Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Keresahan Ibu


__ADS_3

Setelah Yovi berkunjung menjenguk Isa perasaan ibu jadi tidak


karuan. Kiki sudah bangun dari tidurnya dan terduduk di sofa. Jam menunjukkan


pukul 16.30 WIB Isa tersadar pelan ia membuka matanya dan menggerakkan jari


jemarinya yang di genggam erat oleh ibunya.


“Kamu sudah sadar sayang..” ucap ibu lembut dan menatap lekat


pada Isa.


Mendengar itu Kiki bangkit dan menghampiri ranjang untuk


melihat Isa. Dilihatnya adiknya sudah membuka mata dan tersenyum lemah dengan


sigap ia keluar untuk mencari dokter agar segera memeriksa adiknya. Kiki


kembali dengan dokter dan seorang suster. Dokter lalu memeriksa dengan seksama.


Lalu menanyakan keluhan yang dirasakan Isa.


“Gadis manis apa ada sesuatu yang kau rasakan?” tanya dokter


ramah. Isa hanya menggeleng.


“Coba pelan-pelan tarik nafas..tahan..hembuskan” Dokter


meminta Isa melakukan pernafasan.


“Apa saat bernafas tadi terasa sesak.. apa ada bagian yang


sakit?” tanya dokter lagi.


“Tidak ada dokter” jawab Isa jujur.


“Kondisimu sudah membaik kamu diperbolehkan pulang hari ini”


ucap dokter mengizinkan Isa untuk pulang. Dokter meminta suster untuk melepas


infus Isa. Setelah selesai Dokter dan suster keluar ruangan bu Imah


mengantarkannya. Sementara Kiki menemani Isa.


“Benarkah putri saya sudah boleh pulang dokter” tanya bu Imah


memastikan.


“Iya bu.. kondisinya sudah pulih ibu sudah dapat


menyelesaikan administrasinya dan nanti tolong ke ruangan saya, akan saya


resepkan vitamin untuk membantu menjaga staminanya” jelas dokter.


“Terimakasih dokter” bu Imah.


“Sama-sama saya permisi dulu” pamit dokter. Ibu kembali pada


kedua putrinya.


“Nak kita siap-siap pulang ya” ucapnya pada kedua putrinya.


Ibu lalu mengambil tas dan bersiap keluar untuk mengurus administrasi.


“Ibu mau kemana?” tanya Kiki.


“Ibu mau mengurus administrasi dulu, kalian tunggu disini”


jawab ibu.


“Biar Kiki saja bu..” cegah Kiki. Sebelum Ia keluar ibunya


menyuruh untuk ke ruangan dokter mengambil resep untuk adiknya.


Saat di kasir ia terkejut karena tagihannya sudah lunas, saat


Kiki menanyakan siapa orang yang telah membayar, petugas itu tidak memberi tahu


dengan jelas Ia hanya mengatakan bahwa seorang lelaki tampan telah membayar tagihan


itu.


Kiki memutar otak nya memikirkan siapa orang itu, apa mungkin


pamannya tapi itu tidak mungkin karena pamannya tidak mengetahui kejadian ini,


jika benar itu pamannya mengapa petugas itu mengatakan bahwa yang membayar


adalah lelaki tampan sementara pamannya seumuran ibu nya sudah pasti


ketampanannya sudah memudar bukan.  Lama


ia termenung Ia di sadarkan dengan suara penjaga kasir.


“Maaf kak ini ada titipan.. kak..” petugas itu mengguncangkan


bahu Kiki.


“Eh.. iya kak?” tanya Kiki tergagap.


“Ini ada titipan dari seorang lelaki tampan” sambil menyerahkan


paper bag.


“Apa ini kak?” tanya Kiki penasaran.


“Maaf saya kurang tahu” ucap petugas kasir sopan.


“Terimakasih kak” ucap Kiki ramah menerima paper bag itu.


“Sama-sama” petugas kasir.


Setelah itu Ia berpindah ke apotek klinik itu untuk menebus


obat yang telah di resepkan dokter. Sambil menunggu antrean ia membuka dan


melihat paper bag itu karena penasaran dengan isinya. Setelah di buka ternyata


isi nya adalah satu setel piyama berwarna biru dengan motif beruang ia teringat


pada adiknya jika ia lupa membawa pakaian ganti untuknya. 10 menit menunggu


kemudian Kiki dipanggil untuk mengambil obat itu. Kiki kembali ke ruang rawat


adiknya lalu menyerahkan paper bag itu pada adiknya.


