Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Kembalinya Dirimu


__ADS_3

“KIKI...” sebuah suara yang rasanya tidak


asing memanggilnya serta tangan kekar yang menahannya membuatnya mematung..


tampak raut wajah Kiki yang pias entah harus menunjukkan ekspresi apa di tengah


kegundahan yang melandanya.


Flashback On


Sebelumnya...


Saat akan memasuki gedung pandangannya tertuju pada


papan bunga besar yang di bawahnya tertanda KeY Florist ia mulai curiga dari


semua nama mengapa sang pemilik papan bunga memberi nama KeY. Nama itu adalah


singkatan nama Kiki dan namanya tidak berhenti disitu lalu ia menghampiri seorang


wanita yang berdiri di dekat pintu masuk tak lain adalah Iin dia ditugaskan


untuk berjaga di depan dan membagikan kartu nama dari tempatnya bekerja.


“Halo mas ganteng, ini saya kasih kartu nama


kantor kami siapa tahu membutuhkan, oh iya kami sedang ada diskon 10% lho


untuk paket weddingnya.. kelihatannya mas masih single kan” jelasnya pada Yovi


menggoda dan tersenyum genit.


Yovi menerima kartu nama itu dan hanya tersenyum lalu


ia iseng bertanya pemilik dari papan bunga itu.


“Maaf bolehkan saya tahu pemilik dari papan bunga


ini?” ia berharap pemiliknya bukanlah wanita di hadapannya ini.


“Nama pemilik papan bunga ini adalah mba Marwa ” ucap


Iin panjang lebar supaya bisa lebih lama menatap ketampanan Yovi.


‘’Hah” Yovi sedikit kecewa karena bukan nama Kiki yang


disebutkan melainkan Marwa.


Iin mengira Yovi tidak mendengar penjelasannya lalu ia


mengulangi kata-katanya.


“Mas ganteng.. dengarkan ya pemilik dari KeY Florist itu


namanya mba Syakila Marwa biasa dipanggil mba Marwa” jelas Iin dengan nada


seperti berbicara pada anak kecil.


Yovi membulatkan matanya mendengar nama lengkap


pemilik papan bunga yang ia curigai. Bukankah itu nama lengkap Kiki. Ia


berharap Kiki berada di dalam dan bisa menemukannya. Lalu ia tersadar bahwa ada


seseorang yang menunggunya di dalam gedung.


“Terimakasih gadis cantik sudah menjelaskan” ucap Yovi


mengerlingkan matanya dan berlalu masuk kedalam gedung menghampiri Vika.


Iin yang jarang mendapat pujian apalagi dari lelaki


tampan seperti Yovi hanya diam tersipu malu dan menjadi salah tingkah.


Flashback Off


Kembali ke dalam gedung...


“Kamu Kiki kan ” kembali Yovi memanggil wanita yang


ada di hadapannya ini yang masih terdiam.


Arief pun merasa familiar dengan suara ini, ya.. dia


ingat suara ini adalah suara yang tadi pagi ia temui saat jogging di alun-alun.


Arief merasakan adanya sesuatu telah terjadi pada dua


orang ini melihat Kiki yang diam dan Yovi yang tidak melepaskan cengkeramannya


membuat dirinya geram. Lalu apa tadi, lelaki asing ini memanggil Mawarnya


dengan sebutan Kiki. Cih.. seperti panggilan sayang saja.


“Mawar kamu kenal dengan lelaki ini” tegur Arief


menyikut lengan Kiki pelan berusaha menyadarkan Kiki yang diam mematung.


“Hah..tidak kak” Kiki tergagap.


“Maaf anda salah orang” lanjutnya melepaskan


cengkeraman Yovi tanpa menoleh.


“Permisi kak Arief, sepertinya kak Santi membutuhkan


ku” namun sebelum ia pergi ia di kagetkan oleh kemunculan Vika.


“Pak Yovi, saya cari dari tadi ternyata bapak disini” tanpa


sadar Vika meraih lengan Yovi.


Kiki yang melihat pemandangan itu sontak memanas dan


dengan langkah kasar berlalu meninggalkan tiga orang yang terdiam dalam pikiran


masing-masing.


