Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Pak Guru Tampan


__ADS_3

Hari-hari ia jalani seperti biasa tidak ada yang membuatnya


istimewa. Bangun sendiri, menyiapkan keperluan sendiri. Sungguh ia sangat


terbiasa dengan kesendirian. Pagi-pagi iya telah bersiap untuk berangkat ke


sekolah, dengan mengendarai roda empat kesayangannya.


“Ayah, Mama Yovi berangkat dulu.. Assalamualaikum” pamitnya


pada kedua orang tuanya.


“Walaikumsalam” jawab keduanya bersamaan.


“Hati-hati dijalan ya nak semoga harimu lancar” tambah ibu


melepas kepergian anaknya selalu terselip do’a setiap anaknya pergi. Agar


dimudahkan segala urusan dan selamat sampai tujuan.


Di sekolah


Setelah memarkirkan kendaraan lalu berjalan memasuki gedung


satu lantai itu, sekolah swasta yang cukup luas dengan dominasi warna abu-abu


putih mengeliling yang terbagi dalam beberapa blok. Terdapat ruang-ruang kelas


yang cukup banyak. Ruang kantor untuk tenaga pendidik, lapangan basket dan


lapangan bola juga tersedia. Taman yang terawat dan juga perpustakaan menjadi


pelengkap sekolah yang tidak jauh dari tempat tinggalnya itu. Tidak lupa


terdapat kantin yang lumayan luas dengan pilihan makanan yang beragam.


Di ruang guru Yovi menempati ruang paling depan, mungkin ini


sengaja sebagai penyambut guru-guru yang lain dengan wajah tampannya.


Siswa-siswa menjulukinya Pak Guru Tampan bukan tanpa alasan,


postur yang tegap, rahang yang tegas rambut yang tertata rapi selalu menghiasi


dirinya. Cukup menarik perhatian apalagi bagi siswa perempuan yang tengah puber,


remaja labil yang menggebu-gebu mencari perhatian lawan jenis. Segala cinta


monyet dan hal-hal baru lainnya yang membuat mereka penasaran.


Melihat dirinya selalu dikelilingi wajah-wajah lugu nan polos


mengingatkannya saat pertama kali bertemu dengan Kiki. Selain sebagai guru


olahraga, Yovi juga merangkap sebagai pelatih ekstrakurikuler basket. Sudah


banyak prestasi yang disumbangkan dari tim basketnya untuk sekolah sering


menjuarai ajang pertandingan baket antar daerah bahkan tingkat nasional. Sudah


mengajar ketika belum lulus kuliah membuatnya mudah beradaptasi dengan


lingkungan kerjanya itu.


Selain menjadi idola para siswa perempuan, Yovi juga populer


dikalangan guru bahkan hingga ke sekolah lain. Banyak guru-guru yang


menginginkannya untuk jadi menantu, atau dikenalkan dengan kerabatnya. Selain


itu juga banyak guru muda wanita lainnya yang berlomba-lomba mencari perhatian


padanya. Bahkan ia di gosipkan menjalin hubungan dengan salah satu guru


tersebut.


Yovi tahu akan kabar burung itu.. ia tidak membenarkan atau menolak


kabar tersebut. Hal tersebut sengaja ia lakukan untuk melindungi diri, bukankah


hal itu bagus jika orang lain tahu bahwa ia memiliki seseorang. Kenyataannya


sampai kapanpun ia tidak akan membuka hatinya untuk wanita lain. Hatinya seolah


tergembok rapat. Hanya Kiki seorang, kunci yang mampu membuka kembali hatinya.


“Selamat pagi pak, bu” sapa Yovi pada tenaga pendidik yang


telah hadir.


Yovi termasuk guru yang rajin. Pagi-pagi sekali sudah hadir


di sekolah.


Jam menunjukkan pukul 9.10 WIB. Tanda jam mata pelajaran


kedua segera dimulai hari ini adalah jadwalnya mengajar di kelas 2.


Yovi tengah menunggu di lapangan bola. Mata pelajaran yang


akan dilakukan adalah pelajaran softball. Semua siswa telah berkumpul. Lalu ketua kelas dan beberapa anak yang lain


memimpin pemanasan sebelum olahraga dimulai hal ini dilakukan untuk mencegah


terjadinya cedera.


Yovi pun mulai menerangkan materi dengan seksama, siswa


mengikuti teori singkat itu.


