
Jam menunjukkan pukul 8.00 WIB Kiki bersiap untuk berangkat
ke kantor seperti biasa kemudian ia ingat untuk mengabari ibunya karena berniat
untuk pulang.
“Halo.. Assalamualaikum bu” Kiki.
“Walaikumsalam nak,
bagaimana kabarmu?” jawab
ibu diseberang sana.
“Kabar Kiki baik bu.. ibu sama Isa bagaimana kabarnya?”
“Syukurlah, kabar kami
baik juga nak”
“Ibu sedang apa?”
“Ibu baru mau nyapu
nih”
“Oh iya.. bu 3 minggu lagi Kiki pulang..” Kiki mengabarkan
akan pulang dan meminta ibunya sedikit menyiapkan rumahnya untuk menyambut
rekan kerjanya.
“Benarkah nak?” tanya ibu antusias karena memang
sudah rindu dengan anaknya.
“Iya bu tapi Kiki tidak pulang sendiri ada rekan kerja Kiki 3
orang yang ikut serta” jelasnya pada sang ibu.
“Kenapa mereka ikut?” tanya ibu penasaran.
“Iya.. karena ada projek kerjaan di dekat rumah, ada yang
membutuhkan jasa Kiki dan teman-teman jadi sekalian bu”
“Baiklah akan ibu
siapkan sebisa ibu”
“Terimakasih bu, memang ibu yang terbaik” ucapnya sambil
membuat tanda jempol.
“Ya sudah ya bu, Kiki mau berangkat kerja dulu..
Assalamualaikum”
“Iya walaikumsalam
nak”
Panggilan pun berakhir.
Di Sekolah
Para tenaga pendidik dan juga para pejabat sekolah telah
berkumpul di aula untuk rapat membahas ujian semester dan evaluasi kinerja guru.
“Baiklah kita mulai rapat pada pagi hari ini” wakil kepala
sekolah memimpin rapat.
Setelah 2 jam pembahasan akhirnya rapat selesai namun sebelum
dibubarkan kepala sekolah memberikan pengumuman terkait pernikahan anaknya dan
membagikan undangan kepada para guru dan pejabat sekolah.
“Sekian pembahasan pada siang hari ini, marilah rapat kita
akhiri dengan do’a sesuai kepercayaan masing-masing” rapatpun selesai.
“Di mohon para peserta rapat jangan bubar terlebih dahulu
karena ada sedikit tambahan dari kepala sekolah”
Semuanya menyimak apa yang disampaikan oleh kepala sekolah
yaitu kabar bahagia karena sebentar lagi anak pertamanya akan melangsungkan
pernikahan.
“Saya sedikit membagikan kabar bahagia bahwa anak pertama
kami akan segera menikah mohon do’a dan restu dari bapak dan ibu sekalian ”
ucap kepala sekolah berbinar membagikan kabar tersebut. Lalu salah satu guru
membagikan undangan pada semua peserta rapat.
“Bro..mau kondangan sama siapa nih?” bisik Alwi menyikut
lengan Yovi yang memang duduk bersebelahan.
“Nggak mungkin sendiri kan.. kelihatan jomblo banget” tambah
Alwi menggoda Yovi.
“Berisik” ketus Yovi menatap tajam Alwi lalu berdiri
meninggalkan Alwi dan keluar dari aula.
Di kantor
Kiki dan Arief bersiap untuk melakukan pemotretan seperti
yang sudah dijadwalkan sebelumnya.
Kali ini mereka menggunakan mobil karena tempat yang dituju
lumayan jauh ditambah lagi peralatan yang dibawa juga lumayan banyak tidak
memungkinkan untuk mengendarai motor.
“Ayo jalan” titah Kiki pada Arief.
Setelah satu jam perjalanan akhirnya sampai di tempat
pemotretan. Cuaca yang cerah cenderung panas menjadi penghias langit ibukota
kala itu. Dengan segala profesionalitasnya Kiki dan Arief bekerja dengan
maksimal.
Pose demi pose diarahkan Kiki pada pasangan yang akan diambil
gambarnya. Wanita yang tengah mengandung dengan perut yang membesar itu dengan
patuh mengikuti arahan dari Kiki. Suaminya terlihat sangat menyayangi wanita
itu setiap saat di elus perut istrinya dan tangannya yang selalu menggenggam
tangan sang istri. Pemandangan seperti itu bukan pertama kali bagi Kiki sudah
__ADS_1
sering ia menjumpainya.
“Sudah jangan bengong” Arief mengibaskan tangan di depan
wajah Kiki yang terlihat melongo menatap pasangan itu. Kiki tersadar dan
menatap sinis ke Arief.
“Kamu pengen” goda Arief lagi.
“Apaan sih kak” ucap Kiki ketus.
“Nikah dulu baru bisa foto kayak gitu” tambah Arief dengan
nada remeh.
