Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Menginap


__ADS_3

Setelah 20 menit berkendara akhirnya mereka sampai di kost


Kiki, pak Asep dengan semangat membukakan gerbang besi itu. Kiki turun dari


mobil diikuti dengan Yovi. Kiki berjalan menuju pos satpam sedangkan Yovi terpaku


di tempatnya.


“Selamat malam pak Asep..” suara Kiki ramah.


“Malam juga, kumaha (bagaimana) neng?” pak Asep tersenyum


ramah pada Kiki.


“Maaf pak.. emm saya izin membawa kakak saya masuk ke kost


boleh kan?” Kiki sejenak berfikir harus menyebut Yovi dengan sebutan apa, jika


dia berterus terang bukankah akan kacau.


“Mangga (silahkan) neng, bapak mengizinkan kalau perlu


apa-apa tinggal panggil saya saja” pak Asep dengan sigap akan membantu jika


penghuni kost membutuhkan bantuannya.


“Terimakasih banyak pak” Kiki tersenyum dan meninggalkan pak


Asep.


“Iya sama-sama neng” Tumben


sekali neng Marwa membawa lelaki hemmm. Walaupun sedikit ragu namun pak Asep tetap mengizinkan baginya Kiki sudah


seperti anaknya sehingga sangat percaya padanya. Ini adalah pertama kalinya


Kiki membawa lelaki bahkan Arief yang biasa dilihat pak Asep tidak pernah


dibawa masuk dalam kost.


Kiki kembali menghampiri Yovi melihatnya dengan tatapan iba


namun juga kesal apa yang dikhawatirkan Kiki akhirnya terjadi juga.


“Ayo..” Yovi tanpa bicara mengikuti Kiki di belakangnya.


Saat akan membuka pintu kamar mereka berpapasan dengan


tetangga kost yang berpakaian cukup seksi degan setelan rok mini dan baju yang


kekecilan orang bilang pakaian kurang bahan.


“Baru pulang wa” sapa sang tetangga ramah dan tersenyum


menggoda ke arah Yovi.


“Iya mba, mba Sarah mau berangkat kerja ya?” Kiki juga


menjawab ramah.


“Hemm..” tetangga kost yang diketahui bernama Sarah itu terus


melirik Yovi mencari jawaban siapa lelaki tampan itu.


“Oh iya mba ini kakak saya..” faham dengan tatapan Sarah, Kiki


melirik Yovi malas dan memperkenalkannya.


Yovi hanya menatap datar tidak peduli dengan keadaannya yang


babak belur menyapa dengan mengangguk canggung ia bertanya-tanya mengapa


dikenalkan sebagai kakak.


“Oh dia kakakmu tampan juga walaupun wajahnya babak belur


seperti itu.. eh maaf ya Marwa.. ya sudah saya pergi dulu ya” lagi-lagi Sarah


tersenyum nakal pada Yovi lalu dia berlalu dari hadapan Kiki dan Yovi.


“Iya mba hati-hati” yang Kiki dengar Sarah bekerja di sebuah


bar wajar jika jam 9 malam baru mulai keluar untuk bekerja. Dilihatnya Yovi


yang tidak bergeming dengan kehadiran Sarah bahkan seperti risih berhadapan


dengan wanita seksi itu.


Kiki masuk kamar diikuti Yovi di belakangnya. Yovi


mengedarkan pandangan menelusuri setiap sisi kamar Kiki yang cukup nyaman untuk


di tinggali. Kiki meminta Yovi duduk di sofa lalu membuka laci mengambil kotak P3K.


Dilihatnya Yovi yang babak belur dengan luka di sudut bibirnya, di buku-buku


tangannya juga di pelipisnya.


Tidak sia-sia


aku mengorbankan diriku jika cara ini berhasil untuk dekat denganmu bahkan ini diluar


dugaanku sekarang aku bisa masuk ke kamar kost mu. Yovi memperhatikan Kiki dengan seksama yang mulai


memeriksa luka-lukanya.


“Bukankah kita harus kerumah sakit luka mu cukup


parah” Kiki meringis melihat banyaknya luka Yovi dan merasakan sakitnya.


“Tidak perlu kau tahu kan kalau aku alergi rumah sakit


bau rumah sakit saja sudah membuatku mual” Yovi bergidik membayangkan suasana


rumah sakit yang suram.


Kiki menghela nafas kasar memang Yovi selama hidupnya


tidak pernah kerumah sakit jikapun sakit ia memilih untuk mendiamkannya dan hanya


meminum obat warung atau obat apotek tanpa resep dokter.