Didalam mobil


Setelah insiden tadi mereka memutuskan untuk pulang


bukankah urusan kondangan telah usai. Perasaan Yovi kini bercampur aduk sedih,


bahagia dan juga kesal. Kesal atas sikap Vika yang berani menyentuhnya. Lebih


lagi dihadapan Kiki apakah ia sengaja melakukan itu supaya terlihat bahwa Yovi


adalah miliknya.


Tanpa banyak bicara ia melajukan mobilnya dengan kasar


dan memacu dengan kecepatan tinggi supaya segera sampai agar tidak berlama-lama


satu mobil dengan wanita lancang ini. Ia tidak marah dengan Vika ia marah


dengan dirinya sendiri yang tidak bisa mengantisipasi bahwa hal seperti ini


akan terjadi. Dari awal memutuskan pergi dengan Vika adalah suatu


kesalahan. Jika ia datang sendiri mungkin tidak akan serumit ini. Persetan


dengan Alwi yang mengatakan pergi sendirian adalah sesuatu yang


menyedihkan.


Disisi lain Vika yang belum menyadari bahwa tindakan


bodohnya akan mendorongnya pada jurang kebencian yang sebentar lagi akan


tercipta. Sepanjang jalan ia tidak berani memandang atau sekadar melirik Yovi.


Sejak keluar dari gedung sikapnya jadi berubah 180°. Ia terus menyelami memori


saat didalam gedung tadi. Apa ia berbuat kesalahan tapi apa kesalahan itu.


Terus saja ia berpikir saat di gedung tadi ia beberapa kali mendapati Yovi


tengah memandangi seorang wanita yang berdiri bersama seorang fotografer. Cukup


lama ia memperhatikan gerak-gerik Yovi. Tiba-tiba Yovi menarik lengan wanita


itu. Hal itu tambah membuat Vika bertanya-tanya siapa gerangan. Apa itu mantan


pacarnya tapi setahu Vika dirinya lah wanita satu-satunya yang dekat dengan


Yovi. Tidak sadar mobil telah berhenti sejak 10 menit lalu namun Vika masih


larut dalam pikirannya.


“Apa mobil saya senyaman itu hingga anda tidak sadar


kalau sudah sampai sedari tadi.. sampai kapan saya akan menunggu anda seperti ini..


saya terburu-buru nona” ucap Yovi dingin.


Vika tersentak mendapati nada dingin dari suara yang


tak lagi ramah itu. Dengan cepat ia melepaskan sabuk pengaman dan bergegas


turun namun sebelum membuka pintu mobil ia mengucapkan terimakasih pada Yovi.


“Terimakasih pak Yovi atas tumpangannya”ucap Vika


tulus.


“Saya harap ini kali terakhir nona menumpang pada


saya” jleb.. bukan balasan manis yang ia terima justru sebuah kalimat yang


sangat mengiris hatinya.


Tanpa mempedulikan Yovi bulir bening yang ditahan


sedari tadi lolos begitu saja di kedua pipi Vika. Setelah keluar dari mobil ia


dengan kasar menutup pintu mobil dan berlari kedalam rumahnya. Yovi tidak


peduli apakah ucapannya keterlaluan atau tidak ia kembali melajukan mobilnya


dengan kasar dan dengan kecepatan tinggi. Pikirannya kembali pada pada Kiki


wanita yang sudah ditunggunya selama hampir sewindu itu.


Sampai di rumah Yovi memarkirkan kendaraannya dan


bergegas masuk ke kamarnya merebahkan dirinya dengan kasar. Emosi telah


menguasai dirinya hingga ia berteriak-teriak layaknya orang yang kerasukan


setan.


“Arrrrgggghhhhh... Arrrggghhhhhh!!!” suaranya


menggelegar di penjuru kamar. Membuang apapun yang ada di hadapannya.. selimut, bantal


di hempaskannya kesembarang arah. Meja kerjanya tak luput dari amukannya buku


yang berjejer rapi kini sudah berserakan dilantai. Hingga pandangannya tertuju


pada bingkai foto dirinya dan Kiki. Diraihnya foto itu dengan tangan gemetar


dibawanya dengan hati-hati.. lalu ia menyandarkan dirinya di tepi ranjang..


di tatapnya lekat foto itu di usapnya foto itu terlebih pada wajah Kiki. Didekapnya


dengan erat seolah ia tengah memeluk Kiki dan ditatapnya lagi foto itu lalu


diciumnya dengan lembut.


