
Diperjalanan pulang dari rumah kak Santi kembali tercipta
keheningan antara Arief dan Kiki. Lagi-lagi Kiki mencoba menahan tubuhnya
dengan memegang erat pundak Arief agar tidak merosot dan membebani punggung
Arief. Saat berhenti disalah satu lampu merah tanpa sepatah kata Arief meraih
kedua tangan Kiki yang menempel di pundaknya, perlahan menurunkan dan
melingkarkan dipinggangnya. Kiki yang tidak siap tersentak dan menghambur ke
punggung Arief.
“Eh.. apa-apaan Kak” protes Kiki yang tiba-tiba saja tangannya
ditarik.
“Sudah diam..pundak ku sakit tahu dari tadi kamu
pegang..daripada tanganmu pegal sepanjang perjalanan, sudah begini saja ” elak
Arief padahal pundaknya tidak sakit sama sekali itu hanya akal-akalannya saja
agar dipeluk oleh Kiki. Kiki hanya mendengus karena kelakuan Arief.
Mungkin bagi orang lain pemandangan seperti ini sangat
romantis namun itu tidak berlaku untuk Kiki. Ia sangat risih akan posisi
seperti itu. Dasar lelaki modus.Batin
Kiki kesal.
Sepanjang perjalanan Kiki seolah-olah tengah memeluk Arief
dengan eratnya. Padahal ia tidak nyaman sama sekali.
Setelah memacu si monster merah selama 30 menit sampailah di
sebuah kost eksklusif tempat tinggal Kiki. Bangunan yang cukup luas dengan tiga
lantai itu dipilih Kiki karena memang di desain untuk para wanita single yang sibuk bekerja. Ruangan yang
luasnya 5x5 meter perkamarnya itu dirasa nyaman apalagi untuk Kiki yang tinggal
sendiri. Kiki memilih kamar di lantai dua karena berada ditengah tengah.
Dengan fasilitas kost pada umumnya hanya saja terdapat pos
keamanan yang berjaga sehingga orang yang dirasa mencurigakan tidak bisa sembarangan
masuk, kost ini bukan kost bebas yang membebaskan laki-laki masuk hanya
keluarga atau saudara jelas yang diperbolehkan. Kiki tidak terlalu peduli pada
hal semacam itu yang penting tidak mengganggu dirinya, biarlah menjadi urusan
masing-masing.
“Terimakasih kak sudah mengantar..” ucap Kiki setelah turun
dari motor dan membuka helmnya.
“Sama-sama.. kakak tidak suruh mampir nih” goda Arief yang
dibalas dengan tatapan membunuh Kiki. Ia tahu Arief hanya bercanda.
“Sudah pulang sana sebelum di usir satpam” usir Kiki sambil
mengibaskan tangan.
“Hemmm.. besok kakak jemput ya, berangkat bareng” pinta Arief
sebelum pergi.
“Tidak usah kak.. biar aku naik ojek online saja” tolak Kiki merasa tidak enak karena ia tahu rumah
mereka tidaklah satu arah.
“Sudah pokoknya besok aku jemput” paksa Arief. Kiki akhirnya
menyetujui daripada harus berdebat panjang.
“Baiklah kalau kakak memaksa” jawab Kiki pasrah.
“Oh iya kak lain kali tolong jangan lakukan itu lagi aku
merasa tidak nyaman.” jelas Kiki mengutarakan isi kepalanya yang dari tadi
mengganjal pikirannya. Agar kedepannya tidak terjadi salah paham ia tidak mau
melewati batas perasaannya karena selama ini hanya menganggap Arief sebagai
Kakak.
Arief hanya diam tidak mempedulikan ucapan Kiki, ia melajukan
motornya dan berlalu dari pandangan Kiki dengan hati yang bergetar mengingat
kejadian di lampu merah.
Kiki masuk melewati pos satpam dan menyapa pak Asep yang
tengah berjaga.
“Malam pak..” sapanya singkat pada lelaki paruh baya itu.
“Malam neng Marwa..baru pulang neng” jawab pak Asep dengan
logat sundanya.
“Iya pak.. saya masuk dulu ya” Kiki berlalu dan melangkahkan
kaki menuju kamarnya.
“Mangga neng” pak Asep mempersilahkan.
Seharian berada diluar membuat Kiki merasa letih.. ia pun
melepaskan penatnya dengan mandi air hangat lalu bergegas merebahkan dirinya
untuk menyambut mimpi yang telah menunggunya.
Jam menunjukkan pukul 5.15 WIB Kiki perlahan mengerjapkan
matanya meraih ponselnya dan mematikan alarm yang sedari tadi berisik
mengganggu tidur cantiknya.
“Hoamm” Kiki meregangkan sendi-sendi tubuhnya berusaha
mengumpulkan potongan nyawa yang masih berserakan di kasurnya. Setelah selesai
sholat ia merapikan tempat tidurnya, mengumpulkan baju-baju kotor, merapikan
meja kerja, dan menyapu disetiap sudut ruangan yang bernuansa biru itu.
