Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Kak Angga Agresif


__ADS_3

Hari berikut nya, Raka benar-benar melayangkan gugatan cerai pada Vera. Dan hari itu juga, Raka keluar dari apartemen mewah nya seperti permintaan Vera kemarin.


Dengan sisa uang tabungan yang dia punya dan dengan dibantu Aditya, Raka membeli apartemen type studio yang berada di dekat apartemen Angga seperti arahan sang mama. Ya, mama Dewi menyarankan demikian, agar anak-anak nya itu bisa lebih dekat satu sama lain.


Dan semua itu Raka lakukan, karena dia ingin membuktikan pada mama nya bahwa dia sungguh-sungguh telah berubah dan menyesali semua perbuatan nya.


Kini fokus Raka adalah bagaimana cara nya untuk meminta maaf pada Angga,,, dan sore nanti sepulang dari kerja, Raka berniat untuk mengunjungi adik nya kembali, pasal nya semalam Raka tidak punya kesempatan untuk berbicara pada adik bungsu nya itu.


°°°°°


Sementara di rumah sakit, setelah sadar dari koma nya dan setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, malam itu juga Angga dipindahkan ke ruang perawatan umum. Angga menempati kamar terbaik di rumah sakit tersebut atas rekomendasi papa mertuanya, kamar dengan fasilitas bak hotel bintang lima dengan ruang tamu terpisah dan satu bad khusus untuk penunggu pasien.


Angga masih harus di rawat beberapa hari ke depan, dikarenakan salah satu kaki nya belum bisa berfungsi dengan baik. Hal ini dikarenakan, kaki kiri Angga terjepit saat kecelakaan itu terjadi. Angga masih beruntung, karena kaki nya hanya mengalami cedera luar dan tidak sampai merusak syaraf nya.


Dokter Hanna, selaku kepala tim dokter yang menangani Angga selama dia koma mengatakan, bahwa dengan terapi rutin maka kaki Angga akan cepat pulih seperti sedia kala.


Dan pagi ini, Diandra memilih untuk bolos kuliah. Dia masih kangen sama suami nya, setelah hampir dua bulan dia hanya bisa memandangi wajah ganteng sang suami yang terlelap dalam tidur panjang nya.


Usai sarapan pagi, Angga sudah bersiap untuk menjalani terapi pertama nya. Sambil menunggu kedatangan dokter yang akan menangani Angga, Diandra ngobrol berdua dengan suami tercinta nya itu. Sedangkan mama Dewi dan bu Rahma, mereka berdua duduk santai di ruang tamu sambil nonton televisi.


"Yang,, maaf ya, malam itu,,," ucapan Angga menggantung.


"Maaf untuk apa?" Tanya Diandra yang tengah duduk di bad yang sama dengan sang suami sambil bersandar di dada bidang suami nya yang juga tengah duduk bersandar pada kepala ranjang.


"Malam pertama kita, aku malah menyakiti mu dengan memperlakukan mu dengan kasar." Lirih Angga dan terdengar sangat menyesal.


Diandra mendongak, menatap suami nya... "kakak enggak kasar kok, cuma,,," sejenak Diandra menghentikan ucapan nya, dan kemudian tersenyum tersipu malu.


"Cuma apa?" Tanya Angga penasaran, melihat senyum istri nya.


"Kak Angga agresif, dan minta terus.. Didi sampai kewalahan tahu kak," jawab Diandra sambil cemberut.


Angga tersenyum lebar, "tapi kamu suka kan?" Goda Angga seraya menoel hidung mancung sang istri.

__ADS_1


"Biasa aja sih.." balas Diandra kembali menenggelamkan wajah nya di dada sang suami, untuk menyembunyikan wajah nya yang telah merona.


"Jujur aja yang,, kamu pasti menikmati nya, bukti nya kamu juga mengimbangi permainan ku kan?" Desak Angga tak percaya.


"Iya, iya,, Didi senang, karena di saat seperti itu kakak tetap ingat Didi dan selalu menyebut nama Didi." Jawab Diandra akhir nya mengakui.


"Pasti aku hanya akan mengingat mu Di,, karena kamu istri ku, dan karena aku.. aku telah jatuh cinta kepada mu," ucap Angga jujur seraya mengusap lembut kepala sang istri yang tertutup hijab.


Kembali Diandra mendongak, "sejak kapan?" Tanya Diandra.


Angga menggeleng, "aku tak tahu pasti nya, bisa jadi saat pertama kali kita bertemu? Tapi karena keegoisanku yang menolak menyukai wanita, hingga membuatku membangun benteng tinggi diantara kita dan aku bersikap ketus serta dingin terhadap mu," balas Angga.


