
Setelah Yovi berkunjung menjenguk Isa perasaan ibu jadi tidak
karuan. Kiki sudah bangun dari tidurnya dan terduduk di sofa. Jam menunjukkan
pukul 16.30 WIB Isa tersadar pelan ia membuka matanya dan menggerakkan jari
jemarinya yang di genggam erat oleh ibunya.
“Kamu sudah sadar sayang..” ucap ibu lembut dan menatap lekat
pada Isa.
Mendengar itu Kiki bangkit dan menghampiri ranjang untuk
melihat Isa. Dilihatnya adiknya sudah membuka mata dan tersenyum lemah dengan
sigap ia keluar untuk mencari dokter agar segera memeriksa adiknya. Kiki
kembali dengan dokter dan seorang suster. Dokter lalu memeriksa dengan seksama.
Lalu menanyakan keluhan yang dirasakan Isa.
“Gadis manis apa ada sesuatu yang kau rasakan?” tanya dokter
ramah. Isa hanya menggeleng.
“Coba pelan-pelan tarik nafas..tahan..hembuskan” Dokter
meminta Isa melakukan pernafasan.
“Apa saat bernafas tadi terasa sesak.. apa ada bagian yang
sakit?” tanya dokter lagi.
“Tidak ada dokter” jawab Isa jujur.
“Kondisimu sudah membaik kamu diperbolehkan pulang hari ini”
ucap dokter mengizinkan Isa untuk pulang. Dokter meminta suster untuk melepas
infus Isa. Setelah selesai Dokter dan suster keluar ruangan bu Imah
mengantarkannya. Sementara Kiki menemani Isa.
“Benarkah putri saya sudah boleh pulang dokter” tanya bu Imah
memastikan.
“Iya bu.. kondisinya sudah pulih ibu sudah dapat
menyelesaikan administrasinya dan nanti tolong ke ruangan saya, akan saya
resepkan vitamin untuk membantu menjaga staminanya” jelas dokter.
“Terimakasih dokter” bu Imah.
“Sama-sama saya permisi dulu” pamit dokter. Ibu kembali pada
kedua putrinya.
“Nak kita siap-siap pulang ya” ucapnya pada kedua putrinya.
Ibu lalu mengambil tas dan bersiap keluar untuk mengurus administrasi.
“Ibu mau kemana?” tanya Kiki.
“Ibu mau mengurus administrasi dulu, kalian tunggu disini”
jawab ibu.
“Biar Kiki saja bu..” cegah Kiki. Sebelum Ia keluar ibunya
menyuruh untuk ke ruangan dokter mengambil resep untuk adiknya.
Saat di kasir ia terkejut karena tagihannya sudah lunas, saat
Kiki menanyakan siapa orang yang telah membayar, petugas itu tidak memberi tahu
dengan jelas Ia hanya mengatakan bahwa seorang lelaki tampan telah membayar tagihan
itu.
Kiki memutar otak nya memikirkan siapa orang itu, apa mungkin
pamannya tapi itu tidak mungkin karena pamannya tidak mengetahui kejadian ini,
jika benar itu pamannya mengapa petugas itu mengatakan bahwa yang membayar
adalah lelaki tampan sementara pamannya seumuran ibu nya sudah pasti
ketampanannya sudah memudar bukan. Lama
ia termenung Ia di sadarkan dengan suara penjaga kasir.
“Maaf kak ini ada titipan.. kak..” petugas itu mengguncangkan
bahu Kiki.
“Eh.. iya kak?” tanya Kiki tergagap.
“Ini ada titipan dari seorang lelaki tampan” sambil menyerahkan
paper bag.
“Apa ini kak?” tanya Kiki penasaran.
“Maaf saya kurang tahu” ucap petugas kasir sopan.
“Terimakasih kak” ucap Kiki ramah menerima paper bag itu.
“Sama-sama” petugas kasir.
Setelah itu Ia berpindah ke apotek klinik itu untuk menebus
obat yang telah di resepkan dokter. Sambil menunggu antrean ia membuka dan
melihat paper bag itu karena penasaran dengan isinya. Setelah di buka ternyata
isi nya adalah satu setel piyama berwarna biru dengan motif beruang ia teringat
pada adiknya jika ia lupa membawa pakaian ganti untuknya. 10 menit menunggu
kemudian Kiki dipanggil untuk mengambil obat itu. Kiki kembali ke ruang rawat
adiknya lalu menyerahkan paper bag itu pada adiknya.
