
Pukul 19.00 WIB Kiki bersiap ke apotek untuk membeli inhaler sesuai pesan dari bu Mitha.
“Bu Kiki ke apotek dulu ya mu beli inhaler buat Isa, mungkin ibu mau menitip sesuatu” pamit Kiki pada
ibu dengan memegang helm.
“Tidak nak, hati-hati dijalan ya”
“Baik bu, assalamualaikum”
“Walaikumsalam” bu imah mengantar Kiki lalu menutup pintu
kembali.
10 menit mengendarai motornya sampailah Kiki pada sebuah
apotek. Tanpa diduga Yovi sedang berada di apotek yang sama untuk membeli
beberapa vitamin dan obat untuk ibunya. Saat sedang berdiri di etalase barang
tidak sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan seorang gadis. Mereka pun
beradu pandang yang membuat Kiki jadi salah tingkah Yovi hanya tersenyum manis.
“Hay..” sapa Yovi dengan senyum manisnya dan melambaikan
sebelah tangannya. Kiki tidak menjawab ia mengambil barang dan segera menuju
kasir, Yovi mengekori Kiki saat akan membayar Yovi mengantre di belakangnya
lalu menyerahkan barangnya untuk dihitung sekalian.
“Sekalian yang ini ya mba” Kiki masih terdiam menatap sinis
Yovi dan membiarkan kasir menghitung belanjaan mereka.
Saat keluar apotek Yovi masih mengikuti Kiki di belakangnya
lalu berdiri di sampingnya.
“Hay lama tidak berjumpa.. bagaimana kabarmu?” Yovi basa-basi
untuk mengusir kecanggungan.
“Seperti yang kau lihat” Kiki berucap datar dan menatap lurus
kedepan.
“Terimakasih sudah membayar tagihanku”
“Apa-apaan memasukkan tagihan dan membiarkan orang lain yang
membayar bukankah itu pemerasan namanya” Kiki berdecih menatap jengah Yovi.
“Sepertinya ini belum seberapa dibanding yang sudah kulakukan
untuk adikmu”
“Apa kau tidak merasa masih punya hutang dengan ku, masih untung
aku tidak menagihmu”
Yovi mengingatkan bagaimana Ia telah berjasa untuk Kiki.
“Maksudmu..” Kiki ingat tentang misteri siapa yang membayar
tagihan ketika di klinik.
“Apa kamu yang telah membayar tagihan waktu adikku dirawat”
“Hemmm”
“Ah iya maaf untuk itu kamu bisa menunjukkan bukti
pembayarannya akan aku transfer hari ini juga untuk melunasi tagihannya”
“Haha sudahlah, ayo kita mengobrol sebentar di kafe itu.”
“Maaf aku tidak bisa”
“Hemm tagihannya akan aku anggap lunas, bagaimana” Yovi memainkan alisnya
“Ah baiklah” Kiki pasrah mengikuti kemauan Yovi.
Mereka sudah berada di coffee shop.
Suasana begitu hening Yovi mencoba memulai sebuah obrolan. Tidak berapa lama
pesanan mereka datang, 2 gelas kopi dan 1 piring kentang goreng.
“Apa kau ingat saat pertama kali kita bertemu” Yovi berharap
dengan mengingat masa lalu bisa mencairkan kembali hati Kiki yang telah
membeku.
“Mengapa tiba-tiba membahas itu” Kiki tidak ingin terpengaruh
dengan upaya yang dilakukan Yovi walaupun di hatinya masih menyimpan rasa yang
cukup dalam.
“Hanya ingin saja” Yovi mulai mengenang kembali kisah
pertamanya saat bertemu dengan Kiki.
