Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Suami Bohongan


__ADS_3

Pukul 9.30 WIB Kiki dan Isa sudah berada di salah satu kolam


renang umum di dekat rumahnya. Suasana kolam renang cukup ramai karena hari ini


adalah akhir pekan. Kiki dan Isa sudah memakai pakaian renang mereka duduk di


tepi kolam dengan kaki sudah masuk kolam. Isa mulai memasukkan dirinya ke dalam


kolam perlahan dibantu dengan Kiki.


“Bagaimana dek.. apa yang kamu rasakan” Kiki memegang erat


tangan Isa perlahan menuntunnya menyusuri kolam.


“Huft..huft.. Masih deg-degan sih kak” Isa terlihat pucat


dengan tangan gemetar.


“Ya sudah pelan-pelan dek.. tarik nafas.. buang” Kiki


menenangkan Isa.


Isa perlahan sudah mulai terbiasa dengan air, Ia juga dapat


menguasai rasa paniknya. Setelah satu jam berada di kolam renang Kiki dan Isa menyudahi


aktivitasnya dan mereka kembali pulang ke rumah.


Di rumah Kiki


Pukul 15.00 WIB Kiki bersiap-siap untuk berangkat ke tempat


kerjanya Ia sudah dijemput taksi untuk menuju stasiun, butuh 3 hingga 4 jam


perjalanan untuk sampai ke kantornya.


“Bu Kiki berangkat ya” pamitnya pada ibu berat sebenarnya


untuk meninggalkan ibunya.


“Isa yang nurut sama ibu semangat terus terapinya oh iya yang


rajin juga sekolahnya” Kiki menatap dan memegang puncak kepala Isa.


“Iya kakak bawel” Isa sejujurnya tidak rela berpisah dengan kakaknya


walau saat bertemu seperti minyak dan air yang susah menyatu namun ketika pergi


saling merindukan satu sama lain.


“Hemmm..” Kiki menyilangkan tangannya.


“Sudah-sudah itu pak supirnya sudah menunggu.. Kamu hati-hati


dijalan ya, jaga kesehatan jaga ibadahnya dan semangat kerjanya” terdengar nada tidak rela dari


suara ibu bagaimanapun juga ia ingin anaknya tinggal lebih lama.


“Baik bu ”Kiki memeluk ibu dan Isa secara bergantian, pak


supir memasukkan tas Kiki kedalam bagasi diikuti Kiki duduk di bangku belakang Ia


melambaikan tangan tanda perpisahan pada ibu dan Isa. Setelah mobil menghilang


dari pandangan ibu dan Isa baru benar-benar merasakan rumah terasa hampa tanpa


kehadiran Kiki.


“Yah sepi deh” Isa terlihat lesu melepas kepergian kakaknya.


“Mau bagaimana lagi, kakakmu belum bisa meninggalkan


pekerjaannya, sudah ayo masuk” ibu dan Isa masuk ke dalam rumah dengan langkah


gontai.


Kiki sudah berada di dalam kereta duduk di bangku kelas


bisnis beruntung di sampingnya adalah seorang wanita paruh baya sehingga tidak


terlalu canggung, sesekali mereka berbincang bertukar cerita satu sama lain.


Pikiran Kiki terus menerawang keluar jendela Ia mencemaskan


keadaan Isa dan memikirkan permintaan ibunya untuk pindah bekerja di tempat


tinggalnya.


Pukul 21.00 WIB Kiki sudah sampai kostnya Ia langsung masuk


dan menyapa pak satpam seperti biasa. Kiki masuk kamar dan mulai membersihkan


karena sudah lama Ia tinggalkan setelah beres-beres Kiki membersihkan


dirinya kemudian sholat isya dan beristirahat.


***


Pukul 5.00 WIB Kiki sudah bangun kemudian Ia beranjak untuk


sholat subuh setelah selesai Kiki mencari ponselnya untuk mengirim pesan pada


ibunya bahwa dirinya sudah sampai dengan selamat.


Kiki bersiap-siap untuk lari pagi saat melewati gerbang Ia


menghampiri pak satpam untuk memberi oleh-oleh.


“Pak.. pak Asep” Kiki mengetuk pintu pos satpam.


“Iya neng maaf ada apa ya pagi-pagi begini sudah memanggil


saya” pak satpam membukakan pintu dan melihat Kiki menggunakan setelan olahraga


serta tentengan di tangannya.


“Tidak ada apa-apa pak, saya cuma mau memberi ini” Kiki


menyerahkan plastik yang berisi oleh-oleh.