“Kenapa tadi tidak melawan” Kiki mengambil kapas dan


mulai menetaskan cairan berwarna bening untuk membersihkan luka dari kotoran.


“Aku sudah berusaha tapi tetap saja kalah” Yovi


memperhatikan Kiki yang telaten merawatnya.


“Apa sakit?” Kiki mulai menempelkan kapas yang sudah


di tetesi dengan obat luka ke sudut bibir Yovi dengan sedikit darah yang mulai


mengering.


“Sedikit aw..aw” Yovi meringis menahan perih namun


rasa itu segera hilang bersamaan dengan tiupan lembut dari Kiki. Berada sedekat itu


ingin rasanya Yovi menerkam Kiki namun sekuat tenaga Ia menguasai dirinya untuk


tidak bersikap konyol.


“Hemm.. Apa yang kau inginkan?” Kiki mulai beralih ke


luka di buku-buku tangan Yovi.


“Apa maksudmu?” Yovi tidak mengerti dengan pertanyaan


Kiki.


“Apa kau sengaja melakukan ini supaya bisa dekat


denganku” Kiki sengaja menekan kapas pada luka Yovi. Yovi hanya meringis menahan


sakit.


“Apa aku terlihat sengaja, aku memang mencarimu tapi


kejadian ini benar-benar diluar dugaanku” Yovi bersungut-sungut tidak terima


dengan tuduhan Kiki walau kenyataannya benar.


“Sudah selesai kau boleh keluar” Kiki merapikan


kembali kotak P3K dan menyimpannya ditempat semula.


“Apa kau mengusirku?” Yovi mulai berpikir bagaimana


caranya agar bisa tetap berada di kost Kiki.

__ADS_1


“Terus sekarang mau bagaimana” Kiki menatap Yovi


jengah.


“Apa aku boleh menginap disini?” tanya Yovi berusaha


memelas.


“Kau gila ya aku tidak akan mengizinkanmu” Kiki membulatkan matanya


menolak ide konyol itu bagaimana mungkin Yovi punya fikiran sejauh itu.


“Apa kau tega membiarkan ku tidur di jalanan..Kejam


sekali.. Dimana nuranimu melihat orang yang sedang terluka dan membiarkan tidur


diluar” Yovi berusaha membujuk Kiki agar luluh dan mengizinkannya.


“Bukannya kau bisa tidur di mobil” Kiki tersenyum


remeh.


“Apa kau tega membiarkanku tidur di mobil dengan


keadaan seperti ini” Yovi memperlihatkan luka-lukanya dan memasang wajah sesedih


mungkin.


“Ya terus mau bagaimana” Kiki frustasi bagaimanapun ia


mengusir Yovi tetap akan kalah.


“Sudah aku bilang aku mau menginap disini bukannya


tadi kau sudah izin dengan penjaga itu” Yovi ingat bahwa Kiki sudah bicara


dengan pak satpam walau tidak tahu apa yang dibicarakan.


“Apa!! enak saja tidak bisa” Kiki lagi-lagi menolak


bukankah itu hanya akal-akalan Yovi saja.


“Ayolah aku janji hanya malam ini saja..hemm” Yovi


memasang wajah menyedihkan layaknya anak anjing yang akan dibuang majikannya.


Cukup lama Kiki berfikir.


“Baiklah kau boleh menginap, tapi kau tidur disini”


Kiki menunjuk sofa tempat Yovi duduk.


“Oke terimakasih nyonya” Yovi bersikap layaknya


mendapat kebaikan dari majikannya.


“Tapi ingat.. jangan berani macam-macam.. awas kau”


Kiki terdengar tidak main-main dengan ucapannya bahkan sangat mengancam.


“Tidak akan, aku janji” Yovi menunjukkan dua jarinya


membentuk V sebagai tanda janjinya. Kiki berlalu menuju lemari untuk mengambilkan


sesuatu walaupun cuek namun tidak bisa menurunkan rasa pedulinya pada lelaki


masa lalunya itu..


“Nih..” Kiki memberi selimut pada Yovi.


“Terimakasih” Yovi memberikan senyum semanis mungkin


pada Kiki namun ia hanya mengabaikannya.


Kiki berganti baju dan bersiap untuk tidur entah


mengapa ia menjadi gelisah mungkinkah karena kehadiran orang asing di kamarnya


atau karena hal lain. Berulang kali ia mengubah posisi tidurnya namun tetap


tidak bisa terlelap.


