
“KIKI...” sebuah suara yang rasanya tidak
asing memanggilnya serta tangan kekar yang menahannya membuatnya mematung..
tampak raut wajah Kiki yang pias entah harus menunjukkan ekspresi apa di tengah
kegundahan yang melandanya.
Flashback On
Sebelumnya...
Saat akan memasuki gedung pandangannya tertuju pada
papan bunga besar yang di bawahnya tertanda KeY Florist ia mulai curiga dari
semua nama mengapa sang pemilik papan bunga memberi nama KeY. Nama itu adalah
singkatan nama Kiki dan namanya tidak berhenti disitu lalu ia menghampiri seorang
wanita yang berdiri di dekat pintu masuk tak lain adalah Iin dia ditugaskan
untuk berjaga di depan dan membagikan kartu nama dari tempatnya bekerja.
“Halo mas ganteng, ini saya kasih kartu nama
kantor kami siapa tahu membutuhkan, oh iya kami sedang ada diskon 10% lho
untuk paket weddingnya.. kelihatannya mas masih single kan” jelasnya pada Yovi
menggoda dan tersenyum genit.
Yovi menerima kartu nama itu dan hanya tersenyum lalu
ia iseng bertanya pemilik dari papan bunga itu.
“Maaf bolehkan saya tahu pemilik dari papan bunga
ini?” ia berharap pemiliknya bukanlah wanita di hadapannya ini.
“Nama pemilik papan bunga ini adalah mba Marwa ” ucap
Iin panjang lebar supaya bisa lebih lama menatap ketampanan Yovi.
‘’Hah” Yovi sedikit kecewa karena bukan nama Kiki yang
disebutkan melainkan Marwa.
Iin mengira Yovi tidak mendengar penjelasannya lalu ia
mengulangi kata-katanya.
“Mas ganteng.. dengarkan ya pemilik dari KeY Florist itu
namanya mba Syakila Marwa biasa dipanggil mba Marwa” jelas Iin dengan nada
seperti berbicara pada anak kecil.
Yovi membulatkan matanya mendengar nama lengkap
pemilik papan bunga yang ia curigai. Bukankah itu nama lengkap Kiki. Ia
berharap Kiki berada di dalam dan bisa menemukannya. Lalu ia tersadar bahwa ada
seseorang yang menunggunya di dalam gedung.
“Terimakasih gadis cantik sudah menjelaskan” ucap Yovi
mengerlingkan matanya dan berlalu masuk kedalam gedung menghampiri Vika.
Iin yang jarang mendapat pujian apalagi dari lelaki
tampan seperti Yovi hanya diam tersipu malu dan menjadi salah tingkah.
Flashback Off
Kembali ke dalam gedung...
“Kamu Kiki kan ” kembali Yovi memanggil wanita yang
ada di hadapannya ini yang masih terdiam.
Arief pun merasa familiar dengan suara ini, ya.. dia
ingat suara ini adalah suara yang tadi pagi ia temui saat jogging di alun-alun.
Arief merasakan adanya sesuatu telah terjadi pada dua
orang ini melihat Kiki yang diam dan Yovi yang tidak melepaskan cengkeramannya
membuat dirinya geram. Lalu apa tadi, lelaki asing ini memanggil Mawarnya
dengan sebutan Kiki. Cih.. seperti panggilan sayang saja.
“Mawar kamu kenal dengan lelaki ini” tegur Arief
menyikut lengan Kiki pelan berusaha menyadarkan Kiki yang diam mematung.
“Hah..tidak kak” Kiki tergagap.
“Maaf anda salah orang” lanjutnya melepaskan
cengkeraman Yovi tanpa menoleh.
“Permisi kak Arief, sepertinya kak Santi membutuhkan
ku” namun sebelum ia pergi ia di kagetkan oleh kemunculan Vika.
“Pak Yovi, saya cari dari tadi ternyata bapak disini” tanpa
sadar Vika meraih lengan Yovi.
Kiki yang melihat pemandangan itu sontak memanas dan
dengan langkah kasar berlalu meninggalkan tiga orang yang terdiam dalam pikiran
masing-masing.
