
Aditya tertegun, begitupun dengan yang lain nya. "Angga ingat gue, ingat istri nya.. tapi mengapa dia lupa sama Vera ya?" Gumam Aditya dalam hati, "tapi bagus lah,," Aditya merasa lega.
Sedangkan Vera terkejut mendengar Angga melupakan nya,, "tidak mungkin,, tidak mungkin kamu melupakan aku sayang. Kamu pasti bercanda kan?" Rajuk Vera tak bisa terima.
"Tidak, aku tidak suka bercanda dengan orang asing," balas Angga dengan wajah serius.
"Tidak, Angga,, itu tidak mungkin,,," Vera masih kekeuh.
Raka membuang kasar nafas nya, melihat tingkah Vera.
"Raka,, ada apa dengan istri mu?" Bisik mama Dewi melirik putra kedua nya yang berdiri di samping nya.
"Enggak ada apa-apa ma,," balas Raka mencoba untuk santai.
"Ma,," panggil Angga menatap sang mama.
Mama Dewi langsung mendekat dan memeluk putra bungsu nya itu, "Alhamdulillah nak, kamu sudah sadar." Ucap mama Dewi seraya melerai pelukan nya, "kami sangat mengkhawatirkan mu Ga, terutama istri cantik mu ini," lanjut mama Dewi seraya menatap hangat anak dan menantu nya bergantian.
Aditya menyeret lengan Vera dan membawa nya menjauh dari tempat tidur Angga, mereka berdua berdiri di samping Raka yang masih terdiam di tempat nya semula.
Bu Rahma pun mendekat, dan berdiri di samping putri nya, "ibu juga senang nak Angga sudah kembali ke tengah-tengah kami," lirih nya seraya menitikkan air mata bahagia.
Mama Dewi pun ikut berdiri di samping bu Rahma.
"Ibu,, kenapa ibu malah menangis?" Tanya Diandra seraya mengusap air mata sang ibu dengan jari lentik nya.
"Ibu menangis bahagia nak,," balas bu Rahma tersenyum dan menepuk lembut punggung putri nya.
"Di,, sayang,, tadi kamu bilang, akan mengenalkan aku dengan seseorang? Siapa dia? Kenapa ada opa Win di sini?" Tanya Angga seraya menatap opa Win.
__ADS_1
Opa Win tersenyum, dan segera mendekat kearah Angga yang diikuti oleh papa Chandra. "Iya nak Angga,, opa disini karena menemani cucu opa," balas opa Win melirik Diandra yang berada di sisi kanan tempat tidur Angga.
"Cucu?" Angga mengerutkan kening nya.
"Benar,," balas opa Win sambil mengangguk, "apa nak Angga ingat, pernah menemani Didi mencari orang yang bernama Hadi Winata?" Tanya opa Win mencoba membuka ingatan Angga.
"Iya opa, lantas apa hubungan nya?" Tanya Angga tak mengerti.
"Win,, nama panggilan untuk Hadi Winata," balas opa Win.
"Jadi opa Win, kakek nya Didi?" Seru Angga hampir tak percaya.
"Benar nak, opa adalah opa nya Didi. Dan laki-laki ini, dia putra ku," balas opa Win tersenyum lebar.
"Papa nya Didi kah?" Tanya Angga menatap papa Chandra.
Papa Chandra mengangguk, " iya nak, papa adalah papa nya Didi," balas papa Chandra, seraya lebih mendekat kearah Angga. Dan sedetik kemudian, papa Chandra memeluk Angga, "terimakasih sudah mencintai putri papa dengan tulus nak," ucap papa Chandra seraya melepaskan pelukan nya, "Didi selalu mengkhawatirkan mu nak," lanjut nya melirik putri nya.
Angga meraih tangan sang istri dan menciumi punggung tangan istri nya itu bertubi-tubi, "terimakasih masih setia menunggu ku selama ini sayang,," lirih Angga menatap mesra istri cantik nya yang kini berhijab.
"Angga,, kamu masih ingat mereka semua, jadi tidak mungkin kamu tidak mengingat ku?!" Vera kembali mendekat, setelah mendengar obrolan Angga dan opa Win tadi.
Angga mengernyit,, "siapa sebenar nya kamu? Kenapa dari tadi kamu mengaku seolah-olah kita saling mengenal?!" Balas Angga dengan balik bertanya, "aw.. kepalaku sakit," lirih Angga pura-pura kesakitan.