Flashback On
Pagi itu menjadi hari pertama bagi Syakila Marwa atau biasa
di panggil Kiki menjalani masa orientasi siswa atau MOS di sekolah menegah
pertama tetapi sialnya ia terlambat sehingga hampir tidak bisa masuk karena
gerbang akan ditutup saat itu Yovi Febrian atau biasa di panggil Yovi merupakan
kakak kelas yang menjadi penitia MOS dan berjaga didepan gerbang bersama dengan
2 panitia MOS lainnya. Saat sampai gerbang Kiki bertatapan dengan Yovi ia
terpesona dengan tatapan mata coklat itu. Lalu segera sadar dari pikirannya.
“Hufttt hari pertama sudah telat, cepat baris disana” hardik
Yovi bersikap garang agar ditakuti oleh para murid baru itu. Yovi menunjuk
kumpulan siswa yang juga terlambat. Kiki sedikit lega karena Ia tidaklah sendirian.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya mereka diperbolehkan
bergabung bersama siswa lainnya untuk mengikuti MOS hari pertama diisi dengan
upacara penerimaan dan sedikit pengenalan profil sekolah. Saat acara ditengah
lapangan sudah selesai sebelum di bubarkan panitia MOS memerintahkan siswa
yang terlambat agar tetap tinggal namun tidak ada siswa yang mengaku termasuk Kiki.
Panitia MOS yang berjaga di gerbang mulai geram karena tidak ada satupun yang
mengaku.
“Baiklah tidak ada yang mengaku ya” Yovi bersuara dengan
mengedarkan pandangan mengingat wajah-wajah siswa yang terlambat kemudian
pandangannya beradu dengan Kiki seketika Ia menunduk menghindari tatapan Yovi.
“Saya hitung sampai 3 jika tetap tidak ada yang mengaku maka
akan ada hadiah yang menanti kalian” panitia MOS lain yang berjaga di gerbang
ikut bersuara.
“Satu... dua.. “ Yovi mulai menghitung belum sampai hitungan
ketiga Kiki dan beberapa teman lainnya berdiri mengakui bahwa Ia terlambat. Ia
tahu maksud dari ‘hadiah’ tentunya adalah sebuah hukuman.
“Hanya ini saja..” panitia MOS lain mengedarkan pandangan
diantara barisan lain Ia adalah yang bertugas mengabsen di gerbang depan tanpa
sepengetahuan para siswa.
“Baiklah kakak akan memanggil nama kalian satu-persatu karena
seingat saya tadi yang terlambat sekitar 10 orang” panitia MOS lain melirik
Yovi seperti meminta persetujuan Yovi mengangguk tanda mempersilahkan. Kebanyakan
yang tidak mengaku adalah siswa laki-laki
“Kalian berempat kemari, hukuman kalian lari keliling
lapangan sebanyak 5 kali putaran dan kalian yang saya panggil hukuman kalian
sama tetapi setelah itu kalian harus membersihkan kamar mandi. Harus selesai
sebelum jam istirahat kedua kalian mengerti!” para siswa yang terlambat hanya
mengangguk paham dengan perintah kakak seniornya yang setengah berteriak
__ADS_1
memberi perintah.
Entah Kiki harus bersyukur atau bagaimana karena hanya
mendapat hukuman lari lapangan sebanyak 5 putaran untungnya Ia mengaku terlebih
dahulu bersama 3 siswa lainnya 1 diantaranya adalah siswa laki-laki.
“Ini untuk pembelajaran bagi kalian semua jika tidak ingin
mendapat hadiah seperti teman kalian ini maka kedepannya jangan ada yang
terlambat hari pertama saja sudah tidak tepat waktu mau jadi apa kalian ini.
Yovi tersenyum remeh menatap bergantian siswa yang terlambat lagi-lagi
pandangannya terhenti pada Kiki.
Kiki sudah berusaha untuk datang tepat waktu ia terlambat
karena tidak ada yang mengantar hingga ia harus naik bus untuk ke sekolah.
Andai saja ayah masih ada tentu aku tidak akan
terlambat. Kiki mengutuki keadaannya yang baru saja ditinggal ayahnya
dengan perasaan sedih.
Sejak melihat Kiki pada saat itu Yovi sudah jatuh cinta padanya
bisa dikatakan cinta pada pandangan pertama.
