
Aditya masuk dengan diikuti mama Dewi dan bu Rahma, "Wah,, lagi rame nih?" Sapa Aditya ramah, sambil menyalami sahabat-sahabat Diandra.
"Iya nih bang, Airin yang ngajakin kesini,,, kangen kata nya sama bang Ditya, padahal kemarin kan habis ketemu,,," bisik Rieke dengan menumbalkan Airin, saat Aditya melintas di depan nya.
Airin yang masih bisa mendengar nya hanya geleng-geleng kepala.
Aditya tersenyum,,, dan kemudian menyalami papa Chandra yang juga duduk di sofa bersama mereka, dan Aditya mencium punggung tangan papa dari Diandra itu dengan takdzim.
Sedangkan bu Rahma dan mama Dewi yang tadi sudah bertemu dengan sahabat-sahabat Diandra langsung menuju ke sisi yang lain, dan duduk lesehan di atas matras tipis.
"Om Chandra lagi rehat?" Tanya Aditya sambil mendudukkan diri nya di samping papa Chandra.
"Belum jam nya malah Dit, om ambil istirahat jam kedua.. ini tadi habis operasi pasien, terus tiba-tiba pengin kesini. Ternyata lagi rame ada mereka," balas papa Chandra.
"Nak, papa balik ke ruangan papa dulu ya,," pamit papa Chandra, seraya beranjak. "Segera lah makan, jangan sampai telat," lanjut papa Chandra mengingatkan pada putri nya.
"Diandra mengangguk, dan tersenyum lebar. " Siap papa,,," balas nya dengan suara manja.
"Mari semua," pamit papa Chandra pada semua nya dan bergegas meninggalkan ruangan tersebut.
"Lu belum makan Di?" Tanya Aditya mengernyit.
"Belum bang," balas Diandra singkat.
"Kebetulan nih, gue bawa makanan cukup banyak. Kita makan bareng-bareng aja," ucap Aditya sambil mengambil makanan yang tadi di bawa nya.
"Mama juga beliin makan siang nih dari kantin," ucap mama Dewi seraya menyodorkan bungkusan makan siang yang tadi di bawa nya.
Diandra dengan dibantu Airin dan Rieke langsung menata hidangan makan siang itu di atas meja.
Aditya yang telah kembali duduk di tempat nya, memandangi Airin yang tengah sibuk menata makanan tanpa berkedip
"Ehm,, ehm,," hingga suara deheman Andrew membuyarkan lamunan Aditya.
__ADS_1
"Jangan cuma di liatin bang,, langsung tembak aja?! Ntar keburu di gondol orang loh,,," ledek Andrew pada Aditya.
Aditya menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, "lu kata makanan, di gondol.." protes Aditya tersenyum kecut, merasa malu diledekin anak ingusan seusia Diandra.
Airin yang merasa bahwa diri nya lah yang sedang jadi bahan pembicaraan antara Andrew dan Aditya melirik kearah Aditya, dan di saat yang bersamaan... Aditya pun menatap Airin, kedua netra mereka bertemu, dan saling bertaut cukup lama. Kedua nya pun kemudian tersenyum.
"Cie,, cie,,," goda Rieke yang menyaksikan adegan mesra tersebut.
"Jangan-jangan, bang Ditya dan lu dah jadian ya Rin?" Tanya Rieke mulai kepo.
"Apaan sih,," elak Airin dengan wajah merona.
"Udah, jangan godain Airin terus.. yuk makan," ajak Diandra pada sahabat-sahabat nya.
"Bang Ditya juga belum makan siang kan? Makan sekalian ya bang.." ucap Diandra melirik sahabat baik dari suami nya itu.
Aditya hanya mengangguk,
"Rin,, tuh pacar lu di layani dulu," titah Diandra pada Airin.
"Kita kan besty Rin, enggak afdhol kalau enggak ikut menimpali," ucap Diandra seraya terkekeh.
"Dah, biarin aja Rin.. gue senang lihat Didi udah bisa bercanda seperti ini," ucap Aditya, sambil menerima makanan yang diberikan Airin.
"Thomas, mau aku ambil kan atau ambil sendiri?" Diandra menawarkan pada sahabat nya yang berubah jadi sedikit pendiam itu.
"Gue ambil sendiri aja Di," balas Thomas, seraya mulai mengambil makanan.
"Dia takut Di, kalau lu yang ambil in makanan nya terus tiba-tiba suami lu bangun.. bisa kena semprot dia!?" Seru Andrew asal, sambil ikut mengambil makanan.