“Sekian materi dari saya.. apakah ada yang mau bertanya” Yovi


menutup penjelasannya.


Salah satu siswa mengangkat tangan, dan mulai bertanya.


“Saya pak” acung siswa yang diketahui bernama Sherly itu.


“Ya silahkan Sherly”


“Bapak hari ini sarapan apa?” siswa dengan berani memberi


pertanyaan diluar materi yang baru saja diterangkan.

__ADS_1


“Nasi.. sama seperti kalian” heh bocah pertanyaan macam apa itu. Gumam Yovi.


“Bohong.. pasti bapak sarapan bohlam kan” Sherly mulai


menggombal.


“Mengapa begitu” Yovi menautkan alisnya mencerna kemana arah


pertanyaan bocah pemberani itu.


“Iya pasti bapak sarapan bohlam karena sinar ketampanan wajah


bapak menyilaukan hati ku” ucap Sherly polos sambil menyentuh jantungnya dengan


kedua telapak tangannya dan seolah akan ambruk kebelakang.


Akibatnya siswa menjadi gaduh bersorak huuuuuu dan saling mendorong atas sikap berani Sherly, cie..cie.. sahut siswa yang lain.


“Shhhhhh..sudah-sudah.. sekarang giliran praktek bermain softball” Yovi menangkan keributan itu.


Praktek dipimpin oleh ketua kelas. Yovi hanya sebagai


pengamat dan sesekali memberikan arahan setelah satu jam bermain softball. Akhirnya jam pelajaran telah


usai para siswa kembali ke kelas dan Yovi membereskan alat yang telah dipakai.


Saat kembali dari gudang ia berpapasan dengan bu Navika salah


satu guru muda yang di gosipkan sebagai pacarnya itu.


“Baru selesai kelasnya pak?” tanya Navika canggung.


“Hemm iya bu Vika.. permisi saya duluan” Yovi berlalu


meninggalkan bu Vika yang terpesona oleh senyum manisnya. Hal itu membuat hati


dan pikiran bu Vika menjadi kacau. Ia sangat berdebar ketika berhadapan dengan


rekan kerjanya itu.


Jam menunjukkan 12.00 WIB sudah waktunya makan siang beberapa


guru terlihat menuju ke kantin begitu juga dengan para murid.


“Bro ke kantin yuk.. makan siang sebelum rame” ajak pak Alwi yang


merupakan teman Yovi.


Yovi hanya mengangguk lalu mereka menuju kantin. Setelah 10


menit pesanan mereka datang. Yovi memesan soto ayam dan es jeruk sedangkan Alwi


memesan nasi rames dan es teh. Saat hendak makan, Alwi melihat Vika bersama


temannya yang juga akan makan siang.


“Bu Vika mau makan siang, sini gabung bersama kami.” Pinta


Alwi menunjuk bangku dengan matanya. Mengisyaratkan bahwa ada bangku kosong


untuk mereka.


Yovi tidak menghiraukan dan hanya sibuk dengan minumannya.


Vika memesan nasi ayam penyet dan es jeruk sementara temannya


memesan siomay dan juga es jeruk.


Disela-sela makan siang mereka berempat tiba-tiba Alwi


menanyakan sesuatu yang tidak terduga.


“Bagaimana hubungan mu bro dengan bu Vika”


Yovi dan Vika yang tidak menyangka mendapat pertanyaan itu


tersedak secara bersamaan. Yovi lantas melirik tajam ke Alwi.


“Wah..wah tersedak saja bisa bersamaan. Sungguh serasi, ya


tidak bu” tanya Alwi pada teman Vika. Yang hanya dibalas dengan senyuman.


Yovi yang geram lantas menginjak sepatu Alwi. Ia pun hanya


mengaduh.


Wajah Vika yang telah merona sedari tadi hanya bisa menunduk


menahan malu. Lalu mengajak temannya untuk menyudahi makan siangnya.


“Pak Alwi, Pak Yovi.. kami permisi dulu” ucapnya lalu bangkit


dari tempat duduk dan menarik lengan temannya untuk segera pergi.


“Mengapa terburu-buru bu.. makanannya kan belum habis” Alwi


berusaha menahan Vika dan temannya agar tidak buru-buru pergi.


“Kami sudah kenyang” Vika menarik lengan temannya dengan


kasar.