Flashback Off
“Sejak saat itu aku sudah mulai jatuh cinta padamu bisa
dibilang cinta pada pandangan pertama, sehari saja tidak melihatmu rasanya
membuatku gila” Yovi memegang gelas kopi dan tersenyum manis menatap Kiki.
“Apa tujuanmu mengatakan ini aku tidak punya waktu sekarang
i..” kalimat Kiki terjeda.
“Ibuku sedang menungguku..” Yovi menirukan kalimat Kiki yang
biasa ia gunakan untuk menghindarinya.
“Sialan mengapa mengatakan itu” Kiki menyilangkan kedua
tangannya.
“Aku sudah tahu isi pikiranmu berhentilah menggunakan alasan
yang sama untuk menghindariku lagi” Yovi yakin jika yang dikatakannya benar.
“Kau salah kali ini adikku yang telah menungguku” Kiki
tersenyum remeh lalu menyesap kopi di tangannya.
“Apa terjadi sesuatu pada adikmu?” Yovi ikut khawatir dengan
keadaan Isa yang bakal menjadi adik iparnya itu walau masih dalam angan-angan.
“Sejak kejadian di danau dia di diagnosa menderita trauma pada
air” Kiki terdiam sejenak kenapa Yovi berhak tahu keadaan adiknya sungguh ia
menyesali kata-katanya.
“Haha memangnya ada trauma semacam itu” Yovi terkekeh
sepertinya sangat tidak masuk akal ada trauma semacam itu.
“Ah sudahlah kenapa juga mengatakan hal yang tidak berguna
padamu” Kiki jengah dengan Yovi Ia berniat untuk berlalu dari hadapannya.
“Permisi” Kiki bangkit dari kursinya.
“Tunggu, aku berhak tahu karena dia juga muridku.. Apa aku
perlu menjenguknya lagi untuk memastikan keadaannya” Yovi menarik sebelah ujung
bibirnya menggoda Kiki.
“Tidak.. itu akan membuat ibuku marah.. ibuku pasti tidak
akan senang ketika aku pulang bersamamu” Kiki mengingat kembali bagaimana
ibunya murka saat melihat Yovi di klinik pada waktu itu.
“Aku datang sebagai gurunya bukan yang lain” kali ini Yovi
benar-benar tulus dengan niatnya.
Kiki tidak akan terpengaruh untuk kedua kalinya.
“Sudahlah aku tidak ingin berdebat denganmu.. Permisi..Terimakasih
untuk kopinya” Kiki segera bangkit secepat mungkin ia melangkahkan kakinya
kembali ke apotek untuk mengambil motornya dan kembali kerumah.
Yovi sadar yang menghalanginya untuk bersama bukan lagi
keluarganya tapi juga ibu Kiki yang sudah berubah terhadapnya. Sebenarnya apa yang
sudah terjadi sehingga ibu Kiki amat membencinya bahkan melihatnya pun enggan masih menjadi tanda tanya
hingga kini.
***
Saat ini Kiki sudah sampai rumah yang disambut rasa penasaran
ibunya.
“Kenapa lama nak.. apa telah terjadi sesuatu? Atau
jangan-jangan kau bertemu dengan bed*bah itu..?!” ibu sangat khawatir jika Kiki
bertemu dengan Yovi sampai kapanpun ibu tidak mengizinkan jika itu terjadi.
“Ti-tidak bu.. mengapa ibu mengira kalau aku bertemu
dengannya?” Kiki gelagapan mengapa ibunya bisa tahu kalau dirinya telah bertemu
Yovi.
“Ibu hanya menduga saja.” ibu tersenyum masam menatap lekat
Kiki.
“Kiki lelah ingin istirahat apa Isa sudah tidur” Kiki
mengalihkan pembicaraan agar ibunya tidak terus penasaran.
