
Jam sudah menunjukkan
waktu pulang, kak Santi sudah pulang terlebih dahulu karena Rafi menjemputnya
lebih awal entah disengaja atau tidak, tinggal Arief dan Iin yang berada di
kantor. Iin tidak akan pulang sebelum para atasannya keluar kantor terlebih
dahulu. Iin masih setia di meja kerjanya menunggu Arief yang tak kunjung
keluar. Arief yang berada di ruang editing sebenarnya gelisah maju mundur di
depan pintu.
Padahal biasanya ia
akan cuek dan pulang begitu saja. Namun hari ini terasa lain Ia jadi canggung
jika akan berhadapan dengan Iin. Ia teringat perkataan kakak nya untuk meminta
maaf pada asisten itu.
Sial kenapa aku jadi gugup begini.Arief
mengutuk dirinya sendiri.
Akhirnya Arief keluar seperti
ada yang menggerakkan kakinya Ia menuju meja Iin. Tidak biasanya Ia bertanya
jadwal pekerjaan terlebih dahulu.
“Apa jadwal pekerjaan
ku dekat-dekat ini” suara nya menggelegar mengagetkan Iin sontak Ia bangkit
dari duduknya.
“Hah.. eh.. ja-jadwal
yang terdekat... lu-lusa ada pemotretan dengan perusahaan X mas” Iin tergagap.
Arief menautkan
alisnya rupanya Iin berhasil menjadwal ulang pemotretan di perusahaan temannya
itu.
“Ada lagi?” tanya Arief datar.
“Sementara itu dulu
mas yang terdekat.. sudah mau pulang mas?” tanya Iin memastikan.
“Iya” jawab Arief
singkat.
Iin lalu mengambil tas
dan juga bersiap pulang.
“Kamu pulang masih
naik sepeda butut itu?” tanya Arief ketus nada mengejek.
Iin menghentikan
langkahnya dan menoleh pada Arief.
Pertanyaan macam apa itu, sungguh itu mulut apa cabe rawit
kenapa begitu nyelekit.Batin Iin.
“Eh iya mas” jawab Iin
singkat.
“Nggak capek
apa goes terus!” ucap Arief ketus.
Dih ni orang kenapa sih tumben banget nanya, niat peduli
atau cuma mau menghina ku.Batin Iin lagi.
“Sudah biasa mas” Iin
tersenyum manis menahan kesal.
“Ya sudah ayo bareng
aku saja kebetulan aku mau ke arah barat biar sekalian lewat” Arief sok tahu arah
rumah Iin.
“Tapi rumah saya ke
arah timur mas” ucap Iin menunjuk dengan telunjuknya. Mbekkk.. tiba-tiba terdengar suara kambing.
Arief menggaruk kepalnya
yang tak gatal.
“Ma-maksut saya ke
timur sudahlah ayo keburu jalanan macet” ucap Arief menahan malu.
“Terus sepeda saya
bagaimana mas?” Iin bingung dengan nasib sepedanya walau di kata butut oleh
Arief tapi itu harta berharganya.
“Taruh belakang saja”
ucap Yovi ringan.
“Tapi..” ucap Iin terjeda.
“Mau di pecat karena
membantah perintah bos” canda Arief dengan menyilangkan tangannya.
“Eh tidak mas. Ya sudah
saya kebelakang dulu.” Iin panik dan melambaikan kedua tangannya tanda menolak.
Iin bergegas kabur memindahkan sepedanya ke belakang kantor.
Sejak kejadian Kiki
menolak untuk naik motornya, Arief memilih mengendarai mobil perusahaan untuk kemana-mana.
Arief dan Iin sudah
berada di dalam mobil. Saat akan melajukan mobilnya diliriknya Iin yang tidak
mengenakan sabuk pengamanan. Arief menggeleng lalu mendekatkan dirinya meraih
sabuk pengamanan dan menautkannya. Iin mematung berada sedekat itu dengan Arief
membuat jantungnya berdebar hebat. Sepanjang jalan mereka hanya diam, sesekali
melirik satu sama lain. Arief memikirkan bagaimana caranya meminta maaf tanpa
terlihat memohon untuk dimaafkan hingga berhenti di salah satu lampu merah.
“Kamu lapar nggak?”
tanya Arief tanpa basi-basi.
“Tidak mas” jawab Iin
singkat menoleh pada Arief.
Kruyukkk. Bunyi suara
perut Iin. Arief tersenyum remeh sambil terus menyetir. Kemudian Arief memutar
kemudi berlawanan dengan arah rumah Iin.
“Mau kemana mas?”
tanya Iin bingung.
“Makan malam, apa lagi?”
“Tidak usah mas saya
makan di rumah saja” tolak Iin halus.
“Mau dipecat karena
menolak ajakan bos!” lagi-lagi Arief mengancam akan memecat Iin jika tidak
menuruti perintahnya.
“Baiklah mas” Iin
pasrah menuruti kemauan Arief.
