
Sementara itu di kantor milik opa Win, laki-laki tua tersebut tengah gelisah menanti kehadiran orang suruhan nya yang seharusnya sudah tiba dari Bali jam dua belas tadi. Namun hampir dua jam opa Win menunggu, Arman tak kunjung menampakkan batang hidung nya.
Opa Win mulai terlihat kesal, bahkan laki-laki dengan rambut yang telah memutih tersebut melewatkan jam makan siang nya demi menunggu informasi penting yang dia butuhkan.
Terdengar pintu ruang kerja nya dibuka seseorang dari luar, "bagaimana pa, apa sudah mendapatkan informasi nya?" Tanya papa Chandra yang baru saja datang, sambil berjalan menuju sofa di sudut ruang kerja opa Win.
Opa Win menggelengkan kepala lemah, "Arman belum tiba, bahkan ponsel nya tak bisa dihubungi," jawab opa Win dengan tak bersemangat.
"Kita tunggu sebentar lagi pa, barangkali pesawat nya delay," ucap papa Chandra mencoba berpikir positif.
"Hemmm,,," opa Win menjawab hanya dengan gumaman sambil memejamkan mata nya, dan menyandarkan kepala nya di sandaran sofa.
"Papa kelihatan pucat, apa papa sakit?" Tanya papa Chandra sambil mendekati opa Win dan meraba kening opa Win.
Opa Win membuka mata nya, dan kemudian menegakkan badannya kembali, "papa tidak apa-apa Chandra, kamu tidak perlu khawatir," balas nya menenangkan papa Chandra, opa Win tak ingin membuat putra nya itu khawatir. Meski papa Chandra sudah sangat matang dan berumah tangga, bagi papa Win papa Chandra tetaplah putra nya yang harus di jaga dan lindungi.
Ya, begitulah cara berpikir orang tua... seorang anak meski sudah berumur dan memiliki keluarga sendiri, bagi orang tua anak tetaplah seorang anak yang butuh perhatian dan kasih sayang nya. Lantas,, bagaimana dengan cara berpikir anak tentang orang tua nya? Apakah perhatian dan cinta nya pada orang tua akan tetap sama ketika anak tersebut telah berumah tangga?
"Tapi, wajah papa terlihat sangat pucat. Tidak mungkin papa baik-baik saja?!" Protes papa Chandra dengan raut wajah khawatir.
Opa Win terkekeh pelan, "papa hanya melewatkan makan siang papa, Chandra. Tapi papa janji.. setelah Arman datang, papa pasti langsung makan," ucap opa Win sungguh-sungguh.
"Pa, harus nya papa tidakak perlu sampai melewatkan makan siang.. papa harus jaga kesehatan," ucap papa Chandra sambil sibuk menghubungi seseorang melalui ponsel nya.
Seperti nya panggilan papa Chandra terhubung, nampak papa Chandra sedang berbicara dengan seseorang di seberang sana.
__ADS_1
Sedangkan opa Win kembali menyandarkan kepala nya dan memejamkan mata.
Tak berapa lama, seorang OB datang sambil membawa baki yang berisi makanan dan minuman hangat. Dengan sopan OB tersebut meletakkan baki di atas meja, "silahkan pak Hadi," ucap OB tersebut sambil membungkuk hormat.
Opa Win membuka mata nya, "makasih mas," balas opa Win pada OB tersebut dengan ramah.
OB tersebut tersenyum sopan dan kemudian segera undur diri dari ruang kerja sang bos, dan menutup pintu dengan pelan.
"Kamu tidak perlu memesan makanan seperti ini Chandra, papa rasa nya belum berselera makan jika Arman belum datang," ucap opa Win menatap putra nya, sesaat setelah OB keluar dari ruang kerja nya.
"Pa,,, papa harus makan, ayolah pa." Bujuk papa Chandra pada opa Win.
Tok,, tok,, tok,,
"Baik dokter Chandra," balas Arman sedikit gugup.
