Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Jangan Lakukan Itu


__ADS_3

Diperjalanan pulang dari rumah kak Santi kembali tercipta


keheningan antara Arief dan Kiki. Lagi-lagi Kiki mencoba menahan tubuhnya


dengan memegang erat pundak Arief agar tidak merosot dan membebani punggung


Arief. Saat berhenti disalah satu lampu merah tanpa sepatah kata Arief meraih


kedua tangan Kiki yang menempel di pundaknya, perlahan menurunkan dan


melingkarkan dipinggangnya. Kiki yang tidak siap tersentak dan menghambur ke


punggung Arief.


“Eh.. apa-apaan Kak” protes Kiki yang tiba-tiba saja tangannya


ditarik.


“Sudah diam..pundak ku sakit tahu dari tadi kamu


pegang..daripada tanganmu pegal sepanjang perjalanan, sudah begini saja ” elak


Arief padahal pundaknya tidak sakit sama sekali itu hanya akal-akalannya saja


agar dipeluk oleh Kiki. Kiki hanya mendengus karena kelakuan Arief.


Mungkin bagi orang lain pemandangan seperti ini sangat


romantis namun itu tidak berlaku untuk Kiki. Ia sangat risih akan posisi


seperti itu. Dasar lelaki modus.Batin


Kiki kesal.


Sepanjang perjalanan Kiki seolah-olah tengah memeluk Arief


dengan eratnya. Padahal ia tidak nyaman sama sekali.


Setelah memacu si monster merah selama 30 menit sampailah di


sebuah kost eksklusif tempat tinggal Kiki. Bangunan yang cukup luas dengan tiga


lantai itu dipilih Kiki karena memang di desain untuk para wanita single yang sibuk bekerja. Ruangan yang


luasnya 5x5 meter perkamarnya itu dirasa nyaman apalagi untuk Kiki yang tinggal


sendiri. Kiki memilih kamar di lantai dua karena berada ditengah tengah.


Dengan fasilitas kost pada umumnya hanya saja terdapat pos


keamanan yang berjaga sehingga orang yang dirasa mencurigakan tidak bisa sembarangan


masuk, kost ini bukan kost bebas yang membebaskan laki-laki masuk hanya


keluarga atau saudara jelas yang diperbolehkan. Kiki tidak terlalu peduli pada


hal semacam itu yang penting tidak mengganggu dirinya, biarlah menjadi urusan


masing-masing.


“Terimakasih kak sudah mengantar..” ucap Kiki setelah turun


dari motor dan membuka helmnya.


“Sama-sama.. kakak tidak suruh mampir nih” goda Arief yang


dibalas dengan tatapan membunuh Kiki. Ia tahu Arief hanya bercanda.


“Sudah pulang sana sebelum di usir satpam” usir Kiki sambil


mengibaskan tangan.


“Hemmm.. besok kakak jemput ya, berangkat bareng” pinta Arief


sebelum pergi.


“Tidak usah kak.. biar aku naik ojek online saja” tolak Kiki merasa tidak enak karena ia tahu rumah


mereka tidaklah satu arah.


“Sudah pokoknya besok aku jemput” paksa Arief. Kiki akhirnya


menyetujui daripada harus berdebat panjang.


“Baiklah kalau kakak memaksa” jawab Kiki pasrah.


“Oh iya kak lain kali tolong jangan lakukan itu lagi aku


merasa tidak nyaman.” jelas Kiki mengutarakan isi kepalanya yang dari tadi


mengganjal pikirannya. Agar kedepannya tidak terjadi salah paham ia tidak mau


melewati batas perasaannya karena selama ini hanya menganggap Arief sebagai


Kakak.


Arief hanya diam tidak mempedulikan ucapan Kiki, ia melajukan


motornya dan berlalu dari pandangan Kiki dengan hati yang bergetar mengingat


kejadian di lampu merah.


Kiki masuk melewati pos satpam dan menyapa pak Asep yang


tengah berjaga.


“Malam pak..” sapanya singkat pada lelaki paruh baya itu.


“Malam neng Marwa..baru pulang neng” jawab pak Asep dengan


logat sundanya.


“Iya pak.. saya masuk dulu ya” Kiki berlalu dan melangkahkan


kaki menuju kamarnya.


“Mangga neng” pak Asep mempersilahkan.


Seharian berada diluar membuat Kiki merasa letih.. ia pun


melepaskan penatnya dengan mandi air hangat lalu bergegas merebahkan dirinya


untuk menyambut mimpi yang telah menunggunya.


Jam menunjukkan pukul 5.15 WIB Kiki perlahan mengerjapkan


matanya meraih ponselnya dan mematikan alarm yang sedari tadi berisik


mengganggu tidur cantiknya.


“Hoamm” Kiki meregangkan sendi-sendi tubuhnya berusaha


mengumpulkan potongan nyawa yang masih berserakan di kasurnya. Setelah selesai


sholat ia merapikan tempat tidurnya, mengumpulkan baju-baju kotor, merapikan


meja kerja, dan menyapu disetiap sudut ruangan yang bernuansa biru itu.

