Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Dasar Bucin...


__ADS_3

Pagi ini, mama Dewi dan bu Rahma akan kembali ke Pulau Dewata. Raka yang baru saja bertemu dengan mama nya itu sebenar nya sangat keberatan, dan berharap sang mama bersedia tinggal kembali di Jakarta agar mereka bisa selalu bersama-sama. Dan mama Dewi berjanji pada putra kedua nya itu, akan memikirkan permintaan Raka.


Mama Dewi dan bu Rahma diantar oleh Aditya dan opa Win, untuk menuju bandara. Sebenar nya Diandra pun ingin ikut mengantar ibu angkat dan mama mertuanya ke bandara karena hari ini dia tidak ada jadwal kuliah, namun sang opa melarang nya.. dengan alasan, Diandra harus lebih banyak istirahat karena tengah hamil muda.


Diandra pun menuruti kemauan opa nya, dan akhir nya merengek meminta ikut suami nya ke showroom. "Boleh ya kak Didi ikut ke showroom? Please... Didi bosan kak, kalau disini sendirian,," Diandra merajuk.


"Hmm,, baiklah.. tapi nanti kalau capek bilang ya?" Pinta Angga yang merasa khawatir dengan kondisi sang istri, pasal nya semalam mereka melepas rindu dan menyatu hingga dini hari.


"Asyik,,, makasih suami ku sayang.." rayu Diandra seraya menghujani suami ganteng nya dengan ciuman bertubi-tubi.


Angga menahan diri, tak hendak membalas nya. Suami dewasa Diandra itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala nya, "istri ku semakin agresif dan menggemaskan. Jika seperti ini, kami pasti akan punya banyak anak nanti nya," gumam Angga dalam hati, seraya terkekeh pelan.


"Kak,, kenapa kakak tertawa sendiri?" Tanya Diandra seraya menjauhkan wajah nya.


"Sudah puas, menciumi wajah ku Di..?" Bukan nya menjawab, Angga malah balik bertanya kepada istri cantik nya itu, seraya tersenyum menggoda.


"Belum,, Didi pengin nya yang lebih," balas Diandra menantang.


Angga mengernyit, "apa?"


Tanpa menjawab pertanyaan sang suami, Diandra langsung saja meremas pelan isi di balik celana sang suami yang berhasil membuat diri nya berkali-kali mencapai puncak nirwana semalam.


Angga Mendesis,, "Di,, hentikan sayang, kita harus berangkat sekarang," lirih nya seraya menjatuhkan kepala nya di pundak sang istri.


Mendengar penolakan sang suami, sekaligus melihat respon Angga,, Diandra tersenyum seringai, "kak Angga juga mau kan?" Bisik nya di telinga sang suami, seraya meniup nya pelan. Sedangkan tangan nakal nya, terus bekerja di bawah sana.. hingga celana panjang Angga telah merosot ke bawah.


Kembali Angga melenguh pelan,, "Di, apa kamu bersedia jika kita memiliki banyak anak?" Tanya Angga yang telah mengangkat kembali kepala nya, dan kini menatap sang istri dengan tatapan penuh damba.


Tangan Diandra yang semakin nakal, benar-benar membuat suami dewasa nya itu tak lagi mampu menahan diri.


Dengan mantap Diandra mengangguk, "aku mau kak, sepuluh atau sebelas... juga boleh," balas nya sambil mengerling nakal.


"Istri ku memang luar biasa nakal,,," bisik Angga dengan suara bergetar menahan gairah. Dan dengan sekali gerakan, Angga berhasil menggendong sang istri ala bridal style dan membawa nya menuju ke kamar utama milik mereka berdua.


Dan kembali pagi ini, mereka berdua bergelut dan menyatu dalam indah nya hubungan halal yang memabukkan dan membuat mereka menjadi ketagihan.


°°°°°

__ADS_1


Angga dan istri nya telah berada di showroom milik nya, bos showroom itu disambut dengan suka cita oleh seluruh karyawan Angga. Mereka semua senang, karena Angga berhasil melewati masa kritis nya dan kembali sehat seperti semula.


Setelah menyapa dan berbasa-basi sebentar dengan karyawan-karyawan nya yang menatap kagum melihat penampilan baru istri nya itu, Angga langsung mengajak istri nya masuk kedalam ruangan kerja nya.


"Duduklah disini yang,, aku akan mengecek laporan dari Ditya dua bulan ini," titah nya pada sang istri dan menuntun istri nya menuju sofa.


Diandra menurut, dan duduk manis di sana seraya membuka ponsel nya.


Sedangkan Angga mulai sibuk bekerja dengan laptop dan lembaran-lembaran kertas yang memenuhi meja nya.


Sambil bekerja, sesekali bos showroom itu melirik sang istri yang nampak masih asyik dengan ponsel nya. Sesekali dilihat nya sang istri tersenyum, entah apa yang dilihat nya.


