
Saat memasuki ruangan Isa, pandangannya tertuju pada
adiknya yang terkulai lemah di ranjang dengan selang infus di tangannya. Ia
mendekati bu Imah yang duduk di tepi ranjang sambil memegang tangan putrinya. Bu
Imah menoleh ke arah Kiki dengan tatapan tidak seperti biasanya tampak raut
kecewa, sedih dan marah. Kiki dengan ragu meneruskan langkahnya ia takut ibunya
akan memarahinya akibat kelalaiannya menjaga sang adik. Bu Imah menghela nafas lalu bangkit menghampiri
Kiki dan membawanya keluar dari ruang UGD. Kiki dan Bu Imah kembali duduk
di ruang tunggu, Bu Imah menanyakan kronologi kejadian hingga adiknya bisa
sampai seperti itu.
“Nak.. apa yang sebenarnya terjadi, tolong ceritakan
hingga adikmu bisa jadi seperti itu” pinta bu Imah pada Kiki.
Kiki pun mulai bercerita bahwa ia hanya berusaha
mengambil gambar adiknya di tepi danau tanpa ada maksud lain. Tanpa ia sadari
tindakannya membawa adiknya dalam bahaya hingga akhirnya adiknya terjatuh
karena kehilangan pijakan. Beruntungnya ada lelaki yang dengan sigap
mengorbankan dirinya dan menolong adiknya yang hampir tenggelam itu.
“Jadi begitu bu kejadiannya.” Kiki mengakhiri
ceritanya.
“Ya sudah ibu mau masuk dulu kasihan adikmu didalam
sendirian” pamit Ibu kembali ke ruang UGD meninggalkan Kiki. Kiki hanya
mengangguk dan tersenyum paksa. Kiki mengira ibunya akan marah dan menyalahkan
dirinya namun ibunya hanya memintanya untuk mengatakan kejadian yang
sebenarnya.
Lalu ingatannya tertuju pada lelaki yang telah
menolong adiknya itu, ia mengedarkan pandangan ke sekitar lorong tunggu namun
tidak menemukan keberadaannya. Bukankah tadi ia meninggalkan tepat dimana ia
duduk sekarang tetapi kemana dia, Kiki merasa tidak tahu diuntung orang itu
rela berkorban menolong adiknya bahkan ia belum sempat berterimakasih padanya
namun orang itu menghilang begitu saja.
Tidak berapa lama datang 2 suster masuk ke ruangan Isa.
Kiki pun ikut masuk khawatir terjadi sesuatu pada adiknya.
“Apa yang terjadi suster?” tanya Kiki mulai panik.
“Tenang, tidak terjadi apa-apa, kami hanya akan
memindahkan pasien ke ruang rawat biasa karena kondisinya sudah stabil” jelas
suster lalu mulai mendorong brankar keluar ruang UGD menuju ruang rawat biasa.
Mendengar itu Kiki dan Ibu merasa lega, Kiki merangkul
pundak Ibunya mereka berjalan dibelakang mengikuti para suster, sampai didalam
ruang rawat biasa.
“Terimakasih suster”ucap Kiki tulus pada suster.
Suster tersenyum dan keluar ruangan. Ibu kembali duduk di tepi ranjang menatap
lekat putrinya.
Tiba-tiba perut Kiki berbunyi..krukkk..krukkk dilihatnya
jam yang melingkar di lengan kirinya sudah menunjukkan waktu makan siang, ia keluar
ruangan dan segera menuju kantin klinik itu untuk makan siang dan membeli makan
siang untuk ibunya. Setelah selesai ia kembali ke ruang rawat Isa.
“Bu.. sudah waktunya makan siang sebaiknya ibu makan
siang terlebih dahulu, biar aku yang menggantikan ibu menjaga Isa” mohon Kiki
yang melihat ibu cukup lelah.
“Ibu belum lapar nak,, nanti saja” tolak ibu yang
kehilangan selera makan ia hanya menginginkan anaknya segera sadar.
“Tidak baik menunda jam makan, bukankah itu yang
sering ibu katakan padaku kalau nanti ibu sakit bagaimana,, siapa yang akan
menjaga anak manja ini” canda Kiki pada ibunya supaya tidak melewatkan makan
siang.
“Baiklah ibu akan makan” ibu menerima makanan
bungkusan dari Kiki.
