Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Tetap Menjadi Diandra


__ADS_3

"Suami mu pasti akan segera sadar nak, papa akan mengusahakan yang terbaik untuk nak Angga," ucap papa Chandra seraya merengkuh tubuh putri nya.


Kembali Diandra menangis dalam dekapan sang papa, pelukan orang tua yang belum pernah dia dapatkan sepanjang hidup nya. Diandra bersyukur, di saat dia sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja karena suami nya mengalami kecelakaan dan dinyatakan koma... Allah mempertemukan diri nya dengan orang tua kandung yang bisa dia jadikan sebagai sandaran.


Diandra melerai pelukan nya, "pa,, tadi papa bilang bahwa papa yang telah mengurus semua administrasi kak Angga dan..." Diandra menghentikan sejenak ucapan nya dan menatap intens netra sang ayah, "dan itu semua demi Didi? Apa itu arti nya, sebelum ini papa sudah tahu kalau Didi anak papa?" Tanya Diandra menyelidik.


"Iya, meski papa dan opa belum punya bukti nya." Balas papa Chandra sambil mengacak lembut puncak kepala putri nya, "awal nya opa yang melihat mu di showroom, dan kemudian pertemuan kami dengan bu Wati.. orang yang membeli rumah lama opa, yang mengatakan bahwa kalian pernah mencari orang yang bernama Hadi Winata?"


'Makanya semalam kami mencari nak Angga dan kamu ke apartemen nak, karena kami ingin memastikan nya. Tapi sayang nya, momen nya tidak tepat dan kami tidak memiliki kesempatan untuk bertanya.." lanjut papa Chandra menjelaskan secara detail.


Diandra mengangguk mengerti.


"Pa, mbak Renny itu siapa nya papa?" Tanya Diandra kembali menatap sang papa, meminta penjelasan.


Papa Chandra terdiam sejenak,, "dia anak dari wanita yang papa nikahi sepuluh tahun yang lalu," balas papa Chandra pelan, suara nya nampak menyiratkan kekecewaan.


Papa Chandra menarik nafas dalam, dan kemudian menghembus nya kuat-kuat. "maafkan papa atas kejadian yang menimpa suami mu semalam nak,," ucap papa Chandra lirih.


"Itu bukan salah papa, kenapa papa minta maaf?' Diandra mengernyit.


"Karena saat Renny menjebak suami mu semalam, dia masih menjadi bagian dari keluarga papa." Balas papa Chandra pelan.


"Tapi opa pastikan, mulai besok,, Renny dan ibu nya sudah bukan siapa-siapa lagi di keluarga kita nak," ucap opa Win penuh keyakinan.


"Kenapa opa? Didi enggak masalah kok, jika emang harus jadi saudara nya mbak Renny? Ya,, meskipun dia sempat ingin merusak rumah tangga Didi?"

__ADS_1


"Bukan hanya itu kesalahan nya nak, ibu nya telah mengkhianati papa mu selama setahun terakhir dan bermain gila dengan laki-laki yang sama dengan anak nya." Ucap opa Win menjelaskan.


"Maksud papa bermain dengan laki-laki yang sama?' Tanya papa Chandra bingung.


"Berondong yang sering memuaskan nafsu Sarah adalah pacar Renny!" Jawab opa Win penuh penekanan.


Papa Chandra nampak sangat geram.


Sedangkan Diandra terkejut mendengar berita tersebut, begitupun dengan yang lain. Nampak bu Rahma mengelus dada, dan mengucap istighfar berulang-ulang, "kok ada ya, seorang istri sekaligus sebagai ibu berbuat nista seperti itu?" Lirih nya.


"Iya mbak Rahma, dan itu benar-benar memalukan! Wanita seperti itu tak pantas disebut sebagai ibu... karena ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anak nya dan jika ibu nya saja perilaku nya seperti itu, lantas bagaimana dengan anak nya?!" Mama Dewi pun nampak geram.


"Kita pulang sekarang Chandra, kita bereskan mereka segera," titah opa Win seraya beranjak, "maaf semua nya, kami pamit dulu." Pamit opa Win menatap bu Rahma dan mama Dewi bergantian.


Mama Dewi dan bu Rahma mengangguk, dan tersenyum tulus.


