
Setelah 20 menit berkendara akhirnya mereka sampai di kost
Kiki, pak Asep dengan semangat membukakan gerbang besi itu. Kiki turun dari
mobil diikuti dengan Yovi. Kiki berjalan menuju pos satpam sedangkan Yovi terpaku
di tempatnya.
“Selamat malam pak Asep..” suara Kiki ramah.
“Malam juga, kumaha (bagaimana) neng?” pak Asep tersenyum
ramah pada Kiki.
“Maaf pak.. emm saya izin membawa kakak saya masuk ke kost
boleh kan?” Kiki sejenak berfikir harus menyebut Yovi dengan sebutan apa, jika
dia berterus terang bukankah akan kacau.
“Mangga (silahkan) neng, bapak mengizinkan kalau perlu
apa-apa tinggal panggil saya saja” pak Asep dengan sigap akan membantu jika
penghuni kost membutuhkan bantuannya.
“Terimakasih banyak pak” Kiki tersenyum dan meninggalkan pak
Asep.
“Iya sama-sama neng” Tumben
sekali neng Marwa membawa lelaki hemmm. Walaupun sedikit ragu namun pak Asep tetap mengizinkan baginya Kiki sudah
seperti anaknya sehingga sangat percaya padanya. Ini adalah pertama kalinya
Kiki membawa lelaki bahkan Arief yang biasa dilihat pak Asep tidak pernah
dibawa masuk dalam kost.
Kiki kembali menghampiri Yovi melihatnya dengan tatapan iba
namun juga kesal apa yang dikhawatirkan Kiki akhirnya terjadi juga.
“Ayo..” Yovi tanpa bicara mengikuti Kiki di belakangnya.
Saat akan membuka pintu kamar mereka berpapasan dengan
tetangga kost yang berpakaian cukup seksi degan setelan rok mini dan baju yang
kekecilan orang bilang pakaian kurang bahan.
“Baru pulang wa” sapa sang tetangga ramah dan tersenyum
menggoda ke arah Yovi.
“Iya mba, mba Sarah mau berangkat kerja ya?” Kiki juga
menjawab ramah.
“Hemm..” tetangga kost yang diketahui bernama Sarah itu terus
melirik Yovi mencari jawaban siapa lelaki tampan itu.
“Oh iya mba ini kakak saya..” faham dengan tatapan Sarah, Kiki
melirik Yovi malas dan memperkenalkannya.
Yovi hanya menatap datar tidak peduli dengan keadaannya yang
babak belur menyapa dengan mengangguk canggung ia bertanya-tanya mengapa
dikenalkan sebagai kakak.
“Oh dia kakakmu tampan juga walaupun wajahnya babak belur
seperti itu.. eh maaf ya Marwa.. ya sudah saya pergi dulu ya” lagi-lagi Sarah
tersenyum nakal pada Yovi lalu dia berlalu dari hadapan Kiki dan Yovi.
“Iya mba hati-hati” yang Kiki dengar Sarah bekerja di sebuah
bar wajar jika jam 9 malam baru mulai keluar untuk bekerja. Dilihatnya Yovi
yang tidak bergeming dengan kehadiran Sarah bahkan seperti risih berhadapan
dengan wanita seksi itu.
Kiki masuk kamar diikuti Yovi di belakangnya. Yovi
mengedarkan pandangan menelusuri setiap sisi kamar Kiki yang cukup nyaman untuk
di tinggali. Kiki meminta Yovi duduk di sofa lalu membuka laci mengambil kotak P3K.
Dilihatnya Yovi yang babak belur dengan luka di sudut bibirnya, di buku-buku
tangannya juga di pelipisnya.
Tidak sia-sia
aku mengorbankan diriku jika cara ini berhasil untuk dekat denganmu bahkan ini diluar
dugaanku sekarang aku bisa masuk ke kamar kost mu. Yovi memperhatikan Kiki dengan seksama yang mulai
memeriksa luka-lukanya.
“Bukankah kita harus kerumah sakit luka mu cukup
parah” Kiki meringis melihat banyaknya luka Yovi dan merasakan sakitnya.
“Tidak perlu kau tahu kan kalau aku alergi rumah sakit
bau rumah sakit saja sudah membuatku mual” Yovi bergidik membayangkan suasana
rumah sakit yang suram.
Kiki menghela nafas kasar memang Yovi selama hidupnya
tidak pernah kerumah sakit jikapun sakit ia memilih untuk mendiamkannya dan hanya
meminum obat warung atau obat apotek tanpa resep dokter.