“Belum, adikmu menunggumu” ibu mengikuti Kiki yang berjalan
menuju kamar Isa. Ibu Kiki sangat khawatir jika Kiki keluar rumah maka akan
bertemu dengan lelaki br*ngsek itu. Ketika Ibu melihat Yovi kembali ia teringat
peristiwa hari itu yang sangat menyakitkan hatinya hingga sampai kapanpun ibu
tidak akan pernah melupakannya.
“Kok belum tidur dek?” Kiki mendekati ranjang Isa duduk
di tepi ranjang.
“Nunggu kakak” Isa menyandarkan punggungnya pada kepala
ranjang.
“Hemm tumben” Kiki mengerucutkan bibirnya. Ibu datang dan
mengingatkan Isa agar lekas tidur.
“Isa sudah malam ayo cepat tidur ingat kata bu Mitha kamu
harus banyak istirahat” Ibu lalu kembali ke kamarnya. Isa hanya mengangguk
pelan, perhatiannya kembali pada Kiki banyak pertanyaan yang sudah memenuhi
kepalanya.
“Kak, sudah hampir seminggu kakak libur apa kakak akan
kembali bekerja?”
“Tentu sayang”
“Berarti kakak akan bertemu dengan kakak gondrong itu lagi”
“Maksud kamu kak Arief?”
“Hemmm”
“Memangnya kenapa?”
“Sebenarnya apa yang kakak lakukan saat malam itu kak?
__ADS_1
“Maksud kamu?” Kiki membulatkan matanya mendengar pertanyaan
Isa.
“Kakak tidak melakukan hal aneh kan?”
“Bicara apa kamu ini... sudah ayo tidur” Kiki mengubah
posisinya ikut bersandar di kepala ranjang disamping Isa.
“Tunggu kak.. Aku tidak akan tidur kalau kakak tidak cerita
yang sebenarnya” ancam Isa yang menatap tajam pada kakaknya.
“Apa yang ingin kamu tahu rentang kak Arief” Kiki pasrah jika
adiknya sudah mulai merajuk.
“Semuanya.. Apa kakak pacaran dengan kakak gondrong itu” Isa
bertanya dengan tatapan menyelidik.
“Kalau iya kenapa” sengaja Kiki berbohong ingin memancing
reaksi Isa.
“Aku tidak akan mendukung kakak jika kakak menjalin hubungan
dengan kak gondrong itu” Isa mendengus mendengar jawaban kakaknya.
“Kenapa begitu” Kiki menautkan alisnya apa alasan Isa
mengatakan hal itu.
“Aku pikir dia seperti orang jahat kak aku tidak suka, saat berada
di rumah ini saja dia berani membawa kakak keluar walaupun saat tengah malam”
Isa meluap-luap dengan kalimatnya ia sangat tidak menyukai Arief.
“Apa yang kamu bicarakan dek, kakak tidak mengerti”
“Kakak dan kak gondrong pernah keluar bersama saat tengah
malam kan bahkan hampir pagi kakak baru pulang” Isa mengungkapkan rasa
penasaran yang selama ini bersarang di kepalanya.
“Bagaimana kamu tahu?” Kiki menatap lekat adiknya sejauh mana
ia tahu kejadian malam itu.
“Sebenarnya..itu.. terjadi saat aku terbangun untuk buang air
kecil tapi ketika aku keluar dari kamar mandi tanpa sengaja aku melihat kakak baru
pulang dengannya” Isa mulai mengingat lagi yang terjadi pada malam itu.
“Lalu?”
“Aku memutuskan untuk
segera masuk ke kamar karena tidak mau kalian melihatku..Apa telah terjadi
sesuatu pada kalian?” tanya Isa menyelidik.
“Tentu saja tidak dek, maaf sudah membuatmu khawatir” Kiki
menggenggam jemari adiknya berusaha menenangkannnya.
“Apa itu sebabnya kau terlihat kesal pada kakak di pagi itu?” Kiki
menatap datar adiknya.
