapak?” dengan


terisak Vika menyelesaikan pertanyaannya.


“Cukup kamu rahasiakan ini, terlebih pada orangtua kita biar


mereka tetap mengira ini berjalan sesuai dengan rencana.” Yovi


meminta dengan penuh harap supaya Vika bisa bekerjasama dengannya.


“Akan saya usahakan seperti yang bapak minta” tidak ada daya


untuk menolak Vika memilih pasrah memenuhi permintaan Yovi tidak berpikir


panjang untuk kedepannya..


“Terimakasih kau memang rekan kerja terbaik” Yovi seketika memeluk


Vika membuat keduanya mematung lalu kembali tersadar.


“Maaf” Yovi menyadari kebodohannya yang memeluk Vika


tiba-tiba namun Ia merasa lega Vika mau membantunya.


“A-ayo kita pulang” Yovi mengusap kasar wajahnya lalu melajukan


mobil keluar dari mall memecah ramainya jalanan di malam itu.


Sepanjang jalan Vika termenung memandang keluar jendela dengan


tatapan hampa ternyata selama ini dirinya hanya dijadikan modus untuk menutupi


tirai kebohongannya. Malam ini menjadi malam paling menyedihkan lagi-lagi ia


merasakan diperlakukan dengan manis hingga membumbung tinggi ke langit ketujuh


tapi disaat yang bersamaan ia juga dihempaskan hingga kedasar bumi


membuatnya hancur tak tersisa lagi.


Bagaimana mungkin perasaannnya bisa dimainkan sedemikian rupa


atau mungkin karena dirinya yang telalu terbuai oleh sikap manis namun itu


hanyalah jerat semu yang membuatnya larut dalam sebuah harap yang tak kasat


mata.


Dasar bodoh.Umpat Vika dalam hati. Sepanjang jalan


menuju rumahnya ia terus mengutuki dirinya yang terus menaruh harapan pada


perasaannya setelah apa yang didapatkan tidak sesuai dengan keinginannya. Mobil


telah sampai di depan rumah Vika kali ini Ia langsung keluar tanpa berpamitan


rasa kesal jelas menyelimuti hatinya.


Yovi pun memahami bahkan lagi-lagi ia mengembalikan Vika


dalam kondisi kacau. Yovi menatap kepergian Vika dengan rasa bersalah ‘kencan’


pertama yang seharusnya berjalan dengan baik malah berakhir menyedihkan seperti


ini. Yovi menghembuskan nafas kasar lalu melajukan mobilnya meninggalkan rumah


Vika.


Di rumah Vika


Ibu dan ayahnya telah duduk di ruang keluarga rupanya mereka


lebih dahulu sampai rumah.


”Bagaimana kencan pertamamu nak” Ibu sangat penasaran menatap


putrinya yang akan naik ke lantai atas menuju kamarnya.


“Begitulah ma” anak tangga satu demi satu dilalui Vika dengan


rasa lelah bukan lelah fisik tapi lelah batin yang telah menguras hati dan


fikirannya.


“Kenapa kamu lesu begitu, apa telah terjadi sesuatu?” Ayah


terlihat cemas menautkan alisnya bagaimana mungkin dua anak manusia pulang


kencan dengan kondisi yang terlihat menyedihkan seperti itu.


“Tidak ada ayah Vika hanya lelah, Vika ke kamar dulu ya..


selamat malam semuanya” Vika mempercepat langkahnya menaiki anak tangga.


“Iya sayang selamat malam” ibu mengerti dengan keadaan


putrinya, ayah dan ibu saling bertatapan dengan penuh tanda tanya. Kemudian


keduanya memutuskan masuk kamar untuk istirahat.


Sesampainya di kamar Vika mengunci pintunya dan melentangkan


dirinya diatas ranjang dengan seprai bermotif mawar. Ia tidak dapat menahan kesedihannya


bulir bening berkali-kali lolos membelai pipi mulusnya. Mengapa selama ini ia


terlalu berharap, rasa sakit yang dulu saja belum kering kini Ia harus dihadapkan


bahwa Yovi memang tidak ada sedikitpun membalas perasaannya. Bahkan dirinya hanya


dijadikan modus untuk menutupi kebohongannya sebenarnya siapa gadis yang telah


mencuri hati Yovi yang dingin itu.


Apa aku kenal dengannya,


siapa dia, apa aku telah bertemu dengannya tapi dimana, selama ini aku tidak


pernah melihat Yovi dekat dengan gadis lain selain diriku, sial. Apa ini


sebabnya dia begitu dingin pada ku karena sudah ada seseorang di hatinya ah


betapa bodohnya kamu Vika berharap pada manusia sepertinya. Tapi mengapa ia tidak


menolak atau marah ketika orang lain mengira kami punya hubungan ah benar


tentunya itu ia lakukan karena tidak ingin banyak gosip lagi, bukankah aku hanya


dijadikan modusnya saja.Batin Vika, Ia terus menyusuri jalan pikirannya yang semakin buntu. Lelah ia


berpikir tampak ia lamat-lamat memejamkan matanya tidak peduli pada dirinya


yang terlihat lusuh


***


Selamat membaca...


Jangan lupa tinggalkan jejak kakak-kakak...

__ADS_1


__ADS_2