Didalam mobil
Setelah insiden tadi mereka memutuskan untuk pulang
bukankah urusan kondangan telah usai. Perasaan Yovi kini bercampur aduk sedih,
bahagia dan juga kesal. Kesal atas sikap Vika yang berani menyentuhnya. Lebih
lagi dihadapan Kiki apakah ia sengaja melakukan itu supaya terlihat bahwa Yovi
adalah miliknya.
Tanpa banyak bicara ia melajukan mobilnya dengan kasar
dan memacu dengan kecepatan tinggi supaya segera sampai agar tidak berlama-lama
satu mobil dengan wanita lancang ini. Ia tidak marah dengan Vika ia marah
dengan dirinya sendiri yang tidak bisa mengantisipasi bahwa hal seperti ini
akan terjadi. Dari awal memutuskan pergi dengan Vika adalah suatu
kesalahan. Jika ia datang sendiri mungkin tidak akan serumit ini. Persetan
dengan Alwi yang mengatakan pergi sendirian adalah sesuatu yang
menyedihkan.
Disisi lain Vika yang belum menyadari bahwa tindakan
bodohnya akan mendorongnya pada jurang kebencian yang sebentar lagi akan
tercipta. Sepanjang jalan ia tidak berani memandang atau sekadar melirik Yovi.
Sejak keluar dari gedung sikapnya jadi berubah 180°. Ia terus menyelami memori
saat didalam gedung tadi. Apa ia berbuat kesalahan tapi apa kesalahan itu.
Terus saja ia berpikir saat di gedung tadi ia beberapa kali mendapati Yovi
tengah memandangi seorang wanita yang berdiri bersama seorang fotografer. Cukup
lama ia memperhatikan gerak-gerik Yovi. Tiba-tiba Yovi menarik lengan wanita
itu. Hal itu tambah membuat Vika bertanya-tanya siapa gerangan. Apa itu mantan
pacarnya tapi setahu Vika dirinya lah wanita satu-satunya yang dekat dengan
Yovi. Tidak sadar mobil telah berhenti sejak 10 menit lalu namun Vika masih
larut dalam pikirannya.
“Apa mobil saya senyaman itu hingga anda tidak sadar
kalau sudah sampai sedari tadi.. sampai kapan saya akan menunggu anda seperti ini..
saya terburu-buru nona” ucap Yovi dingin.
Vika tersentak mendapati nada dingin dari suara yang
tak lagi ramah itu. Dengan cepat ia melepaskan sabuk pengaman dan bergegas
turun namun sebelum membuka pintu mobil ia mengucapkan terimakasih pada Yovi.
“Terimakasih pak Yovi atas tumpangannya”ucap Vika
tulus.
“Saya harap ini kali terakhir nona menumpang pada
saya” jleb.. bukan balasan manis yang ia terima justru sebuah kalimat yang
sangat mengiris hatinya.
Tanpa mempedulikan Yovi bulir bening yang ditahan
sedari tadi lolos begitu saja di kedua pipi Vika. Setelah keluar dari mobil ia
dengan kasar menutup pintu mobil dan berlari kedalam rumahnya. Yovi tidak
peduli apakah ucapannya keterlaluan atau tidak ia kembali melajukan mobilnya
dengan kasar dan dengan kecepatan tinggi. Pikirannya kembali pada pada Kiki
wanita yang sudah ditunggunya selama hampir sewindu itu.
Sampai di rumah Yovi memarkirkan kendaraannya dan
bergegas masuk ke kamarnya merebahkan dirinya dengan kasar. Emosi telah
menguasai dirinya hingga ia berteriak-teriak layaknya orang yang kerasukan
setan.
“Arrrrgggghhhhh... Arrrggghhhhhh!!!” suaranya
menggelegar di penjuru kamar. Membuang apapun yang ada di hadapannya.. selimut, bantal
di hempaskannya kesembarang arah. Meja kerjanya tak luput dari amukannya buku
yang berjejer rapi kini sudah berserakan dilantai. Hingga pandangannya tertuju
pada bingkai foto dirinya dan Kiki. Diraihnya foto itu dengan tangan gemetar
dibawanya dengan hati-hati.. lalu ia menyandarkan dirinya di tepi ranjang..
di tatapnya lekat foto itu di usapnya foto itu terlebih pada wajah Kiki. Didekapnya
dengan erat seolah ia tengah memeluk Kiki dan ditatapnya lagi foto itu lalu
diciumnya dengan lembut.