Tersadar akan sesuatu yang diterima dari Iin, ia lalu


mencari keberadaan benda itu di rabanya saku celana dan saku kemeja batiknya

__ADS_1


lalu ia mengambil kartu nama itu dari saku kemejanya di tatapnya kartu nama itu


dengan tatapan mata yang sudah memerah menahan amarah dan sedih.


Aku akan


menemukanmu walau ke lubang semut sekalipun.Gumam Yovi dengan senyum menyeringai.


***


Acara di gedung telah selesai Arief dan rombongan


telah berada dalam mobil untuk pulang. Arief di belakang kemudi Kiki duduk


disamping bagian depan. Kak Santi dan Iin duduk dibelakang dengan posisi


tertidur karena lelah seharian bekerja. Arief sesekali melirik Kiki yang nampak


gelisah.


“Mawar, kamu baik-baik saja.. apa ada yang mengganggu


pikiran mu” tanya Arief cemas karena melihat Kiki yang terus memegang


pelipisnya.


“Iya aku baik-baik saja..” jawabnya bohong karena tidak


ingin menambah beban pikiran bagi Arief.


Arief tidak melanjutkan pertanyaannya, Arief tahu Kiki


sengaja menjawab seperti itu untuk menenangkan hatinya walaupun ia tahu bahwa


Kiki hanya berbohong.


Mereka sampai rumah Kiki pada saat jam makan malam.


Seperti biasa bu Imah telah menyiapkan makan malam untuk mereka sejujurnya


mereka masih kenyang karena jamuan di gedung tadi. Namun untuk menghargai bu


Imah mereka tetap makan walau hanya sedikit. Hanya Kiki yang tidak makan malam


karena dia beralasan tidak enak badan dan meminta waktu untuk sendiri, semua


memaklumi Kiki kecuali Arief ia sangat cemas padanya, ia menduga ini ada


kaitannya dengan lelaki yang tadi menemuinya saat di gedung.


Semua telah masuk ke kamar masing-masing bersiap untuk


istirahat. Arief pun telah masuk ke kamar tamu namun terasa ada yang mengganjal


di hatinya. Hingga tengah malam ia masih belum bisa terlelap. Akhirnya ia


memutuskan untuk keluar kamar menuju teras depan rumah untuk menyegarkan


pikirannya. Ditemani sebatang rokok.


Tengah malam Kiki merasa lapar akhirnya ia keluar dari


kamar dan menuju dapur untuk makan. Selesai makan ia berniat kembali ke


kamarnya namun langkahnya terhenti ketika ada seseorang yang menarik tangannya


belum sempat ia berteriak mulutnya telah di bekap oleh sesosok tangan kekar.


“Suttttt.. jangan teriak ini aku.. kak Arief” bisiknya


pelan di telinga Kiki. Mendengar itu membuatnya merinding dengan cepat ia


membalikkan badannya memastikan bahwa memang kak Arief yang di belakangnya bukan


maling ataupun hantu dan benar saja Arief menatap dengan tatapan polos dan senyuman


yang dibuat semanis mungkin.


“Kak Arief belum tidur” dengan suara setengah


berbisik.


“Kakak tidak bisa tidur.. bagaimana kondisi mu apa


sudah membaik?” Arief menggeleng dan menanyakan kondisi Kiki yang sempat tidak


enak badan. Kiki hanya mengangguk dan tersenyum menandakan bahwa ia sudah


baik-baik saja.


“Mawar keluar sebentar yuk mau tidak?” ucap Arief


berharap Kiki mau menemaninya keluar. Padahal itu hanya alasan supaya ia bisa


bebas berbicara dengan Kiki.


“Kemana kak?” tanya Kiki heran karena jam sudah


menunjukkan pukul 23.30 WIB dan Arief mengajaknya untuk keluar.


“Sudah ayo ikut saja”Arief.


“Sebentar kak aku ambil jaket dulu, dingin” Kiki.


“Nih pakai jaket kakak saja” Arief menyerahkan jaket


yang ia kenakan untuk dipakai Kiki. Sebelum menolak Kiki telah ditarik oleh


Arief, mau tidak mau Kiki mengikuti langkah kaki Arief. Mereka telah didalam


mobil dan melesat memecah heningnya jalanan karena sudah tengah malam jarang


kendaraan yang lalu lalang.