“Kamu sudah makan?” tanya ibu pada Kiki.
“Hemm” Kiki mengangguk mengiyakan pertanyaan ibunya.
Pandangan kiki teralih pada adiknya, di genggamnya
lembut tangan adiknya yang belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar.
Maafkan kakak
ya dek, karena kakak kamu jadi begini.Gumam
Kiki.
Setelah ibu selesai makan siang dan sholat dzuhur, ibu
kembali menggantikan Kiki menjaga Isa dan menyuruh Kiki untuk istirahat.
“Nak kamu sebaiknya istirahat biar ibu yang kembali menjaga
adikmu” titah ibu pada Kiki.
“Tidak apa-apa bu kalau ibu lelah ibu saja yang
istirahat” tolak Kiki yang merasa harus bertanggung jawab menjaga Isa.
“Ibu tidak lelah sayang, sudah sana istirahat” perintah
ibu pada Kiki. Akhirnya ia mengalah dan bangkit menuju sofa di seberang
ranjang.
Jam menunjukkan pukul 15.00 WIB namun Isa belum juga
sadar, terdengar pintu di ketuk dari luar, tok..tok..tok.. ibu yang setengah
tertidur terjaga kembali dilihatnya sudah berdiri seorang lelaki yang paling
ia hindari.
“Untuk apa kamu kemari?” hardik bu Imah bukan sapaan
ramah yang diterima Yovi melainkan sindiran yang tidak menginginkan
kehadirannya.
“Saya kemari karena saya mendengar kabar bahwa murid
saya nyaris tenggelam, untungnya ada pahlawan super yang menolongnya, apakah
kabar itu benar adanya bu Imah yang terhormat ” Yovi menyadari bahwa bocah yang Ia tolong merupakan salah satu muridnya. Yovi tak gentar dengan
penolakan bu Imah.
“Cepat sekali kabar buruk itu menyebar, hingga orang
penting seperti anda peduli pada hal-hal seperti itu ” ucap bu Imah ketus.
“Dimana saya bisa bertemu dengan pahlawan super itu,
bukankah anda harus berterimakasih dengannya karena telah menyelamatkan putri
anda, jika dia tidak datang maka bisa dipastikan putri anda tidak akan selamat”
jawab Yovi tak kalah ketus tampak tersenyum menyeringai lalu berjalan
meletakkan sebuket bunga di meja membelakangi bu Imah.
“Tutup mulutmu dan lekas pergi dari sini” usir bu Imah
menunjuk pintu ruangan. Yovi melangkah tepat disamping bu Imah menghadap
ranjang Isa.
“Apa ibu takut kalau Kiki menyadari keberadaan saya di
sini” ucap Yovi dengan nada lebih rendah lalu pandangannya tertuju pada gadis
yang tertidur di seberang ranjang.
“Jangan berbuat macam-macam Yovi sebelum ibu panggil
satpam untuk membawamu keluar” ancam bu Imah.
“Rupanya ibu masih mengingat namaku, sudah lama kita
tidak bertemu dan berbincang santai seperti ini, apa kabar bu?” kini Yovi
berbicara lebih santai pada bu Imah.
“Hentikan.. keluar kamu... saya bilang keluar.
KELUARR!!” usir ibu frustasi sudah tidak peduli lagi apakah kedua putrinya mendengar
dan terganggu dengan teriakannya.
Mendengar ada keributan Kiki mulai mengerjapkan
matanya dan mencari sumber suara, Ia terkejut dengan apa yang dilihatnya tampak
ibunya yang sedang beradu mulut dengan seorang lelaki lamat-lamat Ia memandang
wajah lelaki itu Ia menutup mulutnya saat ibu memanggil nama Yovi pada lelaki
itu. Ia berusaha memejamkan matanya kembali dan berpura-pura tidur namun terus
saja mendengarkan perdebatan Yovi dan ibunya.
“Semakin ibu teriak saya rasa sebentar lagi Kiki akan
bangun dan melihat saya, entah seperti apa reaksinya jika ia bertemu dengan
lelaki yang telah lama menunggunya dan hari ini telah menyelamatkan adik
tersayangnya ini” ucap Yovi sengaja memancing bu Imah.
“Baiklah apa maumu sekarang, aku akan mengabulkannya
dan enyah kau dari sini jangan pernah muncul dan mengganggu kehidupan kami
lagi” ibu mencoba berdamai dengan Yovi.
