
Tak terasa pernikahan anak kepala sekolah yang melibatkan
Kiki dan rekan kerjanya akan segera berlangsung. Kiki dan rombongan telah tiba
di kediaman Ibu Imah yang merupakan ibu Kiki. Mereka sengaja berangkat pagi
buta untuk menghindari macet dan sampai rumah Kiki pukul 10.00 WIB. Kepulangan putrinya
disambut dengan suka cita.
“Assalamualaikum Bu.”Kiki menyalami ibunya lalu memeluknya
dengan erat.
“Walaikumsalam nak”sambut ibu hangat melepas rindu dengan
anaknya.
Arief menyadarkan keberadaannya dan rombongan dengan
berdehem.
“Ehemm”
“Eh iya Bu kenalkan ini rekan kerja Kiki, ada kak Arief, kak Santi dan Iin.”
Kiki melepaskan pelukannya dan mengenalkan mereka pada ibunya.
“Selamat datang di gubuk kami, maaf tempatnya berantakan ya
nak” ucap ibu merendah.
“Perkenalkan bu saya Arief” ucap Arief menyalami ibu Kiki.
“Saya Santi bu” kak Santi berdiri disamping Arief maju dan menyalami
ibu.
“Halo bu saya Iin" sapa Iin ramah pada ibu Kiki juga menyalaminya.
“Mari silahkan masuk anggap saja rumah sendiri.” Ibu Imah
mempersilahkan mereka masuk dan menempati kamar masing-masing. Rumah dengan
desain minimalis yang tidak terlalu besar namun nyaman itu punya beberapa
kamar. Di depan rumah terdapat pohon mangga dan beberapa tanaman bunga menambah
rindangnya suasana rumah tersebut.
Kiki sengaja membawa mereka kerumah untuk mengenalkannya pada
sang ibu sekaligus untuk membalas kebaikan mereka selama ini yang telah
membantunya di perantauan.
Tidak terasa sudah memasuki jam makan siang, setelah menata
barang mereka di kamar masing-masing. Mereka berkumpul di ruang tengah untuk
makan secara lesehan. Di ruang tengah sudah tersaji sayur sop, sebakul nasi ayam
kremes dan juga sambal. Semua telah berkumpul untuk menyantap makan siang.
“Mari silahkan di makan nak.. maaf ya hanya seadanya” bu Imah
mempersilahkan.
“Ini sudah lebih dari cukup bu.. terimakasih malah jadi
merepotkan” ucap kak Santi mewakili.
Arief dan Iin hanya tersenyum canggung.
“Tidak repot kak, kalau mau nambah silahkan jangan sungkan
hehe” Kiki juga mempersilahkan.
Mereka menyantap dengan lahapnya di selingi dengan obrolan
ringan basa-basi seputar pekerjaan dan latar belakang masing-masing.
Selesai makan siang Kiki dan rombongan menuju gedung tempat anak
kepala sekolah melangsungkan pesta pernikahan untuk mengatur set dan lain-lain.
Karena pernikahan dilaksanakan esok hari.
“Bu kami pamit dulu mau ke gedung untuk persiapan pernikahan
besok ”pamit Kiki pada ibunya di ikuti oleh teman yang lain.
“Hati-hati ya nak”
“Iya bu.. Assalamualaikum” salam Kiki.
‘’Walaikumsalam” Ibu Kiki.
Kiki dan rombongan melajukan mobilnya menuju gedung yang
berjarak 1 jam dari rumahnya. Setelah menyelesaikan persiapan tak terasa sudah
hampir petang. Kiki dan rombongan keluar dari gedung. Kiki mengajak rombongan
untuk jalan-jalan sejenak di alun-alun dekat rumahnya. Setengah jam berkeliling
akhirnya mereka kembali ke rumah Kiki. Dirumah Ibu sudah menyiapkan makan malam
untuk menjamu teman-teman Kiki itu. Sebelum makan Kiki memperkenalkan Isa yang
ikut bergabung untuk makan malam.
