Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Mengantarmu Pulang


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan


waktu pulang, kak Santi sudah pulang terlebih dahulu karena Rafi menjemputnya


lebih awal entah disengaja atau tidak, tinggal Arief dan Iin yang berada di


kantor. Iin tidak akan pulang sebelum para atasannya keluar kantor terlebih


dahulu. Iin masih setia di meja kerjanya menunggu Arief yang tak kunjung


keluar. Arief yang berada di ruang editing sebenarnya gelisah maju mundur di


depan pintu.


Padahal biasanya ia


akan cuek dan pulang begitu saja. Namun hari ini terasa lain Ia jadi canggung


jika akan berhadapan dengan Iin. Ia teringat perkataan kakak nya untuk meminta


maaf pada asisten itu.


Sial kenapa aku jadi gugup begini.Arief


mengutuk dirinya sendiri.


Akhirnya Arief keluar seperti


ada yang menggerakkan kakinya Ia menuju meja Iin. Tidak biasanya Ia bertanya


jadwal pekerjaan terlebih dahulu.


“Apa jadwal pekerjaan


ku dekat-dekat ini” suara nya menggelegar mengagetkan Iin sontak Ia bangkit


dari duduknya.


“Hah.. eh.. ja-jadwal


yang terdekat... lu-lusa ada pemotretan dengan perusahaan X mas” Iin tergagap.


Arief menautkan


alisnya rupanya Iin berhasil menjadwal ulang pemotretan di perusahaan temannya


itu.


“Ada lagi?” tanya Arief datar.


“Sementara itu dulu


mas yang terdekat.. sudah mau pulang mas?” tanya Iin memastikan.


“Iya” jawab Arief


singkat.


Iin lalu mengambil tas


dan juga bersiap pulang.


“Kamu pulang masih


naik sepeda butut itu?” tanya Arief ketus nada mengejek.


Iin menghentikan


langkahnya dan menoleh pada Arief.


Pertanyaan macam apa itu, sungguh itu mulut apa cabe rawit


kenapa begitu nyelekit.Batin Iin.


“Eh iya mas” jawab Iin


singkat.


“Nggak capek


apa goes terus!” ucap Arief ketus.


Dih ni orang kenapa sih tumben banget nanya, niat peduli


atau cuma mau menghina ku.Batin Iin lagi.


“Sudah biasa mas” Iin


tersenyum manis menahan kesal.


“Ya sudah ayo bareng


aku saja kebetulan aku mau ke arah barat biar sekalian lewat” Arief sok tahu arah


rumah Iin.


“Tapi rumah saya ke


arah timur mas” ucap Iin menunjuk dengan telunjuknya. Mbekkk.. tiba-tiba terdengar suara kambing.


Arief menggaruk kepalnya


yang tak gatal.


“Ma-maksut saya ke


timur sudahlah ayo keburu jalanan macet” ucap Arief menahan malu.


“Terus sepeda saya


bagaimana mas?” Iin bingung dengan nasib sepedanya walau di kata butut oleh


Arief tapi itu harta berharganya.


“Taruh belakang saja”


ucap Yovi ringan.


“Tapi..” ucap Iin terjeda.


“Mau di pecat karena


membantah perintah bos” canda Arief dengan menyilangkan tangannya.


“Eh tidak mas. Ya sudah


saya kebelakang dulu.” Iin panik dan melambaikan kedua tangannya tanda menolak.


Iin bergegas kabur memindahkan sepedanya ke belakang kantor.


Sejak kejadian Kiki


menolak untuk naik motornya, Arief memilih mengendarai mobil perusahaan untuk kemana-mana.


Arief dan Iin sudah


berada di dalam mobil. Saat akan melajukan mobilnya diliriknya Iin yang tidak


mengenakan sabuk pengamanan. Arief menggeleng lalu mendekatkan dirinya meraih


sabuk pengamanan dan menautkannya. Iin mematung berada sedekat itu dengan Arief


membuat jantungnya berdebar hebat. Sepanjang jalan mereka hanya diam, sesekali


melirik satu sama lain. Arief memikirkan bagaimana caranya meminta maaf tanpa


terlihat memohon untuk dimaafkan hingga berhenti di salah satu lampu merah.


“Kamu lapar nggak?”


tanya Arief tanpa basi-basi.


“Tidak mas” jawab Iin


singkat menoleh pada Arief.


Kruyukkk. Bunyi suara


perut Iin. Arief tersenyum remeh sambil terus menyetir. Kemudian Arief memutar


kemudi berlawanan dengan arah rumah Iin.


“Mau kemana mas?”


tanya Iin bingung.


“Makan malam, apa lagi?”


“Tidak usah mas saya


makan di rumah saja” tolak Iin halus.


“Mau dipecat karena


menolak ajakan bos!” lagi-lagi Arief mengancam akan memecat Iin jika tidak


menuruti perintahnya.


“Baiklah mas” Iin


pasrah menuruti kemauan Arief.