__ADS_1


Saat ini Kiki tengah memasuki semester akhir di kuliahnya dan


tengah berjuang merampungkan tugas akhirnya.. untung saja tempat pengambilan


datanya adalah kantornya sendiri jadi tidak terlalu repot.. di lihatnya


perkembangan skripsinya yang masih harus revisi.. Kiki berkutat pada benda


berwarna perak yang bisa dilipat itu.. dan mengetik dengan serius, ditemani


dengan segelas minuman sereal untuk menghangatkan lambungnya.


“Hemm sedikit lagi selesai..semangat mengejar toga” Kiki


menyemangati diri sendiri lalu menyeruput minumannya.


Setelah itu ia bersiap untuk berangkat ke kantor karena Arief


mengirimi pesan akan menjemputnya lebih awal dan mengajak sarapan bersama. Ia


mengenakan setelan celana kain hitam yang sedikit ketat, atasan blus merah muda


dan hijab dengan warna senada.


Tak lama Arief mengabari bahwa ia sudah sampai, dan meminta


Kiki untuk segera turun. Jam menunjukkan pukul 09.00 WIB saat mereka


meninggalkan kost Kiki. Sampailah mereka pada warung sederhana yang menjual


lontong sayur. Tak lama pesanan mereka datang. Kiki memesan lontong sayur dan


teh hangat sedangkan Arief memesan nasi uduk lengkap dan juga es teh.


Disela-sela sarapan Arief menanyakan perkembangan tugas akhir Kiki.


“Bagaimana tugas akhir mu?”


“Masih ada revisi kak, semoga lekas Acc dan lanjut ujian” terang Kiki berharap tugasnya segera selesai.


“Aamiin”


Selesai sarapan seperti biasa Arief yang membayar tagihan


mereka. Lalu melajukan kendaraan menuju kantor. Sampai kantor sudah disambut


Iin yang sudah berada di meja kerjanya. Dan mengabarkan kalau ada pesanan papan


bunga untuk belasungkawa.


“Pagi mba Marwa.. oh iya ada pesanan bunga dadakan 3 papan


sekaligus mba”


“Iya,, pagi In, makasih nanti aku kabari Chandra supaya cepat


dibuatkan dan dikirim”


Lalu Kiki menelpon Chandra yaitu asistennya untuk segera


menyiapkan pesanan. Usaha papan bunga Kiki tidak berada di kantor yang sama. Ia


membuka sendiri usaha tersebut setelah satu tahun menjadi asisten di Shine MUA.


Tetapi mempercayakan pada Chandra untuk mengelolanya.


Dalam menjalankan usaha tidak selalu berjalan mulus seperti


pagi ini yang kedatangan seorang wanita paruh baya yang berpenampilan mewah


perhiasan menghiasi setiap bagian tubuhnya mulai dari gelang di kedua


“Permisi saya mau make up dan sewa gaun untuk nanti malam apakah bisa?” tanya wanita itu pada Iin.


“Bisa bu, mari saya antar keruang wardrobe” Iin mengantar wanita itu menuju ruang wardrobe disana sudah ada Kiki yang


sedang menata beberapa gaun yang baru sampai.


“Silahkan bu” Iin mempersilahkan untuk masuk. Diikuti Iin


yang mendampingi.


“Mba saya mau gaun yang paling bagus untuk saya pakai malam


ini!” pintanya pada Kiki.


“Bisa bu, silahkan dipilih.” sambil menunjukkan beberapa


koleksi gaun yang dirasa Kiki bagus untuk selera wanita yang terlihat kaya itu.


“Cuma ini saja”


“Ini beberapa koleksi terbaik kami bu, bisa di coba dulu ada


pilihan warna dan juga beberapa model” jawab Kiki.


“Ya sudah pilihkan yang paling bagus.. saya tidak mau


terlihat buruk dihadapan teman-teman arisan saya”


Kiki hanya menghela nafas melihat tingkah pelanggannya itu.


Kiki menjatuhkan pada gaun berwarna ungu dengan panjang semata kaki.


“Silahkan dicoba bu” Kiki menunjukkan pada wanita itu.


“Apa-apaan ini saya tidak mau pakai ini.. kenapa ungu saya


bukan janda” jawabnya sinis merasa tidak terima dengan pilihan Kiki.


Iin yang melihat sudah mulai geram. Dasar nenek rempong.Batinnya.


Kiki mencoba sabar menghadapinya, ia berganti mengambil gaun


merah dengan detail mutiara.


“Bagaimana kalau yang ini bu”


“Norak sekali.. saya bukan cabe-cabean masa merah begini


bukannya terlalu mencolok” hardiknya yang tidak terima dengan pilihan Kiki.


Sampai beberapa kali belum juga menemukan pilihan yang tepat.


Hingga Iin geram dibuatnya.


“Bu.. ini bukan butik yang menyediakan seribu macam gaun


kalau ibu tidak cocok silahkan cari tempat lain atau bikin gaun sendiri saja


sana” usir Iin yang panas karena ulah wanita berambut coklat itu.


