Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Didi Enggak Mau Hamil?


__ADS_3

Mendengar kabar kehamilan Diandra, Aditya dan Airin saling berpandangan dan kemudian tersenyum getir. Antara bahagia dan prihatin, karena Angga saat ini masih koma.


Sedangkan papa Chandra nampak berkaca-kaca,,


Mama Dewi langsung memeluk Diandra dan memberikan ucapan selamat kepada anak menantu nya itu, "selamat ya nak,, semoga kehadiran nya membawa kabar baik untuk kita semua." Lirih mama Dewi di telinga sang menantu, sambil mengusap lembut punggung Diandra.


Setelah mama Dewi melepaskan pelukan nya, kini giliran bu Rahma yang memeluk erat putri angkat kesayangan nya itu. "Nak, syukuri apa yang sudah Allah hadir kan untuk mu,,, ibu yakin, hadir nya jabang bayi di rahim mu akan membawa kebahagiaan untuk mu dan juga suami mu," ucap bu Rahma sambil mengelus perut Diandra yang masih rata.


Diandra yang sedari tadi sudah mengeluarkan air mata, kini semakin terisak di pelukan sang ibu. "Didi enggak mau hamil sekarang bu... Didi enggak mau?!" Ucap nya dengan pilu, di antara isak tangis nya.


"Didi enggak mau seperti ibu kandung Didi bu,, Didi enggak mau hamil tanpa di dampingi suami bu, Didi enggak mau melahirkan sendirian bu..." ucap nya terbata dan terdengar sangat menyayat hati.


Mendengar penuturan putri nya, papa Chandra tak kuasa menahan air mata nya. Papa Chandra langsung beranjak dan mendekati putri nya.


Mengetahui papa Chandra mendekat, bu Rahma melepaskan pelukan nya pada Diandra dan memberikan kesempatan pada papa kandung dari anak angkat nya itu untuk memeluk putri nya.


Papa Chandra kemudian membawa Diandra dalam dekapan nya, pelukan hangat seorang ayah yang bisa menenangkan di saat gundah melanda anak nya. "Maaf kan papa nak, maaf kan papa.. karena papa tidak bisa menjaga dan menemani ibu mu, di saat kamu masih dalam kandungan nya. Maaf kan papa, yang tidak bisa hadir di saat ibu mu melahirkan mu." Ucap papa Chandra dengan suara bergetar menahan sesak di dada nya, air mata nya semakin deras mengucur membasahi wajah tampan nya.


Opa Win yang entah sejak kapan telah berdiri di ambang pintu, tak mampu menahan bulir bening yang jatuh membasahi wajah nya yang nampak sudah mulai berkeriput.


Diandra menggeleng dalam dekapan sang papa, "itu bukan salah papa, dan kami tahu itu,,, berhentilah menyalah kan diri papa," balas Diandra masih terisak.


"Maaf kan papa nak.. maaf,, karena kamu harus tumbuh besar seorang diri. Tapi papa janji, papa akan merawat mu dan juga anak yang ada dalam kandungan kamu saat ini. Papa juga akan terus mengusahakan yang terbaik, untuk kesembuhan suami mu. Kita sama-sama berdo'a ya?" Pinta sang papa masih dengan menahan isak nya, sambil mengusap lembut rambut putri kandung nya.


Diandra melerai pelukan sang papa, dan mendongak menatap papa nya, "Didi takut, kak Angga enggak mau bangun lagi pa,," ucap nya dengan sangat lirih, namun mampu di dengar oleh opa Win, bu Rahma dan juga mama Dewi yang berada tak jauh dari tempat Diandra dan papa nya berdiri.


Bu Rahma menetes kan air mata, begitu pun dengan mama Dewi.. dia tak sanggup jika harus kehilangan putra nya, dan melihat menantu kesayangan nya melahirkan tanpa ada suami di sisi nya.

__ADS_1


Opa Win yang sudah berada di dekat cucu nya, langsung memeluk sang cucu dengan erat. "Ssst,,, kamu tidak boleh bicara seperti itu nak, percayalah bahwa suami mu akan segera sadar dan kembali kepada mu. Bisik kan berita bahagia ini di telinga nya, meski mungkin Angga belum merespon.. tapi yakin lah, suami mu pasti bisa mendengar kan ucapan mu," ucap opa Win, mencoba menenangkan cucu semata wayang nya.


Diandra melepaskan pelukan sang opa dan mengangguk, "iya opa, Didi pasti akan sampaikan kabar kehamilan Didi pada kak Angga," ucap nya, nampak mulai tenang.