“Kenapa tadi tidak melawan” Kiki mengambil kapas dan
mulai menetaskan cairan berwarna bening untuk membersihkan luka dari kotoran.
“Aku sudah berusaha tapi tetap saja kalah” Yovi
memperhatikan Kiki yang telaten merawatnya.
“Apa sakit?” Kiki mulai menempelkan kapas yang sudah
di tetesi dengan obat luka ke sudut bibir Yovi dengan sedikit darah yang mulai
mengering.
“Sedikit aw..aw” Yovi meringis menahan perih namun
rasa itu segera hilang bersamaan dengan tiupan lembut dari Kiki. Berada sedekat itu
ingin rasanya Yovi menerkam Kiki namun sekuat tenaga Ia menguasai dirinya untuk
tidak bersikap konyol.
“Hemm.. Apa yang kau inginkan?” Kiki mulai beralih ke
luka di buku-buku tangan Yovi.
“Apa maksudmu?” Yovi tidak mengerti dengan pertanyaan
Kiki.
“Apa kau sengaja melakukan ini supaya bisa dekat
denganku” Kiki sengaja menekan kapas pada luka Yovi. Yovi hanya meringis menahan
sakit.
“Apa aku terlihat sengaja, aku memang mencarimu tapi
kejadian ini benar-benar diluar dugaanku” Yovi bersungut-sungut tidak terima
dengan tuduhan Kiki walau kenyataannya benar.
“Sudah selesai kau boleh keluar” Kiki merapikan
kembali kotak P3K dan menyimpannya ditempat semula.
“Apa kau mengusirku?” Yovi mulai berpikir bagaimana
caranya agar bisa tetap berada di kost Kiki.
__ADS_1
“Terus sekarang mau bagaimana” Kiki menatap Yovi
jengah.
“Apa aku boleh menginap disini?” tanya Yovi berusaha
memelas.
“Kau gila ya aku tidak akan mengizinkanmu” Kiki membulatkan matanya
menolak ide konyol itu bagaimana mungkin Yovi punya fikiran sejauh itu.
“Apa kau tega membiarkan ku tidur di jalanan..Kejam
sekali.. Dimana nuranimu melihat orang yang sedang terluka dan membiarkan tidur
diluar” Yovi berusaha membujuk Kiki agar luluh dan mengizinkannya.
“Bukannya kau bisa tidur di mobil” Kiki tersenyum
remeh.
“Apa kau tega membiarkanku tidur di mobil dengan
keadaan seperti ini” Yovi memperlihatkan luka-lukanya dan memasang wajah sesedih
mungkin.
“Ya terus mau bagaimana” Kiki frustasi bagaimanapun ia
mengusir Yovi tetap akan kalah.
“Sudah aku bilang aku mau menginap disini bukannya
tadi kau sudah izin dengan penjaga itu” Yovi ingat bahwa Kiki sudah bicara
dengan pak satpam walau tidak tahu apa yang dibicarakan.
“Apa!! enak saja tidak bisa” Kiki lagi-lagi menolak
bukankah itu hanya akal-akalan Yovi saja.
“Ayolah aku janji hanya malam ini saja..hemm” Yovi
memasang wajah menyedihkan layaknya anak anjing yang akan dibuang majikannya.
Cukup lama Kiki berfikir.
“Baiklah kau boleh menginap, tapi kau tidur disini”
Kiki menunjuk sofa tempat Yovi duduk.
“Oke terimakasih nyonya” Yovi bersikap layaknya
mendapat kebaikan dari majikannya.
“Tapi ingat.. jangan berani macam-macam.. awas kau”
Kiki terdengar tidak main-main dengan ucapannya bahkan sangat mengancam.
“Tidak akan, aku janji” Yovi menunjukkan dua jarinya
membentuk V sebagai tanda janjinya. Kiki berlalu menuju lemari untuk mengambilkan
sesuatu walaupun cuek namun tidak bisa menurunkan rasa pedulinya pada lelaki
masa lalunya itu..
“Nih..” Kiki memberi selimut pada Yovi.
“Terimakasih” Yovi memberikan senyum semanis mungkin
pada Kiki namun ia hanya mengabaikannya.
Kiki berganti baju dan bersiap untuk tidur entah
mengapa ia menjadi gelisah mungkinkah karena kehadiran orang asing di kamarnya
atau karena hal lain. Berulang kali ia mengubah posisi tidurnya namun tetap
tidak bisa terlelap.