Arief dan Iin tiba di
__ADS_1
restoran steak yang cukup terkenal di kota itu. Arief sengaja membawa Iin ke
restoran mahal untuk melihat reaksinya. Namun sepertinya Iin terlihat biasa
saja. Mereka berdua masuk dan memesan meja di bagian paling ujung agar tidak
terlalu berisik.
Setelah memesan,
mereka duduk dengan tenang saling memperhatikan satu sama lain mulai menilai
orang yang ada di hadapannya ini.
Jika diperhatikan ternyata asisten ini tidak buruk juga,
kenapa aku baru menyadari jika punya asisten yang lumayan cantik.Gumam Arief.
Mengapa mas Arief melihatku seperti itu apa ada yang aneh
dengan penampilan ku.Gumam Iin.
Lalu ia merapikan rambutnya salah tingkah.
Tidak berapa lama
pelayan menyajikan makanan yang mereka pesan dua porsi steak dan satu botol
champagne.
Mereka makan dengan
kondisi tenang Arief terpesona melihat cara makan Iin yang terlihat anggun bak
wanita kerajaan. Setelah mereka selesai makan Arief memulai pembicaraan.
“In.. Aku ingin
mengatakan sesuatu.” Arief memecah keheningan.
Hah apa aku tidak salah dengar mas Arief memanggil nama ku. Gumam
Iin tertegun mendengar Arief memanggil namanya.
“In..” pekik Arief.
“Hah..Apa mas?” Iin
tersentak.
“Aku ingin mengatakan
sesuatu.. Dengarkan baik-baik karena aku tidak akan mengulangi ucapan ku” Arief
menghela nafas.
“Aku mau minta maaf
soal hari ini” ucap Arief sekali nafas.
“Hah..” Iin mendengar
kalau Arief meminta maaf padanya tetapi ia malah menanggapi dengan ber ‘hah’
ria.
“Kau tidak mau
memaafkan ku” Arief mengira Iin tidak memaafkannya.
“Mengapa mas Arief meminta
maaf” sungguh Iin lupa dengan masalah tadi pagi yang membuatnya nyaris di pecat
oleh lelaki yang ada di hadapannya ini.
“Hanya ingin saja”
ucap Arief mengendikkan bahunya tersenyum heran.
Apa dia hilang ingatan hingga lupa pada masalah tadi pagi
saat aku memarahinya dan membuatnya hampir di pecat. Gumam
Arief.
“Hah..” Iin melongo
tidak percaya semudah itukah bos angkuh ini meminta maaf.
“Sepertinya kau perlu
ke dokter THT.. Apa pendengaranmu bermasalah mengapa dari tadi hanya.. hah..
hah..saja tidak satupun menanggapi ucapanku” sindir Arief.
harus menjawab bagaimana, apa yang telah terjadi dengan bos dinginnya ini. Apa
dia salah makan, apa dia sakit mengapa sifatnya jadi ramah begini.
“Tuh kan..” ucap Arief kesal
“Maaf mas saya masih
bingung dengan semua ini.. apa mas Arief baik-baik saja.”
“Baiklah akan ku tanya
kau sekali lagi, apa kau mau memaafkan ku atas sikap ku tadi pagi.. aku tidak
bermaksud menyalahkan mu..” pinta Arief sungguh-sungguh.
“Iya mas.. tanpa mas
Arief meminta maaf pun aku sudah memaafkan, bahkan aku sudah lupa dengan apa
yang menimpaku tadi pagi” jelas Iin tersenyum, tidak ingin menyimpan dendam
dalam hatinya, dan membiarkan masalah sampai berlarut-larut.
“Terimakasih sudah memaafkan
ku.. oh iya apa selama bekerja kau menemui kendala?” tanya Arief memastikan.
Kendala ku itu ya hanya dirimu mas Arief yang punya emosi
berubah-ubah seperti bunglon.Batien Iin.
“Sejauh ini belum ada
mas” jawab Iin singkat.
Setelah perbincangan
dirasa cukup mereka memutuskan untuk pulang. Arief menautkan alisnya ketika
memasuki perumahan elit sesuai dengan alamat yang diberikan Iin. Benarkah Iin
tinggal dikawasan ini.
“Kamu benar tinggal
disini?” tanya Arief ragu takut dirinya mengantar pada alamat yang salah.
“Iya mas.. aku tinggal
dirumah majikan ku bersama ibu” jawab Iin bohong.
Mendengar itu entah
mengapa membuat Arief lega.
“Baik sekali majikan
mu, mau memberi kalian tempat tinggal?”
“Ah iya karena ibuku
sudah mengabdi sejak gadis hingga punya anak sebesar aku jadi sudah sangat
dekat hingga memberi tempat tinggal pada kami” cerita Iin bohong.
“Saya masuk dulu mas,
terimakasih untuk jamuan makan malamnya dan sudah repot-repot mengantar saya
pulang” ucap Iin tulus atas kebaikan Arief.
