Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Didi Sudah Siap Kak,,, Jangan di Tahan


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan pulang, papa Chandra dan opa Win tak saling bicara. Kedua nya sibuk dengan pikiran nya masing-masing.


"Renny,, bisa-bisa nya dia memberi obat perangsang pada seorang laki-laki yang sudah beristri? Apa yang ada di otak anak itu sebenar nya? Apa mungkin perilaku mama nya yang bejat menurun pada anak itu?" Papa Chandra menghembus nafas kasar.


"Selama ini aku diam, bukan berarti aku tidak tahu kelakuan mu Sarah,,, aku hanya belum memiliki bukti untuk menyeret mu keluar dari rumah dan kehidupan ku. Jeffry,,, nama itu yang sering kau sebut setiap kali kamu mengigau, sungguh menjijikkan!" Papa Chandra bermonolog dalam diam, rahang nya nampak mengeras dan tangan nya mencengkeram kemudi dengan sangat kuat.


"Ada apa Chandra?" Tanya opa Win yang melihat perubahan sikap putra nya.


"Tidak apa-apa pa," jawab papa Chandra, menoleh sebentar kearah opa Win.


"Aku tahu, kapan kamu berkata jujur atau tidak Chandra," ucap opa Win sambil membetulkan kacamata nya.


Papa Chandra menarik nafas dalam, "ini tentang Renny dan juga mama nya pa," balas papa Chandra akhirnya membuka suara.


"Kenapa dengan istri mu?" Tanya opa Win, dengan ekspresi yang biasa saja.


"Sarah ada main dengan pria lain di belakang Chandra pa, tapi Chandra belum punya bukti nya," jawab papa Chandra dengan wajah kesal.


Opa Win terkekeh pelan...


"Kenapa papa malah tertawa?" Tanya papa Chandra, dengan mengerutkan dahinya.


"Sejak kapan kamu mengetahui nya?" Bukan nya menjawab pertanyaan papa Chandra, opa Win malah kembali bertanya.


"Setahun terakhir pa,," balas papa Chandra dengan pelan.

__ADS_1


"Jadi karena itu, kamu sering tidur di ruang kerjamu?" Opa Win kembali bertanya.


"Papa sudah tahu semua nya?" Tanya papa Chandra menoleh kearah opa Win.


Opa Win mengangguk, "papa ini sudah banyak sekali makan asam garam kehidupan nak, papa tahu mana yang tulus dan mana yang berakal bulus. Termasuk istri mu dan anak gadis nya, dan juga sepupu nya Sarah." Ucap opa Win seraya tertawa, opa Win mentertawakan diri nya sendiri.


"Sepupu Sarah? Maksud papa Arman?" Papa Chandra semakin tidak mengerti arah pembicaraan papa nya itu.


"Iya,, sebelum ini Arman pernah melakukan kesalahan besar tapi dia minta maaf dan mengakui dengan sendiri nya semua kesalahan nya tanpa papa meminta, dan papa memberikan dia kesempatan untuk tetap bekerja pada papa." Sejenak opa Win menghentikan ucapan nya.


"Tapi ternyata, dia mengulang kembali kesalahan nya dan mengingkari janji nya untuk setia dan bekerja dengan sungguh-sungguh kepada papa." Nampak raut wajah opa Win sangat kecewa.


"Dan tentang Sarah, beberapa kali papa melihat dia jalan bareng dengan pemuda seumuran Renny dan mereka nampak sangat mesra,,," Opa Win menarik nafas dengan berat dan menghembus nya perlahan. "Beberapa waktu ini papa sedang mengumpulkan bukti perselingkuhan Sarah, agar nanti nya saat kalian berpisah,,, dia akan keluar dari rumah kita dengan tidak mendapatkan apa-apa."


"Kenapa papa diam saja selama ini pa?!" Protes papa Chandra.


"Apa bukti yang papa dapat sudah cukup kuat pa?" Tanya papa Chandra memastikan.


Opa Win Mengangguk, "bahkan, kamu akan tercengang jika tahu kebenaran nya Chandra," balas opa Win sambil geleng-geleng kepala.


suasana di dalam kendaraan milik papa Chandra sejenak menjadi hening.


Hingga tak berapa lama, papa Chandra mengarahkan laju kendaraan memasuki pintu gerbang rumah megah nya.


