
Keesokan hari nya, kampus dimana Diandra dan sahabat-sahabat nya menuntut ilmu dikejutkan dengan berita meninggal nya Seno. Ya, Mahasiswa tampan idola kampus itu akhir nya menghembuskan nafas terakhir nya dengan cara yang tragis.
Seno tertusuk oleh kakak sepupu nya yang awal nya bersekongkol dengan diri nya, yang ingin memisahkan hubungan Diandra dan suami nya. Seno seperti masuk ke dalam perangkap nya sendiri, meski tindakan Vera yang terakhir melenceng jauh dari rencana Vera dan Seno.
Dalam plan A maupun plan B, tidak ada kekerasan.. karena mereka akan bermain cantik untuk menghasut Angga, dengan memfitnah Diandra.
Tapi manusia boleh berencana, dan takdir Allah lah yang terjadi. Hingga Seno harus meregang nyawa di ruang ICU selama 24 jam, karena kehabisan banyak darah.
Darah yang di donor kan Angga kemarin, tak mampu menyelamatkan nyawa Seno,,, hanya mengulur waktu untuk beberapa saat saja. Karena hanya Angga yang golongan darah nya cocok untuk Seno, yang bergolongan darah B Rhesus Negatif. Sedangkan Aditya dan beberapa mahasiswa teman Seno yang sempat di cek golongan darah nya, tak ada satupun yang cocok.
Dan saat berita kematian Seno itu tersebar di kalangan mahasiswa, Diandra dan ketiga sahabat nya sedang berada di kantor kepolisian untuk dimintai keterangan terkait kejadian yang menimpa Seno kemarin.
Diandra di dampingi oleh sang suami, karena Angga tidak mau istri nya itu tertekan dengan berbagai macam pertanyaan yang mungkin saja akan membuat Diandra tidak nyaman dan stress.. dan itu beresiko untuk kehamilan Diandra.
Sebelum istri nya masuk ke ruang pemeriksaan, Angga terlebih dahulu menemui pihak yang berwenang untuk menyampaikan kondisi istri nya, sesuai dengan keterangan dokter obgyn kemarin,, dan pihak kepolisian dapat mengerti kekhawatiran Angga tersebut, "Tenang mas, mereka hanya kami mintai keterangan sebagai saksi. Dan saya jamin, kami akan memperhatikan kenyamanan mereka, sehingga istri anda tidak akan tertekan," ucap salah seorang reserse menenangkan Angga.
Angga mengangguk, dan kemudian segera keluar dari ruangan tersebut untuk kembali menemani sang istri.
Tak berapa lama, Diandra dan ketiga sahabat nya dipanggil masuk ke sebuah ruangan untuk di lakukan pemeriksaan. Meninggalkan Angga seorang diri, yang mondar mandir dengan perasaan was-was.
Selama beberapa saat, suami Diandra itu masih mondar mandir tidak tenang. Angga kemudian duduk, dan memijat pelipis nya seolah berpikir keras. Ketika tengah sibuk dengan pikiran nya, Angga dikejutkan dengan suara teriakan dan di susul suara tangis yang begitu menyayat hati dari ruangan yang berada di belakang tempat Angga menunggu istri nya.
__ADS_1
Seorang Polwan nampak berjalan dengan cepat menuju ke ruangan tersebut, dan di susul oleh dua orang polisi. Angga bertanya-tanya dalam hati.
Sesaat kemudian, salah seorang polisi yang tadi ikut ke ruangan belakang.. kembali ke depan, tapi tak lama kemudian berjalan dengan cepat hendak kembali ke ruangan belakang. "Maaf pak, ada apa ya?" Tanya Angga, memberanikan diri untuk bertanya.
"Pelaku penusukan histeris mas, saat kami mengabarkan kalau korban nya tewas," balas polisi tersebut, dan langsung meneruskan langkah nya.
"Apa? Meninggal? Seno.. Seno meninggal?" Angga nampak tidak percaya, suami dari Diandra itu langsung terduduk dengan lemas. "Seno.. aku berhutang nyawa pada mu, kamu telah menyelamatkan istri ku Seno," Lirih Angga dengan netra berkaca-kaca, suami Diandra itu meremas kuat rambut nya. Angga merasa usaha nya untuk menolong Seno kemarin, sia-sia belaka.