__ADS_1
“Apa ini cara ibu membalas pada orang yang telah
menyelamatkan putri ibu” ucap Yovi sengaja mengulur waktu karena ingin Kiki
terbangun dan melihatnya.
“Tidak usah berbelit-belit cepat katakan keinginanmu
aku janji akan mengabulkannya” ucap ibu mulai jengah dengan Yovi yang sengaja
mengulur waktu.
“Keinginanku hanya satu.. berikan Kiki padaku” ucap
Yovi dan tersenyum sinis pada bu Imah.
“APA!!!” bu Imah membelalakkan matanya mendengar permintaan
Yovi.
“Tidak akan kubiarkan hal itu terjadi, aku tidak ingin
anakku jatuh pada lubang yang sama” bu Imah keberatan dengan permintaan Yovi.
“Baiklah jika ibu tidak bisa mengabulkannya maka
izinkan saya disini sampai Kiki terbangun dan melihat saya” tawar Yovi.
Terdengar sederhana namun ibu menyadari permintaannya sama saja. Ia tidak akan
membiarkan Kiki melihat atau bertemu Yovi.
“Dasar kurang ajar!! Keluar kamu, keluar” ucap bu Imah
sambil mendorong tubuh Yovi yang tidak bergeming sekalipun. Postur tubuhnya
yang tinggi besar sangat telak dengan bu Imah yang hanya sedadanya.
Melihat Yovi dan Ibunya terus berdebat ingin rasanya
Kiki bangkit dan mengakhiri perdebatan itu. Tetapi Ia belum siap untuk bertemu
Yovi bayangan kisah masa lalunya saat Ia diperlakukan semena-mena oleh ibu Yovi yang
terus saja menghantuinya. Akhirnya Ia pasrah dan memilih diam.
Perdebatan sengit itu terus berlangsung hingga
akhirnya ibu lelah dan mengalah lalu menyepakati keinginan Yovi yang menginginkan Kiki
kembali padanya.
“Tidak ada gunanya terus berdebat dengan mu. Baiklah
aku menyetujui permintaanmu..kau bisa kembali pada anakku ” ibu pasrah, ibu
pura-pura menyetujui permintaan Yovi agar dia segera pergi dari ruangan itu.
Yovi tersenyum licik menatap ibu. Kemudian dia keluar
berjalan dengan perasaan kemenangan di dadanya.
Bu Imah merenungi peristiwa yang terjadi hari ini
liburan yang di idamkan putrinya malah berakhir tragis seperti ini. Ditambah
kemunculan Yovi yang akan menimbulkan masalah baru tanpa terasa bulir bening
jatuh di pipinya dengan cepat ia menghapus air mata itu takut ada yang melihatnya
namun terlambat Kiki sedari tadi memperhatikan ibunya dan melihat semuanya
hatinya ikut sakit melihat ibunya bersedih seperti itu.
***
Di kantor
Semenjak Kiki tidak masuk kerja suasana kantor terasa
sepi, Arief nampak tidak bersemangat beberapa kali ia melampiaskan kekesalannya
pada Iin. Seperti yang terjadi pada hari ini.
“Kamu kenapa tidak bilang kalau hari ini ada jadwal
pemotretan ” hardik Arief di depan meja kerja Iin. Iin hanya menunduk pasrah
menjawab pun tidak akan ada gunanya.
“Asisten macam apa kamu ini mengatur jadwal aja tidak
becus” tambah Arief yang semakin memojokkan Iin. Mendengar ada keributan kak
Santi yang sedang di ruang make up keluar menghampiri mereka.
“Ada apa ini kenapa berisik sekali?” tanya kak Santi
pada mereka, karena tidak ada yang menjawab. Akhirnya kak Santi bertanya pada
Iin.
“Ada apa In” Iin bingung menjawab pertanyaan kak
Santi.
“Begini bu....” lama Iin berpikir akhirnya Arief
menyambar.
“Kak.. dia mengacaukan pekerjaan ku, dia tidak bilang
kalau hari ini ada jadwal pemotretan padahal itu pemotretan penting” jelas
Arief yang menyalahkan Iin.
