
Pukul 9.30 WIB Kiki dan Isa sudah berada di salah satu kolam
renang umum di dekat rumahnya. Suasana kolam renang cukup ramai karena hari ini
adalah akhir pekan. Kiki dan Isa sudah memakai pakaian renang mereka duduk di
tepi kolam dengan kaki sudah masuk kolam. Isa mulai memasukkan dirinya ke dalam
kolam perlahan dibantu dengan Kiki.
“Bagaimana dek.. apa yang kamu rasakan” Kiki memegang erat
tangan Isa perlahan menuntunnya menyusuri kolam.
“Huft..huft.. Masih deg-degan sih kak” Isa terlihat pucat
dengan tangan gemetar.
“Ya sudah pelan-pelan dek.. tarik nafas.. buang” Kiki
menenangkan Isa.
Isa perlahan sudah mulai terbiasa dengan air, Ia juga dapat
menguasai rasa paniknya. Setelah satu jam berada di kolam renang Kiki dan Isa menyudahi
aktivitasnya dan mereka kembali pulang ke rumah.
Di rumah Kiki
Pukul 15.00 WIB Kiki bersiap-siap untuk berangkat ke tempat
kerjanya Ia sudah dijemput taksi untuk menuju stasiun, butuh 3 hingga 4 jam
perjalanan untuk sampai ke kantornya.
“Bu Kiki berangkat ya” pamitnya pada ibu berat sebenarnya
untuk meninggalkan ibunya.
“Isa yang nurut sama ibu semangat terus terapinya oh iya yang
rajin juga sekolahnya” Kiki menatap dan memegang puncak kepala Isa.
“Iya kakak bawel” Isa sejujurnya tidak rela berpisah dengan kakaknya
walau saat bertemu seperti minyak dan air yang susah menyatu namun ketika pergi
saling merindukan satu sama lain.
“Hemmm..” Kiki menyilangkan tangannya.
“Sudah-sudah itu pak supirnya sudah menunggu.. Kamu hati-hati
dijalan ya, jaga kesehatan jaga ibadahnya dan semangat kerjanya” terdengar nada tidak rela dari
suara ibu bagaimanapun juga ia ingin anaknya tinggal lebih lama.
“Baik bu ”Kiki memeluk ibu dan Isa secara bergantian, pak
supir memasukkan tas Kiki kedalam bagasi diikuti Kiki duduk di bangku belakang Ia
melambaikan tangan tanda perpisahan pada ibu dan Isa. Setelah mobil menghilang
dari pandangan ibu dan Isa baru benar-benar merasakan rumah terasa hampa tanpa
kehadiran Kiki.
“Yah sepi deh” Isa terlihat lesu melepas kepergian kakaknya.
“Mau bagaimana lagi, kakakmu belum bisa meninggalkan
pekerjaannya, sudah ayo masuk” ibu dan Isa masuk ke dalam rumah dengan langkah
gontai.
Kiki sudah berada di dalam kereta duduk di bangku kelas
bisnis beruntung di sampingnya adalah seorang wanita paruh baya sehingga tidak
terlalu canggung, sesekali mereka berbincang bertukar cerita satu sama lain.
Pikiran Kiki terus menerawang keluar jendela Ia mencemaskan
keadaan Isa dan memikirkan permintaan ibunya untuk pindah bekerja di tempat
tinggalnya.
Pukul 21.00 WIB Kiki sudah sampai kostnya Ia langsung masuk
dan menyapa pak satpam seperti biasa. Kiki masuk kamar dan mulai membersihkan
karena sudah lama Ia tinggalkan setelah beres-beres Kiki membersihkan
dirinya kemudian sholat isya dan beristirahat.
***
Pukul 5.00 WIB Kiki sudah bangun kemudian Ia beranjak untuk
sholat subuh setelah selesai Kiki mencari ponselnya untuk mengirim pesan pada
ibunya bahwa dirinya sudah sampai dengan selamat.
Kiki bersiap-siap untuk lari pagi saat melewati gerbang Ia
menghampiri pak satpam untuk memberi oleh-oleh.
“Pak.. pak Asep” Kiki mengetuk pintu pos satpam.
“Iya neng maaf ada apa ya pagi-pagi begini sudah memanggil
saya” pak satpam membukakan pintu dan melihat Kiki menggunakan setelan olahraga
serta tentengan di tangannya.
“Tidak ada apa-apa pak, saya cuma mau memberi ini” Kiki
menyerahkan plastik yang berisi oleh-oleh.