“Apa ini kak?” tanya Isa.


“Itu baju ganti buat kamu, tadi kakak keluar sebentar untuk


membelinya” ucap Kiki bohong agar ibu tidak curiga.


“Bagaimana nak sudah kamu urus administrasinya?” tanya bu


Imah.


“Su-sudah bu” Kiki tergagap menjawab pertanyaan ibu.


“Kita akan pulang sekarang kan bu?” Kiki mengalihkan


perhatian ibu.


“Iya.. ayo sa ganti pakaian mu dulu” ibu kemudian membawa Isa


ke kamar mandi yang ada di ruang rawat itu. Tidak ada yang aneh saat Isa masuk


dan mulai berganti pakaian. Ibu menunggunya di depan pintu kamar mandi karena


Isa menolak saat ibu ingin membantunya. Namun tiba-tiba terdengar suara


teriakan dari kamar mandi.


“Aaaaaa” Isa berteriak histeris. Ibu yang terkejut


langsung membuka pintu dan melihat Isa sudah tergeletak di samping bak mandi


untung saja kamar mandi dalam kondisi kering.


“Isa.. nak.. bangun sayang..” ibu menepuk pipi Isa namun


tidak ada tanggapan.


Kiki sedang duduk di ranjang terkejut mendengar suara


teriakan dari kamar mandi lalu segera bangkit dan menghampiri mereka.


“Ada apa bu” lalu pandangannya Kiki tertuju pada adiknya.


“Isa.. Isa kenapa bu.. apa yang terjadi?” Kiki panik melihat


adiknya tak sadarkan diri.


“Cepat kamu panggil dokter nak” pinta ibu agar Kiki segera


memanggil dokter.


“Baik bu, tapi kita harus memindahkan Isa dulu” Kiki dan Ibu


lalu menggotong Isa menuju ranjang. Dengan langkah cepat Kiki keluar mencari


dokter tidak berapa lama Kiki datang bersama dokter dan seorang suster.


Tanpa bicara dokter langsung memeriksa tanda vital pada Isa. Denyut


nadi dan jantung Isa dalam kondisi lemah membuat dokter menautkan alisnya.


“Apa ada sesuatu yang membuatnya terkejut?” tanya dokter pada


semuanya. Ibu dan Kiki saling memandang bingung.


“Sepertinya tidak ada dokter” jawab Kiki yakin.


Dokter memerintahkan suster untuk memasang selang oksigen

__ADS_1


untuk Isa.


“Benarkah tidak ada” tanya dokter memastikan.


“Iya dokter.. sebelumnya kami hanya bersiap-siap untuk pulang


dan saya membawa putri saya ke kamar mandi untuk berganti pakaian namun saat di


dalam kamar tiba-tiba saja dia berteriak saat saya masuk dia sudah tidak


sadarkan diri disamping bak mandi.” kali ini ibu yang menjawab dengan suara


yang bergetar. Menceritakan secara rinci kejadian sebelum Isa ditemukan tidak


sadarkan diri. Kiki berdiri disamping ibu berusaha menenangkan dengan memegang


tangan ibunya.


Tanpa permisi dokter lalu pergi untuk melihat keadaan kamar


mandi ruangan itu. Dokter lalu kembali ke hadapan Kiki dan bu Imah.


“Mendengar penuturan ibu perkiraan saya pasien terkejut saat


melihat pantulan dirinya di air bak mandi karena teringat dengan kejadian


dirinya yang hampir tenggelam” sebelumnya dokter telah mengetahui penyebab Isa


masuk UGD, karena telah mendapat keterangan dari suster bahwa pasien nyaris


tenggelam sebelum melakukan penanganan.


Lagi-lagi bu Imah dan Kiki saling berpandangan tidak mengerti


dengan perkataan dokter.


“Sepertinya pasien mengalami trauma pada air” jelas dokter.


Ibu dan Kiki membulatkan matanya mendengar penjelasan dokter,


tidak percaya bahwa Isa harus mengalami trauma seperti itu.


“Apa dok.. trauma pada air!” sahut Kiki terkejut.


