
Diandra terbangun di pagi hari dengan mengulas senyuman manis, dia elus dengan lembut kepala sang suami yang menempel di dada nya.
Elusan tangan Diandra membuat Angga terbangun, "sudah pagi ya?" Tanya Angga sambil mengeratkan pelukan nya.
"Iya kak,, yuk bangun, nanti kita kesiangan," ucap Diandra menepuk lembut punggung sang suami.
"Hmmm, bentar lagi Di,, lagi nyaman nih," gumam Angga dengan malas.
"Didi ada jam pertama kak," lirih Diandra masih mencoba membangunkan sang suami.
Bukan nya bangun, Angga malah menyusupkan wajah nya di bukit kembar milik sang istri dan memainkan puncak bukit milik istri nya itu.
"Kak,, jangan seperti ini, nanti kakak khilaf loh,," Diandra mengingatkan, sedangkan nafas nya mulai memburu.
Angga menjauhkan kepala nya, mencium sekilas kening sang istri dan kemudian bergegas ke kamar mandi.
Cukup lama suami dari Diandra itu di dalam sana, entah apa yang Angga lakukan.. saat keluar dari kamar mandi, rambut pria dewasa berbadan tinggi tegap yang hanya di balut dengan handuk sepinggang itu terlihat basah.
Diandra tersenyum menyaksikan pemandangan menakjubkan yang terpampang di hadapan nya, "suami Didi selain berwajah ganteng juga berbadan atletis, Didi sungguh beruntung diperistri kak Angga," ucap nya sambil mengedipkan sebelah mata dan meraba dada bidang suami nya sekilas, dan kemudian segera berlari menuju kamar mandi.
Angga tertawa senang, digoda oleh istri belia nya. "Kali ini aku biarkan kamu lolos sayang, tapi lain kali aku tak kan membiarkan mu turun dari ranjang kita," lirih Angga masih sambil tertawa.
Tak berapa lama, Diandra keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk kimono. Dia tak melihat suami ganteng nya di dalam kamar, "kemana kak Angga?" Gumam nya pelan.
Diandra segera berpakaian, merias diri sebentar di depan cermin dan kemudian bergegas keluar dari kamar. Dia mengedarkan pandangan mencari sosok sang suami, "kak Angga,, kakak dimana?" Panggil nya sambil berjalan menuju dapur, hendak menyiapkan sarapan.
"Duduk sini Di,," titah Angga begitu melihat istri nya datang, sambil menggeser kursi di samping nya untuk sang istri.
"Kakak sudah bikin sandwich sendiri?" Tanya Diandra yang melihat sudah ada sandwich dan dua gelas susu di meja makan, dia meletakkan tas nya di atas meja dan kemudian duduk di kursi yang telah disiapkan sang suami untuk nya.
__ADS_1
"Hmm,," balas Angga hanya dengan gumaman, sambil menyuapkan sepotong sandwich ke mulut sang istri sesaat setelah Diandra duduk.
Diandra menerima suapan suami nya dengan perasaan berbunga-bunga, "sweet banget kak Angga, bikin hati Didi melting," gumam nya dalam hati.
Mereka pun makan dengan diam, Angga terus menyuapi istri nya dan juga diri nya sendiri bergantian, hingga sandwich di piring tandas tak tersisa.
"Habisin dulu susu nya," titah Angga sambil mengambil segelas susu untuk diri nya sendiri.
Diandra mengangguk patuh, dan kemudian meminum susu yang telah dibuatkan suami ganteng nya.
Usai makan, Diandra segera membersihkan meja dan meletakkan peralatan makan yang kotor di dapur.
"Benahi nanti aja Di,, udah hampir jam tujuh, nanti kamu telat," ucap Angga mengingatkan, sambil beranjak dari tempat duduk nya.
"Iya kak,," balas Diandra, sambil berjalan menghampiri sang suami yang masih berdiri menunggu nya. Diandra mengambil tas selempang yang dia letakkan di meja makan dan di selempang kan di pundak nya.
Mereka berdua kemudian berjalan bersama menuju pintu keluar.
Di hotel XX, tepat nya di kamar yang telah di sewa oleh Jeffry semalam,, nampak Renny baru saja membuka mata nya, tubuh gadis itu hanya tertutup selimut tebal sebatas dada.
Renny meringis merasakan sakit di sekujur tubuh nya, terutama di area sensitif nya. "Aw,,," pekik nya tertahan, tatkala dia hendak bangun dan merasa kan sesuatu yang basah di bawah sana. Rasa nyeri dan panas di area pribadi nya menyatu, ketika dia mencoba melakukan pergerakan sedikit saja.
Air mata Renny menetes, ketika mengingat kejadian semalam. Bagaimana Jeffry melakukan nya dengan sangat perkasa, dan tak kenal lelah. Dia di gempur habis-habisan oleh pria macho berdarah blasteran tersebut.