"Maaf pak Chandra, sebaik nya anda beristirahat di rumah saja,, besok baru anda kemari untuk menemani Didi. Malam ini kami berdua yang akan berjaga di sini, bersama Aditya," ucap mama Dewi sambil menunjuk diri nya dan bu Rahma.


"Baiklah bu," balas papa Chandra sambil tersenyum hangat dan beranjak dari tempat duduk nya, yang diikuti oleh Diandra.


"Papa pulang dulu ya sayang," ucap papa Chandra, sambil memeluk putri nya kembali untuk beberapa lama, seakan enggan untuk meninggalkan putri yang baru dipertemukan dengan nya itu.


"Sudah pa, kasihan opa tuh udah nungguin," lirih Diandra membuyarkan lamunan sang papa yang tengah mendekap nya erat.


Papa Chandra melepaskan pelukan nya sambil mengusap lembut puncak kepala sang putri, dan kemudian menyalami semua nya untuk berpamitan,, yang diikuti oleh opa Win.

__ADS_1


"Opa pulang dulu ya nak," pamit opa Win pada cucunya, sambil memeluk Diandra sekilas.


Kedua nya pun segera berlalu menuju pintu keluar, dan di saat yang bersamaan,, nampak seorang dokter dan perawat yang berjaga, membuka pintu hendak memeriksa keadaan Angga.


"Dokter Chandra?" sapa dokter berhijab yang terlihat anggun itu sambil mengernyit, "apa pasien Angga kerabat anda dokter?" Tanya dokter wanita tersebut.


"Iya dokter Hanna, Angga menantu saya," jawab papa Chandra sambil mengangguk.


"Oh,,," dokter Hanna nampak mengangguk-angguk. "Saya turut prihatin atas musibah yang menimpa menantu anda dokter," ucap dokter Hanna tulus, "kami selaku tim dokter yang menangani pasien akan memberikan layanan terbaik untuk keluarga anda selaku pemilik rumah sakit ini dokter," lanjut dokter Hanna sungguh-sungguh.


"Terimakasih dokter Hanna, saya percaya kalian adalah tim terbaik dan pasti nya akan bekerja secara professional. Saya titip putra menantu saya, tolong pantau terus keadaan nya dan laporkan kepada saya perkembangan nya," ucap papa Chandra penuh penegasan dan berwibawa.


Dokter Hanna mengangguk dan tersenyum, "baik dokter," ucap nya patuh pada pemilik setengah saham dari rumah sakit tempat dia bekerja, "mari dok, saya harus segera memeriksa kondisi pasien," pamit dokter Hanna sopan, dan segera berlalu meninggalkan papa Chandra dan opa Win yang masih berdiri mematung di ambang pintu melihat kearah ruangan khusus dimana dokter Hanna dan perawat tadi masuk.


Beberapa saat kemudian, opa Win mengajak papa Chandra untuk segera melanjutkan langkah nya, "ayo Chandra,," titah nya sambil berlalu meninggalkan ruang perawatan.


Mama Dewi yang mendengar obrolan antara papa Chandra dan dokter yang bertugas tadi merasa lega, karena putra nya ditangani oleh tim dokter terbaik di rumah sakit ini.


"Pantesan ya ma, Angga di tempatkan di ruangan istimewa seperti ini. Ternyata rumah sakit ini milik mertua nya Angga,,," ucap Aditya seraya melirik Diandra.


"Di,, setelah bertemu papa lu, apa yang akan lu lakukan?" Tanya Aditya ambigu.


"Maksud bang DItya?" Diandra balik bertanya, karena bingung dengan arah pertanyaan Aditya.


"Ya, secara kan lu ternyata anak orang kaya? Lu bebas untuk ngelakuin apa saja bukan?" Aditya menegaskan.

__ADS_1


"Siapa pun papa Didi, dan seperti apa kehidupan papa... Didi akan tetap menjadi Diandra yang bang Ditya kenal, Didi tidak akan pernah berubah bang Ditya. Karena ibu selalu mengajarkan kepada Didi agar Didi selalu mensyukuri, apa pun yang Tuhan berikan kepada Didi." Balas Diandra dengan tegas sambil menatap hangat netra sang ibu, yang netra nya telah basah karena terharu mendengar ucapan putri angkat nya.


__ADS_2