Diliriknya Yovi yang sudah berbaring di sofa dengan


selimut menutupinya. Lalu ia mematikan lampu kamar berharap bisa membantunya


terlelap menyisakan lampu tidur yang temaram menemani mereka yang siap


Tengah malam Yovi terbangun karena ingin ke kamar


mandi dilihatnya Kiki yang sudah tertidur pulas setelah selesai ia mendekati


ranjang memperhatikan Kiki. Lama ia mengamati setiap inci wajah Kiki yang


sangat cantik bahkan saat tertidur seperti ini lalu Yovi perlahan mendekatkan


dirinya aman tidak ada pergerakan.


Yovi lalu mencium pipi Kiki namun masih tidak ada


pergerakan hingga tiga kali ia mencium pipi itu namun Kiki masih tetap tenang.


Tapi tiba-tiba Kiki menggerakkan badannya dan tersenyum sepertinya ia mengira


sedang bermimpi di cium seorang pangeran tetapi ia merasa sangat nyata. Takut Kiki


terbangun Yovi menyudahi aksinya dan kembali ke sofa untuk melanjutkan


tidurnya.


Yovi membaringkan dirinya kembali mengingat bagaimana


akhirnya ia bisa memenangkan simpati Kiki. Sebelumnya Iin


memberitahu Yovi bahwa Arief dan Kiki akan bertemu di kafe x pada malam hari


melalui pesan di ponselnya. Ia tidak sengaja mendengar obrolan Kiki dan Arief


saat di depan meja kerjanya.


Iin berjanji akan membantu Yovi untuk kembali pada Kiki


karena Yovi telah menceritakan kisah bohongnya sama seperti saat ia menceritakan


pada Arief ketika di kafe.


Terimakasih asisten kau


memang sangat bisa di andalkan. Yovi kembali terlelap.


***


Sayup-sayup Kiki mendengar suara azan subuh ia lalu


perlahan membuka matanya bergegas bangun untuk menunaikan sholat subuh dan


mengaji sebentar. Setelah selesai seperti biasa ia mulai membereskan tempat


tidurnya dan mulai menyapu kamarnya.


Sementara Kiki melihat Yovi masih tertidur ia lalu


mendekati Yovi melihat dengan seksama bagaimana detail wajah Yovi dengan pahatan yang sempurna dari sang pencipta.


Benar apa


kata Isa memang dia lumayan tampan hemmm.


Yovi perlahan membuka matanya sebenarnya ia sudah


terbangun sejak Kiki mengaji namun ia kembali pura-pura tertidur untuk melihat


apa yang dilakukan Kiki selanjutnya.


“Ada apa” suara serak khas bangun tidur Yovi mengucek


matanya.


“Ti-tidak ada” Kiki yang sedang terduduk memegang sapu


seketika oleng dan mengalihkan pandangannya salah tingkah.


“Bangun, sholat subuh dulu sana” Kiki bertingkah layaknya


emak-emak yang membangunkan anaknya.


“Hemm” Yovi masuk kamar mandi dan mulai mengambil wudlu. Selesai sholat ia kembali ke sofa


namun Kiki tidak ada di kamarnya.


“Kemana dia?” Yovi bertanya-tanya kemana Kiki sepagi

__ADS_1


ini bahkan belum ada jam 6 pagi ia sudah meninggalkan kamarnya apakah dia pergi


olahraga atau kemana.. entahlah.


Yovi mengamati kembali kamar Kiki dilihatnya setiap


benda yang ada disana perhatiannya tertuju pada meja kecil dengan 3 laci


tersusun ke bawah. Yovi melihat sebuah bingkai foto yang terasa tidak asing bukankah itu foto


Kiki saat masih SMA lalu mengapa foto itu terlihat hilang setengahnya.


Yovi berjalan lebih dekat dan memegang bingkai foto


itu dengan hati-hati setelah diamati seharusnya bagian yang hilang itu adalah


dirinya tetapi mengapa Kiki menghilangkannya. Lalu ia mengambil sebuah kotak


kaca dan mengambil isinya yang merupakan sebuah gelang dengan inisial K dan Y.


Sejenak ia termenung dengan dua benda itu bukankah itu


benda yang ia punya juga. Ah iya benar foto dan gelang itu merupakan benda yang


sengaja Kiki berikan untuk Yovi sesaat setelah Yovi lulus SMA dulu.


“Apa yang kau lakukan..” suara Kiki membuyarkan


lamunan Yovi dan meletakkan benda yang dipegangnya ke tempat semula dan berbalik


melihat Kiki.


