
Setibanya di depan unit hunian Angga, Aditya segera mengetuk pintu nya. Tak berapa lama, pintu di buka dengan lebar dan nampak lah Diandra dari balik pintu.
"Di, suami lu ada? Di cari opa Win nih," tanya Aditya pada Diandra yang masih bengong menatap opa Win.
"Kok opa Win ada disini, kak Angga mana?" Tanya Diandra bingung sambil mengedarkan pandangan nya, mencari sosok sang suami yang barangkali saja datang bersama opa Win.
Opa Win mengernyit,, sedang kan papa Chandra terpaku di tempat nya menatap Diandra tanpa berkedip.
"Tadi kan opa bikin janji mau ketemu sama kak Angga di kafe hotel XX?" Tanya Diandra, perasaan nya mulai tak enak.
"Bikin janji?" Opa Win ikut bingung mendengar penjelasan Diandra.
"Iya opa, tadi siang opa kirim pesan sama kak Angga untuk ketemu jam tujuh malam ini?!" Diandra semakin panik.
Opa Win menggeleng, "opa tidak pernah berkirim pesan dan tidak membuat janji dengan Angga nak,,,"
"Bang Ditya, kita harus susul kak Angga bang... Didi takut terjadi sesuatu sama kak Angga, ayo bang, cepat!" Pinta Diandra langsung mengunci pintu unit nya dan segera menyeret lengan Aditya, dia tak lagi menghiraukan keberadaan opa Win dan laki-laki yang bersama opa Win.
Aditya pun segera mengikuti langkah Diandra, "maaf opa, kami tinggal dulu," pamit Aditya pada opa Win sambil berlalu mengikuti langkah Diandra yang berlari kecil.
"Diana,,," gumam papa Chandra ketika Diandra melintas di samping nya.
Diandra sempat menoleh kearah papa Chandra dan sekilas menatap papa Chandra, seperti ada perasaan berbeda tatkala tatapan mata mereka bertemu meski hanya sekilas. Namun Diandra segera menepis nya, yang menjadi fokus nya saat ini adalah suami nya.
"Cepat bang,," seru Diandra sambil terus berlari dan menarik tangan Aditya.
Aditya hanya menurut dan ikut mempercepat langkah nya.
"Kita ikuti mereka," titah opa Win pada papa Chandra yang masih terpaku di tempat nya, dan kemudian mereka berdua pun ikut berlari kecil mengejar langkah Diandra dan Aditya yang semakin menjauh dan masuk kedalam lift.
Beruntung, pintu lift belum menutup dengan sempurna tatkala opa Win dan papa Chandra tiba, jadi mereka bisa ikut masuk kedalam lift.
Tak ada yang membuka suara saat berada di dalam lift, masing-masing sibuk dengan pikiran nya sendiri-sendiri. Hanya sesekali Diandra mencuri-curi pandang menatap papa Chandra,, "kenapa om itu menyebut nama Diana? Apa beliau kenal dengan ibu ku?" Gumam Diandra dalam hati.
__ADS_1
Sedangkan perasaan Aditya pun mulai tak enak mencerna penjelasan Diandra tadi, "siapa yang menjebak Angga ya?" Bisik nya dalam hati.
Pintu lift terbuka, "bang, kita harus cepat!" Pinta Diandra sambil berlari mengikuti langkah Aditya yang telah mendahului nya menuju mobil milik sahabat Angga tersebut.
Aditya pun merasa tidak tenang, dan setelah kedua nya berada di dalam mobil.. Aditya segera melajukan mobil sport milik nya, dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibukota.
Kedua nya sama-sama diam, fokus Diandra hanya pada sang suami dan dia terus melafalkan do'a untuk keselamatan suami nya.
Diandra sampai lupa membawa ponsel nya, "bang Ditya, boleh pinjam ponsel untuk telpon kak Angga?" Pinta Diandra menoleh kearah Aditya yang fokus dengan kemudinya.
Tanpa menjawab, Aditya mengambil ponsel dari saku nya dan memberikan nya pada Diandra.
"Yah, kok enggak nyala bang?" Tanya Diandra putus asa.
"Oh, gue lupa nge charge Di,," balas Aditya merasa bersalah.
"Jangan khawatir Di, bentar lagi kita sampai," ucap Aditya mencoba menenangkan istri sahabat nya itu.
Opa Win dan papa Chandra yang mengikuti mereka berdua, mulai kehilangan jejak nya, "apa kamu ingat nama kafe nya?" Tanya opa Win panik, dia ikut khawatir dengan keadaan Angga.
"Semoga saja feeling kita benar," balas opa Win, senyum bahagia terbit di sudut bibir nya.
"Tapi, mengapa dia menikah di usia semuda itu? Apa mereka mengalami kesulitan ekonomi? Lantas di mana Diana? Apa dia sudah menikah lagi? Apa dia baik-baik saja?" Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di benak papa Chandra. "Diana,, aku merindukan mu," bisik nya dalam hati, netra nya mulai berembun.
