Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Hantu Bangku Kosong


__ADS_3

Di ruang perawatan tempat Angga dirawat, Diandra tengah mengunjungi suami nya di dalam ruangan khusus. Putri kandung dari papa Chandra itu duduk di sebuah kursi menghadap kearah suami nya, "kak, kakak bisa dengar suara Didi kan?" lirih nya sambil menggenggam erat tangan sang suami.


Dia pandangi wajah ganteng sang suami, dan mengajak suami nya bercerita, "kak, Didi sudah bertemu dengan papa Didi, dengan opa juga. Kakak tahu enggak? Opa Win, pelanggan setia di showroom kakak... ternyata dia itu opa nya Didi."


"Kakak harus segera bangun ya, nanti Didi kenalin sama papa. Papa pasti senang, punya menantu seperti kakak. Ganteng, baik, dan sayang sama Didi. Ah,, Didi jadi kangen pengin di sayang sayang sama kak Angga," lirih Diandra dengan manja, dan berharap sang suami mendengar semua perkataan nya.


Kembali Diandra berbicara, menceritakan apa saja.. tentang masa kecil nya, tentang teman- teman nya dan semua hal tentang diri nya. Diandra percaya, meskipun suami nya tak merespon, tapi sang suami pasti mendengar suara nya.


Hingga tanpa terasa, malam telah semakin larut dan Diandra mulai merasakan mata nya semakin berat dan ingin menutup. Dan tanpa dapat di cegah lagi, dia jatuh kan kepalanya di sisi ranjang menghadap sang suami. Diandra pun tertidur sambil duduk dan tangan nya masih menggenggam tangan suami nya itu.


°°°°°


Waktu terus berputar, siang dan malam datang silih berganti. Angga masih belum menampakkan tanda-tanda akan siuman dari tidur panjang nya.


Diandra setiap malam, akan selalu tidur di samping sang suami sambil duduk. Karena istri dari Angga itu, tak kan dapat memejamkan mata nya jika tak berada di samping suami nya.


Mama Dewi dan bu Rahma, masih setia menemani nya di rumah sakit. Tak ada yang mau meninggalkan putri dan menantu kesayangan mereka berdua itu walau hanya sebentar saja.


Begitu pun dengan opa Win dan papa Chandra, kakek dan ayah Diandra itu setiap hari menyempatkan waktu nya, untuk menemani gadis yang paling berharga dalam hidup kedua nya.


Aditya pun setiap hari mengunjungi sahabat nya itu, dan selalu siap tatkala mama Dewi ataupun Diandra membutuhkan diri nya untuk memenuhi kebutuhan mereka di rumah sakit.


Dan siang ini, Diandra kedatangan kembali sahabat-sahabat nya yang beberapa hari ini rutin mengunjungi nya di rumah sakit.


"Ayolah Di,, udah seminggu lu enggak masuk kuliah.. lusa masuk ya, kita bentar lagi ujian mid semester loh," bujuk Airin pada sahabat baik nya itu.


"Iya Di, enggak ada lu enggak asyik,," timpal Andrew.


"Kasihan si Thomas tahu Di, kalau di kelas dia bawaan nya bengong aja... menatap bangku kosong tempat duduk lu," imbuh Rieke, "kadang-kadang gue sampai ngeri sendiri tahu Di, takut dia kesurupan hantu bangku kosong,," lanjut nya dengan wajah serius.

__ADS_1


Andrew menoyor pelan kepala sahabat terompet nya itu, "pikiran lu deh Rie kayak nya yang kesurupan," lirih nya di telinga Rieke, seraya terkekeh pelan.


Rieke mencebik,, pura-pura ngambek.


"Cie,, cie,, ada yang bisik-bisik mesra," goda Airin pada kedua sahabat nya yang sama-sama bermulut terompet.


"Cih,, gue,, mesra sama nih terompet?! Ogah!? " Seru Andrew.


"Siapa juga yang mau sama cowok tengil bin jahil kayak lu,, ge er aja si Andrew," gerutu Rieke dengan kesal.


Thomas yang sedari tadi diam dan hanya jadi pendengar setia hanya senyum-senyum menyaksikan tingkah kocak dua sahabat nya itu.


