Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Ungkapan Hati Arief


__ADS_3

Ungkapan Hati Arief


Ditempat makan


15 menit setelah berkendara akhirnya sampai pada warung bebek


yang cukup terkenal yang menyediakan berbagai macam menu ada ayam, beberapa


jenis ikan dan tentunya bebek yang menjadi menu utama warung tersebut... tak


hanya berbagai makanan, minuman pun ada beberapa jenis varian mulai dari yang


manis hingga yang bersoda.. tak terkecuali kelapa muda juga tersedia disana.


Setelah memesan.. 10 menit kemudian makanan disajikan di atas


meja.. selain rasanya yang top, pelayanannya juga cepat walaupun ramai


sekalipun seperti jam makan siang saat ini... karena memang mempunyai pegawai


yang cukup banyak untuk mengantisipasi hal tersebut.. itulah yang Kiki suka di tempat


ini, untung saja Arief punya pemikiran yang sama dengannya sehingga berakhir


ditempat tujuan yang sama.


Sudah lama Kiki menjadi pelanggan warung bebek ini.. hampir 1


dekade merantau di ibukota membuatnya sedikit banyak tahu mana saja warung


makan yang menyediakan makanan enak namun tetap ramah di  kantong... jika ia tidak berusaha mati-matian


untuk berhemat maka dipastikan lembaran rupiah yang dikumpulkan dengan susah


payah akan menguap begitu saja bersamaan dengan menumpuknya struk belanja yang


berasal dari tempat makan mewah yang menggoda setiap mata yang memandang..


hanya demi sebuah gengsi orang-orang rela makan ditempat yang harganya sangat


mencekik dibandingkan mementingkan rasa dan kebutuhan..


“Ayo kak makan... keburu dingin” ajak Kiki yang heran pada


Arief mengapa sedari tadi hanya termenung sesekali tersenyum malah membuat Kiki


takut.. takut kalau Arief kesambet setan di siang bolong haha..


“Eh.. iya ” ucapnya tergagap takut ketahuan sebenarnya sedari


tadi dia memikirkan wanita yang ada di hadapannya itu.. entah mengapa setiap ada


kesempatan berdua dengan Kiki membuatnya berdebar tak karuan.


Tidak butuh waktu lama makanan sudah ludes mengisi jiwa yang


kelaparan.


“Ah.. kenyang” ucap Kiki tanpa malu..seraya mengelus perutnya


yang sudah terasa sesak  karena dipenuhi


berbagai hidangan tadi.. Arief yang melihatnya hanya berdecak..


Arief heran mengapa wanita yang membuat hatinya bergetar ini


tidak pernah bersikap sebagaimana wanita selayaknya yang akan malu-malu saat


makan apalagi bersama dengan lelaki.. yang ada malah nafsu makannya melebihi


lelaki.. memakan segala apapun yang ada di hadapannya tanpa rasa sungkan.


“Ya sudah ayo pulang jam istirahat juga sudah mau berakhir..”


ucap Arief seraya berdiri menuju kasir membayar tagihan makan siang mereka.. sementara


Arief membayar Kiki menunggu di tempat parkir.


Tak lupa sebelum selesai makan Kiki memesankan untuk Iin


sehingga setelah selesai makan tinggal mengambil bungkusan pesanannya itu...


setiap diajak makan siang Kiki tidak pernah mengeluarkan uang sama sekali.. ya


karena Arief lah yang akan membayar tagihannya berapapun itu.. entah Kiki harus


senang atau bagaimana.. jujur saja ia merasa tidak enak karena di traktir


seperti itu.. pernah suatu ketika saat selesai makan Kiki berinisiatif membayar


tagihannya sendiri.. dan berakhir dimarahi oleh Arief, ia merasa tidak dihargai


sebagai lelaki apalagi kalau kejadiannya ia yang mengajak Kiki untuk makan akan


sangat malu jika hal itu sampai terjadi..


Lelaki itu memang baik hati dan sangat royal terhadapnya..


jika memerlukan sesuatu tanpa diminta akan langsung membantunya.. fikirannya


terus menerawang mengingat semua kebaikan yang diberikan Arief padanya.. apakah


lelaki itu tulus melakukannya atau ada hal lain yang ingin dicapainya dengan


sikapnya selama ini.. tanpa sadar Arief datang menghampirinya yang dari tadi Kiki


bersandar disamping motor..


“Dor!!.. siang-siang melamun.. hati-hati nanti ada yang


nempel” iseng Arief mengagetkan Kiki.. sontak saja Kiki terjingkat dan tersadar


dari lamunannya..


