Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Liburan Part 2


__ADS_3

Saat memasuki ruangan Isa, pandangannya tertuju pada


adiknya yang terkulai lemah di ranjang dengan selang infus di tangannya. Ia


mendekati bu Imah yang duduk di tepi ranjang sambil memegang tangan putrinya. Bu


Imah menoleh ke arah Kiki dengan tatapan tidak seperti biasanya tampak raut


kecewa, sedih dan marah. Kiki dengan ragu meneruskan langkahnya ia takut ibunya


akan memarahinya akibat kelalaiannya menjaga sang adik.  Bu Imah menghela nafas lalu bangkit menghampiri


Kiki dan membawanya keluar dari ruang UGD. Kiki dan Bu Imah kembali duduk


di ruang tunggu, Bu Imah menanyakan kronologi kejadian hingga adiknya bisa


sampai seperti itu.


“Nak.. apa yang sebenarnya terjadi, tolong ceritakan


hingga adikmu bisa jadi seperti itu” pinta bu Imah pada Kiki.


Kiki pun mulai bercerita bahwa ia hanya berusaha


mengambil gambar adiknya di tepi danau tanpa ada maksud lain. Tanpa ia sadari


tindakannya membawa adiknya dalam bahaya hingga akhirnya adiknya terjatuh


karena kehilangan pijakan. Beruntungnya ada lelaki yang dengan sigap


mengorbankan dirinya dan menolong adiknya yang hampir tenggelam itu.


“Jadi begitu bu kejadiannya.” Kiki mengakhiri


ceritanya.


“Ya sudah ibu mau masuk dulu kasihan adikmu didalam


sendirian” pamit Ibu kembali ke ruang UGD meninggalkan Kiki. Kiki hanya


mengangguk dan tersenyum paksa. Kiki mengira ibunya akan marah dan menyalahkan


dirinya namun ibunya hanya memintanya untuk mengatakan kejadian yang


sebenarnya.


Lalu ingatannya tertuju pada lelaki yang telah


menolong adiknya itu, ia mengedarkan pandangan ke sekitar lorong tunggu namun


tidak menemukan keberadaannya. Bukankah tadi ia meninggalkan tepat dimana ia


duduk sekarang tetapi kemana dia, Kiki merasa tidak tahu diuntung orang itu


rela berkorban menolong adiknya bahkan ia belum sempat berterimakasih padanya


namun orang itu menghilang begitu saja.


Tidak berapa lama datang 2 suster masuk ke ruangan Isa.


Kiki pun ikut masuk khawatir terjadi sesuatu pada adiknya.


“Apa yang terjadi suster?” tanya Kiki mulai panik.


“Tenang, tidak terjadi apa-apa, kami hanya akan


memindahkan pasien ke ruang rawat biasa karena kondisinya sudah stabil” jelas


suster lalu mulai mendorong brankar keluar ruang UGD menuju ruang rawat biasa.


Mendengar itu Kiki dan Ibu merasa lega, Kiki merangkul


pundak Ibunya mereka berjalan dibelakang mengikuti para suster, sampai didalam


ruang rawat biasa.


“Terimakasih suster”ucap Kiki tulus pada suster.


Suster tersenyum dan keluar ruangan. Ibu kembali duduk di tepi ranjang menatap


lekat putrinya.


Tiba-tiba perut Kiki berbunyi..krukkk..krukkk dilihatnya


jam yang melingkar di lengan kirinya sudah menunjukkan waktu makan siang, ia keluar


ruangan dan segera menuju kantin klinik itu untuk makan siang dan membeli makan


siang untuk ibunya. Setelah selesai ia kembali ke ruang rawat Isa.


“Bu.. sudah waktunya makan siang sebaiknya ibu makan


siang terlebih dahulu, biar aku yang menggantikan ibu menjaga Isa” mohon Kiki


yang melihat ibu cukup lelah.


“Ibu belum lapar nak,, nanti saja” tolak ibu yang


kehilangan selera makan ia hanya menginginkan anaknya segera sadar.


“Tidak baik menunda jam makan, bukankah itu yang


sering ibu katakan padaku kalau nanti ibu sakit bagaimana,, siapa yang akan


menjaga anak manja ini” canda Kiki pada ibunya supaya tidak melewatkan makan


siang.


“Baiklah ibu akan makan” ibu menerima makanan


bungkusan dari Kiki.