“Apa ini kak?” tanya Isa.
“Itu baju ganti buat kamu, tadi kakak keluar sebentar untuk
membelinya” ucap Kiki bohong agar ibu tidak curiga.
“Bagaimana nak sudah kamu urus administrasinya?” tanya bu
Imah.
“Su-sudah bu” Kiki tergagap menjawab pertanyaan ibu.
“Kita akan pulang sekarang kan bu?” Kiki mengalihkan
perhatian ibu.
“Iya.. ayo sa ganti pakaian mu dulu” ibu kemudian membawa Isa
ke kamar mandi yang ada di ruang rawat itu. Tidak ada yang aneh saat Isa masuk
dan mulai berganti pakaian. Ibu menunggunya di depan pintu kamar mandi karena
Isa menolak saat ibu ingin membantunya. Namun tiba-tiba terdengar suara
teriakan dari kamar mandi.
“Aaaaaa” Isa berteriak histeris. Ibu yang terkejut
langsung membuka pintu dan melihat Isa sudah tergeletak di samping bak mandi
untung saja kamar mandi dalam kondisi kering.
“Isa.. nak.. bangun sayang..” ibu menepuk pipi Isa namun
tidak ada tanggapan.
Kiki sedang duduk di ranjang terkejut mendengar suara
teriakan dari kamar mandi lalu segera bangkit dan menghampiri mereka.
“Ada apa bu” lalu pandangannya Kiki tertuju pada adiknya.
“Isa.. Isa kenapa bu.. apa yang terjadi?” Kiki panik melihat
adiknya tak sadarkan diri.
“Cepat kamu panggil dokter nak” pinta ibu agar Kiki segera
memanggil dokter.
“Baik bu, tapi kita harus memindahkan Isa dulu” Kiki dan Ibu
lalu menggotong Isa menuju ranjang. Dengan langkah cepat Kiki keluar mencari
dokter tidak berapa lama Kiki datang bersama dokter dan seorang suster.
Tanpa bicara dokter langsung memeriksa tanda vital pada Isa. Denyut
nadi dan jantung Isa dalam kondisi lemah membuat dokter menautkan alisnya.
“Apa ada sesuatu yang membuatnya terkejut?” tanya dokter pada
semuanya. Ibu dan Kiki saling memandang bingung.
“Sepertinya tidak ada dokter” jawab Kiki yakin.
Dokter memerintahkan suster untuk memasang selang oksigen
__ADS_1
untuk Isa.
“Benarkah tidak ada” tanya dokter memastikan.
“Iya dokter.. sebelumnya kami hanya bersiap-siap untuk pulang
dan saya membawa putri saya ke kamar mandi untuk berganti pakaian namun saat di
dalam kamar tiba-tiba saja dia berteriak saat saya masuk dia sudah tidak
sadarkan diri disamping bak mandi.” kali ini ibu yang menjawab dengan suara
yang bergetar. Menceritakan secara rinci kejadian sebelum Isa ditemukan tidak
sadarkan diri. Kiki berdiri disamping ibu berusaha menenangkan dengan memegang
tangan ibunya.
Tanpa permisi dokter lalu pergi untuk melihat keadaan kamar
mandi ruangan itu. Dokter lalu kembali ke hadapan Kiki dan bu Imah.
“Mendengar penuturan ibu perkiraan saya pasien terkejut saat
melihat pantulan dirinya di air bak mandi karena teringat dengan kejadian
dirinya yang hampir tenggelam” sebelumnya dokter telah mengetahui penyebab Isa
masuk UGD, karena telah mendapat keterangan dari suster bahwa pasien nyaris
tenggelam sebelum melakukan penanganan.
Lagi-lagi bu Imah dan Kiki saling berpandangan tidak mengerti
dengan perkataan dokter.
“Sepertinya pasien mengalami trauma pada air” jelas dokter.
Ibu dan Kiki membulatkan matanya mendengar penjelasan dokter,
tidak percaya bahwa Isa harus mengalami trauma seperti itu.
“Apa dok.. trauma pada air!” sahut Kiki terkejut.