Opa Win dan papa Chandra kemudian menuntun Diandra untuk duduk di sofa, sebelum sempat duduk,, Airin sudah terlebih dulu berhambur dan memeluk sahabat nya itu, "selamat ya Di,, gue yakin, ini pasti yang terbaik buat lu. Lu pasti bisa melewati semua ini, dan kami akan selalu ada untuk lu." Ucap Airin dengan tulus.


"Makasih ya Rin, lu emang sahabat terbaik," balas Diandra kembali menangis.


Airin melerai pelukan nya, dan mengusap air mata Diandra dengan jari nya, "dah, jangan nangis.. ntar cantik nya ilang, dan bang Angga nyari yang lain," goda Airin seraya terkekeh pelan.


"Awas aja, kalau kak Angga berani macam-macam sama Didi!" Balas Diandra ikut tertawa, dan hal itu membuat papa Chandra dan yang lain ikut tersenyum.


"Ya, udah Di.. lu enggak usah kuliah dulu, biar nanti gue mintain ijin sama pak Anton dan bu Yulia. Gue berangkat dulu ya," pamit Airin pada sahabat nya itu.


Diandra mengangguk, "makasih ya Rin, salam buat yang lain," balas Diandra seraya tersenyum manis.


Aditya pun ikut pamit pada semua nya, untuk mengantar Airin ke kampus. Pasal nya waktu nya sudah mepet dan Airin khawatir akan terlambat sampai ke kampus. "Ma, nanti Ditya langsung ke cafe ya,," pamit nya pada mama Dewi, seraya memeluk mama angkat nya itu sekilas.


"Iya Dit, kamu hati-hati ya.. jangan ngebut," nasehat mama Dewi pada putra angkat nya.


Aditya dan Airin pun segera berlalu meninggal kan ruang perawatan khusus, dimana sahabat Aditya itu masih betah dengan tidur panjang nya.


Di sepanjang perjalanan, dua sejoli itu nampak asyik ngobrol. Aditya yang pandai menghidupkan suasana dan Airin yang juga senang bercanda, meski tak seheboh sahabat terompet nya, menjadikan suasana di dalam mobil sport milik Aditya itu terasa hangat oleh canda tawa mereka berdua.


"Rin,," panggil Aditya tiba-tiba serius.


"Iya bang, ada apa?" Tanya Airin mengernyit.

__ADS_1


"Airin tahu kan, kalau usia abang jauh di atas Airin?"


"Hmm,, kenapa memang?" Tanya Airin tak mengerti arah pembicaraan Aditya.


"Ya, karena usia abang sudah sangat matang.. tentu nya abang ingin jika menjalin hubungan itu, dengan serius." Jawab Aditya sambil melirik Airin.


Airin yang mulai dapat menangkap arah pembicaraan lawan jenis nya itu wajah nya merona merah, "lantas?" Tanya Airin pura-pura tak tahu.


"Menurut Airin, perempuan menikah di usia muda itu gimana?" Tanya Aditya memancing.


"Ya, enggak apa-apa sih bang,, asal udah ketemu jodoh yang cocok, gak masalah sih menurut Airin," balas Airin jujur.


"Emang nya, perempuan seusia Airin siap jika menikah dan langsung punya anak? Kayak Didi misal nya, terlepas dari kasus yang menimpa Angga loh..?" Aditya kembali bertanya.


Airin sekilas melirik pria dewasa di samping nya, jantung nya tiba-tiba berdegup kencang.. entah lah, dia merasa sedang di posisikan sebagai perempuan yang akan di lamar di usia muda. Tapi, benarkah? Atau, itu hanya khayalan nya semata?


Karena nyata nya, Aditya belum pernah secara terus terang menyatakan perasaan nya pada Airin.. hanya bahasa-bahasa isyarat dan bentuk perhatian lain, dan Airin takut jika ternyata dia salah mengartikan perhatian Aditya selama ini.


"Emm,, kenapa bang Ditya nanya nya pada Airin? Kan, bang Ditya bisa nanya ke Didi.. kami kan seusia?" Pancing Airin ingin tahu perasaan Aditya yang sebenar nya pada nya.


Aditya menggaruk kepala nya yang tidak gatal, dan tanpa terasa mobil yang dikendarainya telah berbelok masuk ke area kampus tempat Airin kuliah.


Airin hendak segera turun, ketika mobil yang dikendarai Aditya telah berhenti. "Rin, tunggu," Aditya menggenggam tangan kanan Airin.


Airin menoleh, "ya,," balas nya singkat.


"Nanti siang, abang jemput ya... ada yang mau abang bicarakan," pinta Aditya dengan serius, seraya menatap Airin dengan tatapan yang penuh arti.

__ADS_1


Airin mengangguk, senyum nya merekah.. seiring hati nya yang berdesir dan menghangat, melihat tatapan Aditya yang berbeda dari biasa nya.


__ADS_2