Arief membawa Kiki ke sebuah coffee shop 24 jam yang tidak


jauh dari alun-alun. Selain memang untuk menemaninya meminum kopi, Arief


berharap Kiki mau membagi keresahan pada dirinya dengan nyaman dan leluasa.


“Mengapa kita kemari kak?” tanya Kiki heran apa Arief


mau menyampaikan sesuatu pikirnya.


“Bukannya ada yang ingin kamu katakan?” Arief tidak


menjawab pertanyaan malah balik bertanya. Kiki hanya membulatkan matanya tambah


heran, apa maksud ucapan Arief.


“Aku tidak paham dengan apa yang kakak maksud” Kiki.


“Bukannya kamu menyembunyikan sesuatu pada kakak mu


ini” Arief berperan sebagai kakak laki-laki berharap dengan cara ini Kiki mau


jujur kepadanya.


“Ah.. tidak ada kak aku tidak menyembunyikan


apapun” ucap Kiki bohong.


Pelayan kemudian datang membawa pesanan mereka dan


menatanya diatas meja.


“Tapi mengapa kamu jadi berubah sejak bertemu dengan


laki-laki di gedung itu” tanya Arief menyelidik.


“Uhuk..uhuk” Kiki yang sedang menyesap kopinya, terbatuk mendapat


pertanyaan seperti itu. Lalu ia manarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya


perlahan.


“Ini benar-benar tidak ada hubungannya dengan siapapun


kak, aku sungguh tidak enak badan.. mungkin ini efek karena terlalu lama berada


di ruangan ber AC” kilahnya.


Pertanyaan pertama tidak cukup membuat Kiki


terpancing.


“Apa lelaki tadi mantan pacar mu?” Arief menyerang


dengan pertanyaan kedua.


Kiki yang sedang makan kentang goreng lagi-lagi harus


tersedak mendapat serangan bertubi-tubi.


“Uhukk,,uhukk” lalu ia menyambar air mineral botol yang


telah dipesan sebelumnya.


Setelah cukup tenang akhirnya ia kembali membela diri.


“Pertanyaan macam apa itu kak, kalau kakak terus


menanyakan hal-hal aneh aku mau pulang saja” ancam Kiki berharap dengan cara ini


mampu menghentikan serangan Arief.


Arief hanya diam, keduanya larut dalam pikiran


masing-masing setelah satu jam menghabiskan waktu bersama di cafe itu. Lalu


memutuskan untuk pulang, Kiki meminta untuk mampir ke apotek sebentar untuk


membeli obat demam. Sampai dirumah sudah pukul 03.00 WIB dini hari. Tanpa


sepengetahuan Kiki dan Arief, saat memasuki rumah Isa melihat keduanya


nya pulang Ia baru keluar dari kamar mandi, dengan segera Isa cepat-cepat


masuk kamar supaya tidak ketahuan oleh Kakaknya.


Kiki memasuki kamar dengan tenang, Isa hanya pura-pura


tidur disamping bu Imah yang tertidur ditengah, sedangkan Kiki berbaring di sisi


yang lainnya. Isa pelan-pelan membuka matanya ia masih bertanya-tanya darimana


kakaknya di saat dini hari begini, tunggu sepertinya tadi ia mendengar suara


laki-laki.. apa ia lelaki gondrong menyeramkan itu.


Aku harus memastikannya esok hari.Batin Isa.


***


Pagi-pagi semua orang tengah sibuk dengan aktivitasnya


bu Imah sedang menyapu di halaman belakang Kiki dan kak Santi sedang menyiapkan


sarapan Iin sedang berkemas di kamar, lalu Arief juga sedang di kamarnya. Isa


duduk di meja makan memperhatikan tingkah kakaknya.


‘’Isa, tolong kamu tata ini disana” Kiki menunjuk ke


arah karpet yang biasa untuk makan bersama. Tanpa menjawab, Isa menatap dengan


tatapan datar dan menyambar piring yang berisi lele goreng tepung lalu menuju


karpet dan menatanya. Kiki tidak menyadari bahwa adiknya sedang menyimpan tanda


tanya besar untuknya akan kejadian semalam.