“Kamu sudah makan?” tanya ibu pada Kiki.


“Hemm” Kiki mengangguk mengiyakan pertanyaan ibunya.


Pandangan kiki teralih pada adiknya, di genggamnya


lembut tangan adiknya yang belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar.


Maafkan kakak


ya dek, karena kakak kamu jadi begini.Gumam


Kiki.


Setelah ibu selesai makan siang dan sholat dzuhur, ibu


kembali menggantikan Kiki menjaga Isa dan menyuruh Kiki untuk istirahat.


“Nak kamu sebaiknya istirahat biar ibu yang kembali menjaga


adikmu” titah ibu pada Kiki.


“Tidak apa-apa bu kalau ibu lelah ibu saja yang


istirahat” tolak Kiki yang merasa harus bertanggung jawab menjaga Isa.


“Ibu tidak lelah sayang, sudah sana istirahat” perintah


ibu pada Kiki. Akhirnya ia mengalah dan bangkit menuju sofa di seberang


ranjang.


Jam menunjukkan pukul 15.00 WIB namun Isa belum juga


sadar, terdengar pintu di ketuk dari luar, tok..tok..tok.. ibu yang setengah


tertidur terjaga kembali dilihatnya sudah berdiri seorang lelaki yang paling


ia hindari.


“Untuk apa kamu kemari?” hardik bu Imah bukan sapaan


ramah yang diterima Yovi melainkan sindiran yang tidak menginginkan


kehadirannya.


“Saya kemari karena saya mendengar kabar bahwa murid


saya nyaris tenggelam, untungnya ada pahlawan super yang menolongnya, apakah


kabar itu benar adanya bu Imah yang terhormat ” Yovi menyadari bahwa bocah yang Ia tolong merupakan salah satu muridnya. Yovi tak gentar dengan


penolakan bu Imah.


“Cepat sekali kabar buruk itu menyebar, hingga orang


penting seperti anda peduli pada hal-hal seperti itu ” ucap bu Imah ketus.


“Dimana saya bisa bertemu dengan pahlawan super itu,


bukankah anda harus berterimakasih dengannya karena telah menyelamatkan putri


anda, jika dia tidak datang maka bisa dipastikan putri anda tidak akan selamat”


jawab Yovi tak kalah ketus tampak tersenyum menyeringai lalu berjalan


meletakkan sebuket bunga di meja membelakangi bu Imah.


“Tutup mulutmu dan lekas pergi dari sini” usir bu Imah


menunjuk pintu ruangan. Yovi melangkah tepat disamping bu Imah menghadap


ranjang Isa.


“Apa ibu takut kalau Kiki menyadari keberadaan saya di


sini” ucap Yovi dengan nada lebih rendah lalu pandangannya tertuju pada gadis


yang tertidur di seberang ranjang.


“Jangan berbuat macam-macam Yovi sebelum ibu panggil


satpam untuk membawamu keluar” ancam bu Imah.


“Rupanya ibu masih mengingat namaku, sudah lama kita


tidak bertemu dan berbincang santai seperti ini, apa kabar bu?” kini Yovi


berbicara lebih santai pada bu Imah.


“Hentikan.. keluar kamu... saya bilang keluar.


KELUARR!!” usir ibu frustasi sudah tidak peduli lagi apakah kedua putrinya mendengar


dan terganggu dengan teriakannya.


Mendengar ada keributan Kiki mulai mengerjapkan


matanya dan mencari sumber suara, Ia terkejut dengan apa yang dilihatnya tampak


ibunya yang sedang beradu mulut dengan seorang lelaki lamat-lamat Ia memandang


wajah lelaki itu Ia menutup mulutnya saat ibu memanggil nama Yovi pada lelaki


itu. Ia berusaha memejamkan matanya kembali dan berpura-pura tidur namun terus


saja mendengarkan perdebatan Yovi dan ibunya.


“Semakin ibu teriak saya rasa sebentar lagi Kiki akan


bangun dan melihat saya, entah seperti apa reaksinya jika ia bertemu dengan


lelaki yang telah lama menunggunya dan hari ini telah menyelamatkan adik


tersayangnya ini” ucap Yovi sengaja memancing bu Imah.