“Apa itu berbahaya untuk hidupnya dok?” ibu bertanya sedih,


bagaimana mungkin putri kecilnya mengalami hal seperti itu ingin rasanya ibu


menggantikan posisi Isa.


“Trauma sejatinya bisa disembuhkan asal ada tekat kuat pada


penderitanya, melihat usia pasien yang masih belia tingkat kesembuhannya masih


tinggi” dokter meyakinkan Kiki dan ibu.


“Apa yang harus kami lakukan dok dengan keadaannya yang


seperti itu?” tanya Kiki.


“Untuk mengatasi rasa trauma yang bisa dilakukan adalah


dengan menghadapi trauma itu sendiri... Membawa ke Psikiater adalah salah satu


cara untuk mengatasi trauma itu atau dapat juga dilakukan dengan terapi


mandiri... Namun perlu kesabaran karena membutuhkan waktu yang tidak sebentar”


jelas dokter panjang lebar.


“Lalu bagaimana dengan kondisinya sekarang dok, apa putri


saya baik-baik saja?” tanya ibu cemas takut terjadi sesuatu yang semakin buruk


pada Isa.


“Keadaannya sedikit melemah karena syok tersebut.. tapi itu


hanya sementara saat rasa takutnya berkurang pasien akan segera sadar..


pastikan pasien untuk memperbanyak istirahat tidak memikirkan hal-hal berat dan


selalu membuatnya tenang” ucap dokter.


“Ada yang ingin ditanyakan lagi?” tanya dokter.


“Tidak ada dok” jawab ibu dan Kiki hampir bersamaan.


“Baiklah saya permisi dulu, segera temui saya jika ada


sesuatu yang mendesak” pamit dokter lalu keluar ruangan di ikuti oleh suster.


Kiki menghela nafas lalu menatap ibunya yang sangat khawatir


dengan keadaan Isa. Ibu menghampiri Isa dan terduduk di kursi samping ranjang.


“Isa maaf kan ibu karena ibu, kamu jadi begini..” tangis ibu


pecah karena sudah tidak mampu untuk menahannya lagi perasaan menyesal


terjadi hal semacam ini.


Kiki menghampiri ibu dan memeluknya.


“Jangan bicara seperti itu bu.. Kiki yakin..Isa pasti


baik-baik saja.. anak manja ini tidak mungkin selemah itu.” Hibur Kiki


menenangkan ibunya.


“Ibu hanya punya kalian berdua.. kalian sangat


berharga..kalian harus bersama ibu selamanya..” seketika bayangan saat


ditinggal suaminya terlintas begitu saja membuat ibu tambah bersedih.


“Iya.. bu kami disini.. kami akan selalu bersama ibu” ucap


Kiki menguatkan ibunya. Kiki sejujurnya juga sedih dengan keadaan adiknya tapi


ia harus tetap tegar. Jika bukan dirinya yang jadi sumber kekuatan ibunya lalu


siapa lagi. Lama Kiki memeluk Ibu akhirnya ia pamit untuk pulang mengambil


keperluan sepertinya mereka akan menginap di klinik.


“Bu.. Kiki pulang dulu ya.. mau ambil baju ganti buat ibu dan


Isa sekalian mau melihat kondisi rumah..” pamit Kiki pada ibu.


“Baiklah nak.. kamu hati-hati ya” ucap ibu pada Kiki.


“Iya bu.. oh iya apa aku perlu mengabari paman?” tanya Kiki


mengingat seharian ia meminjam mobil pamannya.


“Tidak perlu sayang.. ibu tidak ingin merepotkan pamanmu dan


membuatnya khawatir” cegah ibu.


“Baiklah bu” Kiki lalu bergegas pulang.


***


Sepanjang jalan pulang ia menahan air matanya agar tidak


tumpah namun ia kalah, bulir bening berhasil lolos berkali-kali melewati


pipinya. Merasa butuh untuk menenangkan diri ia menepikan mobil pada sebuah


taman yang tidak jauh dari klinik itu. Ia tidak sadar sedari tadi ada mobil


lain yang membuntutinya.


Kiki terduduk pada sebuah bangku taman yang terbuat dari


besi, cukup lama ia menunduk dan menangis hingga dadanya terasa sesak. Melihat


ibunya bersedih hatinya terasa sakit kesedihan itu terlihat sama saat ayahnya


berpulang dulu. Mungkinkah ibunya juga takut di tinggal oleh anak-anaknya.