“Apa itu berbahaya untuk hidupnya dok?” ibu bertanya sedih,
bagaimana mungkin putri kecilnya mengalami hal seperti itu ingin rasanya ibu
menggantikan posisi Isa.
“Trauma sejatinya bisa disembuhkan asal ada tekat kuat pada
penderitanya, melihat usia pasien yang masih belia tingkat kesembuhannya masih
tinggi” dokter meyakinkan Kiki dan ibu.
“Apa yang harus kami lakukan dok dengan keadaannya yang
seperti itu?” tanya Kiki.
“Untuk mengatasi rasa trauma yang bisa dilakukan adalah
dengan menghadapi trauma itu sendiri... Membawa ke Psikiater adalah salah satu
cara untuk mengatasi trauma itu atau dapat juga dilakukan dengan terapi
mandiri... Namun perlu kesabaran karena membutuhkan waktu yang tidak sebentar”
jelas dokter panjang lebar.
“Lalu bagaimana dengan kondisinya sekarang dok, apa putri
saya baik-baik saja?” tanya ibu cemas takut terjadi sesuatu yang semakin buruk
pada Isa.
“Keadaannya sedikit melemah karena syok tersebut.. tapi itu
hanya sementara saat rasa takutnya berkurang pasien akan segera sadar..
pastikan pasien untuk memperbanyak istirahat tidak memikirkan hal-hal berat dan
selalu membuatnya tenang” ucap dokter.
“Ada yang ingin ditanyakan lagi?” tanya dokter.
“Tidak ada dok” jawab ibu dan Kiki hampir bersamaan.
“Baiklah saya permisi dulu, segera temui saya jika ada
sesuatu yang mendesak” pamit dokter lalu keluar ruangan di ikuti oleh suster.
Kiki menghela nafas lalu menatap ibunya yang sangat khawatir
dengan keadaan Isa. Ibu menghampiri Isa dan terduduk di kursi samping ranjang.
“Isa maaf kan ibu karena ibu, kamu jadi begini..” tangis ibu
pecah karena sudah tidak mampu untuk menahannya lagi perasaan menyesal
terjadi hal semacam ini.
Kiki menghampiri ibu dan memeluknya.
“Jangan bicara seperti itu bu.. Kiki yakin..Isa pasti
baik-baik saja.. anak manja ini tidak mungkin selemah itu.” Hibur Kiki
menenangkan ibunya.
“Ibu hanya punya kalian berdua.. kalian sangat
berharga..kalian harus bersama ibu selamanya..” seketika bayangan saat
ditinggal suaminya terlintas begitu saja membuat ibu tambah bersedih.
“Iya.. bu kami disini.. kami akan selalu bersama ibu” ucap
Kiki menguatkan ibunya. Kiki sejujurnya juga sedih dengan keadaan adiknya tapi
ia harus tetap tegar. Jika bukan dirinya yang jadi sumber kekuatan ibunya lalu
siapa lagi. Lama Kiki memeluk Ibu akhirnya ia pamit untuk pulang mengambil
keperluan sepertinya mereka akan menginap di klinik.
“Bu.. Kiki pulang dulu ya.. mau ambil baju ganti buat ibu dan
Isa sekalian mau melihat kondisi rumah..” pamit Kiki pada ibu.
“Baiklah nak.. kamu hati-hati ya” ucap ibu pada Kiki.
“Iya bu.. oh iya apa aku perlu mengabari paman?” tanya Kiki
mengingat seharian ia meminjam mobil pamannya.
“Tidak perlu sayang.. ibu tidak ingin merepotkan pamanmu dan
membuatnya khawatir” cegah ibu.
“Baiklah bu” Kiki lalu bergegas pulang.
***
Sepanjang jalan pulang ia menahan air matanya agar tidak
tumpah namun ia kalah, bulir bening berhasil lolos berkali-kali melewati
pipinya. Merasa butuh untuk menenangkan diri ia menepikan mobil pada sebuah
taman yang tidak jauh dari klinik itu. Ia tidak sadar sedari tadi ada mobil
lain yang membuntutinya.
Kiki terduduk pada sebuah bangku taman yang terbuat dari
besi, cukup lama ia menunduk dan menangis hingga dadanya terasa sesak. Melihat
ibunya bersedih hatinya terasa sakit kesedihan itu terlihat sama saat ayahnya
berpulang dulu. Mungkinkah ibunya juga takut di tinggal oleh anak-anaknya.