“Baiklah apa maumu sekarang, aku akan mengabulkannya


dan enyah kau dari sini jangan pernah muncul dan mengganggu kehidupan kami


lagi” ibu mencoba berdamai dengan Yovi.

__ADS_1


“Apa ini cara ibu membalas pada orang yang telah


menyelamatkan putri ibu” ucap Yovi sengaja mengulur waktu karena ingin Kiki


terbangun dan melihatnya.


“Tidak usah berbelit-belit cepat katakan keinginanmu


aku janji akan mengabulkannya” ucap ibu mulai jengah dengan Yovi yang sengaja


mengulur waktu.


“Keinginanku hanya satu.. berikan Kiki padaku” ucap


Yovi dan tersenyum sinis pada bu Imah.


“APA!!!” bu Imah membelalakkan matanya mendengar permintaan


Yovi.


“Tidak akan kubiarkan hal itu terjadi, aku tidak ingin


anakku jatuh pada lubang yang sama” bu Imah keberatan dengan permintaan Yovi.


“Baiklah jika ibu tidak bisa mengabulkannya maka


izinkan saya disini sampai Kiki terbangun dan melihat saya” tawar Yovi.


Terdengar sederhana namun ibu menyadari permintaannya sama saja. Ia tidak akan


membiarkan Kiki melihat atau bertemu Yovi.


“Dasar kurang ajar!! Keluar kamu, keluar” ucap bu Imah


sambil mendorong tubuh Yovi yang tidak bergeming sekalipun. Postur tubuhnya


yang tinggi besar sangat telak dengan bu Imah yang hanya sedadanya.


Melihat Yovi dan Ibunya terus berdebat ingin rasanya


Kiki bangkit dan mengakhiri perdebatan itu. Tetapi Ia belum siap untuk bertemu


Yovi bayangan kisah masa lalunya saat Ia diperlakukan semena-mena oleh ibu Yovi yang


terus saja menghantuinya. Akhirnya Ia pasrah dan memilih diam.


Perdebatan sengit itu terus berlangsung hingga


akhirnya ibu lelah dan mengalah lalu menyepakati keinginan Yovi yang menginginkan Kiki


kembali padanya.


“Tidak ada gunanya terus berdebat dengan mu. Baiklah


aku menyetujui permintaanmu..kau bisa kembali pada anakku ” ibu pasrah, ibu


pura-pura menyetujui permintaan Yovi agar dia segera pergi dari ruangan itu.


Yovi tersenyum licik menatap ibu. Kemudian dia keluar


berjalan dengan perasaan kemenangan di dadanya.


Bu Imah merenungi peristiwa yang terjadi hari ini


liburan yang di idamkan putrinya malah berakhir tragis seperti ini. Ditambah


kemunculan Yovi yang akan menimbulkan masalah baru tanpa terasa bulir bening


jatuh di pipinya dengan cepat ia menghapus air mata itu takut ada yang melihatnya


namun terlambat Kiki sedari tadi memperhatikan ibunya dan melihat semuanya


hatinya ikut sakit melihat ibunya bersedih seperti itu.


***


Di kantor


Semenjak Kiki tidak masuk kerja suasana kantor terasa


sepi, Arief nampak tidak bersemangat beberapa kali ia melampiaskan kekesalannya


pada Iin. Seperti yang terjadi pada hari ini.


“Kamu kenapa tidak bilang kalau hari ini ada jadwal


pemotretan ” hardik Arief di depan meja kerja Iin. Iin hanya menunduk pasrah


menjawab pun tidak akan ada gunanya.


“Asisten macam apa kamu ini mengatur jadwal aja tidak


becus” tambah Arief yang semakin memojokkan Iin. Mendengar ada keributan kak


Santi yang sedang di ruang make up keluar menghampiri mereka.


“Ada apa ini kenapa berisik sekali?” tanya kak Santi


pada mereka, karena tidak ada yang menjawab. Akhirnya kak Santi bertanya pada


Iin.


“Ada apa In” Iin bingung menjawab pertanyaan kak


Santi.


“Begini bu....” lama Iin berpikir akhirnya Arief


menyambar.


“Kak.. dia mengacaukan pekerjaan ku, dia tidak bilang


kalau hari ini ada jadwal pemotretan padahal itu pemotretan penting” jelas


Arief yang menyalahkan Iin.