"Mama,,, ibu,, kami makan ya," seru Rieke dengan suara terompet nya yang tak berperedam kepada mama Dewi dan bu Rahma, setelah dia mengambil makanan.
Ya, sahabat-sahabat Diandra memanggil kedua wanita paruh baya itu sama seperti Diandra memanggil mama mertua dan ibu angkat nya.
__ADS_1
"Iya nak, silahkan,," balas mama Dewi dan bu Rahma dengan kompak.
Setelah semua nya mengambil makanan nya, mereka pun mulai menikmati hidangan makan siang dari dua tempat yang berbeda itu dengan tenang.
°°°°°
Seperti janji Airin kemarin, yang hendak menjemput nya pergi kuliah bareng,, gadis cantik dan cerdas sahabat dari Diandra itu kini tengah berjalan menyusuri koridor rumah sakit untuk menjemput Diandra di ruang rawat khusus tempat Angga.
Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil nama nya dari belakang, "Airin," panggil laki-laki itu dengan suara maskulin nya.
Airin menoleh ke belakang, '"Eh, bang Ditya," sapa Airin sambil menghentikan langkah nya.
"Jemput Didi ya?" Tanya Aditya setelah posisi mereka berhadapan.
"Iya bang," balas Airin, "kalau bang Ditya??" Tanya Airin menggantung.
"Kunjungan rutin, pagi, siang dan sore," balas Aditya sambil memperlihatkan nasi box yang di bawa nya. "Yuk sambil jalan," ajak Aditya dengan meneruskan langkah nya pelan.
Airin yang mengerti arah pembicaraan Aditya tersenyum, "perhatian banget ya bang Ditya sama keluarga," ucap Airin sambil berjalan mengiringi langkah pelan Aditya.
"Airin mau enggak abang kasih perhatian juga?" Tanya Aditya tiba-tiba sambil menghentikan langkah nya.
Airin terkejut dan ikut berhenti, wajah cantik nya bersemu merah. Airin bukan gadis bodoh yang tak bisa memahami perkataan Aditya, dan dia juga bukan gadis yang tidak peka,, yang tak bisa menangkap signal perhatian yang diberikan Aditya beberapa hari ini. Hanya saja ini terlalu cepat menurut nya.
Tapi, bukan kah cinta itu masalah hati? Yang tak kenal waktu, seberapa cepat atau lambat dia akan tumbuh dan bersemayam disana? Dan cinta juga tak bisa memilih kepada siapa dia akan berlabuh? Karena cinta tak butuh alasan ketika tiba-tiba dia hadir,, dan yang cinta butuh kan hanyalah kepastian, bukan?
"Maaf Rin, abang tahu ini terlalu cepat.." Aditya menghentikan sejenak ucapan nya, jantung nya yang tiba-tiba berdegup kencang membuat pria matang itu menjadi sedikit gugup. "Rin, boleh kah abang mengenal Airin dengan lebih dekat?" Tanya Aditya sambil menatap bola mata bening milik Airin dengan intens.
Mendapat tatapan seperti itu membuat Airin menjadi gugup, wajah nya semakin memerah.. buru-buru Airin menundukkan pandangan nya.
Aditya adalah pria dewasa yang bisa memahami bahasa tubuh lawan jenis nya, dan diapun dapat mengetahui bahwa gadis yang tertunduk malu di hadapan nya juga memiliki perasaan yang sama dengan nya. Dan Aditya tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia rogoh ponsel nya di dalam saku celana dan menyodorkan nya kepada Airin, "jika abang boleh mengenal Airin lebih dekat, simpan nomor Airin di sini," ucap Aditya dengan lembut.
Airin mendongakkan wajah nya, dan tersenyum manis. Dan detik berikut nya, jemari lentik nya mengetikkan nomor nya dengan lincah di ponsel Aditya. Airin menyodorkan kembali ponsel tersebut kepada pemilik nya, "itu nomor Airin," ucap nya malu-malu.
__ADS_1
Aditya segera memberi nama pada nomor tersebut, dengan mengetikkan 'my future' pada ponsel nya dan kemudian menyimpan nya. "Makasih Airin," ucap Aditya sambil memasukkan kembali ponsel nya kedalam saku celana.
"Ayo jalan lagi, nanti kalian terlambat ke kampus," ajak Aditya seraya menggandeng tangan Airin, senyum di bibir kedua nya senantiasa merekah sepanjang menyusuri koridor rumah sakit di pagi yang sangat cerah.