Memori kesedihan terus berputar di kepalanya saat ayahnya berpulang, saat Isa
mengalami hal tragis dan saat ibunya bersedih. Ia terus mengutuk dirinya
sendiri penyesalan menyelimuti hatinya.
Beberapa kali Kiki sesenggukan hingga terasa kehabisan nafas.
Saat ia tengah menunduk memikirkan penyesalannya nampak sebuah bayangan berdiri
tepat sampingnya. Ia tidak menghiraukan hal itu dan tetap menunduk ia mengira
tengah berhalusinasi karena kepalanya yang mulai pusing. Tiba-tiba ia merasa
ada orang yang duduk di sampingnya. Namun ia tidak bergeming tetap mengira
sedang berhalusinasi. Lalu sebuah tangan mengulurkan air mineral botol tepat
di hadapannya. Kiki mengerjapkan matanya karena merasa haus ia meraih botol itu
memastikan bahwa itu terasa nyata saat akan mengambilnya, botol itu di tarik
hingga ia menoleh pada tangan yang membawa botol itu.
Kiki membulatkan matanya yang sudah sembab akibat terlalu
lama menangis dan masih sesenggukan. Ia terkejut pada orang yang sedang duduk di sampingnya ini.
Seketika ia beringsut menggeser duduknya. Saat akan bangkit tangan itu
menahannya dan membuatnya terduduk kembali. Orang itu adalah Yovi. Dengan
__ADS_1
santainya ia membuka botol dan menyodorkan pada Kiki.
“Minumlah..kau pasti haus karena terlalu lama menangis” ucap
Yovi ringan. Kiki tidak bergerak 1 senti pun. Yovi kembali menyodorkan botol
itu.
“Tenang saja nona aku tidak menaruh racun atau obat tidur
pada botol ini bukankah tadi kau lihat botolnya masih tersegel rapi dan aku
baru membukanya tepat di depan mu” Yovi.
Sial bagaimana dia tahu pikiran ku.batin Kiki.
Takut-takut Kiki meraih botol itu Yovi merasa gemas dengan cepat ia
menarik tangan Kiki dan memberikannya. Kiki lalu meminumnya dengan menghadap
Yovi.
“Jangan berpikiran picik terhadapku, aku tidak akan menggunakan
cara kotor untuk mendapatkanmu lagi” Yovi.
Mendengar itu membuat Kiki spontan menyemburkan air minum
yang memenuhi mulutnya. Tanpa sempat menghindar Yovi menerima air itu serasa
terguyur satu ember tepat di wajahnya.
Kiki bangkit dan salah tingkah pertemuan yang dibayangkan
akan dramatis malah berakhir memalukan seperti ini.
“Maaf.. maafkan saya” Kiki mengibaskan tangannya mengelilingi
wajah Yovi seolah seperti kipas sedang mengeringkan permukaan yang basah. Yovi
lalu memegang tangan kanan Kiki dengan tangan kanannya. Seketika Kiki terdiam.
Yovi mengeluarkan sapu tangan dari saku kemejanya.
“Bersihkan wajah ku dengan ini” Yovi menyelipkan sapu tangan
pada tangan Kiki yang di pegangnya.
“Hah” Kiki bingung. Kemudian ia menghela nafas dan mulai
mengeringkan wajah Yovi dengan lembut. Yovi memejamkan matanya menikmati
sentuhan tidak langsung itu. Lama iya terpejam hanyut dalam sentuhan itu ia
lalu tersadar sentuhannya telah berhenti, saat ia membuka mata ia terbelalak
mendapati Kiki menjauh darinya dengan langkah cepat ia kembali menangkap Kiki.
Kiki tersentak dan membulatkan matanya menyadari ada yang
memeluknya dari belakang. Ia lalu berusaha untuk melepaskan diri tapi Yovi
tidak mengizinkannya.
“Mau kemana?” tanya Yovi. Nafas hangatnya yang memburu dapat
dirasakan Kiki hingga menembus hijabnya dan menusuk telinganya.
“Apa kau tidak merindukan ku?” tanya Yovi semakin mengeratkan
pelukannya. Lama ia memeluk Kiki hingga membangkitkan hasratnya.
Tersadar akan tujuan utamanya adalah pulang Kiki sekuat
tenaga melepaskan pelukan yang makin menyesakkannya itu.