“Bukan apa-apa santai
saja” ucap Arief ringan.
“Saya pamit dulu.”
Ucap Arief saat Iin sudah di luar mobilnya.
“Iya mas hati-hati”
Iin melambaikan tangannya dan hanya dibalas klakson oleh Arief.
Iin menghela nafas
kasar dan dengan langkah gontai memasuki rumah mewah itu.
__ADS_1
"Hampir saja ketahuan." Ucap Iin lirih dan mengelus dadanya.
***
Di Klinik
Kiki menarik Yovi
sekuat tenaga membawanya keluar hingga menjauh dari pandangan ibunya dan
berhenti di sebuah taman klinik itu.
Kiki menarik nafasnya
yang terengah-engah karena lelah menyeret Yovi.
“Apa-apaan kenapa kau
membawaku kesini.. Aku bahkan belum menyapa ibumu dan juga adikmu” protes Yovi.
“Kau tidak perlu
melakukan itu tuan” ucap Kiki frustasi.
“Kenapa?”
“Aku harap ini
terakhir kalinya aku melihat mu tuan”
“Kenapa”
“Sebelumnya terimakasih
yang sebesar-besarnya karena tuan telah menyelamatkan adikku”
“Permisi” pamit Kiki.
“Mau kemana?”
“Aku harus kembali
ibuku membutuhkan ku”
“Apa kau tidak mau
berterimakasih dengan layak.. Apa ini pantas didapatkan dari seseorang yang telah
berhasil menyelamatkan nyawa orang lain”
“Lalu apa maumu tuan”
“Ayo ikut aku”
“Berhentilah
mengaturku tuan”
“Berhentilah
memanggilku tuan, aku punya nama.. panggil aku Yovi.. Y-O-V-I.. paham!”
“Ayo ikut aku”
“Tidak bisa ibuku
sudah menungguku”
“Berhentilah
menggunakan ibu mu sebagai alasan untuk menghindari ku!”
“Ayolah.. ikut dengan ku
kali ini saja setidaknya biar aku bisa melepas rindu pada orang yang telah lama
aku nantikan”
“Sampai kapanpun itu
tidak akan pernah terjadi”
“Kenapa?”
“Jangan berharap pada
ku... Aku sudah menikah”
Deg...
“Bohong!!!”
“Apa kau tidak ingat
dengan lelaki yang bersama ku saat di gedung itu”
“Maksudmu si
fotografer itu?!”
“Terserah kau mau memanggil
dia apa.. tetapi dia adalah suamiku orang yang aku cintai”
“Kau pikir aku sebodoh
itu percaya dengan omong kosongmu.. jika si fotografer itu suamimu kenapa dia
tidak disini bersamamu”
“Itu bukan urusan anda
tuan”
“Baiklah aku ikuti
permainanmu.. aku akan memastikan nya sendiri jika kau sudah menikah atau
belum”
Yovi pergi
meninggalkan Kiki. Berjalan menyenggol bahu Kiki dengan kasar hingga Kiki
tersentak.
Kiki kembali ke ruang
rawat Isa. Dilihatnya Ibu sudah berganti pakaian. Kiki duduk di sofa seberang
ranjang. Ibu menghampiri duduk disebelahnya.
“Dimana lelaki br*ngsek itu”
“Dia sudah pergi bu”
“Baguslah!!!”
“Jangan pernah kamu bertemu
dengannya lagi.. Apalagi bermimpi untuk kembali bersamanya.. Sampai kapan pun
ibu tidak akan sudi menerimanya”
“Baiklah bu, Kiki akan
melakukan apapun yang ibu minta ibu jangan khawatir.”
“Memang kamu putri ibu
yang bisa di andalkan ibu percaya pada mu” ibu memeluk Kiki erat.
Di rumah Arief
Arief sedang santai di
ruang keluarga dengan sofa abu-abu yang tertata rapi.. terdapat TV 21 inci yang
ia nyalakan untuk menemaninya. Tinggal dirumah yang ukurannya cukup besar
membuatnya merasa kesepian. Kedua orang tuanya telah lama berpulang. Menyisakan
kakak nya dan dirinya. Karena Kakaknya telah menikah dengan kak Santi, Ia
memutuskan untuk hidup mandiri bersama istrinya menyisakan Arief yang tinggal
sendirian.
Pikirannya terus tertinggal
pada asisten yang belum lama bekerja di perusahaannya itu. Siapa dia sebenarnya
apa memang benar dia hanya gadis biasa, tapi bagaimana mungkin sikapnya begitu
anggun, cara makannya pun terlihat berkelas apa memang benar ia anak seorang
pembantu.. entahlah lama ia termenung sambil berbaring membuatnya mengantuk
hingga tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus menandakan dirinya telah
melanglang buana ke alam mimpi.
***
__ADS_1
Selamat membaca...
Jangan lupa tinggalkan jejak kakak-kakak...