“Benar begitu In?” tidak biasanya Iin bekerja seperti


“Emmm” ragu Iin mengatakan yang sebenarnya, ia sudah


memberi tahu jadwal pemotretan sehari sebelumnya bahkan ia sudah mengirim pesan


pribadi pada Arief tetapi Arief mengabaikannya.


“Sudahlah.. tidak ada gunanya punya asisten yang tidak


kompeten seperti dia.. pecat saja dia kak.. bikin kacau saja” Arief meluapkan


kemarahannya pada Iin padahal Iin tidak salah apa-apa. Arief tidak menyadari


bahwa itu adalah kesalahannya sendiri yang tidak fokus dalam bekerja.


Mendengar itu Iin mulai berkaca-kaca menahan bulir


bening yang siap jatuh namun ia sekuat tenaga untuk tetap tenang.


“Maaf kan atas kelalaian saya mas, saya janji tidak


akan mengulanginya lagi” mohon Iin pada Arief dengan mengatupkan kedua


tangannya.


‘’Ah sudahlah, mulai besok jangan tampakkan dirimu


aku tidak ingin melihatmu lagi” ucap Arief sinis lalu pergi begitu saja.


Iin menangis sesenggukan akibat perkataan Arief,


benarkah ia akan dipecat bagaimana nasib masa depannya. Ia harus menganggur


lagi mencari pekerjaan di kota ini sungguh tidak mudah. Kak Santi menenangkan


Iin memberinya air mineral gelas yang ada di hadapannya.


“Bagaimana ceritanya In, kenapa Arief jadi semarah


ini?” tanya Kak Santi penasaran pasti sesuatu telah terjadi.


“Bu, jika saya jujur, apa saya akan dipecat?” Iin


memastikan nasibnya jika ia berkata jujur apakah ia tetap akan dipecat.


Kak Santi menautkan alisnya bingung. Apa yang


sebenarnya terjadi apakah masalahnya seserius itu.


“Katakan yang sebenarnya In, kejujuran mu akan sangat


saya hargai” Kak Santi meyakinkan Iin untuk cerita yang sebenarnya.


“Sebenarnya ini bukan sepenuhnya salah saya bu, mas


Arief ada jadwal pemotretan dengan salah satu perusahaan untuk sebuah iklan,


yang saya dengar perusahaan itu milik temannya seharusnya pemotretan


dilaksanakan hari ini tapi karena mas Arief lupa sepertinya pemotretan gagal


dilakukan” jelas Iin sambil mengatur nafasnya.


“Bagaimana dia bisa lupa, apa kamu tidak mengingatkan


jadwalnya” tanya kak Santi.


“Kemarin sudah saya infokan bu, bahkan semalam saya


juga sudah mengirim pesan padanya namun sepertinya mas Arief tidak


membacanya” Iin mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan pesan di layar


ponselnya. Memang benar Iin sudah mengingatkan, sekarang masalahnya terletak


pada Arief mengapa Ia jadi tidak profesional seperti ini dan malah melempar


kesalahan pada orang lain. Kak Santi menghela nafas dan akan meninggalkan Iin


untuk menemui Arief membahas masalah ini. Saat kak Santi sudah berbalik Iin


memanggilnya.


“Bu.. maaf apa saya tetap akan dipecat” Iin menatap kak


Santi lekat, semakin khawatir karena setelah ia mengatakan yang sebenarnya kak


Santi tidak menanggapi apapun dan malah meninggalkannya. Kak Santi lalu


berbalik.


“Akan saya pertimbangkan lagi.. terimakasih atas


kejujuranmu saya sangat menghargai itu” Kak Santi tersenyum ramah pada Iin. Iin merasa lega sepertinya ia


tidak jadi pecat.


“Coba kamu hubungi lagi perusahaan itu dan minta


jadwal ulang bilang saja kalau hari ini jadwalnya berbenturan dengan agenda


lain” Kak Santi memberi arahan supaya pemotretan itu tetap dilakukan walau harus


menjadwal ulang.


“Baik bu, akan saya usahakan terimakasih atas kebaikan


ibu” Iin tersenyum sumringah ditengah kebuntuannya kak Santi memberinya arahan


yang sangat berguna. Kak Santi hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan Iin.


Saat jam makan siang kak Santi mengajak Arief untuk


makan bersama, Arief awalnya menolak ajakan itu karena Ia sedang tidak selera


makan ditambah tidak adanya Kiki disisinya membuatnya tidak minat untuk

__ADS_1


melakukan apapun. Akhirnya ia pasrah menuruti kakak iparnya.


