Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Dokter Hanna


__ADS_3

Di ruangan khusus tempat Angga dirawat, "Pa, Didi mau ke ruangan kak Angga dulu ya," pamit Diandra pada sang papa, sesaat setelah Aditya dan Airin meninggalkan ruangan tersebut.


"Boleh papa temani kamu nak?" Pinta sang papa.


Diandra mengangguk,,


Papa Chandra kemudian mengikuti putri semata wayang nya masuk kedalam ruangan khusus tempat Angga di rawat, dan seperti biasa Diandra langsung memeluk tubuh yang terbaring dengan mata tertutup sempurna itu.


Cukup lama Diandra memeluk suami nya, dan setelah melerai pelukan nya.. Diandra duduk di kursi tempat dimana dia sering menghabiskan malam-malam nya dan tidur sembari duduk di sisi sang suami.


"Kak, Didi punya kabar penting untuk kak Angga. Didi enggak tahu, kakak akan senang atau malah enggak suka mendengar kabar ini." Ucap Diandra pelan, bulir bening mulai berjatuhan membasahi pipi putih nya yang mulus.


"Didi hamil kak, ada janin yang tumbuh di rahim Didi.. benih cinta kita kak, kakak senang kan?" Tanya Diandra seraya menyeka air mata nya.


Papa Chandra yang sedari tadi berdiri tak jauh dari putri nya ikut trenyuh, netra nya mulai berembun.


"Bangun kak,, Didi butuh kakak,,," lirih nya terisak.


Terdengar suara pintu dibuka dari luar, papa Chandra langsung menoleh,, sedangkan Diandra nampak tak menghiraukan nya.


Seorang dokter wanita masuk dengan diikuti oleh seorang perawat. "Dokter Chandra, anda disini rupa nya," sapa dokter tersebut dengan tersenyum ramah.


"Iya dokter Hanna, saya menemani putri saya." Jawab papa Chandra seraya melirik sang putri yang masih terisak.


Dokter Hanna ikut menoleh kearah Diandra, dan kening nya mengernyit. "Maaf dokter, saya harus memeriksa keadaan pasien," ucap dokter Hanna dengan lembut.


"Silahkan lakukan tugas anda dokter, tapi maaf.. biarkan putri saya tetap di samping suami nya, dia butuh dekat dengan suami nya saat ini." Pinta papa Chandra pada dokter yang menangani putra menantu nya.


Dokter Hanna mengangguk dan tersenyum, baik dokter Chandra,, tidak masalah." Balas dokter Hanna mengerti, dan kemudian segera mendekati pasien untuk melakukan pemeriksaan rutin.


Tidak ada yang bersuara selama dokter Hanna memeriksa pasien nya, dokter berhijab tersebut bekerja dengan teliti dan sangat cekatan.


Tak berapa lama, dokter Hanna telah menyelesaikan tugas nya dengan baik. Sekilas dokter Hanna melirik Diandra yang sedari tadi terdiam di tempat duduk nya, seraya menahan isak.


Naluri dokter Hanna sebagai seorang ibu, apalagi melihat Diandra seusia dengan anak nya mulai tergerak untuk mendekati istri dari pasien nya itu. "Maaf mbak Didi, saya perhatikan dari tadi seperti nya mbak Didi sedang bersedih?" Tanya dokter Hanna hati-hati dan dengan suara yang lembut.

__ADS_1


Diandra mendongak, menatap dokter Hanna yang sudah berada di samping nya. "Iya dokter, maaf jika keberadaan saya disini mengganggu kerja dokter," balas Diandra lirih, dan netra nya yang nampak masih berkaca-kaca.


Dokter Hanna menggeleng, "tidak sama sekali mbak, saya tidak merasa terganggu. Tapi,, boleh kah saya tahu, kenapa mbak Didi bersedih seperti ini? Karena sebulan ini, saya lihat mbak Didi sudah bisa menerima kenyataan tentang kondisi suami mbak Didi. Maaf, jika saya lancang,," ucap dokter Hanna seraya tersenyum hangat.


Papa Chandra yang mendengarkan obrolan mereka berdua, ikut mendekat.. tapi hanya diam, dan membiarkan putri nya untuk menceritakan masalah nya pada dokter Hanna.


Diandra mendesah pelan, "saya hamil dokter, dan saya takut menghadapi ini sendirian.." lirih nya.


Dokter Hanna tertegun, dia tahu bagaimana perasaan gadis muda di hadapan nya saat ini. Reflek dokter cantik berhijab itu memeluk Diandra, "yang sabar ya mbak Didi, mbak Didi pasti bisa melewati semua ini. Yakinlah, bahwa Allah memberikan ujian dan cobaan,,, sesuai dengan kemampuan mbak Didi." Ucap dokter Hanna seraya mengusap lembut punggung Diandra.


Diandra kembali terisak, dan mengeratkan pelukan dokter Hanna. Entahlah,, berada dalam pelukan dokter Hanna, Diandra merasakan ketenangan dan kenyamanan. Pelukan dokter Hanna dirasakan nya tulus dan penuh kasih.


Dokter Hanna membiarkan wanita belia itu menangis di dada nya, hingga air mata Diandra membasahi blouse yang dia kenakan.