Diliriknya Yovi yang sudah berbaring di sofa dengan
selimut menutupinya. Lalu ia mematikan lampu kamar berharap bisa membantunya
terlelap menyisakan lampu tidur yang temaram menemani mereka yang siap
Tengah malam Yovi terbangun karena ingin ke kamar
mandi dilihatnya Kiki yang sudah tertidur pulas setelah selesai ia mendekati
ranjang memperhatikan Kiki. Lama ia mengamati setiap inci wajah Kiki yang
sangat cantik bahkan saat tertidur seperti ini lalu Yovi perlahan mendekatkan
dirinya aman tidak ada pergerakan.
Yovi lalu mencium pipi Kiki namun masih tidak ada
pergerakan hingga tiga kali ia mencium pipi itu namun Kiki masih tetap tenang.
Tapi tiba-tiba Kiki menggerakkan badannya dan tersenyum sepertinya ia mengira
sedang bermimpi di cium seorang pangeran tetapi ia merasa sangat nyata. Takut Kiki
terbangun Yovi menyudahi aksinya dan kembali ke sofa untuk melanjutkan
tidurnya.
Yovi membaringkan dirinya kembali mengingat bagaimana
akhirnya ia bisa memenangkan simpati Kiki. Sebelumnya Iin
memberitahu Yovi bahwa Arief dan Kiki akan bertemu di kafe x pada malam hari
melalui pesan di ponselnya. Ia tidak sengaja mendengar obrolan Kiki dan Arief
saat di depan meja kerjanya.
Iin berjanji akan membantu Yovi untuk kembali pada Kiki
karena Yovi telah menceritakan kisah bohongnya sama seperti saat ia menceritakan
pada Arief ketika di kafe.
Terimakasih asisten kau
memang sangat bisa di andalkan. Yovi kembali terlelap.
***
Sayup-sayup Kiki mendengar suara azan subuh ia lalu
perlahan membuka matanya bergegas bangun untuk menunaikan sholat subuh dan
mengaji sebentar. Setelah selesai seperti biasa ia mulai membereskan tempat
tidurnya dan mulai menyapu kamarnya.
Sementara Kiki melihat Yovi masih tertidur ia lalu
mendekati Yovi melihat dengan seksama bagaimana detail wajah Yovi dengan pahatan yang sempurna dari sang pencipta.
Benar apa
kata Isa memang dia lumayan tampan hemmm.
Yovi perlahan membuka matanya sebenarnya ia sudah
terbangun sejak Kiki mengaji namun ia kembali pura-pura tertidur untuk melihat
apa yang dilakukan Kiki selanjutnya.
“Ada apa” suara serak khas bangun tidur Yovi mengucek
matanya.
“Ti-tidak ada” Kiki yang sedang terduduk memegang sapu
seketika oleng dan mengalihkan pandangannya salah tingkah.
“Bangun, sholat subuh dulu sana” Kiki bertingkah layaknya
emak-emak yang membangunkan anaknya.
“Hemm” Yovi masuk kamar mandi dan mulai mengambil wudlu. Selesai sholat ia kembali ke sofa
namun Kiki tidak ada di kamarnya.
“Kemana dia?” Yovi bertanya-tanya kemana Kiki sepagi
__ADS_1
ini bahkan belum ada jam 6 pagi ia sudah meninggalkan kamarnya apakah dia pergi
olahraga atau kemana.. entahlah.
Yovi mengamati kembali kamar Kiki dilihatnya setiap
benda yang ada disana perhatiannya tertuju pada meja kecil dengan 3 laci
tersusun ke bawah. Yovi melihat sebuah bingkai foto yang terasa tidak asing bukankah itu foto
Kiki saat masih SMA lalu mengapa foto itu terlihat hilang setengahnya.
Yovi berjalan lebih dekat dan memegang bingkai foto
itu dengan hati-hati setelah diamati seharusnya bagian yang hilang itu adalah
dirinya tetapi mengapa Kiki menghilangkannya. Lalu ia mengambil sebuah kotak
kaca dan mengambil isinya yang merupakan sebuah gelang dengan inisial K dan Y.
Sejenak ia termenung dengan dua benda itu bukankah itu
benda yang ia punya juga. Ah iya benar foto dan gelang itu merupakan benda yang
sengaja Kiki berikan untuk Yovi sesaat setelah Yovi lulus SMA dulu.
“Apa yang kau lakukan..” suara Kiki membuyarkan
lamunan Yovi dan meletakkan benda yang dipegangnya ke tempat semula dan berbalik
melihat Kiki.
