
Sementara itu di kediaman keluarga Winata, meski malam telah semakin larut.. namun pesta masih berlangsung, karena masih ada sebagian tamu yang baru saja hadir.
Nampak di antara kerumunan keluarga dokter Hanna, opa Win tengah mencari-cari sosok seseorang. Hingga suara berat Aditya, mengagetkan opa Win,, "opa nyari ibu ya?" Tanya Aditya yang mendekat kearah opa Win bersama Airin, tunangan nya.
"Iya nak, apa kalian melihat ibu?" Opa Win balik bertanya.
"Ibu menemani Didi ke rumah sakit opa, tadi ibu berpesan agar Ditya mengantar opa untuk menyusul ke sana kalau acara di sini sudah selesai." Balas Aditya.
"Didi kenapa?" Tanya opa Win panik.
"Kami juga belum tahu opa, tadi Angga cuma memberi tahu kalau air ketuban Didi sudah keluar," Aditya mengatakan sejauh yang dia tahu.
"Apa? Ketuban Didi pecah?!" Papa Chandra yang sedang berjalan di dekat mereka terkejut mendengar penjelasan Aditya barusan.
"Iya om, barusan Angga chat saya dan mengatakan seperti itu." Balas Aditya merasa bersalah, karena papa Chandra terpaksa mendengar berita tidak baik itu di tengah pesta nya.
Papa Chandra segera mengambil ponsel dari dalam saku celana nya, dan kemudian melakukan panggilan.
Setelah beberapa saat menunggu, panggilan nya di angkat oleh seseorang di seberang sana, "halo pa, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam Ga, gimana kabar Didi?" Tanya papa Chandra panik.
"Didi dan kandungan nya baik-baik saja pa, tapi ada sedikit masalah dengan air ketuban nya. Kami belum berani mengambil keputusan, karena menunggu papa." Balas Angga dari ujung sana.
"Kenapa harus nunggu papa, kalau memang darurat.. ikuti saja perintah dokter yang saat ini menangani Didi, dia pasti tahu mana yang terbaik untuk pasien nya," ucap papa Chandra sedikit kacau.
"Lagian, kenapa tadi kalian tidak langsung memberi tahu papa? Ini masalah nyawa Ga?!" Papa Chandra meremas rambut nya, dokter spesialis kandungan itu khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada putri nya ataupun pada calon cucu nya. Papa Chandra mengingat cerita bu Rahma, bahwa Diana tidak dapat diselamatkan sesaat setelah putri nya lahir.
"Siapa dokter yang bertugas Ga? Apa dokter Dina? Berikan ponsel mu kepada nya, papa mau bicara sama dokter Dina," pinta papa Chandra, dengan memelankan suara nya.
Sambil menunggu orang yang di seberang sana, papa Chandra mengatur nafas nya.
Sedang kan opa Win, nampak menepuk punggung putra nya itu,, mencoba memberikan ketenangan.
"Halo dokter Chandra," sapa suara wanita dari seberang sana.
__ADS_1
"Halo dokter Dina, bagaimana kondisi putri saya?" Tanya papa Chandra menuntut jawab.
Terdengar dokter Dina menerangkan kondisi Diandra saat ini kepada dokter senior, sekaligus salah seorang pemilik saham di rumah sakit tempat dokter Dina bekerja.
Papa Chandra mengangguk-angguk, dan wajah nya terlihat berangsur tenang.
Dari kejauhan, nampak dokter Hanna berjalan kearah suami nya, "siapa?" Tanya dokter Hanna berbisik setelah berada di dekat suami nya, sambil mengernyitkan kening nya.
"Dokter Dina," balas papa Chandra dengan berbisik pula.
Sedang kan dokter Dina masih terdengar berbicara di ujung telpon.
"Baik dokter Dina, tolong pastikan kondisi putri saya dan janin nya senantiasa dalam pantauan anda. Saya akan segera ke sana, setelah tamu-tamu kami pulang," pinta papa Chandra pada dokter yang menangani putri nya. Dan sesaat kemudian papa Chandra menutup panggilan nya.
"Didi masuk rumah sakit dik, kasus KPD," ucap papa Chandra menjelaskan pada istri nya.
"Lantas, sudah di ambil tindakan? Cesar atau di induksi? Sakit banget lho mas kalau harus di induksi?" Cecar dokter Hanna nampak khawatir.
Papa Chandra menggeleng, "mereka masih menunggu ku untuk mengambil keputusan, tapi tadi dokter Dina mengatakan kalau kehamilan Didi masih bisa di perpanjang dengan syarat," balas papa Chandra seraya menghembus kasar nafas nya.
"Apa nanti kamu enggak report sendiri Ndra?" Opa Win nampak bimbang.