"Kamu tidak berhutang apa pun nak, itu sudah menjadi takdir nya,, takdir Seno yang telah berbuat baik dengan menyelamatkan Didi di penghujung usia nya, meski nyawa Seno sendiri yang menjadi taruhan nya." Ucap papa Chandra yang tiba-tiba hadir, sambil menepuk pundak menantu nya itu.
"Papa,, papa datang kemari?" Tanya Angga sedikit terkejut.
"Makasih pa," ucap Angga merasa lega, karena ada papa mertua nya bersama mereka. "Angga tadi sempat takut, saat mendengar Seno meninggal.. kalau Didi dengar, pasti dia akan syok. Tapi Angga tenang sekarang, karena ada papa."
Papa Chandra mengangguk-angguk.
Dari ruangan belakang, suara teriakan Vera masih terdengar sesekali.
"Pa, pasti masalah ini rentetan nya sampai ke hubungan Angga dan Vera kala itu.. dan tidak menutup kemungkinan, Angga juga bakal dimintai keterangan oleh pihak kepolisian. Bagaimana menurut papa?" Tanya Angga menatap papa mertua nya.
Papa Chandra nampak membetulkan duduk nya, "sebaik nya kamu katakan yang sebenar nya, bukan kah istri mu juga sudah tahu kalau kamu tidak amnesia?" Papa Chandra balik bertanya.
__ADS_1
"Iya pa," balas Angga singkat.
"Dan tentang abang mu Raka, pasti dia akan mengerti dan bahkan akan sangat berterimakasih karena kamu telah memberi nya kesempatan untuk berubah." Ucap papa Chandra memberi pengertian, "papa lihat, Raka sangat menyayangi kamu dan juga mama kalian.. dan seperti nya, dia sangat menyesali perbuatan nya kala itu," lanjut papa Chandra.
Angga mengangguk mengerti.
Sementara di ruangan belakang, tepat nya di sel tahanan sementara.. Vera masih terus histeris, dia masih belum bisa terima bahwa korban nya adalah adik sepupu nya sendiri. Bahkan Seno kini telah meninggal.
Petugas sampai kewalahan menenangkan nya, "mbak Vera, apa mbak Vera mau datang ke pemakaman saudara Seno? Jika mbak mau ke sana, kami akan mengantar mbak Vera ke rumah duka?" Tanya seorang Polwan, menatap Vera.
Tapi Vera tak menyahut nya, wanita itu malah tertawa terbahak-bahak dan kemudian menangis meraung-raung. Terlihat diam sebentar dan kemudian kembali histeris.
Dua orang Polwan dan dua orang polisi yang masih menjaga Vera, hanya geleng-geleng kepala.
Beberapa saat kemudian, Vera mulai agak tenang. Dan polisi yang ikut membantu menjaga Vera telah kembali ke ruangan nya masing-masing.
Kini tinggal seorang Polwan yang berjaga, dan Vera yang tengah duduk termenung di dalam sel. "Apa yang harus gue lakukan? Gue tidak mau di penjara! Apa sebaik nya gue pura-pura gila aja ya,, agar mereka tidak menuntut gue?!" Vera bermonolog dalam hati.
"Ah, sial,, harus nya wanita itu yang mati! Dasar Seno bodoh,, bisa-bisa nya dia menghalangi gue! Bukan salah gue, kalau dia yang yang tertusuk! Itu murni, karena kebodohan nya!" Vera masih saja merutuki kebodohan Seno, dalam hati nya. Tak ada sedikitpun penyesalan di hati nya, juga rasa kehilangan karena Seno adalah adik sepupu nya.
Mata hati Vera seperti nya sudah benar-benar buta, buta karena keserakahan yang tidak masuk akal bagi orang yang berpikiran waras. Dia yang meninggal kan Angga, dan dia pula yang ingin kembali?! Dia sudah benar-benar gila,, dan dia tidak perlu lagi pura-pura gila.
__ADS_1