“Hemm... jodoh aja belum ada bagaimana mau nikah” ucap Kiki
dengan nada meratap.
“Jodoh didepan mata kok masih bingung.. yuk gas KUA” canda
Arief namun terselip keseriusan disana.
“Haduh,, dikira menikah kayak beli anak ayam main comot
langsung dapet” bagi Kiki menikah bukan hal segampang itu.
“Ya sudah kamu comot kakak saja kan gampang tuh” tawar Arief
pada Kiki.
“Ah sudahlah, sudah selesai kan pemotretannya.. ayo berkemas
aku sudah lapar” Kiki berlalu meninggalkan Arief. Arief hanya menghela nafas
mengikuti Kiki.
Setelah makan siang Arief dan Kiki sudah di dalam mobil melaju
kembali ke kantor, Arief berniat mengajak Kiki untuk jalan kesebuah
taman hiburan di pinggiran kota.
“Mawar nanti malam jalan yuk?”
“Kemana kak?” Kiki menoleh pada Arief.
“Ke suatu tempat, mau ya” Arief pun menatap Kiki berharap
menerima ajakannya.
“Okelah sudah lama juga Marwa tidak jalan-jalan”
Jam sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB semua bersiap untuk
pulang ke rumah masing-masing.
“Semuanya Iin duluan ya ” pamit Iin pada Arief, Kiki dan Kak
Santi yang juga bersiap untuk pulang.
“Hati-hati ya In” Kiki membalas.
“Kamu nggak ada niatan buat pake motor In kan capek goes
terus” Kak Santi nimbrung.
“Tidak bu, hitung-hitung olahraga hehe” jawab Iin hanya
nyengir kuda.
“Mawar jangan lupa nanti malam ya” Arief mengingatkan Kiki
“Mau kemana kalian?” ucap kak Santi penasaran.
“Suttt.. ini urusan anak muda kakak ipar nggak perlu tahu” jawab
Arief dan melirik Kiki lalu menaik turunkan alisnya. Kiki hanya senyum malu.
“Ya sudah Kakak duluan, suami kakak sudah menunggu” kak Santi
berlalu meninggalkan mereka. Disusul Kiki yang juga akan melajukan motornya
begitu pula Arief.
“Mawar hati-hati ya” pesan Arief pada Kiki.
“Kak Arief juga ya, Kiki duluan kak” pamit Kiki lalu melajukan
motornya.
Sampai kost Kiki kemudian bergegas mandi. Bersiap untuk pergi
dengan Arief. Saat tengah memakai hijab ponselnya berdenting tanda ada pesan
masuk. Kiki lalu membaca pesan tersebut yang ternyata dari Arief yang sudah
menunggu di depan kostnya.
“Mawar aku sudah di
bawah” bunyi pesan
Arief.
Tanpa menjawab Kiki melanjutkan kegiatannya setelah selesai
ia lalu turun ke bawah. Mereka melajukan mobil membelah padatnya jalanan
ibukota. Setelah 20 menit berkendara sampailah pada taman hiburan atau bisa
disebut juga pasar malam.
Kiki tersentak heran mengapa dari sekian tempat Arief malah
mengajaknya kesini. Lalu pikirannya menerawang saat dulu ia dan Yovi selalu ke
pasar malam setiap akhir pekan.
“Kenapa melamun.. apa ada sesuatu yang kamu pikirkan” Arief
membuyarkan lamunan Kiki.
“Ti-tidak kak.. mengapa kakak membawa ku kesini?” Kiki
penasaran mengapa Arief membawanya ke pasar malam bukan ke tempat lain.
“Ku rasa tempat ini cocok dengan mu.. karena kamu berisik dan
ceria sama seperti suasana pasar malam.. apa kamu keberatan, mau pindah
tempat” jawab Arief panjang dan menawari Kiki untuk pindah tempat. Kiki hanya
mengerucutkan bibirnya kesal karena menyamakan dirinya dengan pasar malam.
“Tidak perlu kak, akan memakan waktu lagi kalau kita pindah
tempat”
“Ya sudah ayo” Arief menggandeng tangan Kiki lalu berjalan
masuk ke area wahana permainan. Kiki hanya membulatkan matanya dengan sikap
Arief dan tersentak berusaha menyamakan langkah kakinya.
__ADS_1
Setelah berkeliling menyusuri pasar malam Arief mengajak Kiki
untuk menaiki salah satu wahana.
“Mawar.. mau naik wahana apa?”
“Hemmm bagaimana kalau naik bianglala”Kiki.
“Boleh.. sebentar ya kakak beli tiketnya dulu kamu tunggu
disini”
Arief pun bergegas antre di loket biang lala, cukup lama ia
mengantre karena akhir pekan, jadi banyak pasangan muda-mudi lainnya yang ingin
menaiki wahana tersebut.