“Tidak ada.. kau darimana?” di liriknya kantung plastik
yang ada ditangan Kiki.
“Aku habis mencari sarapan, ayo makan kau pasti
laparkan” Kiki meletakkan kantung plastik di meja depan sofa.
“Ini masih terlalu pagi untuk sarapan Ki” Yovi
mendekat ke arah Kiki.
“Ya sudah mandi dulu sana” Kiki berlalu mengambil
handuk.
“Dingin Ki” entah mengapa dihadapan Kiki Yovi menjadi
manja.
“Sudah tidak ada alasan..nih” Kiki melemparkan handuk
pada Yovi.
Yovi dengan langkah malas masuk ke kamar mandi 10
menit kemudian ia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk sampai
pinggangnya sehingga mengekspos tubuh bagian atasnya dadanya yang bidang
perutnya yang kotak-kotak dan juga lengannya yang kekar menambah pesona dirinya.
Rambutnya yang basah serta tetesan air yang melewatinya menambah keseksian
dirinya.
Kiki menelan salivanya dengan susah payah karena di
pagi buta seperti ini dia di suguhkan dengan pemandangan yang menodai matanya.
Kiki dibuat melongo melihatnya.
“Ada apa, kenapa melihatku seperti itu?” Yovi
pura-pura bodoh padahal ia tahu bahwa Kiki sangat tergoda akan pesona tubuhnya.
“Ti-tidak ada, lekas ganti baju sana” Kiki yang sedang berdiri didepan lemarinya menjadi salah
tingkah dan pura-pura sibuk membereskan isi lemarinya.
“Aku lupa tidak bawa baju ganti hee” Yovi nyengir
memperlihatkan gigi putihnya.
“Huffff sebentar...pakai ini” Kiki membongkar
lemarinya dan menemukan setelan yang dirasa cocok untuk Yovi. Menyerahkan kaos dengan
ukuran besar dan celana training yang jarang dipakainya karena ukurannya yang
juga besar. Ia kembali salah tingkah karena Yovi datang mendekatinya membuatnya
terpojok di lemari. Yovi mengunci dengan tangannya hingga Kiki tidak bisa
berkutik.
“A-apa yang kau lakukan jangan macam-macam atau aku
akan meneriakimu pencuri” Kiki membulatkan matanya karena Yovi makin
mendesaknya hingga pandangan mereka saling beradu.
“Kau bahkan akan mendapatkan lebih dari ini.. tunggu
saja” Yovi tidak bergeming dengan ancaman Kiki malah semakin menggodanya dengan
mengedipkan sebelah matanya. Lalu mengambil setelan dari tangan Kiki. Yovi
mendekatkan wajahnya reflek Kiki memejamkan matanya.
“Terimakasih” Yovi setengah berbisik pada telinga
Kiki.
Yovi kembali masuk ke kamar mandi tidak membayangkan
jika ia nekat berganti pakaian di depan Kiki bisa-bisa histeris bukan.
Kiki perlahan membuka matanya. Sialan berani sekali dia menggodaku sungguh ia benar telah menjadi
lelaki dewasa sekarang. Aku harus berhati-hati. Kiki mengutuki
kebodohannya.
“Jam berapa kamu kerja?” Yovi keluar dari kamar mandi
dan duduk di sofa.
“Kenapa” tanya Kiki.
“Mau aku antar” Yovi menawarkan bantuannya.
“Tidak perlu” Kiki menolak mentah-mentah
“Kenapa” Yovi menautkan alisnya karena Kiki menolak
untuk diantar.
“Aku bisa jalan sendiri” Kiki sibuk mencari sesuatu di
lacinya.
“Olesi luka mu dengan ini biar cepat sembuh” Kiki
menyerahkan salep pada Yovi.
“Lama tidak bertemu ternyata kadar perhatianmu tidak
berkurang ya” Yovi tersenyum menggoda Kiki.
“Jangan terlalu percaya diri aku hanya tidak ingin
berlama-lama melihatmu disini jika kau sudah sembuh kau bisa keluar dari
tempatku” Kiki tersenyum remeh pada Yovi.
Yovi tidak menanggapi ocehan Kiki, ia mulai mengolesi
lukanya namun terlihat kesulitan. Tanpa bicara Kiki merebut salep itu dan mulai
mengolesi dengan lembut.
“Terimakasih” Yovi menatap dalam pada Kiki yang
membuatnya salah tingkah.
***
Selamat membaca kakak-kakak..
__ADS_1
Mohon dukungannya ya..