“Noan (apa) ini


neng?”


“Ah ini oleh-oleh dari saya pak maaf cuma sedikit”


“Terimakasih neng jadi repot-repot” pak satpam menerima

__ADS_1


bungkusan plastik dari Kiki.


“Tidak pak, semangat kerjanya ya pak, tidak ada masalahkan


pak selama saya pulang”


“Aman neng penghuni lain juga tidak ada masalah”


“Baguslah saya permisi dulu ya pak”


“Neng mau olahraga” pak satpam melihat dari atas hingga ujung


kaki


“Iya pak saya mau lari pagi dulu mumpung udaranya masih segar


“ Kiki tersenyum manis.


“Mangga (silahkan) neng bapak mah nitip saja”


“Nitip apa pak?”


“Nitip olahraga haha”


“Pak Asep mah ada-ada saja.. saya permisi pak”


“Iya neng silahkan” Kiki berlalu dan mulai berlari menyusuri


jalanan sekitar tempat tinggalnya.


“Kalau saja saya punya anak lelaki sudah saya jodohkan dengan


neng Marwa mana anaknya cantik baik pula hemm sayangnya teh anak masih


kecil-kecil” pak satpam tersenyum simpul lalu kembali masuk kedalam pos.


Setelah 1 jam olahraga Kiki kemudian kembali ke kost dan


bersiap untuk berangkat ke kantor.


Pukul 8.30 WIB Kiki tiba di kantor, sengaja Kiki datang lebih


awal karena sudah rindu dengan suasana kantor. Tidak berapa lama Iin datang.


“Halo In!” Kiki menyapa Iin yang akan menuju meja kerjanya.


“Mba Kiki..” Iin terkejut dengan sapaan Kiki, lalu Iin


memeluk Kiki.


“Bagaimana kabarmu” Kiki melepas pelukan Iin.


“Kabar Iin baik mba”


“Kok tidak mengabari mba kalau hari ini sudah masuk kerja”


tanya Iin heran.


“Sengaja hehe” Kiki hanya tersenyum karena memang ingin


memberi kejutan.


“Kapan tibanya mba?” Iin masuk ke meja kerjanya.


“Semalam In” Kiki berdiri didepan meja Iin.


“Ya begitulah cukup menyenangkan” Kiki tersenyum masam.


Kiki tidak memberitahukan masalah yang menimpa Isa pada


siapapun karena baginya itu bukan sesuatu yang perlu diketahui oleh orang lain.


Sebelumnya Kiki membawa satu kantong oleh-oleh untuk dibagikan pada rekan


kerjanya dan ditaruh diatas meja kerja Iin.


“Apa ini mba?” mata Iin tertuju pada sekantong kresek putih


yang cukup besar di meja kerjanya.


“Ini ada beberapa oleh-oleh dimakan ya jangan lupa dibagi


sama Kak Santi dan Kak Arief.”


“Terimakasih mba”


“Iya-sama-sama”


“Ya sudah aku ke ruang wardrobe dulu nanti kalau ada apa-apa panggil saja” Kiki berlalu meninggalkan Iin.


“Baik mba” Iin mengangguk.


Hingga mendekati jam makan siang belum ada tanda-tanda


kedatangan Kak Santi ataupun Arief. Kiki keluar dan kembali ke meja Iin.


“Kak Arief sama Kak Santi kemana In sampai jam segini kok belum


datang?”


“Iya mba, Bu santi dan mas Aref baru ada rapat, ada proyek pemotretan


untuk peresmian salah satu hotel gitu sih”  yang tidak lain adalah hotel milik keluarga Iin memang Ia sengaja


memberikan proyek itu untuk kantor tempatnya bekerja karena Ia tahu kualitas


Arief sudah tidak perlu di ragukan lagi.


“Oke baiklah.. sudah jam makan siang nih kamu mau makan apa In?”


“Ikut mba Marwa saja”


“Benar nih.. kamu nggak pengen makan apa gitu?”


“Tidak mba” Iin tidak ingin menjadi pegawai yang merepotkan


atasannya cukup tahu diri baginya untuk tidak bertindak diluar batas.


“Hemm aku kangen bebek sambal hijau In, sebentar ya aku order


dulu” Kiki membuka ponselnya dan mulai memesan makanan secara online.


“Mba maaf kalau boleh saya lauknya ayam saja ya” Iin memang


tidak begitu suka dengan bebek.


“Oke tunggu ya” Kiki sudah selesai memesan dan menunggu

__ADS_1


makanannya datang.