Sepuluh menit menunggu tiba giliran mereka menaiki wahana,
satu tempat hanya dinaiki oleh dua orang. Kiki dan Arief menikmati pemandangan
ibukota dari atas bianglala. Kiki larut dalam pikirannya mengenang disaat dulu
jalan dengan Yovi. Pikirannya semakin larut dan tak mempedulikan Arief yang
dari tadi terus mengajaknya bicara.
“Mawar.. bagaimana pemandangannya, indah kan.. oh iya aku
ingin mengatakan sesuatu” ragu-ragu Arief ingin mengungkapkan perasaannya. Sudah
lama ia menunggu momen seperti ini, berdua dengan suasana romantis. Kiki tidak
menyahut sampai akhirnya Arief menepuk sebelah pundak Kiki. Kiki tersadar dari
lamunannya namun hanya ber ’Hah’ ria. Dan kembali larut dalam pikirannya.
“Hah” Kiki.
Arief yang mengira Kiki mendengarkannya kemudian melanjutkan
misinya.
“Emm a-aku ingin mengatakan sesuatu.. bisakah kau
menganggapku lebih dari kakak.. sudah lama aku menyukaimu.. maukah kau menjalin
hubungan denganku?” Arief lega telah mengatakan isi hatinya yang telah lama ia
simpan. Lagi-lagi Kiki hanya diam. Arief tanpa sadar memiringkan kepalanya dan
mendekatkan wajahnya ke wajah Kiki. Hingga tinggal beberapa senti di depan bibir
mungil itu bahkan nafasnya telah bersentuhan dengan kulit mulus Kiki. Namun tiba-tiba...
“Kak waktunya sudah habis.. ayo turun” dengan polos Kiki
mengatakan hal itu membuat Arief membulatkan matanya kaget. Dengan wajah
memerah ia berusaha menahan malu lalu menghembuskan nafas dengan kasar.
Sejalan dengan itu pintu bianglala terbuka. Dengan menahan
malu Arief melangkah mengikuti Kiki yang lebih dulu turun. Ia menggaruk
kepalanya kasar karena misinya telah gagal.
Cukup lama ia terdiam dalam pikirannya.
Sial mengapa jadi
begini tidak sesuai dengan apa yang aku rencanakan. Umpatnya dalam hati.
Kiki yang merasa Arief
tidak ada di sampingnya lalu menoleh kebelakang dilihatnya Arief tengah berdiri
mematung dengan tatapan kosong.
“Kak.. kak Arief mengapa melamun.. ”
“Eh.. tidak” Arief lalu membuang pandangannya.
“Kiki lapar nih cari makanan yuk” Kiki lalu menggandeng lengan
Arief tanpa merasa berdosa. Arief hanya pasrah dengan sikap Kiki dan berusaha
mengendalikan debaran dalam hatinya.
Setelah puas menikmati jalan-jalan di pasar malam Arief dan
Kiki memutuskan untuk pulang namun sebelum itu Kiki membeli permen kapas
terlebih dahulu. Mereka lalu menaiki mobil dan melesat memecah ramainya jalanan
ibukota. Sampailah di kost Kiki. Sebelum turun dari mobil Kiki berterimakasih
karena Arief telah mengajaknya jalan-jalan.
“Terimakasih kak sudah mengajakku jalan-jalan” senyum manis
tersungging di bibir mungil Kiki.
“Hemm.. lain kali kita akan pergi ke tempat kemana pun yang
kamu mau” Arief pun tersenyum manis.
“Hati-hati kak” Kiki
turun dan melambaikan tangannya tanda perpisahan. Arif pun membalas dengan
melakukan hal yang sama. Hingga mobil menghilang dari pandangan Kiki ia lalu
masuk ke dalam kost nya.
Sampai di kamar ia lalu merebahkan dirinya diatas kasur
dengan perasaan tak karuan. Bagaimana tidak ia terngiang-ngiang akan ucapan
Arief, sebenarnya saat Arief mengungkapkan perasaannya ia sangat sadar namun ia
berusaha untuk bersikap biasa ia belum menyiapkan jawaban apakah ia akan
menerima atau tidak. Kiki memutar otak supaya tidak terlihat canggung akhirnya
ia bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Dan caranya berhasil tanpa
terlihat melukai hati Arief yang telah dianggapnya sebagai Kakak.
Kiki sejujurnya juga merasakan debaran dalam hatinya namun dengan cepat ia
menepisnya supaya tidak makin jatuh dalam perasaan itu. Cukup lama ia
merebahkan dirinya. Akhirnya ia bangkit dan berganti dengan pakaian tidur lalu
bersiap-siap untuk tidur. Cukup lama ia berusaha untuk memejamkan matanya namun
sulit rasanya untuk terpejam. Hingga tengah malam akhirnya ia terlelap dan
terbuai dalam mimpinya.
***
Selamat membaca...
__ADS_1