Dari matahari terbenam hingga larut malam, Jeffry tak berhenti mengerjai Renny. Tenaga gigolo itu seakan tak pernah habis, bahkan senjata milik nya terus saja terbangun.
Meski Renny sudah memohon dan merintih kesakitan, Jeffry sama sekali tak perduli. Bahkan ketika Renny mengingatkan bahwa persediaan pengaman satu pack yang dia bawa telah habis, Jeffry tetap tak perduli dan terus saja melakukan nya meski tanpa pengaman.
Jeffry hanya memberi jeda sebentar kepada lawan main nya untuk minum susu dan makan roti yang sudah dia pesan sebelum nya, dan tidak sampai satu jam,, Renny harus rela kembali menjadi budak nafsu gigolo itu.
__ADS_1
"Sudah bangun sayang,," sapa Jeffry yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil menyugar rambut nya yang masih basah, tubuh kekar nya hanya tertutup handuk sepinggang.
Renny tersentak dari lamunan nya, dan menatap Jeffry dengan penuh amarah.
"Jangan menatap ku seperti itu sayang,,, aku tahu kamu kesakitan kali ini, itu karena kamu belum terbiasa. Nanti lama-lama kamu juga akan terbiasa dan menikmati nya sayang, percayalah padaku," bisik Jeffry sambil mendekatkan wajah nya ke wajah Renny yang masih terbaring lemah.
Renny melengos, tapi buru-buru Jeffry memegang dagu gadis itu dan melahap bibir Renny dengan ganas. Ciuman panas yang cukup lama, hingga membuat sesuatu di bawah sana yang hanya tertutup oleh handuk kembali menegang.
Jeffry seperti kesetanan kembali hendak merajai tubuh Renny yang masih sangat lemah, dia lempar handuk dan selimut ke sembarang arah. Isak tangis Renny yang tertahan sama sekali tak di gubris nya, "Jeff,, please hentikan, perih Jeff dan seperti nya terluka dan berdarah," lirih Renny dengan suara nya yang lemah.
Namun Jeffry tak menghiraukan nya, hingga beberapa lama setelah mengalami beberapa kali pelepasan,,, baru lah Jeffry menjauhkan tubuh nya dari tubuh Renny.
Jeffry segera beranjak, membersihkan tubuh nya sebentar di kamar mandi dan kemudian segera mengenakan pakaian nya. "Aku pergi sebentar sayang, ada job yang sudah terlanjur aku ambil. Jangan kemana-mana, nanti siang aku akan memuaskan mu lagi," ucap nya dengan santai.
"Tidak Jeff,, cukup kamu menyiksaku, aku harus segera pulang." Tolak Renny sambil meringis mencoba untuk duduk. "Mama pasti khawatir jika aku tidak segera pulang,," lanjut nya memohon.
"Mama mu tak kan khawatir sayang, dia bahkan akan bersenang-senang dengan ku sebentar lagi," balas Jeffry tersenyum seringai.
"Apa maksud mu Jeff?!"
"Job yang aku ambil ini, dari tante Sarah.. dan ini sudah yang kesekian kali," Jeffry menghentikan sejenak ucapan nya, kening nya mengerut seperti mengingat-ingat sesuatu, "lebih dari dua puluh kali, dalam setahun terakhir. Seperti nya mama mu tidak bahagia dengan suami nya itu, hingga tante Sarah mencari kepuasan dari berondong seperti ku." Lanjut nya seraya terkekeh.
"Jangan menyebar fitnah Jeff,, apalagi tentang mama!" Seru Renny tak percaya.
Jeffry mengambil ponsel nya di atas nakas dan menunjukkan chat mesra nya dengan tante Sarah kepada Renny, "kamu cek sendiri, benar itu nomor mama kamu atau aku mengada-ada sayang,," ucap Jeffry membiarkan Renny membuka ponsel milik nya.
Setelah mengecek ponsel milik Jeffry, tangan Renny gemetaran,,, air mata terjun bebas dengan deras nya membasahi pipi putih nya. Gadis itu menangis tanpa mengeluarkan suara dengan menyembunyikan wajah di kedua lutut nya, dan hanya punggung nya yang nampak berguncang dengan hebat.
Jeffry mengambil ponsel nya dari tangan Renny, "tetap lah di sini dan menjadi kelinci kecil ku yang imut,, aku butuh tubuh mu untuk mengembalikan mood ku setelah bercinta dengan tante-tante kesepian," ucap nya hendak berlalu.
__ADS_1
"Tidak Jeff, antar aku pulang sekarang,,, ku mohon," pinta Renny masih dengan terisak.
"Aku akan mengantar mu pulang setelah ini sayang,, tapi aku tak kan melepas mu begitu saja, karena kamu sudah menjadi kelinci kecil ku sekarang. Jadi, kapan pun aku butuh nutrisi kamu harus selalu siap," ucap Jeffry sambil berlalu meninggal kan kamar dan mengunci nya dari luar.