
Setelah kejadian di kantor kemarin yang membuatnya menahan
marah Yovi lalu menuju salah satu hotel bernama Ine (dibaca In) yang terdekat dari kantor dimana Kiki
bekerja. Ia sengaja menginap di hotel untuk mempermudahnya.
Saat sedang di hotel untuk makan malam Ia melihat seorang
wanita yang tidak asing baginya namun dengan tampilan berbeda. Wanita yang
menggunakan dress hitam itu sungguh sangat familiar baginya. Tapi dimana Ia
pernah bertemu dengan wanita ini. Tunggu bukankah dia mirip dengan asisten itu.
Saat sudah selesai makan malam pikirannya melayang memikirkan alasannya datang
ke kota ini. Apalagi kalau bukan untuk menjemput Kiki.
Namun kenyataan berkata lain saat Arief dengan yakin
mengatakan bahwa Ia memang suaminya. Mungkinkah Kiki benar-benar sudah menikah
bagaimana jika itu benar. Sia-sia sekali pengorbanannya yang telah rela
menunggu selama ini. Ia mengepalkan tangannya dan memukul meja dengan keras.
Sejak pertemuan dengan keluarga Vika saat makan malam ibu
terus menanyakan kelanjutan hubungan keduanya. Yovi yang merasa tidak tahan
dengan desakan ibunya kemudian memilih pergi menemui Kiki agar membantunya
sekaligus membujuk untuk kembali padanya.
Saat mendatangi rumah Kiki Ia tidak menemukan Kiki disana Ia
hanya bertemu dengan ibunya bahkan belum sempat berbincang ibu Kiki sudah mengusirnya
disertai dengan ancaman bahkan sumpah serapah. Beruntung Isa datang membantunya
Ia mengatakan bahwa kakaknya sudah kembali bekerja. Tanpa pikir panjang Yovi
langsung berangkat menyusul Kiki.
Namun saat Ia mendatangi Kiki Ia dihadapkan dengan kenyataan
bahwa Kiki memang telah bersuami tapi itu tidak menyurutkan niatnya untuk tetap
meminta kejelasan pada Kiki untuk membuktikan kebenarannya. Ia tidak mau
tertipu dan kehilangan untuk kedua kalinya. Benarkah si fotografer itu suaminya.
Kiki tengah termenung di tepi ranjang, memikirkan kembali
kejadian kemarin yang diluar dugaannya.
“Kenapa tiba-tiba dia muncul, darimana dia tahu kalau aku
kerja di tempat itu sialan”
“Bagaimana ini, kenapa dia bisa senekat ini sih”
“Mau apa dia sebenarnya”
“Ku mohon jangan melakukan hal bodoh Yovi, pulanglah sebelum
terjadi sesuatu padamu”
Kiki terus berbicara sendiri pikirannya campur aduk apa yang
akan terjadi selanjutnya dengan kedatangan Yovi seperti ini. Sungguh situasi
yang sulit saat kehidupannya sudah mulai membaik mengapa dia hadir lagi. Apa mungkin
Tuhan memang ingin mereka bersama lagi. Namun rasanya tidak mungkin.
Berulangkali Kiki menatap jam dinding di kamarnya. Rasanya
ingin Ia tidak masuk ke kantor tetapi ada sesuatu yang harus dia urus apalagi
kalau bukan meluruskan masalah yang kemarin saat dirinya meminta Arief untuk
berpura-pura menjadi suaminya. Ia tidak mau ada salah paham dan menimbulkan
masalah untuk kedepannya.
Hal ini dirasakan juga oleh Arief. Ia merasa malas untuk ke
kantor tidak peduli lagi pada pekerjaannya yang sudah menumpuk. “Siapa
sebenarnya lelaki itu apa hubungannya dengan Marwa kenapa lelaki itu terus saja
memanggilnya Kiki apa mungkin dia salah orang ya. Bukankah dia lelaki yang aku
lihat di gedung itu ya, ah iya benar. Lalu apa tujuannya kemari?”
Banyak pertanyaan muncul dibenaknya. Jam sudah menunjukkan
pukul 10.30 WIB namun Arief masih saja berguling-guling di ranjangnya tiba-tiba
sebuah senyuman muncul dihadapannya. Tapi bukan senyum manis Kiki melainkan Iin.
Arief menggelang dengan kuat berusaha mengaburkan senyum asisten yang hampir
dipecatnya itu.
Apa-apaan tadi mengapa
tiba-tiba ada dia sih.
Arief mengusap wajahnya kasar dengan malas Ia menuju kamar
mandi bersiap untuk ke kantor.
***
Pukul 9.00 WIB Iin sudah berada di kantor karena ada laporan
yang harus diurusnya. Yovi sudah lebih dulu menunggu kedatangan Iin di seberang
jalan. Iin sedang fokus mengetik di depan monitornya.
Tidak ada angin tidak ada hujan Yovi sudah berada di depan
meja kerja Iin menyapa dengan begitu semangatnya
“Selamat pagi, serius amat kerjanya” Yovi tersenyum lebar
memperlihatkan gigi ratanya.