“Benar begitu In?” tidak biasanya Iin bekerja seperti
“Emmm” ragu Iin mengatakan yang sebenarnya, ia sudah
memberi tahu jadwal pemotretan sehari sebelumnya bahkan ia sudah mengirim pesan
pribadi pada Arief tetapi Arief mengabaikannya.
“Sudahlah.. tidak ada gunanya punya asisten yang tidak
kompeten seperti dia.. pecat saja dia kak.. bikin kacau saja” Arief meluapkan
kemarahannya pada Iin padahal Iin tidak salah apa-apa. Arief tidak menyadari
bahwa itu adalah kesalahannya sendiri yang tidak fokus dalam bekerja.
Mendengar itu Iin mulai berkaca-kaca menahan bulir
bening yang siap jatuh namun ia sekuat tenaga untuk tetap tenang.
“Maaf kan atas kelalaian saya mas, saya janji tidak
akan mengulanginya lagi” mohon Iin pada Arief dengan mengatupkan kedua
tangannya.
‘’Ah sudahlah, mulai besok jangan tampakkan dirimu
aku tidak ingin melihatmu lagi” ucap Arief sinis lalu pergi begitu saja.
Iin menangis sesenggukan akibat perkataan Arief,
benarkah ia akan dipecat bagaimana nasib masa depannya. Ia harus menganggur
lagi mencari pekerjaan di kota ini sungguh tidak mudah. Kak Santi menenangkan
Iin memberinya air mineral gelas yang ada di hadapannya.
“Bagaimana ceritanya In, kenapa Arief jadi semarah
ini?” tanya Kak Santi penasaran pasti sesuatu telah terjadi.
“Bu, jika saya jujur, apa saya akan dipecat?” Iin
memastikan nasibnya jika ia berkata jujur apakah ia tetap akan dipecat.
Kak Santi menautkan alisnya bingung. Apa yang
sebenarnya terjadi apakah masalahnya seserius itu.
“Katakan yang sebenarnya In, kejujuran mu akan sangat
saya hargai” Kak Santi meyakinkan Iin untuk cerita yang sebenarnya.
“Sebenarnya ini bukan sepenuhnya salah saya bu, mas
Arief ada jadwal pemotretan dengan salah satu perusahaan untuk sebuah iklan,
yang saya dengar perusahaan itu milik temannya seharusnya pemotretan
dilaksanakan hari ini tapi karena mas Arief lupa sepertinya pemotretan gagal
dilakukan” jelas Iin sambil mengatur nafasnya.
“Bagaimana dia bisa lupa, apa kamu tidak mengingatkan
jadwalnya” tanya kak Santi.
“Kemarin sudah saya infokan bu, bahkan semalam saya
juga sudah mengirim pesan padanya namun sepertinya mas Arief tidak
membacanya” Iin mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan pesan di layar
ponselnya. Memang benar Iin sudah mengingatkan, sekarang masalahnya terletak
pada Arief mengapa Ia jadi tidak profesional seperti ini dan malah melempar
kesalahan pada orang lain. Kak Santi menghela nafas dan akan meninggalkan Iin
untuk menemui Arief membahas masalah ini. Saat kak Santi sudah berbalik Iin
memanggilnya.
“Bu.. maaf apa saya tetap akan dipecat” Iin menatap kak
Santi lekat, semakin khawatir karena setelah ia mengatakan yang sebenarnya kak
Santi tidak menanggapi apapun dan malah meninggalkannya. Kak Santi lalu
berbalik.
“Akan saya pertimbangkan lagi.. terimakasih atas
kejujuranmu saya sangat menghargai itu” Kak Santi tersenyum ramah pada Iin. Iin merasa lega sepertinya ia
tidak jadi pecat.
“Coba kamu hubungi lagi perusahaan itu dan minta
jadwal ulang bilang saja kalau hari ini jadwalnya berbenturan dengan agenda
lain” Kak Santi memberi arahan supaya pemotretan itu tetap dilakukan walau harus
menjadwal ulang.
“Baik bu, akan saya usahakan terimakasih atas kebaikan
ibu” Iin tersenyum sumringah ditengah kebuntuannya kak Santi memberinya arahan
yang sangat berguna. Kak Santi hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan Iin.
Saat jam makan siang kak Santi mengajak Arief untuk
makan bersama, Arief awalnya menolak ajakan itu karena Ia sedang tidak selera
makan ditambah tidak adanya Kiki disisinya membuatnya tidak minat untuk
__ADS_1
melakukan apapun. Akhirnya ia pasrah menuruti kakak iparnya.