“Noan (apa) ini
neng?”
“Ah ini oleh-oleh dari saya pak maaf cuma sedikit”
“Terimakasih neng jadi repot-repot” pak satpam menerima
__ADS_1
bungkusan plastik dari Kiki.
“Tidak pak, semangat kerjanya ya pak, tidak ada masalahkan
pak selama saya pulang”
“Aman neng penghuni lain juga tidak ada masalah”
“Baguslah saya permisi dulu ya pak”
“Neng mau olahraga” pak satpam melihat dari atas hingga ujung
kaki
“Iya pak saya mau lari pagi dulu mumpung udaranya masih segar
“ Kiki tersenyum manis.
“Mangga (silahkan) neng bapak mah nitip saja”
“Nitip apa pak?”
“Nitip olahraga haha”
“Pak Asep mah ada-ada saja.. saya permisi pak”
“Iya neng silahkan” Kiki berlalu dan mulai berlari menyusuri
jalanan sekitar tempat tinggalnya.
“Kalau saja saya punya anak lelaki sudah saya jodohkan dengan
neng Marwa mana anaknya cantik baik pula hemm sayangnya teh anak masih
kecil-kecil” pak satpam tersenyum simpul lalu kembali masuk kedalam pos.
Setelah 1 jam olahraga Kiki kemudian kembali ke kost dan
bersiap untuk berangkat ke kantor.
Pukul 8.30 WIB Kiki tiba di kantor, sengaja Kiki datang lebih
awal karena sudah rindu dengan suasana kantor. Tidak berapa lama Iin datang.
“Halo In!” Kiki menyapa Iin yang akan menuju meja kerjanya.
“Mba Kiki..” Iin terkejut dengan sapaan Kiki, lalu Iin
memeluk Kiki.
“Bagaimana kabarmu” Kiki melepas pelukan Iin.
“Kabar Iin baik mba”
“Kok tidak mengabari mba kalau hari ini sudah masuk kerja”
tanya Iin heran.
“Sengaja hehe” Kiki hanya tersenyum karena memang ingin
memberi kejutan.
“Kapan tibanya mba?” Iin masuk ke meja kerjanya.
“Semalam In” Kiki berdiri didepan meja Iin.
“Ya begitulah cukup menyenangkan” Kiki tersenyum masam.
Kiki tidak memberitahukan masalah yang menimpa Isa pada
siapapun karena baginya itu bukan sesuatu yang perlu diketahui oleh orang lain.
Sebelumnya Kiki membawa satu kantong oleh-oleh untuk dibagikan pada rekan
kerjanya dan ditaruh diatas meja kerja Iin.
“Apa ini mba?” mata Iin tertuju pada sekantong kresek putih
yang cukup besar di meja kerjanya.
“Ini ada beberapa oleh-oleh dimakan ya jangan lupa dibagi
sama Kak Santi dan Kak Arief.”
“Terimakasih mba”
“Iya-sama-sama”
“Ya sudah aku ke ruang wardrobe dulu nanti kalau ada apa-apa panggil saja” Kiki berlalu meninggalkan Iin.
“Baik mba” Iin mengangguk.
Hingga mendekati jam makan siang belum ada tanda-tanda
kedatangan Kak Santi ataupun Arief. Kiki keluar dan kembali ke meja Iin.
“Kak Arief sama Kak Santi kemana In sampai jam segini kok belum
datang?”
“Iya mba, Bu santi dan mas Aref baru ada rapat, ada proyek pemotretan
untuk peresmian salah satu hotel gitu sih” yang tidak lain adalah hotel milik keluarga Iin memang Ia sengaja
memberikan proyek itu untuk kantor tempatnya bekerja karena Ia tahu kualitas
Arief sudah tidak perlu di ragukan lagi.
“Oke baiklah.. sudah jam makan siang nih kamu mau makan apa In?”
“Ikut mba Marwa saja”
“Benar nih.. kamu nggak pengen makan apa gitu?”
“Tidak mba” Iin tidak ingin menjadi pegawai yang merepotkan
atasannya cukup tahu diri baginya untuk tidak bertindak diluar batas.
“Hemm aku kangen bebek sambal hijau In, sebentar ya aku order
dulu” Kiki membuka ponselnya dan mulai memesan makanan secara online.
“Mba maaf kalau boleh saya lauknya ayam saja ya” Iin memang
tidak begitu suka dengan bebek.
“Oke tunggu ya” Kiki sudah selesai memesan dan menunggu
__ADS_1
makanannya datang.