“Aduh mengagetkan saja” Iin terjingkat dan mendongakkan
kepalanya.
Bukannya ini mas yang
kemarin ya.
Iin hanya menerka-nerka maksud kedatangan lelaki tampan ini.
“Masih ingat aku tidak” Yovi menunjuk Iin dengan kepalanya.
“Mas yang kemarin kan” Iin pura-pura berpikir.
“Tepat sekali.. apa kau ingat kejadian kemarin. Saat di depan
kantor”
“Iya ingat mas”
“Menurutmu apa memang benar seperti itu?”
“Maksud mas ganteng apa ya?”
“Hei.. Aku punya nama, kau bisa memanggilku Yovi apa kau
sudah lupa dengan namaku” Yovi merasa tidak nyaman dipanggil dengan sebutan itu.
__ADS_1
“Baiklah mas ganteng eh mas Yovi” ucap Iin genit berusaha menggoda.
“Hemm apa benar Kiki sudah menikah dengan si fotografer itu?”
tanya Yovi sedikit ragu takut jawabannya sangat mengecewakannya.
“Mas Arief maksudnya?”
“Iya dia..” ucap Yovi datar.
“Sebentar, kenapa mas Yovi memanggil mba Marwa dengan sebutan
‘Kiki’?”
“Ceritanya panjang suatu saat kamu pasti tahu” Yovi tidak ada
waktu untuk membahas itu fokusnya adalah mengetahui kebenaran apakah Kiki
memang sudah menikah atau belum.
“Jadi benar mereka sudah menikah?” Yovi berusaha menguatkan
hatinya dengan pertanyaan bodohnya.
“Duh bagaimana saya mengatakannya ya mas... tapi maaf mas
saya tidak bisa memberitahu informasi pribadi bos saya”
“Hemm aku traktir makan siang deh bagaimana?”
“Hemm bagaimana ya mas” Iin sudah mulai goyah akankah Ia
mengatakan yang sejujurnya.
“Ayolah.. aku akan mengabulkan apapun permintaanmu”
“Benarkah?” Iin memastikan.
“Iya” Yovi tidak sabar karena Iin terus saja mengulur
jawabannya.
“Tapi jangan bilang-bilang kalau saya yang memberitahu ya
mas” Iin sedikit takut untuk memberi jawaban.
“Tenang beres” Yovi memasang telinganya dengan seksama
menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Iin.
“Yang saya tahu hanya Bu Santi yang sudah menikah. Kalau dua
bos yang lainnya saya tidak begitu yakin. Saya juga belum lama kerja disini”
dengan terbata Iin memberi jawaban.
“Apa maksudmu aku tidak mengerti?” Yovi belum menangkap
maksud Iin.
“Begini mas jadi di kantor ini ada 3 bos, bu Santi mas Arief
dan mba Marwa”
“Benarkah? Lalu apa yang dikerjakan Kiki disini?”
“Mba Marwa maksudnya?”
“Iya Marwa” Yovi memutar bola mata jengah.
Iin terkekeh
“Kalau mba Marwa menjadi asisten bu Santi sebagai make up artis sekaligus punya usaha
papan bunga mas”
“Lalu apa hubungan mereka sebenarnya? Apa mereka pacaran”
“Setahu saya kalau untuk hubungan yang seperti itu sepertinya
akur haha..” Iin lalu menutup mulutnya secara tidak langsung dia sudah
membicarakan bos nya.
“Sudah ya mas sepertinya saya terlalu banyak bicara saya mau lanjut
kerja dulu kalau bos datang bisa-bisa dipecat saya nanti” Iin kembali fokus
pada monitornya.
“Baiklah, ada satu pertanyaan lagi” Yovi kembali mengganggu
Iin.
“Iya mas silahkan ada yang bisa saya bantu?” Iin tetap fokus
pada monitornya.
“Apa kamu tahu tempat tinggal Kiki? Apa mungkin mereka tinggal
bersama?” Yovi bertanya menyelidik.
“Maaf mas saya tidak bisa lebih jauh lagi” Iin mendongak
menatap Yovi.
“Hemm akan aku traktir es krim deh bagaimana?” Yovi menaik
turunkan alisnya menggoda Iin.
Iin menelan salivanya susah payah membayangkan es krim yang
meleleh di tenggorokannya,
“Kalau untuk tinggal bersama sepertinya tidak mas” Iin
berusaha yakin dengan jawabannya.
“Karena setiap pulang, mereka selalu berpisah kalau tinggal
dimananya saya benar-benar tidak tahu mas” bersamaan dengan itu telpon berdering.
“Sudah ya mas saya mau jawab telpon dulu”
Telpon beberapakali berbunyi tring...tring...tring..
“Baiklah terimakasih ya kamu memang asisten terbaik. Nanti
siang saya jemput untuk makan siang bersama”
Iin hanya mengangguk.
“Halo dengan KeY Florist dan Shine MUA n’ Photography
ada yang bisa dibantu?” suara Iin ramah seperti biasa.
Yovi berlalu pergi namun rasa penasaran masih menyelimuti
hatinya.