“Oh iya.. perkenalkan ini adik Marwa namanya Adeisa.. Isa ayo
perkenalkan dirimu pada teman-teman kakak” pinta Kiki pada adiknya. Walaupun
jarak umur mereka amat jauh namun sangat akur dan saling menyayangi.
“Halo semuanya perkenalkan saya Isa” ucapnya singkat, karena
memang Isa adalah anak yang memiliki sifat tertutup dan sedikit cuek. Tidak
mudah baginya untuk dapat akrab pada orang-orang baru. Namun ketika sudah akrab
maka sejujurnya ia merupakan pribadi yang hangat. Walau kadang moodnya yang
berubah-ubah maklum remaja labil.
“Ini kak Santi, kak Iin dan kak Arief” Kiki
memperkenalkan rekan kerjanya satu persatu.
“Hay kak Santi, kak Iin dan kak Arief” balas Isa lagi-lagi
singkat dengan senyum canggung dan menundukkan kepala hormat.
“Halo gadis manis” sahut kak Santi tersenyum.
“Hay anak baik mirip sekali dengan mba Marwa cuma ini versi imutnya hehe” sapa Iin.
Arief hanya tersenyum. Dari perkenalan singkat itu, Isa hanya
nyaman dengan Iin sedangkan dengan Arief ia merasa tidak suka, karena baginya
lelaki dengan perawakan agak gondrong dengan sedikit brewok itu sedikit
menyeramkan. Sedangkan pada kak Santi ia masih sungkan.
Setelah perkenalan singkat itu, mereka menyantap makan malam
dengan tenang namun diselingi obrolan ringan.
***
Di rumah Yovi.
Setelah makan malam Yovi bergegas ke kamarnya, berbaring pada
sofa yang berada dekat jendela. Pikirannya kembali menerawang, memikirkan Kiki.
Ditengah lamunannya ponselnya tiba-tiba berdenting tanda ada pesan masuk..
Ting..ting..ting..
“Hay pak.. sudah tidur
kah. Ini saya Vika maaf malam-malam mengganggu..”
“Sekedar mengingatkan besok ada kondangan anak pak kepala sekolah..”
“Bapak datangkan?”
Arief membaca pesan beruntun itu dengan seksama ia menatap lekat
benda pipih persegi itu, lalu ia menautkan alisanya tidak biasanya Vika
mengirim pesan pribadi seperti ini. Memang Vika sering mengiriminya pesan
tetapi itu berkaitan dengan urusan sekolah.
__ADS_1
Yovi ragu apakah harus membalas pesan yang menurutnya tidak
penting itu, namun akhirnya ia memutuskan untuk membalas dan berterimakasih
karena sudah diingatkan akan agenda itu. Sejujurnya Yovi hampir lupa akan
undangan itu karena aktivitasnya yang cukup padat.
“Terimakasih bu vika
telah mengingatkan, iya jika tidak
berhalangan saya akan datang” balas Yovi singkat.
Tidak berapa lama ponsel berdenting lagi..
“Bapak datang bersama
siapa?”
“Jika tidak keberatan
boleh saya jadi teman kondangan bapak,”
“Kebetulan gedung
acaranya searah dengan rumah saya”
Sejenak ia berpikir haruskah ia datang bersama Vika, namun
jika menolak alasan apa yang akan ia katakan. Lama ia berpikir lalu teringat
akan perkataan Alwi yang mengejeknya jika datang sendiri layaknya jomblo
sangat menyedihkan.
“Iya besok akan saya
jemput” balas Yovi singkat.
Ia lalu berpindah ke tempat tidurnya merebahkan diri dan bersiap untuk tidur.
Di rumah Kiki.
Selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang tamu untuk
berbincang santai setelah itu karena jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB bu
Imah mengajak semuanya untuk istirahat. Ibu Imah, mengajak Kiki dan Isa tidur
di kamarnya sedangkan kak Santi dan Iin menempati kamar Isa. Lalu Arief tidur
sendiri di kamar tamu. Sudah tengah malam namun Arief belum dapat memejamkan
matanya. Mungkin karena berada ditempat baru. Ia lalu menuju dapur mengambil
minum untuk menenangkan pikirannya.