Arief dan Iin tiba di

__ADS_1


restoran steak yang cukup terkenal di kota itu. Arief sengaja membawa Iin ke


restoran mahal untuk melihat reaksinya. Namun sepertinya Iin terlihat biasa


saja. Mereka berdua masuk dan memesan meja di bagian paling ujung agar tidak


terlalu berisik.


Setelah memesan,


mereka duduk dengan tenang saling memperhatikan satu sama lain mulai menilai


orang yang ada di hadapannya ini.


Jika diperhatikan ternyata asisten ini tidak buruk juga,


kenapa aku baru menyadari jika punya asisten yang lumayan cantik.Gumam Arief.


Mengapa mas Arief melihatku seperti itu apa ada yang aneh


dengan penampilan ku.Gumam Iin.


Lalu ia merapikan rambutnya salah tingkah.


Tidak berapa lama


pelayan menyajikan makanan yang mereka pesan dua porsi steak dan satu botol


champagne.


Mereka makan dengan


kondisi tenang Arief terpesona melihat cara makan Iin yang terlihat anggun bak


wanita kerajaan. Setelah mereka selesai makan Arief memulai pembicaraan.


“In.. Aku ingin


mengatakan sesuatu.” Arief memecah keheningan.


Hah apa aku tidak salah dengar mas Arief memanggil nama ku. Gumam


Iin tertegun mendengar Arief memanggil namanya.


“In..” pekik Arief.


“Hah..Apa mas?” Iin


tersentak.


“Aku ingin mengatakan


sesuatu.. Dengarkan baik-baik karena aku tidak akan mengulangi ucapan ku” Arief


menghela nafas.


“Aku mau minta maaf


soal hari ini” ucap Arief sekali nafas.


“Hah..” Iin mendengar


kalau Arief meminta maaf padanya tetapi ia malah menanggapi dengan ber ‘hah’


ria.


“Kau tidak mau


memaafkan ku” Arief mengira Iin tidak memaafkannya.


“Mengapa mas Arief meminta


maaf” sungguh Iin lupa dengan masalah tadi pagi yang membuatnya nyaris di pecat


oleh lelaki yang ada di hadapannya ini.


“Hanya ingin saja”


ucap Arief mengendikkan bahunya tersenyum heran.


Apa dia hilang ingatan hingga lupa pada masalah tadi pagi


saat aku memarahinya dan membuatnya hampir di pecat. Gumam


Arief.


“Hah..” Iin melongo


tidak percaya semudah itukah bos angkuh ini meminta maaf.


“Sepertinya kau perlu


ke dokter THT.. Apa pendengaranmu bermasalah mengapa dari tadi hanya.. hah..


hah..saja tidak satupun menanggapi ucapanku” sindir Arief.


harus menjawab bagaimana, apa yang telah terjadi dengan bos dinginnya ini. Apa


dia salah makan, apa dia sakit mengapa sifatnya jadi ramah begini.


“Tuh kan..” ucap Arief kesal


“Maaf mas saya masih


bingung dengan semua ini.. apa mas Arief baik-baik saja.”


“Baiklah akan ku tanya


kau sekali lagi, apa kau mau memaafkan ku atas sikap ku tadi pagi.. aku tidak


bermaksud menyalahkan mu..” pinta Arief sungguh-sungguh.


“Iya mas.. tanpa mas


Arief meminta maaf pun aku sudah memaafkan, bahkan aku sudah lupa dengan apa


yang menimpaku tadi pagi” jelas Iin tersenyum, tidak ingin menyimpan dendam


dalam hatinya, dan membiarkan masalah sampai berlarut-larut.


“Terimakasih sudah memaafkan


ku.. oh iya apa selama bekerja kau menemui kendala?” tanya Arief memastikan.


Kendala ku itu ya hanya dirimu mas Arief yang punya emosi


berubah-ubah seperti bunglon.Batien Iin.


“Sejauh ini belum ada


mas” jawab Iin singkat.


Setelah perbincangan


dirasa cukup mereka memutuskan untuk pulang. Arief menautkan alisnya ketika


memasuki perumahan elit sesuai dengan alamat yang diberikan Iin. Benarkah Iin


tinggal dikawasan ini.


“Kamu benar tinggal


disini?” tanya Arief ragu takut dirinya mengantar pada alamat yang salah.


“Iya mas.. aku tinggal


dirumah majikan ku bersama ibu” jawab Iin bohong.


Mendengar itu entah


mengapa membuat Arief lega.


“Baik sekali majikan


mu, mau memberi kalian tempat tinggal?”


“Ah iya karena ibuku


sudah mengabdi sejak gadis hingga punya anak sebesar aku jadi sudah sangat


dekat hingga memberi tempat tinggal pada kami” cerita Iin bohong.


“Saya masuk dulu mas,


terimakasih untuk jamuan makan malamnya dan sudah repot-repot mengantar saya


pulang” ucap Iin tulus atas kebaikan Arief.