Jarum jam di dinding terus berputar, hingga tanpa terasa hari telah siang. Angga langsung menutup laptop nya dan menghampiri sang istri yang terlihat mulai mengantuk. "Yang, kita makan dulu yuk.." ajak Angga pada istri nya.


"Makan disini aja ya kak, Didi lagi malas keluar nih,," pinta Diandra dengan manja.


"Iya, boleh.. kamu mau makan apa? Biar aku belikan," tanya Angga menatap istri nya.


"Apa aja deh kak, kakak pesan dari sini aja.. jangan pergi," pinta Diandra sambil merebahkan diri nya di sofa dan meletakkan kepala nya di pangkuan sang suami, "kak, si baby pengin di elus," kembali Diandra merajuk manja dengan alasan baby bahkan yang belum tahu apa-apa.


Angga tersenyum, dan menuruti permintaan istri belia nya, "selain bertambah agresif, ternyata istri ku semakin manja. Benar-benar menggemaskan,," lirih nya sambil mengelus perut sang istri yang kehamilan nya masih belum terlihat.


Tak berapa lama pintu di ketuk, dan muncullah Aditya bersama seorang waiters yang mendorong troli berisi menu makan siang tiga porsi.


"Kamu bisa kembali kerja," titah Aditya pada karyawan nya.


"Siap bos," jawab waiters itu sopan.


"Kok tiga porsi? Lu mau jadi pengganggu ya?" Ketus Angga pada sahabat nya setelah melihat makanan yang sudah di pindahkan ke atas meja.


"Yaelah, santai aja bro.. belum puas apa semalam melepas rindu?" Olok Aditya, seraya melirik Diandra yang masih rebahan seperti semula. "Tuh, istri lu nyampai tepar gitu.. berapa ronde semalam?" Cecar Aditya seraya terkekeh.


"Jomblo nanya-nanya ronde segala,,, jangan-jangan lu udah apa-apa in cewek lu?!" Tuduh Angga.


"Eits,, jangan salah bro, gini-gini gue juga pandai mengaji dan sedikit mengerti ilmu agama," elak Aditya dengan tuduhan sahabat nya itu.


Angga mengangguk-angguk, dia mengakui bahwa Aditya memang lebih rajin beribadah dari pada diri nya.

__ADS_1


"Makan yuk, lapar gue.." ucap Aditya tanpa basa-basi dan langsung mengambil makanan milik nya.


Diandra pun langsung duduk dan mengambil makanan nya, begitupun dengan Angga. Ketiga nya menikmati makan siang dalam keheningan, hingga beberapa saat.


"Bro, gue butuh bantuan lu. Bulan depan, pas liburan semester.. gue akan melamar Airin kepada orang tua nya," ucap Aditya memecah keheningan.


"Liburan semester?!" Angga terkejut.


"Kenapa bro? Kok kaget gitu?" Tanya Aditya di sela-sela makan nya.


"Gue juga rencana mau baby moon di libur semester Diandra nanti Dit," balas Angga seraya melirik sang istri.


"Kok kakak enggak cerita sama Didi?" Protes Diandra menatap netra hazel milik sang suami.


"Mau bikin surprise sebenar nya yang.." balas Angga menatap mesra sang istri, "tapi Ditya malah mengacaukan nya, dengan berita lamaran nya yang mengejutkan itu!" Ketus Angga melirik tajam Aditya.


"Yah,, lu Ga,, enggak asyik. Temen lagi senang, bukan nya ngedukung.." protes Aditya, sambil membenahi piring bekas makan siang nya dan meletakkan nya di dalam troli.


Sesaat ruang kerja Angga menjadi hening, masing-masing sibuk dengan pikiran nya sendiri.


"Kita ambil jalan tengah aja kak,, bang,," usul Diandra memecah keheningan.


Angga menoleh kearah istri nya,,


"Bang Ditya ngelamar Airin di hari pertama libur aja, jadi kan kami masih bisa bantu.. dan kami juga masih punya banyak waktu untuk pergi berlibur, gimana?" Tanya Diandra, seraya menatap Aditya dan sang suami bergantian.


"Boleh,, boleh,," balas Aditya dengan bersemangat.


"Yah yang,, baby moon kita jadi kepotong dong waktu nya?!" Protes Angga tak setuju.


"Memang nya kakak mau berapa lama?" Tanya Diandra mengernyit, "Didi kan bisa bolos kak, seminggu.. sebulan.. juga boleh," ucap Diandra meyakinkan.


"Beneran, enggak apa-apa kamu bolos demi baby moon yang,,?" Tanya Angga.


Diandra mengangguk mantap.


"Yes,,," ucap Angga dengan tersenyum lebar.

__ADS_1


"Ck,,," Aditya berdecak, "dasar bucin..!" Dengus nya kesal, dan kemudian segera berlalu meninggalkan ruangan Angga sambil mendorong troli.


__ADS_2