“Beraninya ya kamu mengusir saya.. ingat pembeli adalah raja


mustinya dilayani dengan baik.. kamu mau tempatmu ini jadi bangkrut karena


kehilangan pelanggan” hardik wanita itu lagi.

__ADS_1


Iin pun semakin geram dan menirukan nenek lampir yang sedang


mengoceh dengan gerakan seperti komat-kamit tapi dalam posisi menunduk dan


tangan kanan yang menutupi mulutnya supaya tidak ketahuan.


Dasar nenek lampir


gila.. mana ada raja yang memakai gaun sewaan seperti itu.Umpat Iin.


“Maafkan kesalahan asisten kami bu, ia tidak bermaksud


demikian ayo Iin minta maaf pada ibu ini” perintah Kiki pada Iin. Namun Iin


tidak bergeming ia merasa tidak melakukan kesalahan untuk apa minta maaf.


Melihat Iin tidak bergerak Kiki menghampirinya dan menyikut lengan Iin.


“Sudah minta maaf saja


sana daripada masalahnya makin runyam, kamu mau jadi pengangguran, belum gajian


juga kan.” Bisik


Kiki, Iin pun membelalakkan matanya membayangkan hal itu membuatnya ngeri


nasibnya pasti akan meyedihkan. Lalu ia ingat akan sumpah tak terucapnya bahwa


akan menaklukan tempat kerjanya ini.


Dengan malas ia meminta maaf pada wanita itu. “Maafkan atas


sikap saya bu”.


“Sudahlah.. lain kali jangan diulangi”


Tanpa permisi Iin keluar dari ruang wardrobe meninggalkan pelanggan gila itu. Sepanjang langkah ia


mengutuki nenek lampir itu dengan segala sumpah serapah.


“Ini koleksi terakhir dari tempat kami bu jika merasa belum


cocok ibu boleh cari ditempat lain” Kiki menyerah sudah hampir semua koleksi di


tunjukkan namun sang pelanggan belum juga menemukan pilihannya.


“Saya sudah tidak ada waktu karena setelah ini saya mau ke


salon.. ya sudahlah saya pilih yang ini saja” sang pelanggan menunjuk salah


satu gaun yang ditunjukkan Kiki.


Setelah gaun dicoba wanita itu merasa cocok dan memesannya.


Gaun yang dipilih yaitu berwarna krem dengan detail brokat pada bagian atasnya


serta berlengan pendek.


Belum selesai urusan gaun, PR selanjutnya adalah polesan pada


wajah yang diminta oleh wanita itu.


Bagaimana tidak, ia meminta untuk terlihat lebih muda dan


meminta agar kerutan diwajahnya tidak tampak.


Jika sudah seperti itu Kiki akan menyerahkan pada pawangnya


siapa lagi kalau bukan kak Santi yang sudah lebih ahli dalam urusan merias


wajah.


“Saya mau dirias secantik mungkin, jangan tampakkan


tanda-tanda penuaan sedikit pun”


“Baik bu, akan kami usahakan”


“Setelah dari salon saya akan datang kesini lagi.. kamu bisa


panggil saya bu Mira”


“Baik bu, ditunggu kedatangannya” senyum manis terukir


di wajah Kiki.


“Acara  diadakan saat


jam makan malam..jadi lakukan yang terbaik, saya tidak mau terlambat datang ke


pesta ulang tahun itu”


Selesai dengan semua titah yang diberikan Kiki, Bu Mira


keluar dari ruang wardrobe entah apa


yang mereka perbincangkan keduanya sudah terlihat akrab seperti ibu dan anak


gadisnya. Bahkan Sesekali bu Mira terkekeh dalam obrolan mereka.


Melihat Kiki dan nenek lampir yang berjalan dengan senyum


sumringah membuat Iin jadi penasaran. Karena hal ini berkebalikan dengan


pikirannya ia mengira Kiki akan menangis karena di kerjai oleh wanita itu.


“Silahkan lanjutkan kegiatan ibu terimakasih atas


kedatangannya” Kiki mempersilahkan Bu Mira.


“Baiklah anak manis”


Saat melewati meja Iin, bu Mira menatap sinis lalu melengos.


Iin mendapat perlakuan seperti itu bertambah geram, saat bu Mira sudah berlalu ia


seperti ingin menerkam wanita itu.


Iin lalu beralih ke Kiki yang masih berdiri menatap kepergian


wanita itu dengan senyuman.


“Mba.. apa yang terjadi kenapa sikap nenek lampir itu jadi


berubah”


“Tidak ada”


“Apa dia kesambet mengapa berubah jadi seperti” Iin masih


penasaran apa yang membuat pelanggan itu jadi berubah.


“Stttt.. rahasia.. bekerja saja yang benar atau kejadian


seperti tadi akan terulang lagi” Kiki lalu pergi meninggalkan Iin yang masih kebingungan


dengan perubahan sikap nenek lampir itu.

__ADS_1


***


 Selamat membaca..


__ADS_2