
Hari berganti, minggu berlalu,, proses hukum untuk Vera pun terus berlanjut. Satu persatu saksi di panggil untuk menjalani pemeriksaan, tak terkecuali Angga dan juga Raka.
Dari sinilah Raka tahu, bahwa adik nya itu tidak mengalami amnesia seperti yang dijelaskan papa Chandra kala itu. Angga hanya ingin memberi ruang untuk Raka, agar kembali kepada keluarga nya tanpa rasa sungkan. Dan hal itu membuat Raka sangat terharu, adik kandung yang telah disakiti nya itu mau berbesar hati memaafkan dan memberi nya kesempatan untuk menebus semua kesalahan nya di masa lalu.
Sedangkan Vera semakin menggila, dia yang tidak mendapat kan dukungan sama sekali dari keluarga nya semakin menguatkan tekad nya untuk terus berpura-pura gila. Dia berteriak, menangis dan tertawa di waktu yang bersamaan.
Ya, keluarga Vera sama sekali tak ada yang perduli dengan wanita itu, karena di keluarga besar nya,, Seno adalah cucu kesayangan kakek dan nenek nya. Dan orang tua kandung Vera sendiri, sudah menganggap Vera tiada semenjak dia memutuskan pertunangan nya dengan Angga dengan cara yang sangat buruk dan memilih kawin lari dengan Raka.
Selicik-licik nya Vera, namun pihak kepolisian tentu memiliki seorang ahli yang dapat mengetahui dan membongkar kepura-puraan Vera tersebut, sehingga hal itu justru semakin memberatkan hukuman untuk Vera karena dianggap tidak proaktif dan mempersulit proses penyelidikan.
Dan hari ini, pengadilan memutuskan hukuman seumur hidup untuk Vera,,, karena telah menghilangkan nyawa seseorang, merencanakan perbuatan kriminal, mengganggu ketentraman rumah tangga orang lain dan mengancam keselamatan orang lain dan yang terakhir mempersulit pihak kepolisian melakukan penyidikan. Dan begitu palu di ketuk.. Vera tersungkur jatuh tak sadarkan diri.
Semua bernafas dengan lega, karena Vera telah mendapat kan hukuman yang setimpal dengan perbuatan nya.
Malam ini, selepas menghadiri sidang Vera.. keluarga besar Angga telah berkumpul di apartemen Angga, tak henti Raka merangkul adik nya itu. Abang dari Angga itu meluapkan kebahagian nya dengan berlinang air mata, "dik, abang benar-benar malu sama kamu dik. Selama ini abang hanya menganggap kamu anak yang manja,, tapi justru kamu lebih dewasa dan lebih bijak dari abang," ucap Raka sambil menyeka air mata nya.
Mama Dewi yang akhirnya memutuskan untuk pindah kembali ke Jakarta, dan membeli satu unit apartemen di lantai yang sama dengan Angga dan Aditya.. terus memberikan semangat pada Raka, agar tidak berkecil hati dan larut dalam penyesalan. "Sudah bang, yang lalu biarlah berlalu.. yang penting keluarga kita sudah kembali utuh seperti dahulu," ucap mama Dewi sambil mengusap lembut punggung Raka.
"Iya bang, Angga juga senang abang sudah kembali pada kami." Balas Angga sambil menepuk punggung tangan abang nya, yang duduk diantara diri nya dan sang mama.
"Iya dik, mama dan dik Angga benar.. kakak juga bahagia kita bisa berkumpul kembali seperti dahulu," putri sulung mama Dewi ikut menimpali.
Raka mengangguk-angguk, senyum bahagia terukir jelas di wajah nya.
Terdengar pintu di ketuk, dan kemudian dibuka dari luar. Aditya masuk seraya mengucap Salam dan di balas oleh semua anggota keluarga Angga.
"Bawa apaan Dit?" Tanya Shinta antusias, "wah, dari aroma nya ini pasti martabak kesukaan mama," ucap Shinta seraya menyambut makanan dari tangan adik angkat nya itu.
"Iya dong kak, spesial buat mama ku tersayang," balas Aditya seraya memeluk mama Dewi dari belakang.
__ADS_1
"Mama tersayang,, mama tersayang,, mama itu mama ku, ngaku ngaku aja!" Gerutu Angga seperti biasa nya yang selalu berebut perhatian sang mama, sedangkan Aditya selalu sengaja memperkeruh suasana.
"Iya,, iya,, anak bungsu mama yang manja.. ambil semua, gue udah punya mama baru sekarang," balas Aditya sambil mendudukkan diri nya di sebelah Rama yang sedari tadi diam menyimak obrolan keluarga istri nya.