Saat sudah mengambil air tidak sengaja pandangannya tertuju
pada sebuah kardus di dekat rak piring. Cukup lama ia memandangi bingkai foto
itu. Saat ia sudah di kamar pikirannya kembali pada benda yang ia lihat di
dapur itu. Bukankah itu foto SMA Kiki tapi siapa lelaki yang disampingnya, apa
mungkin saudaranya atau mantan pacarnya. Terus saja ia memikirkan hingga lambat
laun kantuk mengalahkannya dan berhasil membawanya ke alam mimpi.
Pagi hari saat matahari belum menampakkan sinarnya bu Imah
sudah terbangun dan bergegas untuk sholat subuh setelah itu menuju dapur untuk
menyiapkan sarapan. Tak Iama Isa menyusul ia duduk di kursi, di meja makan
bundar yang hanya diisi empat kursi. Karena hari ini hari minggu ia sedikit
nyantai.
“Sudah bangun sa” Ibu melirik ke Isa.
“Hemmm.. mau Isa bantu bu?” tawar Isa pada ibu berniat untuk
membantu.
“Kamu potong segitiga nih roti bakarnya lalu taruh di piring
ya” pinta ibu, lalu ibu mulai menyiapkan jus mangga dan jeruk untuk penyegar
saat sarapan.
“Oke” jawab Isa singkat.
kaos merah marun pendek dengan celana training panjang hitam tengah jogging karena
minggu beberapa orang pun melakukan hal yang sama. Ada yang naik sepeda, ada
yang sekedar jalan-jalan untuk menikmati udara pagi yang sangat menyegarkan.
Saat tengah berlari tidak sengaja ia bersinggungan dengan seorang laki-laki
yang sama-sama sedang jogging.
“Maaf mas..” ucap lelaki yang memakai hoddie dan training
panjang hitam yang hanya melihat sekilas ke arah Arief dengan mengatupkan kedua
tangannya di depan dada.
“Oh iya tidak apa-apa mas” Arief menatap lekat laki-laki yang
memiliki postur tidak jauh dengannya yang sama-sama tinggi dengan perawakan
tegap.
Mereka lalu berpisah, namun Arief merasa tidak asing dengan
sosok lelaki itu. Seperti pernah bertemu atau melihat sebelumnya. Terus saja ia
larut dalam pikirannya hingga akhirnya ia telah sampai di tempat parkir. Arief
jogging di area Alun-alun yang semalam ia kunjungi dengan Kiki dan rombongan.
Arief menghela nafasnya perlahan mendudukan dirinya di bangku
dan meluruskan kakinya untuk mencegah ketegangan pada otot. Dilirik jam tangan
nya yang menunjukkan pukul 07.00 WIB ia memutuskan pulang dengan mengendarai
mobilnya kembali kerumah Kiki.
Semua tengah berkumpul di dapur membantu menyiapkan sarapan,
Kiki dan Kak Santi menyajikan nasi goreng dan telur ceplok. Iin dan Isa menata
makanan di tengah ruangan yang sudah digelar karpet. Sedangkan bu Imah berada
di belakang rumah tengah menjemur pakaian. Sejak Kiki bangun ia mengambil alih
dapur dan meminta bu Imah untuk bersantai. Namun bu Imah malah beralih ke
aktivitas lainnya yang tengah menunggu.
Arief masuk dengan pancaran wajah lelah karena belum mandi
sebelum ia masuk ke kamar ia menyapa semua wanita yang tengah sibuk di dapur.
“Wah lagi pada sibuk nih” tegur Arief.
“Eh iya kak.. kakak
darimana kok terlihat lelah” Hanya Kiki yang menanggapi Arief. Iin dan Isa
kompak menatap sekilas lalu kembali
bercanda tawa.
“Habis jogging.. ya sudah aku mandi dulu, gerah nih ” Arief
berlalu menuju kamar tamu untung saja didalamnya terdapat kamar mandi jadi
tidak terlalu repot.