Papa Chandra pun mempercepat laju kendaraan nya, dia tak ingin sesuatu hal yang buruk menimpa anak menantu nya.
°°°°°
Sementara itu, Angga telah sampai di kafe hotel XX, tempat opa Win ingin bertemu dengan nya. Angga segera menghubungi ponsel opa Win, namun beberapa kali mencoba menelpon selalu gagal dan dijawab sama oleh operator bahwa nomor yang dituju di luar jangkauan.
Angga kemudian melangkah masuk kedalam kafe sambil mengedarkan pandangan, tapi sosok opa Win tak dapat dia temukan.
Tiba-tiba seorang gadis memanggil nama nya dari sebuah meja di sudut ruangan, "bang Angga," panggil nya seraya melambaikan tangan.
__ADS_1
Angga mengernyit, "Renny,,,?" Angga kemudian berjalan mendekati meja Renny.
"Silahkan duduk bang,,, opa sedang keluar sebentar ketemu sama klien nya dan tadi opa berpesan pada Renny agar menemani bang Angga sampai opa kembali," ucap Renny menjelaskan panjang lebar.
"Kenapa ponsel opa tak dapat di hubungi?" Tanya Angga nampak ragu dan enggan untuk duduk.
"Ponsel opa lowbat bang, dan lupa gak bawa charge." Balas Renny memberi alasan, "duduk dulu bang,, opa juga udah pesankan kopi kesukaan bang Angga," bujuk Renny agar Angga mau duduk.
Angga pun terpaksa duduk, dan Renny menyodorkan kopi yang kata nya sudah di pesankan sang opa untuk Angga. "Ini kopi untuk bang Angga," ucap nya lembut sambil tersenyum seringai.
Angga terdiam, tak langsung menyambut kopi pemberian Renny.
"Tadi opa juga sempat ngopi sebentar, nih kopi punya opa tinggal separo," ucap Renny mencoba meyakinkan Angga bahwa sang opa memang berada di sana tadi.
"Atau kak Angga takut kopi ini Renny kasih sianida?" Tanya Renny seraya terkekeh, dan kemudian menuang sedikit kopi Angga kedalam cawan milik nya,, "kalau beberapa menit setelah minum kopi bang Angga Renny menggelepar, bang Angga enggak perlu meminum nya," lanjut nya seraya meminum kopi tersebut.
Angga mendesah kasar, dan kemudian ikut meminum sedikit kopi pemberian Renny tadi.
"Ayo bang, minum yang banyak.. kalau perlu habiskan, biar cepat kerja nya," gumam Renny dalam hati, "rencana Renny selalu berhasil.." lanjut Renny seraya tersenyum licik.
Waktu berlalu, Angga kembali meneguk kopi nya yang sudah hangat,, sedikit demi sedikit, hingga akhirnya tandas tak bersisa.
Dalam hati Renny bersorak, "yes rencana gue berhasil,, gadis penjual tas itu boleh berbahagia bertemu dengan ayah kandung nya, tapi sebentar lagi dia akan kehilangan suami nya. Aku tak kan membiarkan dia menikmati kebahagiaan yang sempurna," gumam Renny menahan tawa kemenangan nya.
Detik berganti menit, sepuluh menit telah berlalu dan Angga mulai merasa kan ada yang salah dengan tubuh nya. Dia mulai gelisah dan suhu tubuh nya terasa meningkat.
Renny tersenyum puas, melihat mangsanya mulai gelisah. Sengaja dia mencampur sedikit obat perangsang tetes yang berasal dari Jerman kedalam kopi milik Angga tadi, untuk menjebak laki-laki yang pernah menjadi target nya itu. Namun justru Angga telah menikah dengan gadis penjual tas, yang menurut Renny tak layak bersanding dengan Angga.
Meski Renny hanya meneteskan sedikit obat perangsang, karena Renny tahu bahaya yang bisa timbul jika mencampur kopi dengan obat-obatan... namun obat tersebut terkenal ampuh mampu meningkat kan gairah seksual dengan cepat.
Angga membuka kancing baju nya yang paling atas, dan mengibaskan tangan nya di depan wajah nya. Namun dia merasa semakin kepanasan, "sial,, ternyata gue di jebak, gue harus pulang sekarang," gumam nya dalam hati, dia masih bisa berpikir waras bahwa diri nya diberi minuman yang telah di campur obat perangsang.
Dengan tergesa Angga beranjak dari tempat duduk nya, tanpa berbicara sepatah katapun. Dia hanya mencoba agar tetap bisa fokus dan sadar dengan apapun yang dilakukan nya.
__ADS_1
"Bang Angga mau kemana?" Tanya Renny sambil mengejar Angga yang berjalan setengah berlari menuju parkiran.
Renny berhasil mencekal lengan Angga di pintu keluar, "kalau bang Angga pulang dalam keadaan seperti ini, bisa bahaya bang,,, sebaik nya bang Angga istirahat dulu di kamar yang sudah Renny pesan," ucap nya lembut seraya memainkan bulu-bulu di dada bidang Angga yang sudah terbuka.