Arief dan Kak Santi menuju restoran dekat kantor
dengan menggunakan mobil. Mereka makan siang dengan tenang hanya terdengar
sendok dan garpu yang berdenting beradu dengan piring. Selesai makan siang kak
Santi memulai pembicaraan.
“Arief apa yang terjadi denganmu, kenapa akhir-akhir
ini pekerjaanmu jadi berantakan?” kak Santi bertanya pelan.
“Tidak ada kak” jawab Arief malas sepertinya dia tahu alur
pembicaraan kakak iparnya.
“Hemm.. apa ini ada hubungannya dengan Marwa, kakak
perhatikan semangat kerjamu turun bahkan sejak kau pulang dari rumahnya tampak
terlihat kacau” kak Santi cukup peka terhadap sekelilingnya walau jarang bicara
seperti kebanyakan wanita lainnya namun sangat ahli menafsirkan suatu keadaan
seperti yang terjadi pada adik iparnya ini.
“Tidak ada kak, tidak ada hubungannya dengan dia” elak
Arief yang coba membohongi kakak iparnya.
“Benarkah?” tanya kak Santi tidak percaya.
“Iya kak, bukankah sudah saatnya kembali ke kantor jam
makan siang sudah hampir usai” Arief mengalihkan pembicaraan. Arief bangkit
dari kursinya dan akan ke kasir untuk membayar tagihan.
“Lalu mengapa kamu menyalahkan orang lain atas
kelalaianmu sendiri” cegah kak Santi dengan menatap lurus. Arief terduduk
kembali.
“Aku tidak mengerti dengan perkataan kakak” Arief
memang tidak paham dengan maksud kakak iparnya.
“Bukankah menghilangkan pekerjaan orang lain atas
kesalahan sendiri adalah sesuatu yang tidak dibenarkan” kak Santi.
“Maksud kakak asisten tidak kompeten itu” Arief.
“Bukankah dirimu yang tidak profesional melibatkan
urusan pribadi dalam pekerjaan” kak Santi menatap tajam pada Arief.
“Aku merasa tidak melakukan itu” kilah Arief.
“Kakak tahu kau tidak bersemangat kerja dan jadi
seperti ini karena Marwa tidak disamping mu kan” kak Santi mencoba memancing
dan melihat reaksi Arief.
“Sudah ku bilang ini tidak ada kaitannya dengannya
kak” lagi-lagi Arief berbohong.
“Lalu mengapa kau menyalahkan Iin atas kesalahan mu
sendiri”
“Mengapa kakak membahasnya lagi, masalahnya sudah
jelas kak dia yang bekerja tidak benar” Arief masih saja tidak mengakui
kesalahannya.
“Dimana letak kesalahannya” kak Santi pura-pura tidak
tahu kejadian yang sebenarnya.
“Bukankah tadi pagi sudah aku jelaskan.. gara-gara dia
projek dengan temanku jadi kacau, aku merasa tidak enak dengannya” jelas Arief
tanpa merasa bersalah.
“Kamu yakin semua itu salahnya?” kak Santi mulai
kesal.
“Yakin kak, biar saja dia di pecat aku akan mencari
asisten yang lebih baik lagi darinya” Arief yakin dengan ucapannya.
“Siapa bilang dia akan dipecat.. kakak tidak akan
melakukannya” kak Santi mulai geram.
“Tapi kak..” ucapan Arief terputus.
“Apa kau tidak malu terus terusan menyalahkannya tanpa
melihat kesalahanmu sendiri” ucap kak Santi terjeda.
“Hari ini adalah murni kesalahan mu.. Iin tidak
bersalah bahkan Ia sudah bekerja dengan baik.. Ia sudah mengingatkanmu kemarin
dan dia juga sudah mengirimi mu pesan tapi kau tidak membacanya.. kalau kau
ragu silahkan cek ponselmu” jelas kak Santi meluap-luap. Arief mengeluarkan
ponselnya yang memang tidak ia sentuh sama sekali karena ia terlalu fokus
memikirkan Kiki.
Arief mungkin bisa mengelak jika Iin telah mengingatkannya
kemarin tapi soal pesan yang dikirim ke ponselnya ia tidak akan mungkin
mengelak lagi karena jejak digital sangat akurat. Ia lalu mengambil ponsel dari saku celananya.
