
Siang ini opa Win dan papa Chandra terbang ke Bali, karena besok adalah hari pernikahan opa Win dan bu Rahma.
Angga dan Diandra, menjemput opa dan sang papa di bandara internasional Ngurah Rai Bali. Dan rencana nya opa dan papa nya itu akan menginap di hotel, yang berada di sekitar pantai Kuta. Yang berdekatan juga dengan Villa milik mama Dewi.
Sebenar nya mama Dewi sudah menawarkan kepada besan nya itu agar menginap saja di Villa nya, namun opa Win dan papa Chandra merasa sungkan jika harus menginap di sana.
Sahabat-sahabat Diandra pun rencana nya akan datang sore nanti, pasal nya mereka semua telah menganggap bu Rahma sebagai ibu bagi mereka sama seperti Diandra,,, begitu juga dengan opa Win, yang telah mereka anggap sebagai opa nya.
Dokter Hanna rencana juga akan hadir bersama mereka sore nanti, karena dokter Hanna masih ada jadwal operasi siang ini.
Kini mobil yang di kendarai Angga telah berbelok menuju hotel, yang telah di reservasi sebelum nya. Setelah memarkir mobil nya, mereka semua turun dan langsung berjalan masuk kedalam lobi hotel.
Angga berjalan kearah resepsionis dan terlihat berbincang, tak berapa lama suami dari Diandra itu telah kembali bersama seorang room boy dengan membawa dua kunci di tangan nya.
"Mari opa, papa,," ajak Angga kepada opa dan papa mertua nya untuk mengikuti room boy yang telah membawa kan koper, Angga berjalan sambil menggandeng mesra tangan sang istri.
Opa Win dan papa Chandra menempati kamar yang berbeda, yang di pisahkan oleh ruang terbuka hijau dengan bangku-bangku kecil yang di sediakan untuk tamu yang ingin bersantai menikmati keindahan langit malam di pantai Kuta.
Angga dan Diandra memilih menunggu sang opa dan papa nya di bangku tersebut, sambil melihat ikan-ikan kecil berwarna-warni yang berenang bebas di kolam kecil yang terdapat di taman buatan itu.
Setelah beberapa saat menunggu, papa Chandra keluar dari kamar dan menghampiri kedua nya. Tak berselang lama, opa Win keluar dengan pakaian yang lebih santai.
"Opa,, mau Didi yang nyariin atau mau cari sendiri seserahan untuk ibu nya Didi?" Tanya Diandra dengan senyum menggoda.
"Kamu saja lah nak, opa capek mau istirahat. Lagi pula kan, kamu yang tahu persis dengan kesukaan ibu mu?"
"Oke opa,, kami berangkat sekarang ya opa, biar enggak kesorean," pamit Diandra seraya beranjak, "papa ikut kan?" Diandra memastikan pada sang papa.
Papa Chandra mengangguk, "papa ikut, papa masih kangen sama kamu nak," balas papa Chandra seraya mengacak lembut puncak kepala putri nya yang tertutup hijab.
"Pakai ini nak," opa Win memberikan kartu kredit kepada cucu kesayangan nya itu.
"Didi boleh ikut belanja keperluan Didi enggak opa?" Tanya Diandra memancing, padahal yang sebenar nya dia sedang tidak menginginkan sesuatu.
__ADS_1
"Sayang,," protes Angga menatap istri nya.
"Pasti nak, semua yang opa punya adalah milik mu," balas sang opa, seraya tersenyum tulus.
"Kamu juga bisa minta sama papa nak,,, semua yang kami punya, milik kalian," ucap papa Chandra menegaskan perkataan opa Win, seraya menatap Angga dan Diandra bergantian.
"Papa,, opa,, Didi sayang sama kalian," ucap Diandra dengan manja, "tapi Didi enggak butuh semua harta itu, Didi hanya ingin bisa terus bersama-sama seperti ini," lanjut nya.
"Udah yuk jalan,," ajak Angga, yang melihat istri nya mulai melankolis.
Entahlah, semenjak kehamilan nya Diandra merasa lebih sensitif dan mudah menangis.
"Ya, Angga benar,, cepat lah kalian berangkat, dan carikan barang-barang pesanan ku," titah opa Win seraya terkekeh.