__ADS_1
Saat ini Kiki tengah memasuki semester akhir di kuliahnya dan
tengah berjuang merampungkan tugas akhirnya.. untung saja tempat pengambilan
datanya adalah kantornya sendiri jadi tidak terlalu repot.. di lihatnya
perkembangan skripsinya yang masih harus revisi.. Kiki berkutat pada benda
berwarna perak yang bisa dilipat itu.. dan mengetik dengan serius, ditemani
dengan segelas minuman sereal untuk menghangatkan lambungnya.
“Hemm sedikit lagi selesai..semangat mengejar toga” Kiki
menyemangati diri sendiri lalu menyeruput minumannya.
Setelah itu ia bersiap untuk berangkat ke kantor karena Arief
mengirimi pesan akan menjemputnya lebih awal dan mengajak sarapan bersama. Ia
mengenakan setelan celana kain hitam yang sedikit ketat, atasan blus merah muda
dan hijab dengan warna senada.
Tak lama Arief mengabari bahwa ia sudah sampai, dan meminta
Kiki untuk segera turun. Jam menunjukkan pukul 09.00 WIB saat mereka
meninggalkan kost Kiki. Sampailah mereka pada warung sederhana yang menjual
lontong sayur. Tak lama pesanan mereka datang. Kiki memesan lontong sayur dan
teh hangat sedangkan Arief memesan nasi uduk lengkap dan juga es teh.
Disela-sela sarapan Arief menanyakan perkembangan tugas akhir Kiki.
“Bagaimana tugas akhir mu?”
“Masih ada revisi kak, semoga lekas Acc dan lanjut ujian” terang Kiki berharap tugasnya segera selesai.
“Aamiin”
Selesai sarapan seperti biasa Arief yang membayar tagihan
mereka. Lalu melajukan kendaraan menuju kantor. Sampai kantor sudah disambut
Iin yang sudah berada di meja kerjanya. Dan mengabarkan kalau ada pesanan papan
bunga untuk belasungkawa.
“Pagi mba Marwa.. oh iya ada pesanan bunga dadakan 3 papan
sekaligus mba”
“Iya,, pagi In, makasih nanti aku kabari Chandra supaya cepat
dibuatkan dan dikirim”
Lalu Kiki menelpon Chandra yaitu asistennya untuk segera
menyiapkan pesanan. Usaha papan bunga Kiki tidak berada di kantor yang sama. Ia
membuka sendiri usaha tersebut setelah satu tahun menjadi asisten di Shine MUA.
Tetapi mempercayakan pada Chandra untuk mengelolanya.
Dalam menjalankan usaha tidak selalu berjalan mulus seperti
pagi ini yang kedatangan seorang wanita paruh baya yang berpenampilan mewah
perhiasan menghiasi setiap bagian tubuhnya mulai dari gelang di kedua
“Permisi saya mau make up dan sewa gaun untuk nanti malam apakah bisa?” tanya wanita itu pada Iin.
“Bisa bu, mari saya antar keruang wardrobe” Iin mengantar wanita itu menuju ruang wardrobe disana sudah ada Kiki yang
sedang menata beberapa gaun yang baru sampai.
“Silahkan bu” Iin mempersilahkan untuk masuk. Diikuti Iin
yang mendampingi.
“Mba saya mau gaun yang paling bagus untuk saya pakai malam
ini!” pintanya pada Kiki.
“Bisa bu, silahkan dipilih.” sambil menunjukkan beberapa
koleksi gaun yang dirasa Kiki bagus untuk selera wanita yang terlihat kaya itu.
“Cuma ini saja”
“Ini beberapa koleksi terbaik kami bu, bisa di coba dulu ada
pilihan warna dan juga beberapa model” jawab Kiki.
“Ya sudah pilihkan yang paling bagus.. saya tidak mau
terlihat buruk dihadapan teman-teman arisan saya”
Kiki hanya menghela nafas melihat tingkah pelanggannya itu.
Kiki menjatuhkan pada gaun berwarna ungu dengan panjang semata kaki.
“Silahkan dicoba bu” Kiki menunjukkan pada wanita itu.
“Apa-apaan ini saya tidak mau pakai ini.. kenapa ungu saya
bukan janda” jawabnya sinis merasa tidak terima dengan pilihan Kiki.
Iin yang melihat sudah mulai geram. Dasar nenek rempong.Batinnya.
Kiki mencoba sabar menghadapinya, ia berganti mengambil gaun
merah dengan detail mutiara.
“Bagaimana kalau yang ini bu”
“Norak sekali.. saya bukan cabe-cabean masa merah begini
bukannya terlalu mencolok” hardiknya yang tidak terima dengan pilihan Kiki.
Sampai beberapa kali belum juga menemukan pilihan yang tepat.
Hingga Iin geram dibuatnya.
“Bu.. ini bukan butik yang menyediakan seribu macam gaun
kalau ibu tidak cocok silahkan cari tempat lain atau bikin gaun sendiri saja
sana” usir Iin yang panas karena ulah wanita berambut coklat itu.