“Tentu kak, aku sangat tidak ingin kakak punya hubungan
dengan kakak gondrong itu” Isa terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
“Kamu tenang saja kakak janji tidak akan pernah terjadi
apapun antara kakak dan kak Arief” Kiki tidak berharap punya hubungan apapun
pada orang yang sudah diangganya sebagai kakak
“Baiklah aku percaya pada kakak, oh iya saat kejadian di danau
apa kakak ingat siapa orang yang telah menyelamatkanku?”
“Hemm tentu kakak ingat, kenapa tiba-tiba bertanya tentangnya?”
“Orang itu guru kak, guru olahraga di sekolah ku yang sangat
populer karena ketampanannya hingga membuat siswa perempuan tergila-gila padanya
walaupun beliau sangat dingin dan sombong bahkan beliau menjadi rebutan
guru-guru muda juga kak” tanpa diminta Isa menceritakan tentang Yovi.
“Benarkah..” Kiki tersenyum remeh mengetahui satu fakta
baru tentang Yovi.
“Iya kak, bagaimana mungkin kita bisa berada di tempat yang
sama bahkan pak guru menolongku saat aku nyaris tenggelam” Isa nampak
berkeringat dingin lalu Kiki memeluk untuk menenangkannya.
“Sudahlah jangan membahasnya” Kiki mengusap lembut rambut
Isa.
“Jika saat itu tidak ada pak guru aku tidak tahu apa yang
akan terjadi padaku.. mungkin aku sudah..” seketika nafasnya tercekat sesak
yang ia rasakan.
“Sudah kakak bilang jangan kamu ingat lagi kejadian itu” Kiki
lalu meraih inhaler yang baru
dibelinya lalu memakaikannya pada Isa.
“Jangan dibahas lagi ya, tenangkan dirimu” Isa hanya
mengangguk pelan mengatur lagi nafasnya yang tersengal. Setelah nafasnya
kembali teratur Kiki dan Isa perlahan tertidur.
Hari-hari dijalani seperti biasa Kiki dengan telaten menemani
Isa terapi mandiri setiap malam untuk mendengarkan suara air, melihat
pemandangan danau dan laut.
Pagi hari Kiki dan Isa berada di ruang keluarga sedang
menonton TV menikmati jus dan juga camilan.
“Dek libur kakak sudah hampir selesai nih, besok kakak akan berangkat
kerja.. kamu masuk sekolahnya kapan?” Kiki meneguk jus setelah bicara pada Isa.
“Masih minggu depan kak” Isa masih fokus menatap layar datar
di hadapannya itu.
“Begitu ya.. kamu nggak papa kan kakak tinggal?”
“Iya kak nggak papa lagian ada ibu juga yang nantinya bisa membantuku,
terimakasih kakak sudah menemaniku tidur hehe” Isa tersenyum memamerkan
gigi putihnya dan menatap Kiki lekat.
“Baguslah, kamu pasti bisa dek melewati ini semua kakak yakin
itu” Kiki berharap adiknya lekas pulih dari traumanya itu.
“Iya kak aku harus sembuh, oh iya kata bu Mitha aku harus
sering-sering kontak dengan air, salah satunya dengan berenang kak” setelah
kedatangan bu Mitha, Isa mengetahui bahwa dirinya mengalami trauma pada air karena kejadian di danau yang
hampir merenggut nyawanya.
“Benarkah, bagaimana kalau besok sebelum kakak berangkat kita
renang dulu” tiba-tiba ide mengajak Isa berenang muncul begitu saja.
“Boleh sekalian main, bosen di rumah terus” Isa menyambut
ajakan Kiki dengan wajah berbinar akhirnya setelah beberapa hari terkurung
dirumah Ia bisa kembali menikmati udara luar. Beberapa hari menjalani terapi
mandiri Isa sudah mengalami kemajuan, ketakutannya terhadap air lambat laun
berkurang.
***
__ADS_1
Selamat membaca...
Jangan lupa tinggalkan jejak kakak-kakak...