Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Melamar Airin


__ADS_3

"Abang, kamu berhutang penjelasan pada mama," lirih dokter Hanna di telinga sang putra.


Thomas menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, "iya ma,,," balas Thomas tersenyum kecut.


Papa Chandra mengernyit, melihat bisik-bisik ibu dan anak itu.


"Maaf dokter Chandra, saya harus melanjutkan tugas saya kembali," pamit dokter Hanna segera berlalu dari hadapan dokter Chandra dan juga Thomas, putra sulung nya.


"Silahkan masuk nak Thomas, om juga harus segera ke ruang praktek," ucap papa Chandra, menepuk pelan pundak Thomas, dan kemudian segera berlalu meninggalkan Thomas seorang diri.


Thomas kemudian segera masuk kedalam ruang rawat dimana suami dari Diandra, sahabat nya, tengah di rawat.


°°°°°


Sementara di tempat lain, Airin yang tidak ikut sahabat-sahabat nya ke rumah sakit karena di jemput oleh Aditya kini sedang dalam perjalanan menuju ke sebuah tempat seperti yang dijanjikan oleh Aditya pagi tadi.


Sepanjang perjalanan kedua nya lebih banyak diam, tak seperti biasa nya. Kedua nya sama-sama sibuk dengan pikiran nya sendiri. Hingga beberapa lama menempuh perjalanan, sampailah kedua nya di sebuah rumah makan yang bernuansa alam di pinggiran Jakarta Barat.


Setelah memarkir kan mobil di tempat yang telah tersedia, Aditya segera keluar dari mobil dan berlari kecil memutari mobil nya untuk membuka kan pintu buat Airin.


Kedua nya berjalan beriringan masuk kedalam rumah makan, dan Aditya memilih untuk duduk di sebuah gazebo yang terletak di tengah kolam ikan yang dikelilingi pepohonan rindang dan bunga-bunga yang cantik. Membuat suasana di tempat itu, terlihat sangat indah dan terasa adem.


Aditya membuka buku menu, "makan apa Rin?" Tanya Aditya seraya melirik Airin.


"Apa aja deh bang," jawab Airin datar, pikiran Airin masih di penuhi pertanyaan.. hal penting apakah yang hendak di sampai kan Aditya, hingga pria dewasa itu membawa nya ke tempat ini.


"Ada masakan Padang, Jawa dan Sunda.. Airin mau yang mana?" Aditya masih bertanya, ingin memastikan dia tak salah pilih menu.


"Sunda aja bang, pengin makan yang ada lalapan nya." Balas Airin menentukan pilihan, "sama jus naga ya bang," lanjut Airin.


Aditya mengangguk dan tersenyum, kemudian segera memanggil pelayan rumah makan dan memesan makanan seperti yang mereka berdua ingin kan.


Setelah mencatat semua pesanan pelanggan nya, pelayan tersebut segera berlalu untuk menyiapkan makanan yang di pesan oleh Aditya dan Airin.


"Rin,," panggil Aditya dengan pelan.

__ADS_1


"Iya," jawab Airin singkat, sambil menatap Aditya yang duduk di depan nya.


Aditya mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah berbentuk hati, dan kemudian membuka nya.. "maaf Rin, abang bukan lah tipe pria yang pandai menyusun kata-kata cinta menjadi untaian kalimat indah."


Abang hanya ingin Airin tahu, bahwa abang menyukai Airin. Abang mencintaimu Rin,, dan berharap Airin bersedia menikah dengan abang." Aditya menghentikan ucapan nya, dan menyodorkan kotak yang berisi cincin emas dengan permata indah itu ke hadapan Airin.


"Jika Airin bersedia menjadi istri abang, terimalah cincin ini,," lanjut Aditya dengan tatapan penuh harap.


Airin terkesima, dia sama sekali tak menyangka,, Aditya akan seserius ini meminta nya untuk menjalin sebuah hubungan. Untuk beberapa saat Airin masih terdiam.. dia bingung harus menjawab apa?


Jujur, Airin juga menyukai sosok Aditya yang dewasa, baik dan juga sudah mapan secara materi. Dan Aditya juga sosok sahabat yang care dan sayang pada saudara. Aditya adalah sosok sempurna menurut Airin, tapi masalah nya.. apakah orang tua nya setuju jika dia menikah di usia muda?


"Rin?" Panggil Aditya membuyarkan lamunan Airin.