Setelah sarapan siap, semua berkumpul di ruang tengah untuk

__ADS_1


menyantap sarapan pagi, semua tampak menikmati sarapan hanya dentingan sendok


dan piring yang beradu tanpa adanya obrolan. Setelah selesai sarapan bu Imah


dan Kiki yang membereskan, Iin dan Kak Santi kembali ke kamar untuk


berkemas-kemas karena siang nanti mereka akan kembali ke kantornya. Arief duduk


santai di teras. Lagi-lagi Isa hanya menatap tajam pada kakaknya. Isa ikut


membantu membereskan alat makan. Isa duduk di meja makan. Kiki dan bu Imah


sedang mencuci piring.


“Kak.. kakak semalam darimana?” Kiki mematung mendengar


pertanyaan dari adiknya, Ia mulai merunut kejadian semalam jadi Isa tahu


dirinya keluar bersama Arief tamatlah riwayatnya. Tapi darimana ia tahu, apa


saat keluar rumah atau saat ia kembali tapi saat itu ia yakin tidak ada yang


melihat atau saat ia masuk kamar dengan mengendap-endap. Ibu pura-pura tidak


mendengar ia melanjutkan pekerjaannya.


“Jawab kak, bukannya semalam kakak keluar bersama


teman kakak yang gondrong itu?” kali ini pertanyaan Isa membuat bu Imah dan


Kiki kompak menoleh ke arah Isa yang manatap datar.


“Eh.. se-semalam kakak keluar bersama kak Arief untuk


ke apotek sa” jawab Kiki sedikit gugup takut adiknya bertanya macam-macam. Namun


Isa hanya ber ‘Oh’ ria menanggapi kakaknya.


“Oh” Isa lalu pergi meninggalkan keduanya, Isa tahu


pasti ada yang disembunyikan kakaknya soal kepergiannya semalam.


Kali ini ibu ikut penasaran benarkah Kiki keluar


malam-malam apalagi bersama seorang lelaki walaupun itu temannya bukankah itu


tetap tidak baik. Jika benar ke apotek mengapa tidak membangunkan dirinya untuk


menemani putrinya itu.


“Nak.. apa benar yang dikatakan adikmu? ” ibu menatap


lekat putrinya berharap mendapat jawaban yang sebenarnya.


“I-iya bu” jawab Kiki lalu menundukkan wajahnya.


“Mengapa tidak membangunkan ibu untuk menemanimu ke


apotek?” pertanyaan ibu membuatnya mati kutu, alasan apa lagi yang akan Kiki


berikan untuk ibunya.


“Maaf bu, Kiki tidak tega untuk membangunkan ibu, ibu


pasti lelah kan setelah seharian mengurus rumah, sebenarnya Kiki ingin pergi


sendiri tapi saat di depan bertemu dengan kak Arief dan kak Arief bersikeras


untuk mengantar Kiki bu, akhirnya Kiki pergi dengannya” jelasnya panjang lebar


berharap ibunya mau menerima penjelasannya walau harus melibatkan orang lain.


“Nak sini..” ibu memegang tangan Kiki dan membawanya


duduk di kursi meja makan.


“Apapun alasannya tidak baik keluar malam sendirian ataupun


bersama laki-laki asing.. kecuali ia suamimu akan wajar-wajar saja” jelas ibu


lembut. Ibu tidak sepenuhnya menyalahkan putrinya yang tengah malam keluar


bersama lelaki asing. Karena alasan yang mendesak ibu memakluminya.


“Ibu harap kamu tidak mengulangi perbuatan mu,, secara


tidak langsung kamu menjadi contoh bagi adik perempuan mu.. walaupun kamu


jarang berada di rumah namun ia akan belajar segala hal dari keluarganya


termasuk dirimu” pinta ibu pada Kiki supaya menjaga segala sikap dan


perbuatannya karena harus menjadi contoh yang baik bagi adiknya.


Kiki hanya mengangguk dan tersenyum manis menggenggam


tangan ibunya dengan erat. Ia sangat terharu dengan cara ibu mendidiknya dan


adiknya walaupun kehilangan sosok ayah tidak menurunkan wibawa ibunya menjadi


orangtua tunggal bagi keduanya.


Mereka kembali melanjutkan pekerjaannya di dapur.


Setelah selesai semua berkumpul di ruang keluarga untuk bersantai menikmati


camilan dan jus segar.


“Marwa.. kami akan kembali ke kantor nanti siang


banyak pekerjaan lain yang sudah menunggu” kak Santi secara tidak langsung pamit pada


Kiki untuk kembali ke kantor.