Tersadar akan sesuatu yang diterima dari Iin, ia lalu
mencari keberadaan benda itu di rabanya saku celana dan saku kemeja batiknya
__ADS_1
lalu ia mengambil kartu nama itu dari saku kemejanya di tatapnya kartu nama itu
dengan tatapan mata yang sudah memerah menahan amarah dan sedih.
Aku akan
menemukanmu walau ke lubang semut sekalipun.Gumam Yovi dengan senyum menyeringai.
***
Acara di gedung telah selesai Arief dan rombongan
telah berada dalam mobil untuk pulang. Arief di belakang kemudi Kiki duduk
disamping bagian depan. Kak Santi dan Iin duduk dibelakang dengan posisi
tertidur karena lelah seharian bekerja. Arief sesekali melirik Kiki yang nampak
gelisah.
“Mawar, kamu baik-baik saja.. apa ada yang mengganggu
pikiran mu” tanya Arief cemas karena melihat Kiki yang terus memegang
pelipisnya.
“Iya aku baik-baik saja..” jawabnya bohong karena tidak
ingin menambah beban pikiran bagi Arief.
Arief tidak melanjutkan pertanyaannya, Arief tahu Kiki
sengaja menjawab seperti itu untuk menenangkan hatinya walaupun ia tahu bahwa
Kiki hanya berbohong.
Mereka sampai rumah Kiki pada saat jam makan malam.
Seperti biasa bu Imah telah menyiapkan makan malam untuk mereka sejujurnya
mereka masih kenyang karena jamuan di gedung tadi. Namun untuk menghargai bu
Imah mereka tetap makan walau hanya sedikit. Hanya Kiki yang tidak makan malam
karena dia beralasan tidak enak badan dan meminta waktu untuk sendiri, semua
memaklumi Kiki kecuali Arief ia sangat cemas padanya, ia menduga ini ada
kaitannya dengan lelaki yang tadi menemuinya saat di gedung.
Semua telah masuk ke kamar masing-masing bersiap untuk
istirahat. Arief pun telah masuk ke kamar tamu namun terasa ada yang mengganjal
di hatinya. Hingga tengah malam ia masih belum bisa terlelap. Akhirnya ia
memutuskan untuk keluar kamar menuju teras depan rumah untuk menyegarkan
pikirannya. Ditemani sebatang rokok.
Tengah malam Kiki merasa lapar akhirnya ia keluar dari
kamar dan menuju dapur untuk makan. Selesai makan ia berniat kembali ke
kamarnya namun langkahnya terhenti ketika ada seseorang yang menarik tangannya
belum sempat ia berteriak mulutnya telah di bekap oleh sesosok tangan kekar.
“Suttttt.. jangan teriak ini aku.. kak Arief” bisiknya
pelan di telinga Kiki. Mendengar itu membuatnya merinding dengan cepat ia
membalikkan badannya memastikan bahwa memang kak Arief yang di belakangnya bukan
maling ataupun hantu dan benar saja Arief menatap dengan tatapan polos dan senyuman
yang dibuat semanis mungkin.
“Kak Arief belum tidur” dengan suara setengah
berbisik.
“Kakak tidak bisa tidur.. bagaimana kondisi mu apa
sudah membaik?” Arief menggeleng dan menanyakan kondisi Kiki yang sempat tidak
enak badan. Kiki hanya mengangguk dan tersenyum menandakan bahwa ia sudah
baik-baik saja.
“Mawar keluar sebentar yuk mau tidak?” ucap Arief
berharap Kiki mau menemaninya keluar. Padahal itu hanya alasan supaya ia bisa
bebas berbicara dengan Kiki.
“Kemana kak?” tanya Kiki heran karena jam sudah
menunjukkan pukul 23.30 WIB dan Arief mengajaknya untuk keluar.
“Sudah ayo ikut saja”Arief.
“Sebentar kak aku ambil jaket dulu, dingin” Kiki.
“Nih pakai jaket kakak saja” Arief menyerahkan jaket
yang ia kenakan untuk dipakai Kiki. Sebelum menolak Kiki telah ditarik oleh
Arief, mau tidak mau Kiki mengikuti langkah kaki Arief. Mereka telah didalam
mobil dan melesat memecah heningnya jalanan karena sudah tengah malam jarang
kendaraan yang lalu lalang.