Mereka makan siang sembari bertukar cerita Kiki menanyakan


bagaimana rasanya menjadi asisten Arief selama menggantikan dirinya. Iin


frustasi dan menceritakan semuanya pada Kiki. Kiki sesekali tertawa lebar


dengan penderitaan yang dialami Iin.


***


Sore hari semua bersiap pulang seperti biasa Kiki dengan


motor kesayangannya. Iin dengan sepeda gunungnya. Arief juga sudah berada


di kantor untuk menitipkan berkas hasil rapat, sementara Kak Santi sudah pulang


terlebih dahulu.


Tanpa diduga Yovi telah sampai didepan kantor sesuai alamat


di kartu yang Ia dapat dari Iin.


Yovi menunggu ditempat parkir kantor tersebut, Kiki, Arief


dan Iin keluar dari kantor dengan bercanda ria. Betapa terkejutnya mereka saat Yovi datang menghampiri. Dilihatnya semua saling memandang satu sama lain dengan tatapan menyelidik.


“Maaf Mas ganteng kantor sudah tutup datang besok lagi ya, atau


bisa pake layanan online” suara Iin memecah keheningan samar-samar Ia mengingat


siapa lelaki yang ada dihadapannya ini.


“Saya datang untuk menjemput Kiki” Yovi tersenyum menatap Iin


kemudian beralih pada Kiki.


Deg... mendengar itu membuat Iin sontak menoleh pada Kiki


yang sudah mati kutu.


Kiki kemudian menarik lengan Arief


menuju mobil.


“Kak please antar aku pulang” pinta Kiki setengah berbisik diikuti


dengan langkah yang terburu-buru hingga Arief terseok-seok mengikutinya.


“Kiki tunggu kita perlu bicara”


“Tidak ada yang perlu


dibicarakan” Kiki menyahut tanpa menoleh dan melanjutkan langkahnya.


“Kamu benar suaminya dia?” Yovi


menahan lengan Arief yang membuat langkahnya tertahan.


Arief menghentikan langkahnya


menatap sengit Yovi dan menatap lengannya seolah mengatakan lepaskan tanganmu


itu br*ngsek!. Yovi memahami lalu menurunkan tangannya.


“Iya” entah mengapa Arief


menjawab seperti itu sepertinya karena naluri untuk melindungi Kiki.


Iin membulatkan matanya mendengar


jawaban Arief. Apa yang sebenarnya terjadi pada orang-orang ini.


“Kak Arief sudahlah ayo tidak


usah ditanggapi” Kiki kembali menyeret Arief agar segera masuk mobil.


“Aku tidak percaya kalau kalian


sudah menikah lihat saja kalian kaku sekali, iyakan In” Walaupun baru satu kali


bertemu, Yovi masih ingat dengan jelas nama asisten itu. Yovi menatap Iin meminta


pembelaan, Iin tergagap lalu menatap Kiki meminta jawaban. Kiki menggeleng


samar menatap Iin seperti mengatakan jangan bicara apapun In kumohon. Iin hanya


diam mungkin ini lebih baik daripada harus bicara salah-salah bisa dipecat


nanti.


“Memang dia suami ku, sayang ayo


masuk” Kiki dengan paksa menarik lengan Arief hingga masuk mobil.


Drama apa lagi ini Tuhan.Batin Iin. Tidak ingin larut dalam urusan


bosnya Iin segera kabur dengan sepedanya. Meninggalkan Yovi dengan segala


amarahnya berani sekali Kiki memanggil orang lain dengan mesra seperti itu.


Kiki dan Arief sudah didalam


mobil melaju menembus padatnya jalanan ibukota seperti biasa.


Mengapa tadi aku mengiyakan pertanyaan lelaki itu, siapa dia


sebenarnya. Apa yang telah terjadi dengan Mawar apa maksud dari perkataannya


tadi bahwa aku ini suaminya. Batin Arief.


Maafkan aku kak harus melibatkanmu hingga menjadikanmu suami bohongan seperti ini


jika sudah saatnya akan aku jelaskan semuanya. Bagaimana mungkin dia senekat


ini menyusul ku hingga datang kesini sih. Batin Kiki.


Sepanjang jalan Kiki hanya termenung


menatap jendela luar begitu pula dengan Arief yang menatap lurus jalanan,  tidak ada perbincangan sama sekali mereka


larut dalam pikirannya masing-masing.


***


Selamat membaca..

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kakak-kakak..


__ADS_2