Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Pasar Malam


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 8.00 WIB Kiki bersiap untuk berangkat


ke kantor seperti biasa kemudian ia ingat untuk mengabari ibunya karena berniat


untuk pulang.


“Halo.. Assalamualaikum bu” Kiki.


“Walaikumsalam nak,


bagaimana kabarmu?” jawab


ibu diseberang sana.


“Kabar Kiki baik bu.. ibu sama Isa bagaimana kabarnya?”


“Syukurlah, kabar kami


baik juga nak”


“Ibu sedang apa?”


“Ibu baru mau nyapu


nih”


“Oh iya.. bu 3 minggu lagi Kiki pulang..” Kiki mengabarkan


akan pulang dan meminta ibunya sedikit menyiapkan rumahnya untuk menyambut


rekan kerjanya.


“Benarkah nak?” tanya ibu antusias karena memang


sudah rindu dengan anaknya.


“Iya bu tapi Kiki tidak pulang sendiri ada rekan kerja Kiki 3


orang yang ikut serta” jelasnya pada sang ibu.


“Kenapa mereka ikut?” tanya ibu penasaran.


“Iya.. karena ada projek kerjaan di dekat rumah, ada yang


membutuhkan jasa Kiki dan teman-teman jadi sekalian bu”


“Baiklah akan ibu


siapkan sebisa ibu”


“Terimakasih bu, memang ibu yang terbaik” ucapnya sambil


membuat tanda jempol.


“Ya sudah ya bu, Kiki mau berangkat kerja dulu..


Assalamualaikum”


“Iya walaikumsalam


nak”


Panggilan pun berakhir.


Di Sekolah


Para tenaga pendidik dan juga para pejabat sekolah telah


berkumpul di aula untuk rapat membahas ujian semester dan evaluasi kinerja guru.


“Baiklah kita mulai rapat pada pagi hari ini” wakil kepala


sekolah memimpin rapat.


Setelah 2 jam pembahasan akhirnya rapat selesai namun sebelum


dibubarkan kepala sekolah memberikan pengumuman terkait pernikahan anaknya dan


membagikan undangan kepada para guru dan pejabat sekolah.


“Sekian pembahasan pada siang hari ini, marilah rapat kita


akhiri dengan do’a sesuai kepercayaan masing-masing” rapatpun selesai.


“Di mohon para peserta rapat jangan bubar terlebih dahulu


karena ada sedikit tambahan dari kepala sekolah”


Semuanya menyimak apa yang disampaikan oleh kepala sekolah


yaitu kabar bahagia karena sebentar lagi anak pertamanya akan melangsungkan


pernikahan.


“Saya sedikit membagikan kabar bahagia bahwa anak pertama


kami akan segera menikah mohon do’a dan restu dari bapak dan ibu sekalian ”


ucap kepala sekolah berbinar membagikan kabar tersebut. Lalu salah satu guru


membagikan undangan pada semua peserta rapat.


“Bro..mau kondangan sama siapa nih?” bisik Alwi menyikut


lengan Yovi yang memang duduk bersebelahan.


“Nggak mungkin sendiri kan.. kelihatan jomblo banget” tambah


Alwi menggoda Yovi.


“Berisik” ketus Yovi menatap tajam Alwi lalu berdiri


meninggalkan Alwi dan keluar dari aula.


Di kantor


Kiki dan Arief bersiap untuk melakukan pemotretan seperti


yang sudah dijadwalkan sebelumnya.


Kali ini mereka menggunakan mobil karena tempat yang dituju


lumayan jauh ditambah lagi peralatan yang dibawa juga lumayan banyak tidak


memungkinkan untuk mengendarai motor.


“Ayo jalan” titah Kiki pada Arief.


Setelah satu jam perjalanan akhirnya sampai di tempat


pemotretan. Cuaca yang cerah cenderung panas menjadi penghias langit ibukota


kala itu. Dengan segala profesionalitasnya Kiki dan Arief bekerja dengan


maksimal.


Pose demi pose diarahkan Kiki pada pasangan yang akan diambil


gambarnya. Wanita yang tengah mengandung dengan perut yang membesar itu dengan


patuh mengikuti arahan dari Kiki. Suaminya terlihat sangat menyayangi wanita


itu setiap saat di elus perut istrinya dan tangannya yang selalu menggenggam


tangan sang istri. Pemandangan seperti itu bukan pertama kali bagi Kiki sudah

__ADS_1


sering ia menjumpainya.


“Sudah jangan bengong” Arief mengibaskan tangan di depan


wajah Kiki yang terlihat melongo menatap pasangan itu. Kiki tersadar dan


menatap sinis ke Arief.


“Kamu pengen” goda Arief lagi.


“Apaan sih kak” ucap Kiki ketus.


“Nikah dulu baru bisa foto kayak gitu” tambah Arief dengan


nada remeh.