Tepat jam 8.00 WIB semuanya tengah berkumpul lalu menikmati
sarapan dengan tenang. Bu Imah dan Isa menikmati nasi goreng karena sudah rindu
dengan masakan anaknya. Kiki dan Arief menikmati roti bakar dan jus mangga. Iin
dan Kak Santi menikmati nasi goreng dan juga jus jeruk.
Setelah bersantai sejenak Kiki dan rombongan bersiap menuju
gedung pernikahan tempat anak kepala sekolah di gelar. Acara di mulai pukul
14.00-17.00 WIB.
Pukul 09.00 WIB mereka berangkat untuk melakukan persiapan.
Tibalah mereka di gedung tempat acara berlangsung. Didalam sudah ditunggu oleh
pengantin. Dengan cekatan kak Santi merias wajah sang mempelai wanita. Kiki
__ADS_1
juga tak kalah sibuknya ikut merias anggota keluarga yang lain. Sementara Arief
dan Iin mengecek ulang dekorasi dan photoboth yang telah dibuat kemarin.
Dari kejauhan keduanya memberi isyarat ‘Ok’ satu sama lain menandakan semua tampak
sesuai dengan konsep. Iin lalu memasuki ruang dimana Kiki dan Kak Santi berada,
untuk membantu pekerjaan mereka. Setelah dua jam akhirnya selesai sudah semua
kerabat wanita dan mempelai wanita sudah cantik dengan tampilan riasan yang
glamor namun tetap elegan, terbiasa kerja cepat namun dengan hasil yang tetap
memuaskan. Jam menunjukkan pukul 13.45 WIB. 15 Menit tersisa menuju acara
resepsi anak kepala sekolah dimulai.
Di rumah Yovi
Setelah pagi hari jogging dan dilanjut dengan gym ringan, Yovi
bersiap untuk ke resepsi anak kepala sekolah. Yovi mengenakan setelan celana
kain hitam dan atasan batik hitam dengan corak emas. Lalu ia bercermin menata
rambutnya sedemikian rupa, dan menyemprotkan parfum beraroma maskulin itu
menambah kesan gagah.
Jam baru menunjukkan pukul 13.30 WIB Yovi melajukan
mobilnya untuk menjemput Vika. Vika sudah bersiap dan menunggu Yovi di ruang
tamu. Saat ada mobil berhenti di depan rumahnya ia segera bangkit dan
berpamitan untuk pergi.
“Ma, Vika berangkat kondangan dulu ya” pamit Vika pada
mamanya.
“Iya sayang hati-hati ya” Mama Vika melepas kepergian putrinya
dengan senyum sumringah.
Mama Vika sedikit banyak tahu soal Yovi karena Vika beberapa
kali menceritakan tentangya. Walaupun status hubungan yang belum jelas mama
Vika berharap suatu hari nanti Yovi dapat menjadi pendamping anak tunggalnya
itu dan menjadi menantu kebanggaan keluarga.
Vika tengah berada didalam mobil,, dengan menggunakan setelan
kebaya hitam polos dan rok lilit berwarna hitam serta bercorak emas dan hijab
berwarna krem membingkai wajahnya yang cukup tirus itu. Tidak ada janjian
sebelumnya namun siapa sangka keduanya mengenakan warna setelan yang hampir
senada. Orang akan mengira bahwa mereka adalah pasangan yang sesungguhnya.
Jam menunjukkan pukul 14.00 WIB mereka sampai di gedung. Yovi
sengaja berangkat lebih awal untuk menghindari macet karena akhir pekan.
Yovi menurunkan Vika di depan gedung dan menyuruhnya untuk
menunggu didalam. Karena Yovi akan memarkirkan kendaraannya. Saat akan memasuki
gedung pandangannya tertuju pada papan bunga dan seorang wanita yang berdiri di
dekat pintu masuk. Yovi lalu menghampiri dan menerima sesuatu dari wanita itu.