"Tom,,, Gerry,, udah deh, jangan pada berisik, ini rumah sakit," ucap Airin akhir nya, mengingatkan kedua sahabat nya yang mulai berdebat.


"Dih,, kan lu tadi yang mancing kita Rin,,," protes Andrew.


"Masak sih?" Airin pura-pura tak ingat.


Papa Chandra duduk di samping putri nya, "sudah makan siang, sayang?" Tanya papa Chandra pada putri nya, penuh perhatian.


"Belum pa, nanti mau di beliin sekalian sama mama dan ibu. Sekarang beliau berdua lagi ke kantin," balas Diandra menjelaskan.


Papa Chandra mengangguk-angguk, "jangan sampai telat makan ya," ucap nya sambil mengusap lembut puncak kepala Diandra.


"Om, kami kemari untuk ngajak Didi agar lusa mau masuk kuliah kembali, boleh kan om?" Tanya Thomas dengan sopan.


"Tentu nak Thomas, om malah senang dengar nya.. kalau putri om mau masuk kuliah lagi," balas papa Chandra dengan mata berbinar.


"Kamu mau kan sayang?" Tanya papa Chandra, menatap netra kecoklatan yang sama persis dengan milik nya dengan penuh harap. "Kamu harus tetap melanjutkan hidup mu dan beraktifitas seperti biasa nya sayang.. biar kamu enggak stress," lanjut papa Chandra memberi pengertian pada putri nya.

__ADS_1


Pasal nya, selama seminggu ini,, Diandra masih sering menangis, dan sering kedapatan tengah melamun. Meski setiap hari, Diandra sudah di temani oleh orang-orang yang menyayangi nya. Dan papa Chandra berharap, dengan pergi ke kampus,, putri nya akan sedikit bisa melupakan kesedihan nya karena banyak bertemu dengan orang-orang dan bersosialisasi dengan teman-teman nya di kampus.


Diandra masih membisu,,,


"Di, kita pergi ke kampus nya sama-sama deh,,, gue akan jemput lu disini, kalau dari sini rumah gue kan searah," bujuk Airin.


"Iya, mau ya Di.. kalau pulang, kita akan rame-rame anterin lu," timpal Rieke.


Papa Chandra menggenggam erat tangan putri nya, "suami mu tidak akan suka melihat mu setiap hari bersedih nak,, pergi lah kuliah, dan lupakan sejenak beban mu dengan menjalani aktifitas yang positif." Papa Chandra kembali membujuk putri nya.


Diandra menatap sang papa, "tapi pa, gimana kalau nanti kak Angga sadar dan Didi enggak ada di samping nya?" Tanya Diandra polos.


"Suami mu akan sadar ketika ada kamu di samping nya, di saat yang tepat nanti,,, percaya lah sama papa," balas papa Chandra mencoba meyakinkan putri nya. "Kita akan selalu do'akan suami mu, agar secepat nya sadar dari koma nya," lanjut nya seraya menatap hangat sang putri.


Diandra mengangguk, "baiklah pa, lusa Didi akan kuliah kembali," lirih nya agak ragu.


"Yes,,," ucap Airin dan Rieke bersamaan, dan langsung berhambur memeluk Diandra. "Nah, ini baru Didi yang gue kenal... Didi yang selalu optimis menjalani hidup dan pantang menyerah," lirih Airin masih memeluk sahabat baik nya itu.


"Kami boleh ikut peluk enggak Di?" Tanya Andrew.


"Kalau lu peluk Didi, bang Angga bisa langsung sadar dan kasih hadian tinju buat lu..." balas Rieke seraya melepaskan pelukan nya, dan kembali duduk di tempat nya semula.


Begitu pun dengan Airin, dia kembali duduk di samping Andrew dan berbisik, "lu meluk Rieke aja,, gak bakal ada yang kasih hadiah bogem mentah," Airin terkekeh.


Papa Chandra yang mendengar candaan dari anak-anak muda itu pun tersenyum.


"Ogah,, kalau peluk lu, bang Ditya marah gak Rin?" Goda Andrew pada sahabat nya itu.


Wajah Airin bersemu merah,,

__ADS_1


Dan di saat yang bersamaan, pintu terbuka dan nampak lah wajah tampan Aditya dari balik pintu.


"


__ADS_2