Papa Chandra menatap pemandangan itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


Setelah puas menumpahkan segala kegundahan hati nya, Diandra melepaskan pelukan dokter Hanna. "Maaf dokter, baju dokter jadi basah karena Didi," ucap Diandra tak enak hati.


Dokter Hanna tersenyum tulus, "tidak masalah mbak Didi, saya bisa ganti pakaian nanti." Balas dokter Hanna masih dengan suara lembut nya, yang membuat siapapun yang mendengar.. akan merasa nyaman jika berada di dekat nya.


Dokter Hanna merogoh ponsel dari saku blazer putih nya, dan terlihat mengetikkan sesuatu.. kemudian mengirimkan pesan tersebut kepada seseorang. "Maaf, saya chat anak saya untuk mengirimi baju ganti," ucap nya seraya mengembalikan ponsel nya ke tempat nya semula.


Diandra menoleh kearah sang papa, dan papa Chandra mengangguk.


"Baik dokter, Didi mau... Didi akan ke rumah dokter jum'at besok," balas Diandra antusias.


Dokter Hanna tersenyum, "baik mbak Didi, saya tunggu besok siang di rumah ya,," ucap dokter Hanna tersenyum lebar.


Melihat putri nya sudah kembali ceria, papa Chandra pun tersenyum lega. "Terimakasih dokter Hanna," ucap papa Chandra tulus.


"Sama-sama dokter Chandra, saya juga memiliki anak seusia putri anda.. jadi saya bisa memahami bagaimana perasaan mbak Didi." Balas dokter Hanna menoleh kearah papa Chandra


"Dokter, panggil saya Didi saja ya,," pinta Diandra sambil memegang tangan dokter Hanna.


Dokter Hanna kembali menoleh kearah Diandra, dan tersenyum lebar, "baiklah nak Didi, saya panggil nak Didi saja ya... karena saya juga memiliki anak sebesar nak Didi," balas dokter Hanna menjelaskan.

__ADS_1


"Baiklah dokter Chandra, saya harus melanjutkan pekerjaan saya kembali," pamit dokter Hanna kepada ayah dan anak itu.


"Baik dokter Hanna, terimakasih atas perhatian dokter pada putri saya." Ucap papa Chandra dengan tulus.


"Terimakasih tante dokter,,," ucap Diandra seraya tersenyum menggoda.


Dokter Hanna hanya geleng-geleng kepala, dan tersenyum bahagia. Kemudian segera berlalu meninggalkan ruangan khusus tersebut.


Setelah sampai di ruangan nya, dokter Hanna melepaskan blazer putih nya. Tak berapa lama, pintu ruangan nya di buka oleh seseorang dari luar, "assalamu'alaikum ma,," ucap salam seorang pemuda seraya melangkah masuk ke dalam ruangan sang mama.


"Wa'alaikumsalam bang,, kamu sudah datang?" Sambut dokter Hanna pada putra nya.


"Iya ma,,, tadi waktu mama chat, kebetulan Thomas dan temen-temen sedang perjalanan kemari." Balas putra dokter Hanna yang bernama Thomas itu, segera memberikan baju ganti untuk sang mama dan kemudian mencium punggung tangan mama nya itu.


"Nganter teman mu lagi?" Tanya dokter Hanna seraya menuju ke kamar mandi untuk berganti pakaian.


"Tidak ma, dia tidak masuk kuliah hari ini." Jawab Thomas setelah dokter Hanna keluar dari kamar mandi.


"Kenapa? Keluarga nya yang sakit, baik-baik aja kan?" Tanya sang mama penasaran.


"Baik kok ma,, ya udah ya ma, Thomas mau nyusul temen-temen dulu," pamit Thomas pada sang mama.


"Ayo bang, kita keluar bareng.. mama juga masih harus visit beberapa pasien lagi," balas sang mama, sambil menyambar blazer putih dan mengenakan nya kembali.


Setelah keluar dari ruangan dokter Hanna, "ma, Thomas kearah sana ya,," ucap Thomas hendak berlalu.


"Mama juga ke sana bang," balas sang mama, "ayo sus," dokter Hanna mengajak suster yang telah menunggunya sedari tadi.


Ketiga nya berjalan beriringan, hingga tepat di depan ruang perawatan Angga,, Thomas berhenti, "ma, Thomas masuk kesini ya," pamit nya pada sang mama.


Tepat di saat yang bersamaan, papa Chandra keluar dari ruangan tersebut, "nak Thomas, kok enggak bareng sama yang lain?" Tanya papa Chandra menatap Thomas dan dokter Hanna yang berdiri di samping Thomas dengan ekspresi bingung.


Thomas segera menyalami papa Chandra dan mencium punggung tangan papa dari sahabat nya itu, "iya om, tadi ke ruangan mama dulu.. nganterin baju ganti mama yang ada di mobil Thomas," jawab Thomas seraya melirik sang mama.


"Jadi, kamu putra nya dokter Hanna?"

__ADS_1


Thomas mengangguk, "iya om," jawab Thomas singkat.


"Jadi, gadis yang sering kamu ceritakan itu,, Didi?" Tanya dokter Hanna tak kalah terkejut seraya menatap putra nya, karena selama ini Thomas menceritakan bahwa diri nya menyukai teman nya itu,, dan tak pernah bercerita bahwa teman nya itu ternyata sudah menikah.


__ADS_2