
Ungkapan Hati Arief
Ditempat makan
15 menit setelah berkendara akhirnya sampai pada warung bebek
yang cukup terkenal yang menyediakan berbagai macam menu ada ayam, beberapa
jenis ikan dan tentunya bebek yang menjadi menu utama warung tersebut... tak
hanya berbagai makanan, minuman pun ada beberapa jenis varian mulai dari yang
manis hingga yang bersoda.. tak terkecuali kelapa muda juga tersedia disana.
Setelah memesan.. 10 menit kemudian makanan disajikan di atas
meja.. selain rasanya yang top, pelayanannya juga cepat walaupun ramai
sekalipun seperti jam makan siang saat ini... karena memang mempunyai pegawai
yang cukup banyak untuk mengantisipasi hal tersebut.. itulah yang Kiki suka di tempat
ini, untung saja Arief punya pemikiran yang sama dengannya sehingga berakhir
ditempat tujuan yang sama.
Sudah lama Kiki menjadi pelanggan warung bebek ini.. hampir 1
dekade merantau di ibukota membuatnya sedikit banyak tahu mana saja warung
makan yang menyediakan makanan enak namun tetap ramah di kantong... jika ia tidak berusaha mati-matian
untuk berhemat maka dipastikan lembaran rupiah yang dikumpulkan dengan susah
payah akan menguap begitu saja bersamaan dengan menumpuknya struk belanja yang
berasal dari tempat makan mewah yang menggoda setiap mata yang memandang..
hanya demi sebuah gengsi orang-orang rela makan ditempat yang harganya sangat
mencekik dibandingkan mementingkan rasa dan kebutuhan..
“Ayo kak makan... keburu dingin” ajak Kiki yang heran pada
Arief mengapa sedari tadi hanya termenung sesekali tersenyum malah membuat Kiki
takut.. takut kalau Arief kesambet setan di siang bolong haha..
“Eh.. iya ” ucapnya tergagap takut ketahuan sebenarnya sedari
tadi dia memikirkan wanita yang ada di hadapannya itu.. entah mengapa setiap ada
kesempatan berdua dengan Kiki membuatnya berdebar tak karuan.
Tidak butuh waktu lama makanan sudah ludes mengisi jiwa yang
kelaparan.
“Ah.. kenyang” ucap Kiki tanpa malu..seraya mengelus perutnya
yang sudah terasa sesak karena dipenuhi
berbagai hidangan tadi.. Arief yang melihatnya hanya berdecak..
Arief heran mengapa wanita yang membuat hatinya bergetar ini
tidak pernah bersikap sebagaimana wanita selayaknya yang akan malu-malu saat
makan apalagi bersama dengan lelaki.. yang ada malah nafsu makannya melebihi
lelaki.. memakan segala apapun yang ada di hadapannya tanpa rasa sungkan.
“Ya sudah ayo pulang jam istirahat juga sudah mau berakhir..”
ucap Arief seraya berdiri menuju kasir membayar tagihan makan siang mereka.. sementara
Arief membayar Kiki menunggu di tempat parkir.
Tak lupa sebelum selesai makan Kiki memesankan untuk Iin
sehingga setelah selesai makan tinggal mengambil bungkusan pesanannya itu...
setiap diajak makan siang Kiki tidak pernah mengeluarkan uang sama sekali.. ya
karena Arief lah yang akan membayar tagihannya berapapun itu.. entah Kiki harus
senang atau bagaimana.. jujur saja ia merasa tidak enak karena di traktir
seperti itu.. pernah suatu ketika saat selesai makan Kiki berinisiatif membayar
tagihannya sendiri.. dan berakhir dimarahi oleh Arief, ia merasa tidak dihargai
sebagai lelaki apalagi kalau kejadiannya ia yang mengajak Kiki untuk makan akan
sangat malu jika hal itu sampai terjadi..
Lelaki itu memang baik hati dan sangat royal terhadapnya..
jika memerlukan sesuatu tanpa diminta akan langsung membantunya.. fikirannya
terus menerawang mengingat semua kebaikan yang diberikan Arief padanya.. apakah
lelaki itu tulus melakukannya atau ada hal lain yang ingin dicapainya dengan
sikapnya selama ini.. tanpa sadar Arief datang menghampirinya yang dari tadi Kiki
bersandar disamping motor..
“Dor!!.. siang-siang melamun.. hati-hati nanti ada yang
nempel” iseng Arief mengagetkan Kiki.. sontak saja Kiki terjingkat dan tersadar
dari lamunannya..