“Bukan apa-apa santai


saja” ucap Arief ringan.


“Saya pamit dulu.”


Ucap Arief saat Iin sudah di luar mobilnya.


“Iya mas hati-hati”


Iin melambaikan tangannya dan hanya dibalas klakson oleh Arief.


Iin menghela nafas


kasar dan dengan langkah gontai memasuki rumah mewah itu.

__ADS_1


"Hampir saja ketahuan." Ucap Iin lirih dan mengelus dadanya.


***


Di Klinik


Kiki menarik Yovi


sekuat tenaga membawanya keluar hingga menjauh dari pandangan ibunya dan


berhenti di sebuah taman klinik itu.


Kiki menarik nafasnya


yang terengah-engah karena lelah menyeret Yovi.


“Apa-apaan kenapa kau


membawaku kesini.. Aku bahkan belum menyapa ibumu dan juga adikmu” protes Yovi.


“Kau tidak perlu


melakukan itu tuan” ucap Kiki frustasi.


“Kenapa?”


“Aku harap ini


terakhir kalinya aku melihat mu tuan”


“Kenapa”


“Sebelumnya terimakasih


yang sebesar-besarnya karena tuan telah menyelamatkan adikku”


“Permisi” pamit Kiki.


“Mau kemana?”


“Aku harus kembali


ibuku membutuhkan ku”


“Apa kau tidak mau


berterimakasih dengan layak.. Apa ini pantas didapatkan dari seseorang yang telah


berhasil menyelamatkan nyawa orang lain”


“Lalu apa maumu tuan”


“Ayo ikut aku”


“Berhentilah


mengaturku tuan”


“Berhentilah


memanggilku tuan, aku punya nama.. panggil aku Yovi.. Y-O-V-I.. paham!”


“Ayo ikut aku”


“Tidak bisa ibuku


sudah menungguku”


“Berhentilah


menggunakan ibu mu sebagai alasan untuk menghindari ku!”


“Ayolah.. ikut dengan ku


kali ini saja setidaknya biar aku bisa melepas rindu pada orang yang telah lama


aku nantikan”


“Sampai kapanpun itu


tidak akan pernah terjadi”


“Kenapa?”


“Jangan berharap pada


ku... Aku sudah menikah”


Deg...


“Bohong!!!”


“Apa kau tidak ingat


dengan lelaki yang bersama ku saat di gedung itu”


“Maksudmu si


fotografer itu?!”


“Terserah kau mau memanggil


dia apa.. tetapi dia adalah suamiku orang yang aku cintai”


“Kau pikir aku sebodoh


itu percaya dengan omong kosongmu.. jika si fotografer itu suamimu kenapa dia


tidak disini bersamamu”


“Itu bukan urusan anda


tuan”


“Baiklah aku ikuti


permainanmu.. aku akan memastikan nya sendiri jika kau sudah menikah atau


belum”


Yovi pergi


meninggalkan Kiki. Berjalan menyenggol bahu Kiki dengan kasar hingga Kiki


tersentak.


Kiki kembali ke ruang


rawat Isa. Dilihatnya Ibu sudah berganti pakaian. Kiki duduk di sofa seberang


ranjang. Ibu menghampiri duduk disebelahnya.


“Dimana lelaki br*ngsek itu”


“Dia sudah pergi bu”


“Baguslah!!!”


“Jangan pernah kamu bertemu


dengannya lagi.. Apalagi bermimpi untuk kembali bersamanya.. Sampai kapan pun


ibu tidak akan sudi  menerimanya”


“Baiklah bu, Kiki akan


melakukan apapun yang ibu minta ibu jangan khawatir.”


“Memang kamu putri ibu


yang bisa di andalkan ibu percaya pada mu” ibu memeluk Kiki erat.


Di rumah Arief


Arief sedang santai di


ruang keluarga dengan sofa abu-abu yang tertata rapi.. terdapat TV 21 inci yang


ia nyalakan untuk menemaninya. Tinggal dirumah yang ukurannya cukup besar


membuatnya merasa kesepian. Kedua orang tuanya telah lama berpulang. Menyisakan


kakak nya dan dirinya. Karena Kakaknya telah menikah dengan kak Santi, Ia


memutuskan untuk hidup mandiri bersama istrinya menyisakan Arief yang tinggal


sendirian.


Pikirannya terus tertinggal


pada asisten yang belum lama bekerja di perusahaannya itu. Siapa dia sebenarnya


apa memang benar dia hanya gadis biasa, tapi bagaimana mungkin sikapnya begitu


anggun, cara makannya pun terlihat berkelas apa memang benar ia anak seorang


pembantu.. entahlah lama ia termenung sambil berbaring membuatnya mengantuk


hingga tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus menandakan dirinya telah


melanglang buana ke alam mimpi.


***

__ADS_1


Selamat membaca...


Jangan lupa tinggalkan jejak kakak-kakak...


__ADS_2