Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
I Love You Dokter Hanna...


__ADS_3

Waktu terus bergulir, hari berganti minggu pun berlalu.. dua minggu telah terlewati, namun Angga masih betah dengan tidur panjang nya.


Rasa mual di pagi hari pun, masih terus mendera Diandra. Bumil muda yang kini berhijab itu jadi malas untuk makan, pasal nya semua makanan yang masuk akan langsung di keluarkan nya kembali. Hanya buah dan sedikit susu yang bisa di terima oleh perut nya, hingga tubuh Diandra menjadi sedikit lebih kurus.


Setiap hari nya, Diandra juga masih semangat untuk kuliah. Karena itu adalah salah satu cara nya untuk melepaskan sejenak kepenatan dan kesedihan di hati nya, dengan mendapatkan suasana baru di luar ruang perawatan sang suami yang sudah hampir dua bulan ini suami nya terbaring lemah di dalam sana.


Hubungan Diandra dengan dokter Hanna, kepala tim dokter yang menangani suami nya pun semakin akrab. Diandra masih mengikuti pengajian rutin di rumah dokter cantik itu, bersama sahabat-sahabat nya.


Dan hal itu, menyebabkan hubungan dokter Hanna dan papa nya juga semakin dekat. Sebab, papa Chandra yang selalu menjemput putri nya itu seusai pengajian... seperti sore ini.


"Dokter Hanna,, terimakasih untuk semua yang telah anda berikan pada putri saya, dia menjadi lebih ceria sekarang," ucap papa Chandra seraya tersenyum tulus.


"Sama-sama dokter Chandra, lagi pula saya tidak melakukan apa-apa kok. Saya hanya mengajak nak Didi untuk ikut pengajian, dan selebihnya.. nak Didi sendiri yang menentukan dan memutuskan jalan hidup nya sendiri," balas dokter Hanna, yang saat ini tengah duduk di teras rumah nya bersama papa Chandra.


Sedangkan Diandra, nampak nya sengaja memberi kan kesepakatan kepada papa nya itu untuk mendekati dokter Hanna,, dengan sengaja berlama-lama ngobrol bersama sahabat-sahabat nya di ruang keluarga kediaman dokter Hanna.


"Ya, meskipun demikian saya tetap berterimakasih pada dokter. Jika tidak karena dokter Hanna, mungkin saat ini putri saya masih terus bersedih dan meratapi keadaan nya." Sejenak papa Chandra menghentikan ucapan nya.


"Saya bisa memahami kenapa putri saya bersikap demikian saat dia mengetahui kehamilan nya, hal itu di karena kan Didi tidak mau bernasib sama dengan ibu nya... yang saat mengandung hingga melahirkan terpaksa dijalani nya seorang diri." Ucap papa Chandra dengan getir.


"Maaf dokter Chandra, apa dokter berpisah dengan ibu nya nak Didi saat beliau sedang mengandung?" Tanya dokter Hanna penasaran, "maaf dokter Chandra, jika saya lancang menanyakan hal privasi,,, abaikan saja," lanjut nya merasa bersalah.


Dokter Chandra tersenyum,, "tidak mengapa dokter, kejadian nya sudah berlalu lebih dari delapan belas tahun silam..." papa Chandra pun kemudian menceritakan kisah perjalanan rumah tangga nya dengan Diana, hingga pertemuan nya dengan sang putri belum lama ini, yang disangkanya telah tewas bersama sang ibu dalam kecelakaan pesawat.


Dokter Hanna yang mendengar kisah papa Chandra tersebut, menitikkan air mata.. dokter cantik yang berhati lembut tersebut dapat merasakan bagaimana perasaan Diana kala itu, yang harus dipisahkan dari suami tercinta nya dan berjuang melahirkan buah cinta mereka seorang diri.


"Saya turut bersimpati atas apa yang dokter Chandra dan almarhumah nyonya Diana alami, saya tidak menyangka.. kisah hidup dokter Chandra ternyata sangat tragis." Lirih dokter Hanna.


"Meskipun nak Didi dibesarkan tanpa kasih sayang kedua orang tua nya, tapi dia tumbuh menjadi anak yang luhur budi dan baik hati nya," puji dokter Hanna.

__ADS_1


"Ya, anda benar dokter.. dan itu tak lepas dari campur tangan bu Rahma, berkat beliau putri saya tumbuh menjadi anak yang baik dan menyenangkan," timpal papa Chandra.


"Ah, papa.. Didi jadi terharu, papa bilang Didi anak yang menyenangkan," ucap Diandra yang tiba-tiba muncul mengagetkan sang papa dan dokter Hanna.