“Apa sih kak Arief.. ngagetin saja.. kalau aku jantungan
bagaimana.. aku tidak mau mati muda kak!” ucapnya kesal sembari menyambar helm
yang bertengger di spion..
__ADS_1
“Haha.. iya-iya maaf” sesal Arief.. setelah menaruh makanan
bungkusan di motor.. Arief bergegas memakaikan helm Kiki karena gemas dari tadi
tidak segera juga dipakai..
“Aku bisa sendiri kak..!” ucapnya masih kesal dengan ke isengan Arief yang sengaja mengagetkannya
“Sudah diam” Arief tetap melanjutkan tanpa menghiraukan Kiki
yang mukanya sudah memerah menahan marah
Di perjalanan pulang Kiki masih saja membisu namun ada sedikit
hal yang mengganjal di hatinya kemudian dia memberanikan diri untuk bertanya
pada Arief..
“Kak.!”ucap Kiki lirih takut kalau mengganggu konsentrasi
Arief saat menyetir..
Tak disangka Arief mendengar saat Kiki memanggilnya.. memang
Arief sengaja diam dan menajamkan pendengarannya kalau-kalau Kiki memanggilnya..
namun karena gugup hanya dijawabnya dengan gumaman saja..
“Hemmmzzz” ucap Arief singkat
Duh mengapa dengar sih.Batin Kiki
“Eh..kakak dengar rupanya” jawab Kiki kikuk.. tidak biasanya
ia seperti ini.. ini pun pertama kalinya ia merasa dirinya aneh padahal biasanya
ia akan sangat cerewet tehadap lelaki di hadapannya ini..
“Iya.. aku dengar.. Ada apa?” jawab Arief memastikan
“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan.. apa kakak tidak
keberatan?” tanya Kiki ragu-ragu karena selama ini ia selalu menahan diri untuk
tidak bertanya masalah pribadi Arief apapun keadaannya.. karena Kiki tahu bahwa
Arief merupakan pribadi yang begitu tertutup dan juga sulit diketahui isi
hatinya..
“Tanyakan saja.. asal pertanyaannya masuk akal pasti aku
jawab..” jawabnya gamang meskipun menyisakan kelegaan di hatinya
“Emm... saat makan tadi apa yang kakak pikirkan?” tanya Kiki
kembali..mengingat sikap Arief yang cukup membuatnya bertanya-tanya tidak
seperti biasanya karena melihat Arief senyum-senyum sambil melamun Kiki menjadi
khawatir apakah lelaki ini sakit.. apa ada yang mengguncang jiwanya.. hingga
Arief bersikap demikian..
ingin rasanya ia berteriak ‘aku memikirkanmu Mawar ku, aku sangat memikirkanmu
Syakila Marwa’ apa daya ia tak mampu melakukan itu.. ia tau konsekuensi jika ia
melanggar palang perasaan.. seperti pencuri yang ketahuan mencuri di siang
bolong maka akan mendapat ganjaran yang setimpal. Dihukum akan perbuatannya,
sama halnya dengan Arief yang akan terpenjara dengan perasaannya sendiri..
“Oh ya benarkah... tapi mengapa kakak senyum-senyum sendiri..
apa ada hal lucu.. apa kakak sakit?” tanya Kiki antara cemas dan bingung
mengapa Arief tidak terus terang dengannya sudah seharusnya dia berbagi segalanya
mengingat selama ini sudah banyak Kiki berbagi segala keresahan padanya dan
membantunya saat dimasa-masa sulit karena Kiki sudah menganggap Arief seperti
kakaknya sendiri..
“Hey mengapa banyak sekali pertanyaan mu...apa aku terlihat
tidak baik-baik saja?” Arief merasa gemas dengan pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan bibir mungil Kiki.. ingin rasanya ia membungkam dengan bibirnya..
sadar dengan pikirannya ia pun menggelengkan kepalanya untuk kembali fokus
menyetir..
“Aku tidak mau terjadi sesuatu pada Kakak” ucap Kiki geram bukannya
menjawab pertanyaan mengapa malah balik bertanya..
“Aku sungguh baik-baik saja.. nona Marwa” tanpa sadar Arief
menjawab dengan menyebutkan nama yang selama ini ingin didengar oleh Kiki
karena setiap memanggilnya selalu saja menggunakan Mawar atau Mawarku.. yang
membuat Kiki sangat risih..
Kiki yang jahil kembali menggoda Arief dengan menyuruhnya
mengulangi untuk memanggilnya Marwa..
“Coba ulangi kalimat yang barusan kakak ucapkan..” goda Kiki
pada Arief
Sadar Arief memanggil nama Marwa ia pura-pura tidak ingat
atas kalimat tersebut...