“Tidak ada.. kau darimana?” di liriknya kantung plastik


yang ada ditangan Kiki.


“Aku habis mencari sarapan, ayo makan kau pasti


laparkan” Kiki meletakkan kantung plastik di meja depan sofa.


“Ini masih terlalu pagi untuk sarapan Ki” Yovi


mendekat ke arah Kiki.


“Ya sudah mandi dulu sana” Kiki berlalu mengambil


handuk.


“Dingin Ki” entah mengapa dihadapan Kiki Yovi menjadi


manja.


“Sudah tidak ada alasan..nih” Kiki melemparkan handuk


pada Yovi.


Yovi dengan langkah malas masuk ke kamar mandi 10


menit kemudian ia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk sampai


pinggangnya sehingga mengekspos tubuh bagian atasnya dadanya yang bidang


perutnya yang kotak-kotak dan juga lengannya yang kekar menambah pesona dirinya.


Rambutnya yang basah serta tetesan air yang melewatinya menambah keseksian


dirinya.


Kiki menelan salivanya dengan susah payah karena di


pagi buta seperti ini dia di suguhkan dengan pemandangan yang menodai matanya.


Kiki dibuat melongo melihatnya.


“Ada apa, kenapa melihatku seperti itu?” Yovi


pura-pura bodoh padahal ia tahu bahwa Kiki sangat tergoda akan pesona tubuhnya.


“Ti-tidak ada, lekas ganti baju sana” Kiki yang sedang berdiri didepan lemarinya menjadi salah


tingkah dan pura-pura sibuk membereskan isi lemarinya.


“Aku lupa tidak bawa baju ganti hee” Yovi nyengir


memperlihatkan gigi putihnya.


“Huffff sebentar...pakai ini” Kiki membongkar


lemarinya dan menemukan setelan yang dirasa cocok untuk Yovi. Menyerahkan kaos dengan


ukuran besar dan celana training yang jarang dipakainya karena ukurannya yang


juga besar. Ia kembali salah tingkah karena Yovi datang mendekatinya membuatnya


terpojok di lemari. Yovi mengunci dengan tangannya hingga Kiki tidak bisa


berkutik.


“A-apa yang kau lakukan jangan macam-macam atau aku


akan meneriakimu pencuri” Kiki membulatkan matanya karena Yovi makin


mendesaknya hingga pandangan mereka saling beradu.


“Kau bahkan akan mendapatkan lebih dari ini.. tunggu


saja” Yovi tidak bergeming dengan ancaman Kiki malah semakin menggodanya dengan


mengedipkan sebelah matanya. Lalu mengambil setelan dari tangan Kiki. Yovi


mendekatkan wajahnya reflek Kiki memejamkan matanya.


“Terimakasih” Yovi setengah berbisik pada telinga


Kiki.


Yovi kembali masuk ke kamar mandi tidak membayangkan


jika ia nekat berganti pakaian di depan Kiki bisa-bisa histeris bukan.


Kiki perlahan membuka matanya. Sialan berani sekali dia menggodaku sungguh ia benar telah menjadi


lelaki dewasa sekarang. Aku harus berhati-hati. Kiki mengutuki


kebodohannya.


“Jam berapa kamu kerja?” Yovi keluar dari kamar mandi


dan duduk di sofa.


“Kenapa” tanya Kiki.


“Mau aku antar” Yovi menawarkan bantuannya.


“Tidak perlu” Kiki menolak mentah-mentah


“Kenapa” Yovi menautkan alisnya karena Kiki menolak


untuk diantar.


“Aku bisa jalan sendiri” Kiki sibuk mencari sesuatu di


lacinya.


“Olesi luka mu dengan ini biar cepat sembuh” Kiki


menyerahkan salep pada Yovi.


“Lama tidak bertemu ternyata kadar perhatianmu tidak


berkurang ya” Yovi tersenyum menggoda Kiki.


“Jangan terlalu percaya diri aku hanya tidak ingin


berlama-lama melihatmu disini jika kau sudah sembuh kau bisa keluar dari


tempatku” Kiki tersenyum remeh pada Yovi.


Yovi tidak menanggapi ocehan Kiki, ia mulai mengolesi


lukanya namun terlihat kesulitan. Tanpa bicara Kiki merebut salep itu dan mulai


mengolesi dengan lembut.


“Terimakasih” Yovi menatap dalam pada Kiki yang


membuatnya salah tingkah.


***


Selamat membaca kakak-kakak..

__ADS_1


Mohon dukungannya ya..


__ADS_2