Arief membawa Kiki ke sebuah coffee shop 24 jam yang tidak
jauh dari alun-alun. Selain memang untuk menemaninya meminum kopi, Arief
berharap Kiki mau membagi keresahan pada dirinya dengan nyaman dan leluasa.
“Mengapa kita kemari kak?” tanya Kiki heran apa Arief
mau menyampaikan sesuatu pikirnya.
“Bukannya ada yang ingin kamu katakan?” Arief tidak
menjawab pertanyaan malah balik bertanya. Kiki hanya membulatkan matanya tambah
heran, apa maksud ucapan Arief.
“Aku tidak paham dengan apa yang kakak maksud” Kiki.
“Bukannya kamu menyembunyikan sesuatu pada kakak mu
ini” Arief berperan sebagai kakak laki-laki berharap dengan cara ini Kiki mau
jujur kepadanya.
“Ah.. tidak ada kak aku tidak menyembunyikan
apapun” ucap Kiki bohong.
Pelayan kemudian datang membawa pesanan mereka dan
menatanya diatas meja.
“Tapi mengapa kamu jadi berubah sejak bertemu dengan
laki-laki di gedung itu” tanya Arief menyelidik.
“Uhuk..uhuk” Kiki yang sedang menyesap kopinya, terbatuk mendapat
pertanyaan seperti itu. Lalu ia manarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya
perlahan.
“Ini benar-benar tidak ada hubungannya dengan siapapun
kak, aku sungguh tidak enak badan.. mungkin ini efek karena terlalu lama berada
di ruangan ber AC” kilahnya.
Pertanyaan pertama tidak cukup membuat Kiki
terpancing.
“Apa lelaki tadi mantan pacar mu?” Arief menyerang
dengan pertanyaan kedua.
Kiki yang sedang makan kentang goreng lagi-lagi harus
tersedak mendapat serangan bertubi-tubi.
“Uhukk,,uhukk” lalu ia menyambar air mineral botol yang
telah dipesan sebelumnya.
Setelah cukup tenang akhirnya ia kembali membela diri.
“Pertanyaan macam apa itu kak, kalau kakak terus
menanyakan hal-hal aneh aku mau pulang saja” ancam Kiki berharap dengan cara ini
mampu menghentikan serangan Arief.
Arief hanya diam, keduanya larut dalam pikiran
masing-masing setelah satu jam menghabiskan waktu bersama di cafe itu. Lalu
memutuskan untuk pulang, Kiki meminta untuk mampir ke apotek sebentar untuk
membeli obat demam. Sampai dirumah sudah pukul 03.00 WIB dini hari. Tanpa
sepengetahuan Kiki dan Arief, saat memasuki rumah Isa melihat keduanya
nya pulang Ia baru keluar dari kamar mandi, dengan segera Isa cepat-cepat
masuk kamar supaya tidak ketahuan oleh Kakaknya.
Kiki memasuki kamar dengan tenang, Isa hanya pura-pura
tidur disamping bu Imah yang tertidur ditengah, sedangkan Kiki berbaring di sisi
yang lainnya. Isa pelan-pelan membuka matanya ia masih bertanya-tanya darimana
kakaknya di saat dini hari begini, tunggu sepertinya tadi ia mendengar suara
laki-laki.. apa ia lelaki gondrong menyeramkan itu.
Aku harus memastikannya esok hari.Batin Isa.
***
Pagi-pagi semua orang tengah sibuk dengan aktivitasnya
bu Imah sedang menyapu di halaman belakang Kiki dan kak Santi sedang menyiapkan
sarapan Iin sedang berkemas di kamar, lalu Arief juga sedang di kamarnya. Isa
duduk di meja makan memperhatikan tingkah kakaknya.
‘’Isa, tolong kamu tata ini disana” Kiki menunjuk ke
arah karpet yang biasa untuk makan bersama. Tanpa menjawab, Isa menatap dengan
tatapan datar dan menyambar piring yang berisi lele goreng tepung lalu menuju
karpet dan menatanya. Kiki tidak menyadari bahwa adiknya sedang menyimpan tanda
tanya besar untuknya akan kejadian semalam.
