
Hari menjelang sore, papa Chandra baru selesai melakukan operasi terakhir nya. Dengan sedikit tergesa, papa Chandra melepaskan jubah kebesaran nya dan segera melangkah meninggalkan ruangan nya untuk menuju ruang khusus tempat Angga di rawat.
Sesampai nya di ruangan tersebut, nampak opa Win juga masih berada di sana. Opa Win terus memberikan dukungan nya untuk Diandra, dan Diandra pun terlihat senang dengan kehadiran opa Win,, dia merasa memiliki seorang kakek, rasa yang selama ini tak pernah dia rasakan sama sekali.
Papa Chandra langsung ikut duduk di sofa, bergabung bersama opa Win dan juga Diandra. "Papa nyampai sini jam berapa tadi?" Tanya papa Chandra pada opa Win.
"Sekitar jam sebelas," balas opa Win singkat.
"Nak Didi kok cuma sama papa, nak Ditya dan kakak nya Angga kemana?" Tanya papa Chandra melihat kearah Diandra dengan penuh perhatian.
"Kak Shinta lagi ke kantin om, kalau bang Aditya ke bandara menjemput mama dan ibu." Balas Diandra.
"Mama,, ibu?" Opa Win bergumam.
"Mama Dewi, mama nya kak Angga. Kalau ibu, ibu nya Didi opa," Diandra menjelaskan.
Opa Win mengangguk-angguk.
"Gimana kondisi nak Angga nak Didi?" Tanya papa Chandra melirik ke ruangan khusus tempat Angga terbaring.
Didi menggeleng lemah, "masih sama om," balas nya dengan wajah sendu, netra indah nya kembali berembun.
"Yang sabar ya nak Didi, semoga suami mu bisa lekas sadar dari koma nya," ucap papa Chandra sambil menepuk punggung tangan Diandra dengan lembut.
"Makasih om," balas Diandra tersenyum sambil menoleh kearah papa Chandra, sesaat netra mereka saling bertaut.. Didi merasa kan ada ketulusan dan kehangatan dari tatapan papa Chandra.
"Emm om,, pertanyaan Didi yang tadi belum sempat om jawab," ucap Diandra mengingatkan kembali pada papa Chandra tentang pertanyaan nya mengenai hubungan nya dengan ibu kandung nya.
"Oh,, iya, tentang Diana ya?" Papa Chandra tersentak dan kemudian membetulkan duduk nya.
__ADS_1
Diandra mengangguk,,
"Nak Didi, kemarin opa sempat bertemu dengan bu Wati,,, apa benar sekitar setengah tahun yang lalu nak Didi dan nak Angga mencari orang yang bernama Hadi Winata?" Opa Win memotong pembicaraan mereka berdua, dan bertanya kepada Diandra.
Diandra mengerutkan kening nya, "oh iya, benar opa? Opa kenal sama beliau?" Tanya Diandra penuh harap.
Opa Win mengangguk,, "untuk apa nak Didi ingin menemui nya?" Tanya opa Win ingin memastikan keyakinan nya.
Belum sempat Diandra menjawab pertanyaan opa Win, terdengar pintu ruangan dibuka dari luar. Nampak Shinta masuk bersama seorang laki-laki, mereka berdua tersenyum kearah opa Win serta papa Chandra dan kemudian ikut duduk di sofa bergabung bersama Diandra dan kedua tamu nya.
"Om, sudah selesai tugas nya?" Tanya Shinta tersenyum ramah.
"Sudah, baru beberapa menit yang lalu nyampai sini,' balas papa Chandra.
" Oh ya opa, om.. kenalin, ini bang Rama suami nya Shinta," ucap Shinta memperkenalkan suami nya.
Rama kemudian menyalami kedua orang tua tersebut dengan sopan, dan kemudian kembali duduk di tempat nya.
Kening papa Chandra mengernyit, "oh iya, anda dosen dari Universitas yang mengadakan seminar itu kah?"
Rama mengangguk, "iya dokter," ucap Rama membenarkan.
"Panggil om saja, nak Rama. Biar lebih akrab, dan lebih enak di dengar," tukas papa Chandra sambil tersenyum hangat.