“Hemm... jodoh aja belum ada bagaimana mau nikah” ucap Kiki


dengan nada meratap.


“Jodoh didepan mata kok masih bingung.. yuk gas KUA” canda


Arief namun terselip keseriusan disana.


“Haduh,, dikira menikah kayak beli anak ayam main comot


langsung dapet” bagi Kiki menikah bukan hal segampang itu.


“Ya sudah kamu comot kakak saja kan gampang tuh” tawar Arief


pada Kiki.


“Ah sudahlah, sudah selesai kan pemotretannya.. ayo berkemas


aku sudah lapar” Kiki berlalu meninggalkan Arief. Arief hanya menghela nafas


mengikuti Kiki.


Setelah makan siang Arief dan Kiki sudah di dalam mobil melaju


kembali ke kantor, Arief berniat mengajak Kiki untuk jalan kesebuah


taman hiburan di pinggiran kota.


“Mawar nanti malam jalan yuk?”


“Kemana kak?” Kiki menoleh pada Arief.


“Ke suatu tempat, mau ya” Arief pun menatap Kiki berharap


menerima ajakannya.


“Okelah sudah lama juga Marwa tidak jalan-jalan”


Jam sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB semua bersiap untuk


pulang ke rumah masing-masing.


“Semuanya Iin duluan ya ” pamit Iin pada Arief, Kiki dan Kak


Santi yang juga bersiap untuk pulang.


“Hati-hati ya In” Kiki membalas.


“Kamu nggak ada niatan buat pake motor In kan capek goes


terus” Kak Santi nimbrung.


“Tidak bu, hitung-hitung olahraga hehe” jawab Iin hanya


nyengir kuda.


“Mawar jangan lupa nanti malam ya” Arief mengingatkan Kiki


“Mau kemana kalian?” ucap kak Santi penasaran.


“Suttt.. ini urusan anak muda kakak ipar nggak perlu tahu” jawab


Arief dan melirik Kiki lalu menaik turunkan alisnya. Kiki hanya senyum malu.


“Ya sudah Kakak duluan, suami kakak sudah menunggu” kak Santi


berlalu meninggalkan mereka. Disusul Kiki yang juga akan melajukan motornya


begitu pula Arief.


“Mawar hati-hati ya” pesan Arief pada Kiki.


“Kak Arief juga ya, Kiki duluan kak” pamit Kiki lalu melajukan


motornya.


Sampai kost Kiki kemudian bergegas mandi. Bersiap untuk pergi


dengan Arief. Saat tengah memakai hijab ponselnya berdenting tanda ada pesan


masuk. Kiki lalu membaca pesan tersebut yang ternyata dari Arief yang sudah


menunggu di depan kostnya.


“Mawar aku sudah di


bawah” bunyi pesan


Arief.


Tanpa menjawab Kiki melanjutkan kegiatannya setelah selesai


ia lalu turun ke bawah. Mereka melajukan mobil membelah padatnya jalanan


ibukota. Setelah 20 menit berkendara sampailah pada taman hiburan atau bisa


disebut juga pasar malam.


Kiki tersentak heran mengapa dari sekian tempat Arief malah


mengajaknya kesini. Lalu pikirannya menerawang saat dulu ia dan Yovi selalu ke


pasar malam setiap akhir pekan.


“Kenapa melamun.. apa ada sesuatu yang kamu pikirkan” Arief


membuyarkan lamunan Kiki.


“Ti-tidak kak.. mengapa kakak membawa ku kesini?” Kiki


penasaran mengapa Arief membawanya ke pasar malam bukan ke tempat lain.


“Ku rasa tempat ini cocok dengan mu.. karena kamu berisik dan


ceria sama seperti suasana pasar malam.. apa kamu keberatan, mau pindah


tempat” jawab Arief panjang dan menawari Kiki untuk pindah tempat. Kiki hanya


mengerucutkan bibirnya kesal karena menyamakan dirinya dengan pasar malam.


“Tidak perlu kak, akan memakan waktu lagi kalau kita pindah


tempat”


“Ya sudah ayo” Arief menggandeng tangan Kiki lalu berjalan


masuk ke area wahana permainan. Kiki hanya membulatkan matanya dengan sikap


Arief dan tersentak berusaha menyamakan langkah kakinya.

__ADS_1


Setelah berkeliling menyusuri pasar malam Arief mengajak Kiki


untuk menaiki salah satu wahana.


“Mawar.. mau naik wahana apa?”


“Hemmm bagaimana kalau naik bianglala”Kiki.


“Boleh.. sebentar ya kakak beli tiketnya dulu kamu tunggu


disini”


Arief pun bergegas antre di loket biang lala, cukup lama ia


mengantre karena akhir pekan, jadi banyak pasangan muda-mudi lainnya yang ingin


menaiki wahana tersebut.