°°°°°

__ADS_1


Sementara Aditya yang baru saja memasuki unit hunian nya yang tak jauh dari unit hunian Angga, masih merasa khawatir pada sahabat nya itu.


"Apa Angga mampu mengendalikan diri nya? Kalau dia tetap menahan, pasti dia akan sangat tersiksa sekarang,, tapi jika dia melakukan nya, pasti dia akan sangat kecewa dengan diri nya sendiri? Semoga saja besok saat dia tersadar, dia bisa berpikir panjang,,," Aditya bermonolog dengan diri nya sendiri, perasaan nya merasa tidak enak dan takut hal buruk terjadi pada Angga.


"Sebaik nya gue tidur di sofa,,, jika Didi butuh bantuan, gue bisa dengar suara ketukan pintu nya. Dan ponsel, ponsel gue harus segera di charge dan gue letakkan di tempat yang mudah terjangkau. Semoga, semua baik-baik aja," lirih Aditya sambil mengambil charge ponsel nya di dalam kamar.


Setelah semua beres, Aditya pun merebahkan tubuh lelah nya di sofa empuk dan mencoba memejamkan mata nya...


Sedangkan di dalam unit yang lain di lantai yang sama dengan unit milik Aditya, Angga yang sudah tak kuasa lagi menahan hasrat, membawa istri cantiknya keatas pembaringan.


"Maaf kan aku sayang,,, maaf," ucap Angga berulang-ulang sambil terus menghujani wajah istri nya dengan ciuman basah.


Diandra yang awal nya merasa cemas dan khawatir akhirnya hanya bisa pasrah, "lakukan saja apa yang ingin kakak lakukan,, Didi sudah siap kak, jangan di tahan karena pasti sakit rasa nya," ucap Diandra yang berada di bawah kungkungan suami nya dengan lirih.


Angga semakin liar mencumbui istri nya, melepas pakaian Diandra dengan sedikit kasar dan melempar nya begitu saja ke sembarang arah. "Percayalah padaku sayang,, apapun yang aku lakukan, itu karena aku mencintaimu Di, aku menyayangi mu,,, sangat sayang," lirih nya dengan suara bergetar menahan hasrat yang semakin membuncah, dia pun melepas semua pakaian nya dan kedua nya kini telah sama-sama polos.


"Didi percaya kak, Didi juga sangat mencintai kakak,, lakukan tugas kakak sebagai suami Didi, dan jangan pernah merasa bersalah," balas Diandra seraya membelai lembut rambut suami ganteng nya yang tengah menyusuri bukit kembar milik nya dan membuat banyak tanda kemerahan di sana, Diandra mencoba membuat suami nya itu merasa nyaman.


Diandra yang tadi nya hanya diam saja, kini mulai menikmati dan membalas setiap perlakuan suami nya pada nya. ******* suara nya yang lembut saat Angga menyentuh bagian-bagian sensitif nya, membuat Angga semakin bergairah dan tak dapat lagi membendung hasrat nya yang sudah sampai ubun-ubun.


"Maaf sayang,, terpaksa aku melakukan nya sekarang, maaf..." sejenak Angga menghentikan aksi nya dan menatap nanar netra sang istri, sedangkan netra hazel nya tampak berembun.


Dan sejurus kemudian Angga telah benar-benar melakukan tugas nya sebagai seorang suami, suara rintihan Diandra dan lenguhan panjang Angga menjadi saksi bisu bahwa suami dari Diandra tersebut tak lagi mampu menahan hasrat nya.


Diandra merasakan perih di area sensitif nya, ingin dia menangis karena suami nya melakukan nya dengan sedikit kasar. Namun dia mencoba menahan air mata nya agar tidak keluar, Diandra tak ingin membuat suami nya merasa bersalah.

__ADS_1


Meski malam pertama nya tak seperti yang mereka berdua harapkan, tapi Diandra masih bersyukur... karena setidak nya, sang suami tidak melakukan nya dengan wanita lain.


Angga yang masih berada dalam pengaruh obat perangsang, setelah membersikan milik nya dan juga milik sang istri,,, kembali menuntut hak nya untuk di puaskan, dan kembali dia merajai istri nya di bawah kungkungan nya.


__ADS_2