Ia terkejut melihat pesan Iin
yang berada paling atas artinya pesan itu paling terakhir masuk ponselnya.
Bukan hanya satu kali Iin mengingatkan bahkan dini hari Iin kembali mengirimi
pesan pada Arief. ***.* Umpat Arief
dalam hati. Dengan kasar ia
meletakkan ponselnya di atas meja.
Kak Santi menggeleng melihat adik iparnya. Sudah
dipastikan bahwa memang benar ia mengabaikan pesan dari Iin.
“Lihatkan.. apa kau tetap akan menyalahkannya.. Jika kau
tidak ingin kehilangan harga dirimu minta maaf lah padanya” saran kak Santi.
“Apa perlu aku melakukan itu kak..” Arief keberatan
dengan saran kakak iparnya nya, ia terlalu gengsi untuk mengakui kesalahannya.
“Jangan terlalu keras kepala, kau memang pantas melakukan
itu.. saat berbuat kesalahan bukankah lebih baik jika meminta maaf tidak peduli
pada siapa kita melakukan itu” bagi kak Santi meminta maaf ketika berbuat salah
pada seseorang adalah sikap seorang kesatria tidak peduli siapa orang itu. Ia
pun mendidik Sherif dengan hal yang sama. Arief terdiam memikirkan perkataan
kakaknya haruskan ia meminta maaf pada asisten itu.
“Kak bukankah itu terlalu berlebihan bagaimana mungkin
aku meminta maaf padanya” Arief menolak ia tidak akan sudi meminta maaf walau
ia tahu dalam hal ini ia yang salah. Kak Santi menghela nafas.
“Jika kau masih punya muka anggaplah ini semua tidak
pernah terjadi tapi kakak pastikan dia akan meremehkanmu dan tidak akan
menganggapmu sebagai atasannya lagi.. seharusnya kau sadar itu” ucap kak Santi
tersenyum remeh ia tidak akan membiarkan adik iparnya memiliki sikap sombong ia
ingin adik iparnya di segani karena wibawanya bukan karena arogansinya.
“Tapi kak...” Arief tetap kekeh berat rasanya untuk
meminta maaf.
“Aku disini berbicara bukan untuk membela Iin.. tapi
aku berbicara karena kau sebagai bos perusahaan tempatnya bekerja apa kau mau
bawahanmu meniru sikap pengecut atasannya yang tidak mau mengakui kesalahannya
malah melemparnya pada orang lain.. perusahaan yang baik bukan hanya tempat
untuk karyawannya bekerja tapi juga membangun sumberdaya manusia agar lebih
baik lagi dan perusahaan kita berusaha menciptakan itu.” Ucap kak Santi bijak.
“Tidak ada bantahan lagi, aku sudah meminta Iin untuk
menjadwal ulang dengan perusahaan teman mu itu.. Iin tidak akan dipecat dia
adalah asisten yang dapat di andalkan berbeda dengan asisten sebelumnya.” Arief
membulatkan matanya mengapa kakak iparnya bisa bertindak sejauh itu apa yang
membuat asisten itu berbeda hingga kakaknya memberi penilaian seperti itu.
“Seharusnya jika terjadi sesuatu kau bilang pada kakak,
kita cari penyelesaiannya dengan baik bukan dengan cara seperti ini, kedepannya
kakak minta tidak ada lagi kejadian bodoh seperti ini ” jelas kak Santi.
“Kakak anggap masalah ini selesai, kembali bekerja
seperti biasa dan kesampingkan egomu jangan lagi menyalahkan orang lain untuk
menutupi kesalahanmu.” Kak Santi bangkit dan menuju kasir untuk membayar
tagihan. Arief termenung memikirkan kata-kata kakaknya, apakah ia terlalu egois
haruskah ia meminta maaf pada asisten itu. Benarkah ia yang salah. Lama ia
termenung lalu ia tersadar bahwa kakaknya telah pergi dari hadapannya. Ia
bangkit menyusul kakak nya ke kasir. Mereka berlalu dari restoran itu.
Sepanjang jalan Arief terus merenungi perkataan kakak iparnya itu.
***
Selamat membaca..
Mohon dukungannya kakak-kakak...
__ADS_1