“Apa sih kak Arief.. ngagetin saja.. kalau aku jantungan


bagaimana.. aku tidak mau mati muda kak!” ucapnya kesal sembari menyambar helm


yang bertengger di spion..

__ADS_1


“Haha.. iya-iya maaf” sesal Arief.. setelah menaruh makanan


bungkusan di motor.. Arief bergegas memakaikan helm Kiki karena gemas dari tadi


tidak segera juga dipakai..


“Aku bisa sendiri kak..!”  ucapnya masih kesal dengan ke isengan Arief yang sengaja mengagetkannya


“Sudah diam” Arief tetap melanjutkan tanpa menghiraukan Kiki


yang mukanya sudah memerah menahan marah


Di perjalanan pulang Kiki masih saja membisu namun ada sedikit


hal yang mengganjal di hatinya kemudian dia memberanikan diri untuk bertanya


pada Arief..


“Kak.!”ucap Kiki lirih takut kalau mengganggu konsentrasi


Arief saat menyetir..


Tak disangka Arief mendengar saat Kiki memanggilnya.. memang


Arief sengaja diam dan menajamkan pendengarannya kalau-kalau Kiki memanggilnya..


namun karena gugup hanya dijawabnya dengan gumaman saja..


“Hemmmzzz” ucap Arief singkat


Duh mengapa dengar sih.Batin Kiki


“Eh..kakak dengar rupanya” jawab Kiki kikuk.. tidak biasanya


ia seperti ini.. ini pun pertama kalinya ia merasa dirinya aneh padahal biasanya


ia akan sangat cerewet tehadap lelaki di hadapannya ini..


“Iya.. aku dengar.. Ada apa?” jawab Arief memastikan


“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan.. apa kakak tidak


keberatan?” tanya Kiki ragu-ragu karena selama ini ia selalu menahan diri untuk


tidak bertanya masalah pribadi Arief apapun keadaannya.. karena Kiki tahu bahwa


Arief merupakan pribadi yang begitu tertutup dan juga sulit diketahui isi


hatinya..


“Tanyakan saja.. asal pertanyaannya masuk akal pasti aku


jawab..” jawabnya gamang meskipun menyisakan kelegaan di hatinya


“Emm... saat makan tadi apa yang kakak pikirkan?” tanya Kiki


kembali..mengingat sikap Arief yang cukup membuatnya bertanya-tanya tidak


seperti biasanya karena melihat Arief senyum-senyum sambil melamun Kiki menjadi


khawatir apakah lelaki ini sakit.. apa ada yang mengguncang jiwanya.. hingga


Arief bersikap demikian..


ingin rasanya ia berteriak ‘aku memikirkanmu Mawar ku, aku sangat memikirkanmu


Syakila Marwa’ apa daya ia tak mampu melakukan itu.. ia tau konsekuensi jika ia


melanggar palang perasaan.. seperti pencuri yang ketahuan mencuri di siang


bolong maka akan mendapat ganjaran yang setimpal. Dihukum akan perbuatannya,


sama halnya dengan Arief yang akan terpenjara dengan perasaannya sendiri..


“Oh ya benarkah... tapi mengapa kakak senyum-senyum sendiri..


apa ada hal lucu.. apa kakak sakit?” tanya Kiki antara cemas dan bingung


mengapa Arief tidak terus terang dengannya sudah seharusnya dia berbagi segalanya


mengingat selama ini sudah banyak Kiki berbagi segala keresahan padanya dan


membantunya saat dimasa-masa sulit karena Kiki sudah menganggap Arief seperti


kakaknya sendiri..


“Hey mengapa banyak sekali pertanyaan mu...apa aku terlihat


tidak baik-baik saja?” Arief merasa gemas dengan pertanyaan-pertanyaan yang


diajukan bibir mungil Kiki.. ingin rasanya ia membungkam dengan bibirnya..


sadar dengan pikirannya ia pun menggelengkan kepalanya untuk kembali fokus


menyetir..


“Aku tidak mau terjadi sesuatu pada Kakak” ucap Kiki geram bukannya


menjawab pertanyaan mengapa malah balik bertanya..


“Aku sungguh baik-baik saja.. nona Marwa” tanpa sadar Arief


menjawab dengan menyebutkan nama yang selama ini ingin didengar oleh Kiki


karena setiap memanggilnya selalu saja menggunakan Mawar atau Mawarku.. yang


membuat Kiki sangat risih..


Kiki yang jahil kembali menggoda Arief dengan menyuruhnya


mengulangi untuk memanggilnya Marwa..


“Coba ulangi kalimat yang barusan kakak ucapkan..” goda Kiki


pada Arief


Sadar Arief memanggil nama Marwa ia pura-pura tidak ingat


atas kalimat tersebut...