“Tolong lepaskan aku, aku harus pulang Ibuku sudah menunggu”
mohon Kiki.
Yovi perlahan melonggarkan pelukannya.
“Aku akan mengantarmu” pinta Yovi yang sudah berdiri
disamping Kiki.
“Tidak perlu aku membawa kendaraan sendiri” tolak Kiki halus
menoleh ke arah Yovi.
“Apa kau takut dengan ku?” tanya Yovi menatap lekat Kiki.
“Bukan begitu, aku kemari membawa mobil paman ku jika aku
tinggal kalau hilang bagaimana?” tanya Kiki polos, cukup lama tinggal di kota
besar membuat kewaspadaannya menjadi tinggi.
Yovi menahan tawa mendengar pertanyaan Kiki Ia tak mengira
bahwa gadis yang Ia tunggu selama ini memiliki pemikiran seperti itu.
“Disini aman aku jamin tidak akan hilang.” Ucap Yovi mantap.
“Benarkah?” ucap Kiki sanksi siapa yang akan percaya
meninggalkan barang berharga di tempat seperti ini akan aman. Ia percaya tindak
kejahatan selalu ada dimana-mana asal ada kesempatan.
“Apa kamu yakin?” ucap Kiki memastikan.
“Hemm.. apa kita akan berdebat disini hanya gara-gara mobil
pamanmu dan membiarkan ibumu menunggu lebih lama lagi” ucap Yovi jengah.
“Aku sih tidak keberatan.. mau menemanimu disini semalaman
pun aku sanggup” Yovi menaik- turunkan alisnya dan tersenyum menggoda.
“Terimakasih tuan.. itu hanya dalam mimpimu saja.” Kiki
melengoskan wajahnya.
“Ya sudah ayo” Yovi lalu melangkah menggandeng tangan Kiki.
Kiki tersentak dan dengan cepat melepaskan tangan Yovi. Lalu berjalan
beriringan. Yovi melajukan mobilnya dengan perasaan bahagia.
Di Klinik
Ibu menatap lekat Isa yang belum juga sadar, di genggamnya
erat tangan itu di pijatnya lembut lengan putrinya berharap dengan sentuhan itu
putrinya dapat segera sadar. Ibu mana yang tega melihat anaknya dalam kondisi
menyedihkan seperti ini. Tidak terasa bulir bening lolos jatuh di pipi yang
sudah manampilkan guratan tua. Ia lalu segera menghapusnya menghela nafas
kuat-kuat berusaha tetap tenang.
Sudah hampir satu jam tetapi Kiki belum juga kembali, ibu
jadi resah apa telah terjadi sesuatu pada putrinya. Pikiran ibu melayang
kemana-mana memikirkan kemungkinan terburuk akan menimpa anaknya itu. Lama
menunggu terdengar pintu diketuk dari luar. Tok..tok..tok. Ibu menoleh ke arah
pintu.
Krek
Ibu membulatkan matanya dan bangkit dari duduknya melihat
dengan siapa Kiki kembali. Perlahan Kiki dan Yovi mendekati ranjang Isa.
“Maaf bu sudah membuat ibu menunggu” ucap Kiki perlahan.
Ibu Imah terus menatap tajam pada Yovi.
Bu Imah menarik tangan Kiki membawanya sedikit menjauh. Kiki
tahu ibunya akan murka mengetahui dengan siapa dia datang. Ibunya pasti kecewa
karena dia membawa orang yang paling tidak ingin dilihat oleh ibunya.
“Bu.. Kiki mohon ibu jangan marah, ini terjadi di luar
kemauan Kiki bu” Kiki berucap pelan supaya Yovi tidak mendengar. Bu Imah
menghela nafas kasar.
“Segera kamu bawa lelaki br*ngsek itu keluar sebelum ibu
murka” ancam ibu yang sudah berapi-api.
“Ba-baik bu” Kiki ketakutan tidak pernah melihat ibunya
semarah ini dan berlalu dari hadapan ibunya.
Kiki bergegas menghampiri Yovi menarik tangannya dan
membawanya keluar. Yovi tersentak dan terseok-seok mengikuti langkah Kiki yang
berjalan cepat seperti sedang di kejar hantu.
***
__ADS_1
Selamat membaca...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak-kakak...