Arman segera masuk kedalam ruang kerja opa Win mengikuti papa Chandra, dan kedua nya duduk di sofa.
"Arman, bagaimana hasil nya? Aku sudah tidak sabar menunggumu sedari dua jam yang lalu, kenapa kamu terlambat?" Cecar opa Win dengan tidak sabar.
"Maaf bos, ada sedikit kendala dengan penerbangan saya tadi," jawab Arman memberi alasan tanpa berani menatap opa Win.
"Mana bukti yang aku minta?"
"Ini bos," Arman memberikan amplop coklat yang berisi daftar manifes kecelakaan pesawat yang menewaskan anggota keluarga opa Win dengan sedikit gemetar, ada rasa bersalah yang menyusup kedalam relung hati nya yang terdalam. Namun rasa itu segera dia tepis, tatkala mengingat wajah istri dan anak-anak nya yang sangat bahagia kemarin.. karena dia ajak untuk pergi liburan dan belanja di mall besar di kota Bandung.
__ADS_1
Opa Win segera membuka amplop tersebut dan membacanya dengan teliti, netra teduh nya mengalirkan bulir bening tatkala menangkap nama Diana dalam daftar penumpang kecelakaan pesawat delapan belas tahun silam.
Papa Chandra segera mendekat dan mengambil kertas di tangan opa Win, dia pun melakukan hal yang sama.. meneliti dengan seksama nama-nama penumpang pesawat naas kala itu dan tangan papa Chandra pun gemetaran ketika tertera dengan jelas nama istri nya di lembar putih tersebut. Papa Chandra meremas kertas putih tersebut sambil memejamkan mata nya.
"Rasa nya aku masih tidak percaya, jika Diana ikut jadi korban," ucap opa Win dengan suara lemah.
Sejenak hening menyapa ruang kerja opa Win yang sudah jarang dia fungsikan itu, karena opa Win hanya sesekali saja pergi ke kantor untuk mengecek pekerjaan asisten nya. Ya, semua sudah dia serahkan pada asisten nya untuk mengurus perusahaan properti yang baru digeluti nya sepuluh tahun terakhir.
"Setelah mengetahui hal ini, apa kamu tidak berinisiatif untuk ke Kantor Urusan Agama dan mencari tahu tentang pernikahan Angga dan Diandra seperti yang aku perintahkan Man?" Tanya opa Win, masih berharap ada keajaiban.
"Saya tetap menyelidiki nya bos," jawab Arman sedikit ragu, dia bimbang apakah salinan duplikat akte nikah Angga dan Diandra yang dia buat sendiri dengan memanipulasi data orang tua Diandra tidak akan menimbulkan kecurigaan bagi bos nya?
Arman kemudian menyodorkan kembali satu amplop yang masih dibawa nya.
Kali ini papa Chandra yang mengambil nya, papa tiri Renny itu pun nampak tidak sabar dan segera membuka amplop tersebut.
Raut wajah kecewa di wajah papa Chandra, yang masih terlihat tampan di usia nya yang menuju setengah abad terlihat sangat jelas. "Gadis yang papa katakan mirip Diana, memang bukan putri kandungku pa. Lihatlah ini,," ucap nya sangat lirih, sambil memberikan kertas putih dengan kepala surat bertuliskan Kantor Urusan Agama kota Denpasar itu.
Opa Win menerimanya dan kembali meneliti lembar putih itu, wajah opa Win semakin memucat dan tak lama kemudian tangan jatuh lunglai diikuti dengan tubuh nya yang roboh ke sofa.
"Pa,, papa,,"
Papa Chandra memanggil manggil papa nya sambil menepuk lembut pipi opa Win, nampak nya opa Win jatuh pingsan.
"Arman, kamu kemudikan mobil ku.. kita bawa papa ke rumah sakit terdekat," papa Chandra memberikan kunci mobil nya pada Arman, dan dengan segera dia membopong tubuh opa Win menuju mobil untuk dibawa ke rumah sakit.
__ADS_1