“Bro Yovi, akan tetap mencintaimu walau engkau gendut


sekalipun bu”  Sontak Yovi langsung menyikut


lengan Alwi dengan kuat.


Vika wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Segera berjalan


cepat menuju kantin untuk membayar dan berlalu dari tempat itu.


***


Di kantor


Seperti biasa Arief mengajak Kiki untuk makan siang, kak


Santi dan Sherif sudah datang ke kantor maka ia menolak ajakan tersebut karena


ingin bermain bersama Sherif.


“Mawar ayo kita makan siang” ajak Arief berjalan menghampiri

__ADS_1


Kiki.


“Dibungkus saja kak makan siangnya” Kiki menatap sekilas lalu


kembali bermain dengan Sherif.


“Maksutnya?”


“Aku mau menemani Sherif main kak, kakak beli makan siangnya


sama Iin saja sana sekalian ajak dia jalan-jalan”


“Enggak ah, kalau begitu kakak order saja”


“Ya sudah kakak order belikan untuk semua ya hehe”


“Mau makan apa?”


“Sepertinya ayam penyet enak kak”


“Oke”


Arief pun membuka aplikasi kemudian memesan makanan untuk


mereka berempat.


Sore hari


Bu Mira kembali ke kantor sesuai janji tadi siang. Dengan


semangat Kiki menyambutnya.


“Mari bu langsung ke ruang ganti” ajaknya pada Bu Mira.


Setelah siap dengan gaunnya kemudian mereka berpindah ke ruang make up.


“Bu Mira.. ini kak Santi yang akan merias wajah ibu” Kiki menatap


kak Santi dan menunjuk sopan dengan tangannya.


“Kamu yakin hasilnya akan bagus” dengan nada meremehkan.


“Tentu bu, kak Santi sudah berpengalaman di bidangnya sudah


ratusan wajah yang ia rias bahkan beberapa kali pernah merias artis juga..


benar begitu kan kak” Kiki menyikut kak Santi pelan untuk meyakinkan ucapannya.


“Iya bu betul..” Dengan hati-hati kak Santi mulai memulas


wajah bu Mira. Garis-garis yang tertarik di wajahnya berusaha semaksimal mungkin


di samarkannya dengan bedak.


Setelah satu jam bergelut dengan kuas dan alat lainnya


akhirnya selesai juga merias wajah bu Mira. Dilihatnya pantulan dirinya di


cermin, diamati dengan seksama takut kalau ada yang kurang. Ia pun bangga


dengan hasil karya kak Santi yang dapat menyulap dirinya terasa 10 tahun lebih


muda.


“Bagaimana bu dengan hasil riasan saya.. apakah ibu puas?” kak


Santi melirik bu Mira dari samping tampak tersenyum simpul yang artinya menyukai


riasannya.


“Lumayan. ” ucapnya gengsi mengakui bahwa memang dirinya


terlihat cantik akibat kepiawaian kak Santi meriasnya.


“Marwa coba kamu lihat adakah yang kurang”


“Iya bu ada yang kurang” jawabnya terjeda “Kurang ajar,,


kalau sampai ada yang bilang ibu tidak cantik hehe”


“Ah kamu ini bisa saja” bu Mira tersenyum malu mendengar


pujian Kiki.


Bu Mira bergegas pamit karena hari sudah petang takut telat


datang ke acara tersebut.


Setelah lelah melayani pelanggan rempong akhirnya semua


bersiap untuk pulang. Arief berniat untuk mengantar pulang Kiki tetapi Kiki


menolak. Kak Santi dan Sherif sudah pulang dijemput Rafi suaminya. Sedangkan


Iin sudah pasti menggoes bersama sepedanya.


“Mawar ayo ku antar pulang”


“Tidak usah kak, biar aku pulang sendiri saja lagian aku mau


mampir ke supermarket”


“Ya sudah ayo ku antar ke supermarket”


“Tidak usah kak.. lagi pula aku rindu dengan motorku hehe”


“Beneran nih tidak mau diantar?”


“Beneran kak tidak usah”


“Ya sudah tunggu disini kakak kebelakang dulu mengambil


motormu”


Setelah perdebatan tidak penting itu, Arief mengalah dan


mengambil motor Kiki. Merekapun berpisah melajukan motor masing-masing kembali


memecah kebisingan jalanan ibu kota.


***


Selamat membaca..

__ADS_1


__ADS_2