Sepuluh menit menunggu tiba giliran mereka menaiki wahana,


satu tempat hanya dinaiki oleh dua orang. Kiki dan Arief menikmati pemandangan


ibukota dari atas bianglala. Kiki larut dalam pikirannya mengenang disaat dulu


jalan dengan Yovi. Pikirannya semakin larut dan tak mempedulikan Arief yang


dari tadi terus mengajaknya bicara.


“Mawar.. bagaimana pemandangannya, indah kan.. oh iya aku


ingin mengatakan sesuatu” ragu-ragu Arief ingin mengungkapkan perasaannya. Sudah


lama ia menunggu momen seperti ini, berdua dengan suasana romantis. Kiki tidak


menyahut sampai akhirnya Arief menepuk sebelah pundak Kiki. Kiki tersadar dari


lamunannya namun hanya ber ’Hah’ ria. Dan kembali larut dalam pikirannya.


“Hah” Kiki.


Arief yang mengira Kiki mendengarkannya kemudian melanjutkan


misinya.


“Emm a-aku ingin mengatakan sesuatu.. bisakah kau


menganggapku lebih dari kakak.. sudah lama aku menyukaimu.. maukah kau menjalin


hubungan denganku?” Arief lega telah mengatakan isi hatinya yang telah lama ia


simpan. Lagi-lagi Kiki hanya diam. Arief tanpa sadar memiringkan kepalanya dan


mendekatkan wajahnya ke wajah Kiki. Hingga tinggal beberapa senti di depan bibir


mungil itu bahkan nafasnya telah bersentuhan dengan kulit mulus Kiki. Namun tiba-tiba...


“Kak waktunya sudah habis.. ayo turun” dengan polos Kiki


mengatakan hal itu membuat Arief membulatkan matanya kaget. Dengan wajah


memerah ia berusaha menahan malu lalu menghembuskan nafas dengan kasar.


Sejalan dengan itu pintu bianglala terbuka. Dengan menahan


malu Arief melangkah mengikuti Kiki yang lebih dulu turun. Ia menggaruk


kepalanya kasar karena misinya telah gagal.


Cukup lama ia terdiam dalam pikirannya.


Sial mengapa jadi


begini tidak sesuai dengan apa yang aku rencanakan. Umpatnya dalam hati.


Kiki yang merasa Arief


tidak ada di sampingnya lalu menoleh kebelakang dilihatnya Arief tengah berdiri


mematung dengan tatapan kosong.


“Kak.. kak Arief mengapa melamun.. ”


“Eh.. tidak” Arief lalu membuang pandangannya.


“Kiki lapar nih cari makanan yuk” Kiki lalu menggandeng lengan


Arief tanpa merasa berdosa. Arief hanya pasrah dengan sikap Kiki dan berusaha


mengendalikan debaran dalam hatinya.


Setelah puas menikmati jalan-jalan di pasar malam Arief dan


Kiki memutuskan untuk pulang namun sebelum itu Kiki membeli permen kapas


terlebih dahulu. Mereka lalu menaiki mobil dan melesat memecah ramainya jalanan


ibukota. Sampailah di kost Kiki. Sebelum turun dari mobil Kiki berterimakasih


karena Arief telah mengajaknya jalan-jalan.


“Terimakasih kak sudah mengajakku jalan-jalan” senyum manis


tersungging di bibir mungil Kiki.


“Hemm.. lain kali kita akan pergi ke tempat kemana pun yang


kamu mau” Arief pun tersenyum manis.


 “Hati-hati kak” Kiki


turun dan melambaikan tangannya tanda perpisahan. Arif pun membalas dengan


melakukan hal yang sama. Hingga mobil menghilang dari pandangan Kiki ia lalu


masuk ke dalam kost nya.


Sampai di kamar ia lalu merebahkan dirinya diatas kasur


dengan perasaan tak karuan. Bagaimana tidak ia terngiang-ngiang akan ucapan


Arief, sebenarnya saat Arief mengungkapkan perasaannya ia sangat sadar namun ia


berusaha untuk bersikap biasa ia belum menyiapkan jawaban apakah ia akan


menerima atau tidak. Kiki memutar otak supaya tidak terlihat canggung akhirnya


ia bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Dan caranya berhasil tanpa


terlihat melukai hati Arief yang telah dianggapnya sebagai Kakak.


Kiki sejujurnya juga merasakan debaran dalam hatinya namun dengan cepat ia


menepisnya supaya tidak makin jatuh dalam perasaan itu. Cukup lama ia


merebahkan dirinya. Akhirnya ia bangkit dan berganti dengan pakaian tidur lalu


bersiap-siap untuk tidur. Cukup lama ia berusaha untuk memejamkan matanya namun


sulit rasanya untuk terpejam. Hingga tengah malam akhirnya ia terlelap dan


terbuai dalam mimpinya.


***


Selamat membaca...

__ADS_1


__ADS_2