Memori kesedihan terus berputar di kepalanya saat ayahnya berpulang, saat Isa


mengalami hal tragis dan saat ibunya bersedih. Ia terus mengutuk dirinya


sendiri penyesalan menyelimuti hatinya.


Beberapa kali Kiki sesenggukan hingga terasa kehabisan nafas.


Saat ia tengah menunduk memikirkan penyesalannya nampak sebuah bayangan berdiri


tepat sampingnya. Ia tidak menghiraukan hal itu dan tetap menunduk ia mengira


tengah berhalusinasi karena kepalanya yang mulai pusing. Tiba-tiba ia merasa


ada orang yang duduk di sampingnya. Namun ia tidak bergeming tetap mengira


sedang berhalusinasi. Lalu sebuah tangan mengulurkan air mineral botol tepat


di hadapannya. Kiki mengerjapkan matanya karena merasa haus ia meraih botol itu


memastikan bahwa itu terasa nyata saat akan mengambilnya, botol itu di tarik


hingga ia menoleh pada tangan yang membawa botol itu.


Kiki membulatkan matanya yang sudah sembab akibat terlalu


lama menangis dan masih sesenggukan. Ia terkejut pada orang yang sedang duduk di sampingnya ini.


Seketika ia beringsut menggeser duduknya. Saat akan bangkit tangan itu


menahannya dan membuatnya terduduk kembali. Orang itu adalah Yovi. Dengan

__ADS_1


santainya ia membuka botol dan menyodorkan pada Kiki.


“Minumlah..kau pasti haus karena terlalu lama menangis” ucap


Yovi ringan. Kiki tidak bergerak 1 senti pun. Yovi kembali menyodorkan botol


itu.


“Tenang saja nona aku tidak menaruh racun atau obat tidur


pada botol ini bukankah tadi kau lihat botolnya masih tersegel rapi dan aku


baru membukanya tepat di depan mu” Yovi.


Sial bagaimana dia tahu pikiran ku.batin Kiki.


Takut-takut Kiki meraih botol itu Yovi merasa gemas dengan cepat ia


menarik tangan Kiki dan memberikannya. Kiki lalu meminumnya dengan menghadap


Yovi.


“Jangan berpikiran picik terhadapku, aku tidak akan menggunakan


cara kotor untuk mendapatkanmu lagi” Yovi.


Mendengar itu membuat Kiki spontan menyemburkan air minum


yang memenuhi mulutnya. Tanpa sempat menghindar Yovi menerima air itu serasa


terguyur satu ember tepat di wajahnya.


Kiki bangkit dan salah tingkah pertemuan yang dibayangkan


akan dramatis malah berakhir memalukan seperti ini.


“Maaf.. maafkan saya” Kiki mengibaskan tangannya mengelilingi


wajah Yovi seolah seperti kipas sedang mengeringkan permukaan yang basah. Yovi


lalu memegang tangan kanan Kiki dengan tangan kanannya. Seketika Kiki terdiam.


Yovi mengeluarkan sapu tangan dari saku kemejanya.


“Bersihkan wajah ku dengan ini” Yovi menyelipkan sapu tangan


pada tangan Kiki yang di pegangnya.


“Hah” Kiki bingung. Kemudian ia menghela nafas dan mulai


mengeringkan wajah Yovi dengan lembut. Yovi memejamkan matanya menikmati


sentuhan tidak langsung itu. Lama iya terpejam hanyut dalam sentuhan itu ia


lalu tersadar sentuhannya telah berhenti, saat ia membuka mata ia terbelalak


mendapati Kiki menjauh darinya dengan langkah cepat ia kembali menangkap Kiki.


Kiki tersentak dan membulatkan matanya menyadari ada yang


memeluknya dari belakang. Ia lalu berusaha untuk melepaskan diri tapi Yovi


tidak mengizinkannya.


“Mau kemana?” tanya Yovi. Nafas hangatnya yang memburu dapat


dirasakan Kiki hingga menembus hijabnya dan menusuk telinganya.


“Apa kau tidak merindukan ku?” tanya Yovi semakin mengeratkan


pelukannya. Lama ia memeluk Kiki hingga membangkitkan hasratnya.


Tersadar akan tujuan utamanya adalah pulang Kiki sekuat


tenaga melepaskan pelukan yang makin menyesakkannya itu.