Tidak berapa lama Kiki datang dengan wajah lesu menghampiri
meja Iin.
“Siapa In?”
Iin lagi-lagi terjingkat karena terkejut dengan kadatangan Kiki
yang muncul tiba-tiba.
Apa mba Marwa bertemu
dengan mas Yovi tapi sepertinya tidak sih lalu kenapa muka mba Marwa lesu
seperti itu ya.Cukup lama Iin termennung dengan pikirannya.
“In!!” pekik Kiki.
__ADS_1
“I-iya mba.. maaf ada apa ya mba?"
"Hemm telpon dari siapa?"
"Biasa pelanggan, minta ganti jadwal pemotretan
karena ada acara mendadak mba”
“Begitu iya.. kak Arief mana?”
“Sepertinya belum datang mba”
“Ya sudah aku ke ruang editing dulu ya”
“Baik mba”
Iin kembali fokus menyelesaikan laporannya.
Tanpa terasa sudah waktunya makan siang tanpa sepengetahuan Kiki,
Yovi datang ke tempat kerja untuk mengajak makan siang Iin.
“Aku sudah di depan
keluarlah” Iin
membaca pesan di ponselnya. Sebelumnya mereka sudah bertukar nomor ponsel untuk
berkomunikasi satu sama lain.
“Mba Marwa saya izin keluar mau makan siang dulu ya” Iin menyusul Kiki ke ruang editing.
“Iya silahkan In”
Kiki sedikit heran tidak biasanya Iin makan siang diluar
karena selama ini Ia selalu membawa bekal. Biarlah toh dia tidak ada hak untuk
melarangnya.
Arief melihat dari kejauhan saat Iin memasuki mobil Yovi ada
hawa panas di hatinya. Arief menghela nafas kasar lalu masuk dalam kantor.
“Baru datang kak?” Kiki sudah berada di sofa depan dekat meja Iin dan menyapa Arief.
“Hemm” Arief mengangguk berlalu masuk dalam ruang editing.
Kiki merasa ada yang aneh dengan Arief apa itu ada hubungannya
dengan kejadian kemarin.
Iin dan Yovi sudah sampai pada salah satu restoran cukup
ramai pengunjung datang. Setelah menunggu beberapa saat pesanan mereka datang.
Seperti yang dijanjikan Yovi saat tadi pagi yang akan mengabulkan permintaannya
Iin memesan makanan yang paling lezat dan mahal dan hidangan penutup berupa
semangkuk es krim. Selesai makan Iin menikmati es krimnya sementara Yovi
memulai obrolan.
“Bagaimana kehidupan Kiki selama ini apa dia hidup dengan
baik?”
“Tentu mas, mba Marwa tidak pernah melakukan hal aneh dan
orangnya sangat baik perhatian pula apalagi dengan karyawannya”
“Katamu dia pemilik usaha papan bunga, tapi aku tidak ada
melihat bunga di kantor?”
“Oh itu.. tempat usahanya memang terpisah mas dan ada yang
mengelola juga”
“Jadi dia tidak terlibat secara langsung”
“Hemm” Iin mengangguk.
Lama Yovi memperhatikan Iin dengan seksama, sungguh wajah itu
terasa tidak asing mirip dengan wanita yang Ia temui di hotel.
“In..?”
“Hemm iya mas” Iin menatap lurus Yovi.
“Apa kamu punya saudara kembar?”
“Tidak” Iin menautkan alisnya bingung.
“Tapi wajah mu sungguh tidak asing, sepertinya aku pernah
melihatmu”
“Dimana mas?”
“Di Ine hotel tempatku menginap”
Deg.. seketika Iin mulai panik apakah
ini akhir dari hidupnya matilah dia jika sampai ketahuan.
“Ah mana mungkin orang seperti saya berkeliaran di hotel mas”
“Serius In tapi lebih cantik dia si” Yovi tersenyum remeh
menatap Iin.
“Tapi dia mirip sekali denganmu”
“Tidak mungkin mas, sepertinya mas salah lihat”
“Begitukah..”
“Sudah yuk mas.. waktu makan siang hampir habis nih” Iin
melihat jam tangan yang melingkar di lengan kirinya sebelum Yovi mencari tahu
lebih dalam lagi Ia segera mengalihkan perhatian Yovi.
20 menit menempuh perjalanan mereka sudah kembali lagi ke
kantor. Saat Iin akan ke mejanya Ia berpapasan dengan Arief yang seperti
menunggu kedatangannya.
“Darimana kamu!?” tanya Arief ketus.
“Eh.. dari makan siang mas”
“Sama siapa?”
“Teman mas”
“Tumben”
“Hehe” Iin tidak mengatakan yang sebenarnya bisa tamat
riwayatnya kalau dia ketahuan pergi dengan Yovi.
Arief merasa ada yang tidak beres dengan Iin tidak biasanya
dia makan siang di luar dan apa tadi dia bilang makan siang dengan teman..
hufttt sungguh apa benar hanya sekadar teman.
***
Selamat membaca..
Mohon dukungannya kakak-kakak..
__ADS_1