"Tak mengapa pa, ada anak-anak yang menemani kami.. ada sahabat Didi juga," balas papa Chandra.
"Mas Chandra benar pa, masih ada saudara-saudara Hanna juga," timpal dokter Hanna meyakinkan mertua nya.
"Masih ada kak Shinta dan bang Rama juga di sini opa,,, mereka akan menginap," Aditya ikut menimpali.
"Baik lah,, papa akan ke rumah sakit," ucap opa Win akhir nya menyetujui.
"Airin di sini saja ya sama yang lain, besok abang jemput," titah Aditya pada tunangan nya.
Airin mengangguk, "iya bang, salam ya buat Didi," balas Airin seraya tersenyum.
Aditya dan opa Win segera bergegas meninggalkan pesta papa Chandra, untuk menuju ke rumah sakit tempat Diandra di rawat.
__ADS_1
°°°°°
Pagi-pagi sekali, papa Chandra dan sang istri bergegas ke rumah sakit. Beliau menunda sampai pagi, karena semalam acara nya berlangsung hingga tengah malam. Dan papa Chandra juga selalu memantau keadaan putri nya, melalui petugas yang jaga.
Tepat pukul setengah tujuh, papa Chandra dan sang istri telah sampai di ruang perawatan putri nya. Di depan kamar rawat Diandra, papa Chandra di sambut oleh Aditya dan Raka yang tengah menikmati kopi hangat.
Semalam Aditya dan Raka memang menginap di rumah sakit, bersama opa Win, bu Rahma dan juga mama Dewi. Mereka semua menemani Angga dan istri nya yang tengah mendapatkan perawatan.
"Nak Ditya, nak Raka,," sapa papa Chandra, menyalami Aditya dan Raka. "Apa yang lain di dalam?" Tanya papa Chandra.
"Iya om, Opa dan yang lain ada di dalam. Lagi ada visit dokter," balas Raka.
"Oh, om masuk dulu ya,," papa Chandra segera masuk ke ruang rawat inap Diandra, ruangan khusus yang sangat luas. Di lengkapi dengan satu bed untuk penunggu pasien yang cukup luas, satu set sofa didalam ruang rawat dan ada ruang tamu terpisah dengan dua bangku panjang dan meja persegi.
Dokter Hanna yang mengekor di belakang papa Chandra, langsung mendekat kearah dokter yang tengah memeriksa keadaan pasien. Ini adalah visit terakhir sebelum pergantian shif.
"Bagaimana keadaan Didi dokter?" Tanya dokter Hanna pada rekan kerja nya itu.
Dokter Dina menoleh kearah sumber suara, dan tersenyum, "janin dan bunda nya sama-sama kuat dokter, semoga bayi nya bisa bertahan lebih lama di dalam kandungan agar paru-paru nya kuat dahulu," ucap dokter Dina penuh harap.
"Berapa lama kira-kira kondisi seperti ini dapat bertahan dok?" Tanya mama Dewi yang ikut mendekati dokter Dina.
Dokter Dina menggeleng, "tidak dapat di prediksi bu, tergantung dari seberapa banyak dan seberapa sering air ketuban nya rembes," balas dokter Dina, "maka nya saya menyarankan pada mbak Didi untuk bed rest dan kami juga memberikan mbak Didi berbagai obat dan vitamin sebagai penunjang agar kehamilan nya dapat bertahan lebih lama.. kalau tidak dapat bertahan dua bulan ke depan, minimal satu bulan," lanjut dokter Dina menjelaskan.
"Dok, jika hanya mampu bertahan sampai bulan depan saja, apa tidak sebaik nya di lakukan tindakan sekarang saja dok? Kata nya kalau usia kandungan delapan bulan, bayi akan kembali muda.. jadi lebih baik melahirkan di usia kandungan tujuh bulan seperti sekarang bukan?" Tanya bu Rahma yang ikut bergabung.
"Itu hanya mitos ibu, karena yang benar adalah.. semakin tua usia kehamilan, janin akan semakin besar dan organ tubuh bayi akan semakin berfungsi dengan sempurna." Balas papa Chandra, yang juga ikut mendekat kearah sang putri
Bu Rahma mengangguk-angguk, begitu pun dengan mama Dewi.
"Gimana keadaan kamu nak?" Tanya papa Chandra, setelah mencium kening putri nya.
"Alhamdulillah pa, Didi baik," balas Diandra tersenyum.
"Kamu harus di rawat dulu minimal dua hari, sambil dilihat bagaimana perkembangan nya nanti. Jika baik, kamu bisa lanjut bed rest di rumah.. tapi jika tidak memungkin kan, terpaksa harus segera di ambil tindakan." Ucap papa Chandra, menjawab tanya di benak semua orang.
__ADS_1