"Eh,, kamu nguping ya?" Protes papa Chandra seraya mencubit pipi putri nya dengan gemas.


"Kan Didi pengin dengar ada yang bilang, I love you dokter Hanna,,," ucap Diandra seraya mengerling pada sang papa.


Papa Chandra hanya bisa tersenyum simpul seraya menggeleng-gelengkan kepala nya.


"Kalau anak-anak nya enggak bisa bersama, papa mama nya juga boleh," timpal Thomas yang sudah berdiri di samping dokter Hanna, seraya memeluk mama nya itu, "ya kan ma?" Lanjut Thomas menggoda sang mama.


"Iya in aja tante,, Andrew dukung seratus persen," Andrew yang memang sudah akrab dengan mama nya Thomas sejak masih SMA itu, ikut menimpali.


Dokter Hanna tersipu, "kalian ini, pada ngomong apa sih?" Elak dokter Hanna, yang tak ingin perasaan nya diketahui oleh anak dan sahabat-sahabat nya itu.


°°°°°


Setelah mendapatkan nomor Shinta dari orang yang mengontrak rumah nya, Raka pun menghubungi Shinta,,, tapi entah mengapa, kakak pertama nya itu tak pernah mengangkat telpon dari nya.


Raka semakin frustasi, hubungan nya dengan sang istri semakin memburuk.. sedangkan niat nya untuk bertemu dengan sang mama, untuk meminta maaf menemui jalan buntu.


Dan saat ini, Raka tengah ada janji ngopi sore bersama kawan-kawan lama nya sewaktu kuliah dahulu di sebuah cafe & resto di daerah Jakarta Barat.


Raka datang sedikit terlambat dari jam yang telah di tentukan, semua kawan-kawan nya telah hadir di sana dan sudah menikmati kopi panas spesial racikan barista di cafe & resto tersebut.


Raka langsung saja bergabung di meja dimana kawan-kawan nya berada, "sorry bro.. gue telat," ucap nya tersenyum kecut.


"Santai pak General Manager Raka, kita-kita paham kok kesibukan pak Raka," ledek salah seorang kawan nya yang juga nampak berkelas, seraya terkekeh.

__ADS_1


"Ah lu Bin,, sebagai pengacara artis-artis kondang, lu kan lebih sibuk dari gue. By the way, dibayar pakai apa lu?" Balas Raka tak mau kalah, dan membalas ledekan dari kawan nya tersebut.


"Robin dibayar semalam suntuk Ka,," tukas salah seorang kawan yang lain, sambil menyeruput kopi nya.


Obrolan mereka terhenti, saat seorang waiters menghampiri meja mereka seraya membawakan makanan ringan pesanan kawan-kawan Raka dan diikuti oleh seseorang.


Waiters tersebut memindahkan makanan makanan dari baki ke meja.


"Silahkan bang Edi, maaf jika saya tidak bisa menemani," ucap laki-laki tersebut ramah kepada salah seorang pelanggan yang dia kenal.


"Thanks bro,, tak masalah," balas orang yang bernama Edi tersebut.


"Aditya,,," seru Raka terkejut.


"Bang Raka?" Aditya tak kalah terkejut.


"Lu kerja di sini?" Tanya Raka mengernyit, sedikit heran mengingat Aditya adalah sarjana ekonomi lulusan terbaik seangkatan sama Angga, adik nya.


"Dia owner nya bro,," balas Edi menjawab kebingungan Raka.


"Oh ya,," ucap Raka seakan meremehkan.


"Dia salah seorang pengusaha muda yang sukses bro... cafe &r resto nya sudah ada empat cabang di Jakarta," balas Edi lagi.


"Bang Edi berlebihan," ucap Aditya merendah.


"Gue jujur Dit, lu sama sahabat lu itu benar-benar luar biasa. Sukses yang kalian capai saat ini, benar-benar berangkat dari nol." Ucap Edi, "oh ya, gimana kabar bos showroom sahabat lu itu, ajak kesini gih.. biar gabung sama kita," lanjut Edi menanyakan sahabat nya Aditya, "siapa tahu bos Raka lagi butuh Lamborghini seri terbaru?" Edi melirik Raka.


"Maaf, bang Edi. Angga saat ini sedang tidak berada di showroom milik nya," balas Aditya sengaja menekankan kata milik nya.

__ADS_1


Raka mengernyit, mencerna perkataan Aditya. "Bos showroom?" Gumam nya dalam hati, ada rasa malu menyeruak dari dalam lubuk hati nya. Adik yang sering dikatai nya sebagai anak manja, nyata nya dapat meraih sukses yang bahkan melebihi diri nya.


__ADS_2