“Baiklah kak kita akan kembali nanti siang” Kiki


menyetujui karena memang kak Santi adalah ketua tim mereka jadi harus mematuhi


keputusan yang dibuatnya.


“Apa tidak mau pergi liburan dulu, ini sudah memasuki


musim liburan kan?” tawar bu Imah pada semuanya.


“Terimakasih bu, tapi banyak jadwal lain yang sudah


menunggu sejujurnya kami juga ingin liburan tapi pekerjaan belum bisa ditinggal” jawab


kak Santi menatap sekilas ke semuanya dan berhenti pada bu Imah.


“Iya bu.. karena jadwal pekerjaan yang tidak menentu


sulit untuk bisa berlibur” Kiki membantu kak Santi untuk memberi pengertian pada


ibunya.


“Kakak juga ikut kembali kesana?” Isa ikut


bergabung.


“Tentu dek” jawab Kiki menatap lekat adiknya.


“Kakak tetap tinggal ya.. Isa masih rindu sama


kakak” ucap Isa dengan nada imut namun menyimpan misteri didalamnya.


Kiki merasa aneh tidak biasanya adiknya bersikap


demikian walaupun rindu pertemuan sehari atau dua hari sudah cukup mengobati


rindu adiknya.


“Isa kan sudah libur kakak tinggal lebih lama ya


dirumah lalu kita liburan bersama, sama ibu juga” Isa memohon pada Kiki menatap


ibu dan dirinya secara bergantian.


“Baiklah kakak akan mengabulkan ke inginanmu.. kita


akan liburan bersama” Kiki mengalah dan mengabulkan keinginan adiknya itu.


Isa lalu bangkit dan meninggalkan mereka tampak


tersenyum licik ia bangga akan kemenangannya karena rencananya telah berhasil.


Ibu juga bergegas meninggalkan mereka menyusul Isa.


“Kak sepertinya saya izin untuk satu minggu


kedepan” ucap Kiki meminta izin pada kak Santi.


“Baiklah kakak mengizinkan karena kamu juga sudah lama


tidak berkumpul dengan keluargamu” Kak Santi memaklumi keadaan Kiki yang telah


lama berpisah dengan keluarganya.


“Sebagai gantinya akan saya serahkan pada Iin..


bagaimana kamu siap kan asisten Iin” Kiki menatap Iin.


“Si-siap mba Marwa tanpa diminta pun saya pasti akan


melakukannya” ucap Iin lantang selalu siap sedia untuk melakukan pekerjaannya.


“Satu minggu.. apa tidak terlalu lama Mawar” protes


Arief keberatan karena harus berpisah dengan Kiki. Satu hari tidak melihatnya


bisa membuat dirinya gila apalagi selama satu minggu.


“Tidak perlu begitu Arief, dia juga butuh waktu untuk


keluarganya” Kak Santi.


“Iya kak, tenang saja ada asisten Iin yang bisa kakak


andalkan” Kiki menunjuk Iin dengan matanya. Iin hanya senyum memperlihatkan


giginya.


Jam menunjukkan pukul 13.00 WIB semua telah bersiap di


depan rumah Kiki untuk pamit pulang kembali ke kantor. Ibu, Kiki dan Isa


berdiri untuk melepas kepergian mereka.


“Kami pamit dulu, terimakasih atas kebaikan ibu, maaf


sudah merepotkan” Kak Santi mewakili  pamit pada ibu.


“Tidak apa-apa nak semoga sering mendapat pekerjaan di


daerah sini jadi bisa sekalian mampir” Ibu Imah.


“Kami pamit dulu bu, Marwa, Isa jangan lupa belajar


yang rajin” Isa tidak menanggapi ucapan Arief dan hanya menatap datar.


“Iya kak, hati-hati ya maaf harus mendadak izin” Arief


hanya tersenyum. Kiki merasa tidak enak harus izin bekerja. Iin hanya senyum


dan mengangguk kearah Kiki dan Bu Imah.


Kak Santi, Arief dan Iin masuk kedalam mobil lalu


perlahan melajukan mobil meninggalkan rumah kembali menempuh perjalanan panjang


menuju kantor.


***

__ADS_1


Selamat membaca..


Jangan lupa tinggalkan jejak kakak-kakak semua..


__ADS_2