Mereka makan siang sembari bertukar cerita Kiki menanyakan
bagaimana rasanya menjadi asisten Arief selama menggantikan dirinya. Iin
frustasi dan menceritakan semuanya pada Kiki. Kiki sesekali tertawa lebar
dengan penderitaan yang dialami Iin.
***
Sore hari semua bersiap pulang seperti biasa Kiki dengan
motor kesayangannya. Iin dengan sepeda gunungnya. Arief juga sudah berada
di kantor untuk menitipkan berkas hasil rapat, sementara Kak Santi sudah pulang
terlebih dahulu.
Tanpa diduga Yovi telah sampai didepan kantor sesuai alamat
di kartu yang Ia dapat dari Iin.
Yovi menunggu ditempat parkir kantor tersebut, Kiki, Arief
dan Iin keluar dari kantor dengan bercanda ria. Betapa terkejutnya mereka saat Yovi datang menghampiri. Dilihatnya semua saling memandang satu sama lain dengan tatapan menyelidik.
“Maaf Mas ganteng kantor sudah tutup datang besok lagi ya, atau
bisa pake layanan online” suara Iin memecah keheningan samar-samar Ia mengingat
siapa lelaki yang ada dihadapannya ini.
“Saya datang untuk menjemput Kiki” Yovi tersenyum menatap Iin
kemudian beralih pada Kiki.
Deg... mendengar itu membuat Iin sontak menoleh pada Kiki
yang sudah mati kutu.
Kiki kemudian menarik lengan Arief
menuju mobil.
“Kak please antar aku pulang” pinta Kiki setengah berbisik diikuti
dengan langkah yang terburu-buru hingga Arief terseok-seok mengikutinya.
“Kiki tunggu kita perlu bicara”
“Tidak ada yang perlu
dibicarakan” Kiki menyahut tanpa menoleh dan melanjutkan langkahnya.
“Kamu benar suaminya dia?” Yovi
menahan lengan Arief yang membuat langkahnya tertahan.
Arief menghentikan langkahnya
menatap sengit Yovi dan menatap lengannya seolah mengatakan lepaskan tanganmu
itu br*ngsek!. Yovi memahami lalu menurunkan tangannya.
“Iya” entah mengapa Arief
menjawab seperti itu sepertinya karena naluri untuk melindungi Kiki.
Iin membulatkan matanya mendengar
jawaban Arief. Apa yang sebenarnya terjadi pada orang-orang ini.
“Kak Arief sudahlah ayo tidak
usah ditanggapi” Kiki kembali menyeret Arief agar segera masuk mobil.
“Aku tidak percaya kalau kalian
sudah menikah lihat saja kalian kaku sekali, iyakan In” Walaupun baru satu kali
bertemu, Yovi masih ingat dengan jelas nama asisten itu. Yovi menatap Iin meminta
pembelaan, Iin tergagap lalu menatap Kiki meminta jawaban. Kiki menggeleng
samar menatap Iin seperti mengatakan jangan bicara apapun In kumohon. Iin hanya
diam mungkin ini lebih baik daripada harus bicara salah-salah bisa dipecat
nanti.
“Memang dia suami ku, sayang ayo
masuk” Kiki dengan paksa menarik lengan Arief hingga masuk mobil.
Drama apa lagi ini Tuhan.Batin Iin. Tidak ingin larut dalam urusan
bosnya Iin segera kabur dengan sepedanya. Meninggalkan Yovi dengan segala
amarahnya berani sekali Kiki memanggil orang lain dengan mesra seperti itu.
Kiki dan Arief sudah didalam
mobil melaju menembus padatnya jalanan ibukota seperti biasa.
Mengapa tadi aku mengiyakan pertanyaan lelaki itu, siapa dia
sebenarnya. Apa yang telah terjadi dengan Mawar apa maksud dari perkataannya
tadi bahwa aku ini suaminya. Batin Arief.
Maafkan aku kak harus melibatkanmu hingga menjadikanmu suami bohongan seperti ini
jika sudah saatnya akan aku jelaskan semuanya. Bagaimana mungkin dia senekat
ini menyusul ku hingga datang kesini sih. Batin Kiki.
Sepanjang jalan Kiki hanya termenung
menatap jendela luar begitu pula dengan Arief yang menatap lurus jalanan, tidak ada perbincangan sama sekali mereka
larut dalam pikirannya masing-masing.
***
Selamat membaca..
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kakak-kakak..