Setelah sarapan siap, semua berkumpul di ruang tengah untuk
__ADS_1
menyantap sarapan pagi, semua tampak menikmati sarapan hanya dentingan sendok
dan piring yang beradu tanpa adanya obrolan. Setelah selesai sarapan bu Imah
dan Kiki yang membereskan, Iin dan Kak Santi kembali ke kamar untuk
berkemas-kemas karena siang nanti mereka akan kembali ke kantornya. Arief duduk
santai di teras. Lagi-lagi Isa hanya menatap tajam pada kakaknya. Isa ikut
membantu membereskan alat makan. Isa duduk di meja makan. Kiki dan bu Imah
sedang mencuci piring.
“Kak.. kakak semalam darimana?” Kiki mematung mendengar
pertanyaan dari adiknya, Ia mulai merunut kejadian semalam jadi Isa tahu
dirinya keluar bersama Arief tamatlah riwayatnya. Tapi darimana ia tahu, apa
saat keluar rumah atau saat ia kembali tapi saat itu ia yakin tidak ada yang
melihat atau saat ia masuk kamar dengan mengendap-endap. Ibu pura-pura tidak
mendengar ia melanjutkan pekerjaannya.
“Jawab kak, bukannya semalam kakak keluar bersama
teman kakak yang gondrong itu?” kali ini pertanyaan Isa membuat bu Imah dan
Kiki kompak menoleh ke arah Isa yang manatap datar.
“Eh.. se-semalam kakak keluar bersama kak Arief untuk
ke apotek sa” jawab Kiki sedikit gugup takut adiknya bertanya macam-macam. Namun
Isa hanya ber ‘Oh’ ria menanggapi kakaknya.
“Oh” Isa lalu pergi meninggalkan keduanya, Isa tahu
pasti ada yang disembunyikan kakaknya soal kepergiannya semalam.
Kali ini ibu ikut penasaran benarkah Kiki keluar
malam-malam apalagi bersama seorang lelaki walaupun itu temannya bukankah itu
tetap tidak baik. Jika benar ke apotek mengapa tidak membangunkan dirinya untuk
menemani putrinya itu.
“Nak.. apa benar yang dikatakan adikmu? ” ibu menatap
lekat putrinya berharap mendapat jawaban yang sebenarnya.
“I-iya bu” jawab Kiki lalu menundukkan wajahnya.
“Mengapa tidak membangunkan ibu untuk menemanimu ke
apotek?” pertanyaan ibu membuatnya mati kutu, alasan apa lagi yang akan Kiki
berikan untuk ibunya.
“Maaf bu, Kiki tidak tega untuk membangunkan ibu, ibu
pasti lelah kan setelah seharian mengurus rumah, sebenarnya Kiki ingin pergi
sendiri tapi saat di depan bertemu dengan kak Arief dan kak Arief bersikeras
untuk mengantar Kiki bu, akhirnya Kiki pergi dengannya” jelasnya panjang lebar
berharap ibunya mau menerima penjelasannya walau harus melibatkan orang lain.
“Nak sini..” ibu memegang tangan Kiki dan membawanya
duduk di kursi meja makan.
“Apapun alasannya tidak baik keluar malam sendirian ataupun
bersama laki-laki asing.. kecuali ia suamimu akan wajar-wajar saja” jelas ibu
lembut. Ibu tidak sepenuhnya menyalahkan putrinya yang tengah malam keluar
bersama lelaki asing. Karena alasan yang mendesak ibu memakluminya.
“Ibu harap kamu tidak mengulangi perbuatan mu,, secara
tidak langsung kamu menjadi contoh bagi adik perempuan mu.. walaupun kamu
jarang berada di rumah namun ia akan belajar segala hal dari keluarganya
termasuk dirimu” pinta ibu pada Kiki supaya menjaga segala sikap dan
perbuatannya karena harus menjadi contoh yang baik bagi adiknya.
Kiki hanya mengangguk dan tersenyum manis menggenggam
tangan ibunya dengan erat. Ia sangat terharu dengan cara ibu mendidiknya dan
adiknya walaupun kehilangan sosok ayah tidak menurunkan wibawa ibunya menjadi
orangtua tunggal bagi keduanya.
Mereka kembali melanjutkan pekerjaannya di dapur.
Setelah selesai semua berkumpul di ruang keluarga untuk bersantai menikmati
camilan dan jus segar.
“Marwa.. kami akan kembali ke kantor nanti siang
banyak pekerjaan lain yang sudah menunggu” kak Santi secara tidak langsung pamit pada
Kiki untuk kembali ke kantor.