“Tolong lepaskan aku, aku harus pulang Ibuku sudah menunggu”


mohon Kiki.


Yovi perlahan melonggarkan pelukannya.


“Aku akan mengantarmu” pinta Yovi yang sudah berdiri


disamping Kiki.


“Tidak perlu aku membawa kendaraan sendiri” tolak Kiki halus


menoleh ke arah Yovi.


“Apa kau takut dengan ku?” tanya Yovi menatap lekat Kiki.


“Bukan begitu, aku kemari membawa mobil paman ku jika aku


tinggal kalau hilang bagaimana?” tanya Kiki polos, cukup lama tinggal di kota


besar membuat kewaspadaannya menjadi tinggi.


Yovi menahan tawa mendengar pertanyaan Kiki Ia tak mengira


bahwa gadis yang Ia tunggu selama ini memiliki pemikiran seperti itu.


“Disini aman aku jamin tidak akan hilang.” Ucap Yovi mantap.


“Benarkah?” ucap Kiki sanksi siapa yang akan percaya


meninggalkan barang berharga di tempat seperti ini akan aman. Ia percaya tindak


kejahatan selalu ada dimana-mana asal ada kesempatan.


“Apa kamu yakin?” ucap Kiki memastikan.


“Hemm.. apa kita akan berdebat disini hanya gara-gara mobil


pamanmu dan membiarkan ibumu menunggu lebih lama lagi” ucap Yovi jengah.


“Aku sih tidak keberatan.. mau menemanimu disini semalaman


pun aku sanggup” Yovi menaik- turunkan alisnya dan tersenyum menggoda.


“Terimakasih tuan.. itu hanya dalam mimpimu saja.” Kiki


melengoskan wajahnya.


“Ya sudah ayo” Yovi lalu melangkah menggandeng tangan Kiki.


Kiki tersentak dan dengan cepat melepaskan tangan Yovi. Lalu berjalan


beriringan. Yovi melajukan mobilnya dengan perasaan bahagia.


 


Di Klinik


Ibu menatap lekat Isa yang belum juga sadar, di genggamnya


erat tangan itu di pijatnya lembut lengan putrinya berharap dengan sentuhan itu


putrinya dapat segera sadar. Ibu mana yang tega melihat anaknya dalam kondisi


menyedihkan seperti ini. Tidak terasa bulir bening lolos jatuh di pipi yang


sudah manampilkan guratan tua. Ia lalu segera menghapusnya menghela nafas


kuat-kuat berusaha tetap tenang.


Sudah hampir satu jam tetapi Kiki belum juga kembali, ibu


jadi resah apa telah terjadi sesuatu pada putrinya. Pikiran ibu melayang


kemana-mana memikirkan kemungkinan terburuk akan menimpa anaknya itu. Lama


menunggu terdengar pintu diketuk dari luar. Tok..tok..tok. Ibu menoleh ke arah


pintu.


Krek


Ibu membulatkan matanya dan bangkit dari duduknya melihat


dengan siapa Kiki kembali. Perlahan Kiki dan Yovi mendekati ranjang Isa.


“Maaf bu sudah membuat ibu menunggu” ucap Kiki perlahan.


Ibu Imah terus menatap tajam pada Yovi.


Bu Imah menarik tangan Kiki membawanya sedikit menjauh. Kiki


tahu ibunya akan murka mengetahui dengan siapa dia datang. Ibunya pasti kecewa


karena dia membawa orang yang paling tidak ingin dilihat oleh ibunya.


“Bu.. Kiki mohon ibu jangan marah, ini terjadi di luar


kemauan Kiki bu” Kiki berucap pelan supaya Yovi tidak mendengar. Bu Imah


menghela nafas kasar.


“Segera kamu bawa lelaki br*ngsek itu keluar sebelum ibu


murka” ancam ibu yang sudah berapi-api.


“Ba-baik bu” Kiki ketakutan tidak pernah melihat ibunya


semarah ini dan berlalu dari hadapan ibunya.


Kiki bergegas menghampiri Yovi menarik tangannya dan


membawanya keluar. Yovi tersentak dan terseok-seok mengikuti langkah Kiki yang


berjalan cepat seperti sedang di kejar hantu.


***

__ADS_1


Selamat membaca...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak-kakak...


__ADS_2