Arief dan Kak Santi menuju restoran dekat kantor


dengan menggunakan mobil. Mereka makan siang dengan tenang hanya terdengar


sendok dan garpu yang berdenting beradu dengan piring. Selesai makan siang kak


Santi memulai pembicaraan.


“Arief apa yang terjadi denganmu, kenapa akhir-akhir


ini pekerjaanmu jadi berantakan?” kak Santi bertanya pelan.


“Tidak ada kak” jawab Arief malas sepertinya dia tahu alur


pembicaraan kakak iparnya.


“Hemm.. apa ini ada hubungannya dengan Marwa, kakak


perhatikan semangat kerjamu turun bahkan sejak kau pulang dari rumahnya tampak


terlihat kacau” kak Santi cukup peka terhadap sekelilingnya walau jarang bicara


seperti kebanyakan wanita lainnya namun sangat ahli menafsirkan suatu keadaan


seperti yang terjadi pada adik iparnya ini.


“Tidak ada kak, tidak ada hubungannya dengan dia” elak


Arief yang coba membohongi kakak iparnya.


“Benarkah?” tanya kak Santi tidak percaya.


“Iya kak, bukankah sudah saatnya kembali ke kantor jam


makan siang sudah hampir usai” Arief mengalihkan pembicaraan. Arief bangkit


dari kursinya dan akan ke kasir untuk membayar tagihan.


“Lalu mengapa kamu menyalahkan orang lain atas


kelalaianmu sendiri” cegah kak Santi dengan menatap lurus. Arief terduduk


kembali.


“Aku tidak mengerti dengan perkataan kakak” Arief


memang tidak paham dengan maksud kakak iparnya.


“Bukankah menghilangkan pekerjaan orang lain atas


kesalahan sendiri adalah sesuatu yang tidak dibenarkan” kak Santi.


“Maksud kakak asisten tidak kompeten itu” Arief.


“Bukankah dirimu yang tidak profesional melibatkan


urusan pribadi dalam pekerjaan” kak Santi menatap tajam pada Arief.


“Aku merasa tidak melakukan itu” kilah Arief.


“Kakak tahu kau tidak bersemangat kerja dan jadi


seperti ini karena Marwa tidak disamping mu kan” kak Santi mencoba memancing


dan melihat reaksi Arief.


“Sudah ku bilang ini tidak ada kaitannya dengannya


kak” lagi-lagi Arief berbohong.


“Lalu mengapa kau menyalahkan Iin atas kesalahan mu


sendiri”


“Mengapa kakak membahasnya lagi, masalahnya sudah


jelas kak dia yang bekerja tidak benar” Arief masih saja tidak mengakui


kesalahannya.


“Dimana letak kesalahannya” kak Santi pura-pura tidak


tahu kejadian yang sebenarnya.


“Bukankah tadi pagi sudah aku jelaskan.. gara-gara dia


projek dengan temanku jadi kacau, aku merasa tidak enak dengannya” jelas Arief


tanpa merasa bersalah.


“Kamu yakin semua itu salahnya?” kak Santi mulai


kesal.


“Yakin kak, biar saja dia di pecat aku akan mencari


asisten yang lebih baik lagi darinya” Arief yakin dengan ucapannya.


“Siapa bilang dia akan dipecat.. kakak tidak akan


melakukannya” kak Santi mulai geram.


“Tapi kak..” ucapan Arief terputus.


“Apa kau tidak malu terus terusan menyalahkannya tanpa


melihat kesalahanmu sendiri” ucap kak Santi terjeda.


“Hari ini adalah murni kesalahan mu.. Iin tidak


bersalah bahkan Ia sudah bekerja dengan baik.. Ia sudah mengingatkanmu kemarin


dan dia juga sudah mengirimi mu pesan tapi kau tidak membacanya.. kalau kau


ragu silahkan cek ponselmu” jelas kak Santi meluap-luap. Arief mengeluarkan


ponselnya yang memang tidak ia sentuh sama sekali karena ia terlalu fokus


memikirkan Kiki.


Arief mungkin bisa mengelak jika Iin telah mengingatkannya


kemarin tapi soal pesan yang dikirim ke ponselnya ia tidak akan mungkin


mengelak lagi karena jejak digital sangat akurat. Ia lalu mengambil ponsel dari saku celananya.