"Dit, panggil kan dokter jaga," titah mama Dewi pada Aditya.
Aditya bergegas keluar untuk memanggil dokter.
Papa Chandra menelisik, menatap Angga dengan tatapan yang sulit diartikan. Dan sejurus kemudian, papa Chandra tersenyum lebar.
__ADS_1
"Sepertinya nak Angga mengalami Amnesia Lakunar," ucap papa Chandra seraya menatap Angga dengan tatapan penuh arti, "pengidap amnesia ini akan mengalami hilangnya ingatan mengenai suatu peristiwa secara acak. Amnesia jenis ini tidak akan merusak ingatan di masa lalu atau yang baru saja terjadi." Lanjut nya menerangkan, "dan seperti nya nak Angga benar-benar tidak bisa mengingat tentang anda, mbak," papa Chandra menatap Vera.
Bersamaan dengan berakhir nya ucapan papa Chandra, seorang dokter jaga yang diikuti oleh Aditya dan seorang perawat masuk kedalam ruang perawatan Angga.
"Maaf dokter Chandra,,, bisa tinggalkan kami dulu, saya akan memeriksa keadaan pasien," titah dokter tersebut dengan sopan, pada salah seorang pemilik rumah sakit tempat nya bekerja.
"Baik dok," jawab dokter Chandra dan sebelum beranjak, papa Chandra mendekat kearah Angga dan berbisik di telinga putra menantu nya itu, "nak Angga berhutang penjelasan pada papa," lirih nya seraya tersenyum.
Dan Angga membalas senyuman papa Chandra, "siap pa, semua Angga lakukan demi rumah tangga Angga dan putri cantik papa," lirih Angga seraya melirik istri nya yang sudah bersiap untuk keluar.
Papa Chandra dan yang lain nya kemudian keluar meninggalkan ruang khusus tersebut.
"Ma, jadi Angga sudah menikah?" Tanya Raka sesaat setelah mereka duduk di sofa.
"Ya, gadis cantik berhijab itu istri nya," balas Aditya mewakili mama Dewi yang duduk di samping nya, "dan yang di samping istri Angga itu, papa dan opa nya Didi. Papa Chandra seorang dokter sekaligus salah satu pemilik rumah sakit besar ini, sedangkan opa Win adalah owner dari sebuah perusahaan properti," lanjut Aditya dengan penuh penekanan, sengaja menunjuk kan kekayaan keluarga Diandra.
Raka tersenyum kecut, sedangkan Vera membulatkan pandangan nya. "Kurang ajar, jadi lawan gue dari keluarga tajir?!" Seru nya dalam hati, tangan nya mengepal menahan marah.. dia seakan tidak rela dikalahkan oleh seorang gadis yang usia nya jauh di bawah nya.
"Dokter,, apa jenis amnesia tersebut dapat di sembuhkan?" Tanya Vera pada papa Chandra.
Papa Chandra menggeleng, "amnesia itu belum ada obat nya, apalagi jarang ada pasien yang mengalami jenis amnesia tersebut,, dan jika yang dilupakan pasien adalah penggalan kisah buruk, maka akan semakin sulit bagi pasien untuk bisa mengingat nya apalagi jika sudah ada kenangan-kenangan manis yang menutupi kisah buruk tersebut," balas papa Chandra dengan tatapan mengintimidasi kearah Vera.
Vera menciut, nyali nya seakan hilang seketika. Mendengar penjelasan papa Chandra, dan menyaksikan sendiri bagaimana manis nya perlakuan Angga terhadap istri nya yang masih belia itu.
Ruangan itu untuk sesaat menjadi hening,
"Vera, sebaik nya lu pulang," ucap Aditya memecah keheningan.
"Ditya benar Vera,, pulang lah, tidak ada lagi yang mengharapkan keberadaan kamu di sini," ucap mama Dewi tegas seraya melirik putra kedua nya, setelah melihat sikap Vera di dalam ruangan steril Angga tadi dan juga sikap Raka yang seolah sudah tidak perduli dengan sikap istri nya.
__ADS_1
Vera segera berdiri dan menatap tajam suami nya, "kalau kita bercerai, apartemen itu untuk ku!" Seru nya kepada Raka.
Raka mendesah kasar,, "ambillah semua yang kamu mau, tapi jangan pernah ganggu kehidupan ku dan juga adikku," balas Raka dengan tegas.