Setelah itu ia bergegas masuk dalam gedung. Saat didalam gedung ia mengedarkan
pandangannya mencari seseorang. Tidak peduli lagi pada keberadaan Vika. Vika
beberapa kali menegur Yovi tapi tetap tak dihiraukan.
Vika yang kesal berlalu menuju tempat duduk di depan
pelaminan. Yovi merasa bersalah mengapa ia tak menghiraukan Vika, akhirnya
menyusul duduk disamping Vika.
“Maaf bu Vika bukan maksud saya untuk mengabaikan Ibu ” sesal
Yovi yang telah merusak suasana hati Vika.
“Bu jangan cemberut begitu nanti cantiknya hilang lo, sayang
kan sudah dandan tapi tidak terlihat.. senyum dong” bujuk Yovi berbisik ke
telinga Vika.
Mendengar itu membuat pipi Vika jadi merona malu, ia pun
kembali tersenyum. Saat tengah menggoda Vika mata Yovi menangkap sosok yang
dicarinya. Menatap tajam pada wanita yang selama hampir sewindu menyiksanya
dengan sebuah penantian. Wanita yang yang telah berhasil memporak porandakan
hati dan perasaannya.
Lama Yovi menatap hingga Vika menggoyang-goyangkan lengannya.
“Pak..pak.. pakkk“ pekik Vika menyadarkan Yovi.
“Ehh” Yovi tersentak dan menoleh ke Vika.
“Ayo pak kita kesana memberi selamat pada kedua
mempelai” ajak Vika, karena beberapa tamu sudah mulai berdatangan.
“Eh.. iya bu” Arief pasrah mengikuti Vika, namun sosok
yang dicarinya telah menghilang. Apa ia bermimpi tapi terasa nyata ia melihat
Kiki berdiri di samping pelaminan, berdiri di sebelah tukang foto sambil
berbincang seru sesekali melihat ke arah kamera.
“Selamat ya Keysha atas pernikahan mu.. semoga kamu dan
suami bahagia selalu dan lekas diberi momongan” ucap Vika tulus dan terselip
do’a didalamnya. Diikuti dengan Yovi.
“Terimakasih bu Vika.. semoga cepat menyusul
juga” balasnya sambil melirik Yovi dan menunjuk dengan alisnya. Vika hanya
tersenyum malu mendengar kata-kata Keysha. Sedangkan Yovi tersenyum canggung menjadi salah tingkah.
“Selamat ya pak kepsek akhirnya terwujud untuk punya
mantu” kini Yovi yang menegur pak kepala sekolah. Saat di sekolah pak kepala
akan tegas dan berwibawa namun ketika di luar akan sangat ramah layaknya berbicara
dengan teman. “Semoga lekas menimang cucu hihi” tambah Yovi.
“Kamu juga segera, kasihan anak orang jangan digantung
lama-lama keburu diambil orang ” ejek kepala sekolah yang berharap Yovi juga
segera menikah. Lagi-lagi Vika yang mendengar hanya tersipu malu.
Mereka kembali ke tempat duduk. Vika mengajak Yovi
untuk menikmati hidangan yang dari tadi telah menggoda lidahnya untuk segera
mencicipi. Hidangan ala pesta kebun yang menyediakan masakan mulai dari asin
hingga manis. Vika memutuskan untuk mengambil steak yang disajikan dalam piring
kecil dan juga jus jeruk. Yovi memutuskan untuk mengambil salad buah dan jus
semangka.
Yovi telah selesai dengan makanannya lagi-lagi ia
menangkap sosok yang ia yakini adalah Kiki. Tanpa pikir panjang ia menghampiri
sosok yang sangat ia rindukan itu.
“KIKI...” sebuah suara yang rasanya tidak asing memanggilnya
serta tangan kekar yang menahannya membuatnya mematung.. tampak raut wajah Kiki
yang pias entah harus menunjukkan ekspresi apa di tengah kegundahan yang melandanya.
***
Selamat membaca...
Mohon dukungannya kakak-kakak semua..
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komennya..
__ADS_1
Terimakasih