__ADS_1


“Kalimat yang mana..?” jawab Arief pura-pura lupa


“Yang barusan kak” rengek Kiki


“Kakak lupa.. kakak tidak ingat” jawab Arief santai. Tentunya


jawaban itu membuat Kiki makin gemas dengan tingkah Arief yang dianggapnya


Kakak itu...


“Kak aku masih ada pertanyaan lain..” kesal karena tidak


berhasil membuat Arief mengulangi untuk memanggil namanya dengan benar..Kiki


mengalihkannya dengan pertanyaan lain.. yang juga membuatnya penasaran.. sejak


saat pertama bertemu dengan Arief, Kiki mengatakan namanya adalah Syakila


Marwa.. tapi setelah tau namanya Arief justru memanggilnya dengan sebutan Mawar


kadang juga Mawar ku.. sungguh membuat dia bertanya-tanya mengapa ia melakukan


itu.. saat inilah ia memberanikan diri menanyakan alasan Arief mamanggilnya


dengan sebutan yang menurutnya berkonotasi negatif itu..


Kiki teringat saat sekolah dulu ketika ia menonton berita


yang menampilkan investigasi.. yang mana nama Mawar sering dipakai sebagai nama


samaran orang yang bertindak kejahatan seperti tukang bakso borak dan juga nama


wanita malam.. sejak saat itu ia selalu memandang orang yang bernama Mawar


sebagai sesuatu yang buruk.. namun setelah dia dewasa justru nama itu sangat


melekat padanya untung saja hanya satu orang yang memanggilnya dengan nama


itu.. tidak membayangkan apabila semua orang memanggilnya dengan nama itu akan


semurka apa dirinya..


“Banyak sekali pertanyaanmu... Apakah ada hadiah kalau kakak


menjawab pertanyaanmu itu” Arief mencoba sabar dengan wanita yang selama ini


telah mencuri hatinya itu..


“Ini pertanyaan terakhir kak.. tentu saja ada, nanti aku


kasih lolipop yang besar.. bagaimana? Setuju?”mencoba merayu Arief dengan


iming-iming lolipop.. apakah dimatanya Arief adalah anak PAUD yang akan


semangat mengerjakan tugas jika di iming-imingi hadiah.. jika Sherif mungkin


akan langsung tunduk.. namun karena tidak ingin membuat Kiki kecewa, Arief


menyetujuinya..


“Baiklah silahkan bertanya sesuka mu.. akan aku jawab mumpung


aku sedang baik hati”ucapnya bangga karena mau menjawab pertanyaan yang tidak


ada habisnya dari tadi...


“Mengapa kakak suka memanggilku Mawar?”tanya Kiki lancar


tanpa ada beban..


Sontak membuat Arief menautkan alisnya..


Pertanyaan bodoh macam


apa itu, apakah ada yang salah jika aku menyebut gadis pujaanku dengan sebutan


Mawar, bukankah itu terlihat romantis, dasar wanita yang tidak bisa ditebak


jalan pikirannya.Batin


Arief


“Tidak ada, hanya suka saja..” jawab Arief ringan


“Tapi aku tidak suka kak..” protes Kiki


“Terserah aku, mau  memanggilmu dengan sebutan apa.. Mawar kah, Melati kah atau Bunga


Bangkai sekaliapun” ucap Arief tanpa rasa bersalah..


Tanpa terasa 20 menit berlalu dan mereka sudah sampai kembali


ke kantor kecil itu..


Kiki yang menyadari langsung bergegas turun dengan kasar meraih


makanan bungkusan untuk Iin yang ada digantungan motor..


Kiki memasuki kantor dengan jalan dan berdecak kesal.. dan


berteriak “ Arrggggg... Kak Arief menyebalkan!!!”


Arief masih terduduk diatas motor.. Sejenak Arief termenung


memikirkan pertanyaan dari Kiki.. benarkah ia memanggil Kiki dengan sebutan


Mawar hanya karena suka, atau memang ada alasan lain.. namun kemudian ia


mengingat kata filosofis dari sebuah buku yang sangat ia kagumi.. Mawar Merah (Rosa Centifolia), Mewakili


Perasaan Orang Yang Memberinya, Menjadi Penanda Bahwa Seseorang Mencintaimu,


Sebagai Simbol Penghormatan Atau Pengabdian. Sejenak Arief berfikir kemudian


tersenyum bodoh layaknya orang yang sedang kasmaran. Bagaimana mungkin ada


gadis bodoh yang tidak tahu makna terdalam dari Mawar.


Marwa seandainya kamu

__ADS_1


tau arti Mawar dihidupku.Gumam Arief.


***


__ADS_2