"Eh,, iya bang,," balas Airin terbata, "maaf bang, jujur sebenar nya Airin juga suka sama bang Ditya. Tapi.. Airin ragu, apakah papa dan mama Airin mengijinkan jika Airin menikah secepat ini?" Ucap Airin nampak ragu.


Aditya tersenyum bahagia mendengar pengakuan Airin yang juga menyukai nya, pria dewasa itu kemudian mengeluarkan ponsel nya dengan tangan kanan nya, sedangkan tangan kiri nya masih memegang kotak perhiasan.


Dengan satu tangan nya, Aditya mencoba menghubungi nomor seseorang.


"Halo nak Ditya, ada apa ya menghubungi tante?" Terdengar suara lembut seorang wanita dari seberang sana.


Aditya sengaja memasang mode load speaker pada panggilan nya, dan mendengar suara yang tak asing tersebut, sontak Airin berteriak.. "mama,,," Seru Airin hampir tak percaya.


Ya, saat ini.. Aditya tengah menghubungi mama nya Airin, untuk membuktikan kesungguhan nya pada Airin bahwa dia benar-benar serius ingin menikahi gadis cantik itu.


"Rin,, kamu lagi sama nak Ditya?" Tanya mama Airin.


"Iya ma,," balas Airin, "kok mama sama bang Ditya bisa saling kenal sih?" Tanya Airin penasaran.


"Iya Rin, beberapa waktu lalu nak Ditya datang ke rumah dan meminta restu sama mama dan papa untuk meminang kamu Rin. Mama dan papa sih, terserah sama kamu, kamu kan yang akan menjalani nya?" Balas mama Airin dengan bijak.


"Mama yakin, anak mama yang cantik ini pasti bisa memilah dan memilih yang terbaik..." lanjut sang mama menyerahkan segala keputusan itu pada putri nya.


Airin menatap Aditya, mencari tahu kesungguhan dari pria dewasa di hadapan nya itu.

__ADS_1


"Berarti mama sama papa udah ketemu sama bang Ditya ya? Kok mama enggak pernah cerita sih?" Airin pura-pura merajuk, padahal hati nya kini tengah berbunga-bunga mendapat kejutan luar biasa seperti ini.


"Pacar kamu yang minta sama mama untuk enggak cerita dulu Rin, pengin buat surprise buat kamu kata nya," balas sang mama members diri.


"Emm,, kalau menurut mama gimana?" Tanya Airin mencari tahu pendapat sang mama mengenai Aditya.


"Gimana,, apa maksud nya Rin? Tampan nya? Baik nya? Atau apa nya?" Sang mama bukan nya menjawab, malah balik bertanya pada putri nya dengan pertanyaan menggoda... hingga membuat Airin jadi salah tingkah.


Aditya yang menyimak obrolan ibu dan anak itu, hanya senyum-senyum.


"Mama dan papa percaya sama kamu Rin,,," lanjut sang mama meyakinkan putri nya, bahwa mereka mendukung apa pun keputusan Airin.


Kedua nya sejenak terdiam,,


"Rin,, apa saat ini, nak Ditya melamar kamu?" Tanya suara dari seberang, terdengar menggoda putri nya.


"Ihh, mama... apaan sih?!" Protes Airin tersipu malu.


"Nak, dengerin mama baik-baik," suara sang mama terdengar serius, "jawab lah sesuai apa kata hati kamu,,, apa pun keputusan kamu, mama dan papa mendukung sepenuh nya," ucap sang mama dengan penuh penekanan.


"Iya ma,, terimakasih mama dan papa selalu percaya dan mendukung Airin selama ini," balas Airin terharu.


"Tante,, makasih banyak atas waktu nya dan terimakasih sudah memberikan restu pada Ditya," ucap Aditya dengan sopan.


"Sama-sama nak Ditya," balas suara dari seberang dengan ramah.


"Salam buat om ya tante," ucap Aditya, dan kemudian mengakhiri panggilan telpon nya.


Setelah meletakkan ponsel nya, Aditya kembali bertanya pada Airin, "Rin, bersediakah kamu menjadi ibu dari anak-anak abang?" Aditya menatap Airin dengan penuh cinta, seraya menyodorkan kembali kotak perhiasan tersebut.


Airin menggeleng pelan,,


"Kenapa Rin??" Tanya Aditya mengernyit, dan nampak kecewa.


Airin menjulurkan jari manis nya kehadapan Aditya, "mau nya di pakai in,,," pinta nya manja, seraya tersenyum menggoda.

__ADS_1


__ADS_2