Tok,, tok,, tok,,


Terdengar pintu di ketuk, Diandra langsung turun dari bad suami nya dan kemudian duduk di kursi yang berada di sisi tempat tidur pasien.


Beberapa saat kemudian, nampak mama Dewi membuka sedikit pintu, "Di, dokter nya sudah datang, apa Angga sudah siap?" Tanya mama Dewi seraya tersenyum, sengaja mama Dewi mengetuk pintu dahulu dan memberi jeda beberapa saat untuk membuka nya karena mama mertua Diandra itu tak ingin mengganggu kesenangan anak dan menantu nya.


"Udah siap ma,," balas Diandra seraya tersenyum.


"Pagi mas Angga,," sapa dokter tersebut dengan ramah, kepada menantu dari dokter Chandra, Rekan sekaligus bos nya di rumah sakit ini.


"Pagi dokter," balas Angga dengan ramah pula.


Dokter yang bernama Lucas itu berbicara sambil memasang alat-alat terapi di kaki Angga. Dan dengan telaten dokter Lucas melakukan tugas nya tersebut.


"Dok, kira-kira kapan saya bisa jalan dengan normal kembali?" Tanya Angga dengan tidak sabar, dia ingin segera bisa menggendong istri nya dan mengajak istri cantik nya itu untuk baby moon.. sebagai pengganti honeymoon nya yang gagal total.


"Kita lihat besok ya mas Angga, besok pagi mas Angga bisa mulai latihan berdiri. Dan jika mas Angga merasa sudah benar- benar kuat, bisa pelan-pelan sambil jalan. Saya yakin, melihat semangat mas Angga.. tidak butuh waktu lama bagi mas Angga untuk pulih seperti sedia kala. Sebab semangat dari pasien adalah faktor utama bagi kesembuhan pasien itu sendiri," balas dokter Lucas panjang lebar, seraya bekerja dengan alat-alat terapi nya.


Setelah satu jam berlalu, terapi pun selesai dan dokter Lucas pamit untuk melanjutkan pekerjaan nya.


Mama Dewi dan bu Rahma pun masuk kedalam ruangan Angga sepeninggal dokter Lucas, "gimana Ga? Sudah lebih baik?" Tanya sang mama pada putra bungsu nya.

__ADS_1


Angga mengangguk,, "tapi, jarum ini mengganggu gerakan Angga ma,," balas Angga dengan merajuk.


"Maksud kamu, jarum infus?" Tanya mama Dewi mengernyit.


"Iya ma, tolong panggilkan suster ma.. biar di lepas aja, Angga kan sudah sehat," pinta Angga pada sang mama.


"Mengganggu gerakan gimana maksud kamu Ga?" Tanya mama Dewi tak mengerti.


"Yah, mama.. gitu aja enggak ngerti," rajuk Angga seraya mengerucutkan bibir.


Diandra yang tahu maksud suami nya hanya tersenyum.


"Gerakan senam malam maksud nya bu," balas papa Chandra yang tiba-tiba masuk, dan diikuti oleh Raka yang mengekor di belakang nya.


Mama Dewi langsung tersenyum, "wah, calon papa muda rupa nya sudah tidak sabar ingin menjenguk baby nya ya,,," goda mama Dewi pada putra nya.


Angga hanya tersenyum menanggapi perkataan sang mama.


"Lho Ka,, kok sudah sampai sini, kata nya mau kesini nanti sore?" Tanya mama Dewi melihat putra kedua nya.


"Iya ma, kebetulan Raka dari pengadilan.. dan tempat nya dekat dari sini, ya udah sekalian aja Raka mampir," balas nya dengan lirih.


Mama Dewi mengangguk-angguk.


Raka kemudian mendekat kearah Angga, "Hai dik, apa kabar?" Tanya Raka basa-basi untuk membuka obrolan.


"Seperti yang bang Raka lihat," balas Angga seraya tersenyum, seolah tak pernah terjadi apa-apa diantara mereka berdua.


Papa Chandra yang sudah mengetahui semua nya tentang masa lalu Angga dari putra menantu nya itu sendiri semalam pun tersenyum, dan mendukung sepenuh nya keputusan Angga untuk melupakan masa lalu kelam nya dan memaafkan Raka.


"Gue,, gue mau,, minta maaf dik, atas,, kejadian waktu itu,," Ucap Raka terbata.


"Oh, Angga tahu,, pasti bang Raka mau minta maaf karena gak bisa hadir di hari pernikahan Angga kan? Bang Raka sih, karir mulu yang di kejar.. sampai-sampai gak pernah pulang dan lupa sama keluarga," ucap Angga sengaja menghindar membicarakan masa lalu tentang Vera.

__ADS_1


Raka tertegun mendengar ucapan adik nya, "benar kah Angga melupakan kejadian itu?" Gumam nya dalam hati.


__ADS_2