“Beraninya ya kamu mengusir saya.. ingat pembeli adalah raja
mustinya dilayani dengan baik.. kamu mau tempatmu ini jadi bangkrut karena
kehilangan pelanggan” hardik wanita itu lagi.
__ADS_1
Iin pun semakin geram dan menirukan nenek lampir yang sedang
mengoceh dengan gerakan seperti komat-kamit tapi dalam posisi menunduk dan
tangan kanan yang menutupi mulutnya supaya tidak ketahuan.
Dasar nenek lampir
gila.. mana ada raja yang memakai gaun sewaan seperti itu.Umpat Iin.
“Maafkan kesalahan asisten kami bu, ia tidak bermaksud
demikian ayo Iin minta maaf pada ibu ini” perintah Kiki pada Iin. Namun Iin
tidak bergeming ia merasa tidak melakukan kesalahan untuk apa minta maaf.
Melihat Iin tidak bergerak Kiki menghampirinya dan menyikut lengan Iin.
“Sudah minta maaf saja
sana daripada masalahnya makin runyam, kamu mau jadi pengangguran, belum gajian
juga kan.” Bisik
Kiki, Iin pun membelalakkan matanya membayangkan hal itu membuatnya ngeri
nasibnya pasti akan meyedihkan. Lalu ia ingat akan sumpah tak terucapnya bahwa
akan menaklukan tempat kerjanya ini.
Dengan malas ia meminta maaf pada wanita itu. “Maafkan atas
sikap saya bu”.
“Sudahlah.. lain kali jangan diulangi”
Tanpa permisi Iin keluar dari ruang wardrobe meninggalkan pelanggan gila itu. Sepanjang langkah ia
mengutuki nenek lampir itu dengan segala sumpah serapah.
“Ini koleksi terakhir dari tempat kami bu jika merasa belum
cocok ibu boleh cari ditempat lain” Kiki menyerah sudah hampir semua koleksi di
tunjukkan namun sang pelanggan belum juga menemukan pilihannya.
“Saya sudah tidak ada waktu karena setelah ini saya mau ke
salon.. ya sudahlah saya pilih yang ini saja” sang pelanggan menunjuk salah
satu gaun yang ditunjukkan Kiki.
Setelah gaun dicoba wanita itu merasa cocok dan memesannya.
Gaun yang dipilih yaitu berwarna krem dengan detail brokat pada bagian atasnya
serta berlengan pendek.
Belum selesai urusan gaun, PR selanjutnya adalah polesan pada
wajah yang diminta oleh wanita itu.
Bagaimana tidak, ia meminta untuk terlihat lebih muda dan
meminta agar kerutan diwajahnya tidak tampak.
Jika sudah seperti itu Kiki akan menyerahkan pada pawangnya
siapa lagi kalau bukan kak Santi yang sudah lebih ahli dalam urusan merias
wajah.
“Saya mau dirias secantik mungkin, jangan tampakkan
tanda-tanda penuaan sedikit pun”
“Baik bu, akan kami usahakan”
“Setelah dari salon saya akan datang kesini lagi.. kamu bisa
panggil saya bu Mira”
“Baik bu, ditunggu kedatangannya” senyum manis terukir
di wajah Kiki.
“Acara diadakan saat
jam makan malam..jadi lakukan yang terbaik, saya tidak mau terlambat datang ke
pesta ulang tahun itu”
Selesai dengan semua titah yang diberikan Kiki, Bu Mira
keluar dari ruang wardrobe entah apa
yang mereka perbincangkan keduanya sudah terlihat akrab seperti ibu dan anak
gadisnya. Bahkan Sesekali bu Mira terkekeh dalam obrolan mereka.
Melihat Kiki dan nenek lampir yang berjalan dengan senyum
sumringah membuat Iin jadi penasaran. Karena hal ini berkebalikan dengan
pikirannya ia mengira Kiki akan menangis karena di kerjai oleh wanita itu.
“Silahkan lanjutkan kegiatan ibu terimakasih atas
kedatangannya” Kiki mempersilahkan Bu Mira.
“Baiklah anak manis”
Saat melewati meja Iin, bu Mira menatap sinis lalu melengos.
Iin mendapat perlakuan seperti itu bertambah geram, saat bu Mira sudah berlalu ia
seperti ingin menerkam wanita itu.
Iin lalu beralih ke Kiki yang masih berdiri menatap kepergian
wanita itu dengan senyuman.
“Mba.. apa yang terjadi kenapa sikap nenek lampir itu jadi
berubah”
“Tidak ada”
“Apa dia kesambet mengapa berubah jadi seperti” Iin masih
penasaran apa yang membuat pelanggan itu jadi berubah.
“Stttt.. rahasia.. bekerja saja yang benar atau kejadian
seperti tadi akan terulang lagi” Kiki lalu pergi meninggalkan Iin yang masih kebingungan
dengan perubahan sikap nenek lampir itu.
__ADS_1
***
Selamat membaca..