Ia terkejut melihat pesan Iin


yang berada paling atas artinya pesan itu paling terakhir masuk ponselnya.


Bukan hanya satu kali Iin mengingatkan bahkan dini hari Iin kembali mengirimi


pesan pada Arief. ***.* Umpat Arief


dalam hati. Dengan kasar ia


meletakkan ponselnya di atas meja.


Kak Santi menggeleng melihat adik iparnya. Sudah


dipastikan bahwa memang benar ia mengabaikan pesan dari Iin.


“Lihatkan.. apa kau tetap akan menyalahkannya.. Jika kau


tidak ingin kehilangan harga dirimu minta maaf lah padanya” saran kak Santi.


“Apa perlu aku melakukan itu kak..” Arief keberatan


dengan saran kakak iparnya nya, ia terlalu gengsi untuk mengakui kesalahannya.


“Jangan terlalu keras kepala, kau memang pantas melakukan


itu.. saat berbuat kesalahan bukankah lebih baik jika meminta maaf tidak peduli


pada siapa kita melakukan itu” bagi kak Santi meminta maaf ketika berbuat salah


pada seseorang adalah sikap seorang kesatria tidak peduli siapa orang itu. Ia


pun mendidik Sherif dengan hal yang sama. Arief terdiam memikirkan perkataan


kakaknya haruskan ia meminta maaf pada asisten itu.


“Kak bukankah itu terlalu berlebihan bagaimana mungkin


aku meminta maaf padanya” Arief menolak ia tidak akan sudi meminta maaf walau


ia tahu dalam hal ini ia yang salah. Kak Santi menghela nafas.


“Jika kau masih punya muka anggaplah ini semua tidak


pernah terjadi tapi kakak pastikan dia akan meremehkanmu dan tidak akan


menganggapmu sebagai atasannya lagi.. seharusnya kau sadar itu” ucap kak Santi


tersenyum remeh ia tidak akan membiarkan adik iparnya memiliki sikap sombong ia


ingin adik iparnya di segani karena wibawanya bukan karena arogansinya.


“Tapi kak...” Arief tetap kekeh berat rasanya untuk


meminta maaf.


“Aku disini berbicara bukan untuk membela Iin.. tapi


aku berbicara karena kau sebagai bos perusahaan tempatnya bekerja apa kau mau


bawahanmu meniru sikap pengecut atasannya yang tidak mau mengakui kesalahannya


malah melemparnya pada orang lain.. perusahaan yang baik bukan hanya tempat


untuk karyawannya bekerja tapi juga membangun sumberdaya manusia agar lebih


baik lagi dan perusahaan kita berusaha menciptakan itu.” Ucap kak Santi bijak.


“Tidak ada bantahan lagi, aku sudah meminta Iin untuk


menjadwal ulang dengan perusahaan teman mu itu.. Iin tidak akan dipecat dia


adalah asisten yang dapat di andalkan berbeda dengan asisten sebelumnya.” Arief


membulatkan matanya mengapa kakak iparnya bisa bertindak sejauh itu apa yang


membuat asisten itu berbeda hingga kakaknya memberi penilaian seperti itu.


“Seharusnya jika terjadi sesuatu kau bilang pada kakak,


kita cari penyelesaiannya dengan baik bukan dengan cara seperti ini, kedepannya


kakak minta tidak ada lagi kejadian bodoh seperti ini ” jelas kak Santi.


“Kakak anggap masalah ini selesai, kembali bekerja


seperti biasa dan kesampingkan egomu jangan lagi menyalahkan orang lain untuk


menutupi kesalahanmu.” Kak Santi bangkit dan menuju kasir untuk membayar


tagihan. Arief termenung memikirkan kata-kata kakaknya, apakah ia terlalu egois


haruskah ia meminta maaf pada asisten itu. Benarkah ia yang salah. Lama ia


termenung lalu ia tersadar bahwa kakaknya telah pergi dari hadapannya. Ia


bangkit menyusul kakak nya ke kasir. Mereka berlalu dari restoran itu.


Sepanjang jalan Arief terus merenungi perkataan kakak iparnya itu.


***


Selamat membaca..


Mohon dukungannya kakak-kakak...

__ADS_1


__ADS_2