Papa Chandra bersama putri nya dan sang menantu pun berlalu, meninggalkan opa Win seorang diri.
°°°°°
Semua perlengkapan untuk seserahan juga sudah siap di mobil Aditya, yang baru saja di parkiran dan Aditya memilih untuk menunggu di sana.
Rombongan dari keluarga opa Win, memang hanya mereka berempat di tambah Aditya. Sedangkan mama Dewi, dokter Hanna dan sahabat-sahabat Diandra telah berangkat ke kediaman bu Rahma sejak pagi tadi.
Raka, Shinta dan sang suami beserta putri semata wayang nya masih dalam perjalanan dari Jakarta, dan akan langsung menuju ke kediaman bu Rahma yang sekaligus beliau jadikan sebagai panti asuhan.
Setelah menunggu cukup lama, akhir nya opa Win keluar dari kamar nya. Meski usianya menginjak kepala tujuh, namun opa Win masih terlihat segar. Itu karena papa Chandra yang sangat cerewet terhadap pola makan opa Win, dan kebetulan opa Win juga gemar jogging.
"Ayo berangkat sekarang," titah opa Win seraya melirik jam tangan mahal, di pergelangan tangan nya.
Kakek, anak, cucu serta cucu menantunya itu berjalan keluar dari hotel menuju parkiran. Dan langsung masuk kedalam mobil Angga.
"Dit, lu yang jalan duluan," seru Angga dari dalam mobil nya, dengan sedikit berteriak kepada sahabat nya yang berada di dalam mobil di samping mobil nya.
Aditya mengangguk, dan segera melajukan mobil nya dengan perlahan meninggalkan pelataran hotel, yang diikuti oleh mobil Angga.
__ADS_1
Hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk sampai ke kediaman bu Rahma, Angga dan Aditya menghentikan mobil nya di halaman milik tetangga bu Rahma yang cukup luas. Dan kemudian mereka semua segera turun dari dalam mobil.
Opa Win dengan di dampingi Diandra dan papa Chandra, serta diiringi Aditya dan Angga, berjalan dengan tegap menuju ke kediaman bu Rahma.
Nampak di halaman bu Rahma, sudah menyambut sahabat-sahabat Diandra. Sedangkan di dalam ruang tamu, sudah di penuhi undangan yang terdiri dari para tetangga dekat bu Rahma.
Tepat di saat yang bersamaan, pak penghulu pun nampak hadir. Dan mereka semua segera menempatkan diri di ruang tamu.
Bu Rahma baru saja keluar dengan mengenakan kebaya modern berwarna putih, beliau terlihat anggun dengan riasan tipis di wajah nya. Dokter Hanna nampak mengiringi langkah nya dari belakang.
Diandra segera menyambut sang ibu, dan menuntun nya untuk duduk di samping sang opa.
"Apa semua sudah siap?" Tanya pak penghulu, sesaat setelah bu Rahma duduk.
"Sudah pak," balas mama Dewi, selaku tuan rumah di kediaman bu Rahma.
Ya, mama Dewi lah yang punya andil besar dalam mempersiapkan semua nya. Bahkan dari kemarin, mama Dewi sudah berada di kediaman bu Rahma.
"Baik, kalau begitu bisa langsung di mulai ya,," pinta pak penghulu.
Sesepuh di kampung bu Rahma tinggal, yang di daulat untuk membawa kan acara nya segera membuka acara di pagi hari yang cerah itu.
Acara demi acara berjalan dengan lancar, hingga tiba lah di puncak acara yang kemudian di serahkan sepenuh nya kepada penghulu yang bertugas.
Dengan mengucap Basmallah, penghulu menjabat erat tangan opa Win dan membacakan ijab nya.
Opa Win nampak mendengarkan dengan khusyuk ucapan pak penghulu, hingga tiba giliran nya untuk mengucapkan qobul,,, sejenak opa Win memejamkan mata dan dengan suara tegas dan penuh wibawa, opa Win berhasil mengucapkan kalimat qobul dengan satu tarikan nafas.
Dua orang saksi mengesahkan nya, yang dibarengi oleh semua hang hadir.
Bu Rahma menitikkan air mata haru, begitupun dengan opa Win.
Dan Diandra langsung memeluk kedua nya dari belakang.
__ADS_1