"Iya, baik om,," balas Rama tersenyum lebar.
"Oh iya, nak Rama. Ini papa ku, papa Win," papa Chandra mengenalkan bahwa laki-laki yang duduk di samping Diandra adalah papa nya, "nak Rama ini kakak ipar nya nak Angga atau kakak kandung nya?" Tanya papa Chandra tak ingin menduga.
"Saya kakak ipar nya om," balas Rama.
__ADS_1
Tengah asyik ngobrol, kembali pintu dibuka dari luar. Nampak Aditya masuk bersama dua orang wanita paruh baya.
"Angga,," mama Dewi langsung menuju dinding kaca dan menatap nanar sosok sang putra yang tergolek lemah dengan berbagai alat medis di tubuh nya, mama Dewi tak kuasa menahan tangis nya. Punggung nya nampak berguncang hebat karena menahan isak.
Aditya yang mengekor di belakang nya, langsung memeluk mama Dewi dari samping. "Sabar ya ma, jangan seperti ini,, kasihan Didi jika mama menangis. Kita harus lebih kuat, agar Didi juga kuat," bisik Aditya di telinga mama angkat nya.
Mama Dewi menyeka air mata nya, sekuat tenaga dia mencoba untuk menghentikan air mata nya yang seakan enggan berhenti mengalir. "Kamu benar Dit,, kita harus kuat dan memberi dukungan untuk Didi," balas mama Dewi seraya menyandarkan kepala nya di bahu putra angkat nya, netra nya terus memandangi tubuh putra nya yang penuh dengan luka.
Sedangkan Diandra langsung beranjak menghampiri bu Rahma, dan memeluk ibu nya itu. Diandra kembali menangis dalam pelukan bu Rahma, "Ibu,,, kak Angga bu, kak Angga belum sadar juga dari tadi," ucap nya sambil menangis pilu.
Dengan lembut, bu Rahma membelai rambut putri nya, "sabar ya nak, perbanyaklah berdo'a dan meminta sama Allah agar suami mu segera sadar dan sembuh seperti sedia kala," ucap bu Rahma dengan lembut.
Opa Win dan papa Chandra saling pandang,
"Ibu,,? Kenapa Didi memanggil wanita itu ibu? Lalu kemana Diana? Bukan nya tadi Didi bilang kalau mama mertua nya dan ibu nya yang akan datang? Kenapa wanita itu?" Papa Chandra bermonolog dalam hati, menatap Diandra dan bu Rahma bergantian.
Nampak Aditya menuntun mama Dewi menuju sofa, dan mereka berdua pun duduk di sana bersama opa Win dan papa Chandra.
"Ma, kenalin.. beliau ini opa Win dan om Chandra, opa Win adalah pelanggan setia di showroom nya Angga," ucap Aditya memperkenalkan dua orang pria yang masih asing bagi mama Dewi itu.
Tante Dewi mengangguk dan tersenyum ramah, "Saya Dewi, mama nya Angga," mama Dewi berdiri dan menyalami kedua tamu putra nya, wajah cantik nya nampak masih sembab.
"Terimakasih, sudah menyempatkan waktu nya yang sangat berharga untuk menjenguk putra saya,'" ucap mama Dewi dengan lembut, sambil mendudukkan diri nya kembali di tempat semula.
"Tidak perlu berterimakasih bu, saya dan nak Angga serta nak Ditya sudah lama saling kenal. Dan bagi saya, mereka berdua ini sudah seperti cucu saya sendiri." balas opa Win dengan tersenyum hangat, aura wibawanya begitu kuat terpancar.
Mama Dewi mengangguk, dan netra nya tak sengaja memergoki papa Chandra yang terus saja tertuju pada interaksi antara Diandra dan ibu nya yang masih berdiri di dekat pintu sambil berpelukan.
"Bu Rahma itu besan saya pak Chandra, ibu nya Didi," ucap mama Dewi membuyarkan lamunan papa Chandra.
__ADS_1
"Oh,, iya bu," balas nya gugup, meski ada banyak tanya tersimpan di benak nya saat ini namun entah mengapa lidah nya seakan kelu dan tak mampu berkata-kata.