__ADS_1
“Kalimat yang mana..?” jawab Arief pura-pura lupa
“Yang barusan kak” rengek Kiki
“Kakak lupa.. kakak tidak ingat” jawab Arief santai. Tentunya
jawaban itu membuat Kiki makin gemas dengan tingkah Arief yang dianggapnya
Kakak itu...
“Kak aku masih ada pertanyaan lain..” kesal karena tidak
berhasil membuat Arief mengulangi untuk memanggil namanya dengan benar..Kiki
mengalihkannya dengan pertanyaan lain.. yang juga membuatnya penasaran.. sejak
saat pertama bertemu dengan Arief, Kiki mengatakan namanya adalah Syakila
Marwa.. tapi setelah tau namanya Arief justru memanggilnya dengan sebutan Mawar
kadang juga Mawar ku.. sungguh membuat dia bertanya-tanya mengapa ia melakukan
itu.. saat inilah ia memberanikan diri menanyakan alasan Arief mamanggilnya
dengan sebutan yang menurutnya berkonotasi negatif itu..
Kiki teringat saat sekolah dulu ketika ia menonton berita
yang menampilkan investigasi.. yang mana nama Mawar sering dipakai sebagai nama
samaran orang yang bertindak kejahatan seperti tukang bakso borak dan juga nama
wanita malam.. sejak saat itu ia selalu memandang orang yang bernama Mawar
sebagai sesuatu yang buruk.. namun setelah dia dewasa justru nama itu sangat
melekat padanya untung saja hanya satu orang yang memanggilnya dengan nama
itu.. tidak membayangkan apabila semua orang memanggilnya dengan nama itu akan
semurka apa dirinya..
“Banyak sekali pertanyaanmu... Apakah ada hadiah kalau kakak
menjawab pertanyaanmu itu” Arief mencoba sabar dengan wanita yang selama ini
telah mencuri hatinya itu..
“Ini pertanyaan terakhir kak.. tentu saja ada, nanti aku
kasih lolipop yang besar.. bagaimana? Setuju?”mencoba merayu Arief dengan
iming-iming lolipop.. apakah dimatanya Arief adalah anak PAUD yang akan
semangat mengerjakan tugas jika di iming-imingi hadiah.. jika Sherif mungkin
akan langsung tunduk.. namun karena tidak ingin membuat Kiki kecewa, Arief
menyetujuinya..
“Baiklah silahkan bertanya sesuka mu.. akan aku jawab mumpung
aku sedang baik hati”ucapnya bangga karena mau menjawab pertanyaan yang tidak
ada habisnya dari tadi...
“Mengapa kakak suka memanggilku Mawar?”tanya Kiki lancar
tanpa ada beban..
Sontak membuat Arief menautkan alisnya..
Pertanyaan bodoh macam
apa itu, apakah ada yang salah jika aku menyebut gadis pujaanku dengan sebutan
Mawar, bukankah itu terlihat romantis, dasar wanita yang tidak bisa ditebak
jalan pikirannya.Batin
Arief
“Tidak ada, hanya suka saja..” jawab Arief ringan
“Tapi aku tidak suka kak..” protes Kiki
“Terserah aku, mau memanggilmu dengan sebutan apa.. Mawar kah, Melati kah atau Bunga
Bangkai sekaliapun” ucap Arief tanpa rasa bersalah..
Tanpa terasa 20 menit berlalu dan mereka sudah sampai kembali
ke kantor kecil itu..
Kiki yang menyadari langsung bergegas turun dengan kasar meraih
makanan bungkusan untuk Iin yang ada digantungan motor..
Kiki memasuki kantor dengan jalan dan berdecak kesal.. dan
berteriak “ Arrggggg... Kak Arief menyebalkan!!!”
Arief masih terduduk diatas motor.. Sejenak Arief termenung
memikirkan pertanyaan dari Kiki.. benarkah ia memanggil Kiki dengan sebutan
Mawar hanya karena suka, atau memang ada alasan lain.. namun kemudian ia
mengingat kata filosofis dari sebuah buku yang sangat ia kagumi.. Mawar Merah (Rosa Centifolia), Mewakili
Perasaan Orang Yang Memberinya, Menjadi Penanda Bahwa Seseorang Mencintaimu,
Sebagai Simbol Penghormatan Atau Pengabdian. Sejenak Arief berfikir kemudian
tersenyum bodoh layaknya orang yang sedang kasmaran. Bagaimana mungkin ada
gadis bodoh yang tidak tahu makna terdalam dari Mawar.
Marwa seandainya kamu
__ADS_1
tau arti Mawar dihidupku.Gumam Arief.
***