Mama Dewi hanya geleng-geleng kepala, seraya tersenyum.
Begitupun dengan Diandra yang terlihat kelelahan dan mengantuk, dibuat tersenyum melihat kelakuan sang suami.
"Kamu udah ngantuk yang?" Tanya Angga yang menyadari bahwa istri nya mulai mengantuk, hormon kehamilan membuat istri dari Angga itu merasa mudah lelah dan mengantuk.
"Eit, jangan tidur dulu Di.. gue tadi beliin makanan spesial buat kamu, istri tercinta.." ucap Aditya menggantung, sambil melirik Angga.
Sontak Angga melotot kearah Aditya, dan langsung pindah tempat dan duduk di samping istri nya.
"Dasar bucin.." Olok Aditya pada sahabat nya itu.
Dan semua pun tertawa, menertawakan kebucinan Angga pada sang istri.
"Makasih ya Dit," ucap mama Dewi tersenyum tulus.
"Wah,, makasih ya bang Ditya," ucap Diandra dengan mata yang membuka lebar, rasa kantuk yang menyerang nya pun langsung menghilang.
Mereka pun menikmati makanan yang dibawa Aditya, sambil melanjutkan obrolan hangat itu hingga larut malam.
Akhirnya semua nya pamit untuk kembali ke unit apartemen masing-masing, Raka pulang ke unit apartemen sang mama,, karena memang semenjak mama Dewi balik ke Jakarta, Raka diminta untuk tinggal bersama sang mama.
Shinta dan keluarga kecil nya juga menginap di unit milik sang mama, karena malam telah larut dan mama Dewi melarang putri nya yang ingin langsung pulang ke rumah nya itu.
Setelah semua nya meninggalkan unit milik Angga, Diandra membereskan gelas dan piring kotor dan membawa nya ke dapur. Angga yang baru saja mengunci pintu segera menyusul istri nya itu, "cuci besok aja yang,, udah larut, nanti kamu masuk angin," ucap Angga, seraya menyeret pelan lengan sang istri dan di tuntun nya masuk ke dalam kamar utama milik mereka.
__ADS_1
Diandra hanya bisa nurut, mengikuti langkah suami nya.
"Didi mau bersih-bersih dulu kak,," ucap Diandra, sambil melepaskan hijab nya dan kemudian bergegas menuju kamar mandi di sudut ruangan.
Angga berjalan ke arah almari, dan menyiapkan pakaian tidur untuk diri nya sendiri dan untuk sang istri.
Tak berapa lama, istri cantik Angga itu keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk kimono.
"Kamu enggak mandi kan yang?" Tanya Angga memastikan.
"Enggak kak," balas sang istri singkat, "kak Angga udah siapin baju untuk Didi?" Diandra tersenyum manis kearah sang suami.
"Hmm,," balas Angga dengan gumaman, "pakai sekarang Di, aku ingin melihat nya," titah Angga sambil mengedipkan mata menggoda sang istri.
"Malu kak,, kak Angga bersih-bersih dulu sana," tolak Diandra seraya mendorong tubuh kekar suami nya, agar segera ke kamar mandi.
Angga pun mengikuti kemauan sang istri seraya terkekeh, dan suara tawa Angga menghilang di dalam kamar mandi.
Diandra segera memakai gaun tidur yang telah di siap kan sang suami, gaun tidur tipis dari bahan sutra yang lembut dan nyaman.
Semenit kemudian, Angga telah keluar dari kamar mandi dan mendapati istri nya sudah berbaring di atas tempat tidur king size yang empuk dengan selimut tebal yang menutupi sebagian tubuh nya.
Angga mengganti lampu utama dengan lampu tidur, dan melepas handuk yang melilit di tubuh nya dan membuang nya dengan asal. Suami dari Diandra itu langsung masuk kedalam selimut, yang menutupi sebagian tubuh sang istri.
"Kak,, kak Angga kan belum pakai baju,," protes Diandra sesaat kemudian, menyadari bahwa suami nya belum memakai apa-apa.
"Biar kamu enggak perlu repot yang,," balas Angga, sambil tangan nya menelusuri area sensitif milik sang istri.
"Didi ngantuk kak,," rajuk Diandra, yang tak ingin di ganggu.
__ADS_1
"Kamu tidur saja yang, biar kan aku yang bekerja," balas Angga sambil menciumi tengkuk sang istri yang membelakangi nya.
Diandra memejamkan mata, bukan untuk tidur.. tapi menikmati sentuhan lembut sang suami, yang membangkitkan gairah nya dan menghilang kan rasa kantuk yang menyerang nya.