“Baiklah kak kita akan kembali nanti siang” Kiki
menyetujui karena memang kak Santi adalah ketua tim mereka jadi harus mematuhi
keputusan yang dibuatnya.
“Apa tidak mau pergi liburan dulu, ini sudah memasuki
musim liburan kan?” tawar bu Imah pada semuanya.
“Terimakasih bu, tapi banyak jadwal lain yang sudah
menunggu sejujurnya kami juga ingin liburan tapi pekerjaan belum bisa ditinggal” jawab
kak Santi menatap sekilas ke semuanya dan berhenti pada bu Imah.
“Iya bu.. karena jadwal pekerjaan yang tidak menentu
sulit untuk bisa berlibur” Kiki membantu kak Santi untuk memberi pengertian pada
ibunya.
“Kakak juga ikut kembali kesana?” Isa ikut
bergabung.
“Tentu dek” jawab Kiki menatap lekat adiknya.
“Kakak tetap tinggal ya.. Isa masih rindu sama
kakak” ucap Isa dengan nada imut namun menyimpan misteri didalamnya.
Kiki merasa aneh tidak biasanya adiknya bersikap
demikian walaupun rindu pertemuan sehari atau dua hari sudah cukup mengobati
rindu adiknya.
“Isa kan sudah libur kakak tinggal lebih lama ya
dirumah lalu kita liburan bersama, sama ibu juga” Isa memohon pada Kiki menatap
ibu dan dirinya secara bergantian.
“Baiklah kakak akan mengabulkan ke inginanmu.. kita
akan liburan bersama” Kiki mengalah dan mengabulkan keinginan adiknya itu.
Isa lalu bangkit dan meninggalkan mereka tampak
tersenyum licik ia bangga akan kemenangannya karena rencananya telah berhasil.
Ibu juga bergegas meninggalkan mereka menyusul Isa.
“Kak sepertinya saya izin untuk satu minggu
kedepan” ucap Kiki meminta izin pada kak Santi.
“Baiklah kakak mengizinkan karena kamu juga sudah lama
tidak berkumpul dengan keluargamu” Kak Santi memaklumi keadaan Kiki yang telah
lama berpisah dengan keluarganya.
“Sebagai gantinya akan saya serahkan pada Iin..
bagaimana kamu siap kan asisten Iin” Kiki menatap Iin.
“Si-siap mba Marwa tanpa diminta pun saya pasti akan
melakukannya” ucap Iin lantang selalu siap sedia untuk melakukan pekerjaannya.
“Satu minggu.. apa tidak terlalu lama Mawar” protes
Arief keberatan karena harus berpisah dengan Kiki. Satu hari tidak melihatnya
bisa membuat dirinya gila apalagi selama satu minggu.
“Tidak perlu begitu Arief, dia juga butuh waktu untuk
keluarganya” Kak Santi.
“Iya kak, tenang saja ada asisten Iin yang bisa kakak
andalkan” Kiki menunjuk Iin dengan matanya. Iin hanya senyum memperlihatkan
giginya.
Jam menunjukkan pukul 13.00 WIB semua telah bersiap di
depan rumah Kiki untuk pamit pulang kembali ke kantor. Ibu, Kiki dan Isa
berdiri untuk melepas kepergian mereka.
“Kami pamit dulu, terimakasih atas kebaikan ibu, maaf
sudah merepotkan” Kak Santi mewakili pamit pada ibu.
“Tidak apa-apa nak semoga sering mendapat pekerjaan di
daerah sini jadi bisa sekalian mampir” Ibu Imah.
“Kami pamit dulu bu, Marwa, Isa jangan lupa belajar
yang rajin” Isa tidak menanggapi ucapan Arief dan hanya menatap datar.
“Iya kak, hati-hati ya maaf harus mendadak izin” Arief
hanya tersenyum. Kiki merasa tidak enak harus izin bekerja. Iin hanya senyum
dan mengangguk kearah Kiki dan Bu Imah.
Kak Santi, Arief dan Iin masuk kedalam mobil lalu
perlahan melajukan mobil meninggalkan rumah kembali menempuh perjalanan panjang
menuju kantor.
***
__ADS_1
Selamat membaca..
Jangan lupa tinggalkan jejak kakak-kakak semua..