
Setelah sarapan dan perdebatan tidak penting akhirnya Kiki pasrah
untuk diantar Yovi ke tempat kerjanya. Kalau kau tidak mau ku antar maka aku
akan ikut denganmu bekerja. Begitulah kira-kira ancaman Yovi.
Tidak ingin membuang waktu dan tenaga Kiki menuruti perkataan
Yovi bukan tidak mungkin jika ia menolak maka ancaman itu akan benar-benar
terjadi.
Pukul 9.00 WIB mereka berangkat ke kantor. Saat ini keduanya
berada di dalam mobil Yovi fokus menyetir sementara Kiki mengingat kembali bagaimana
nekatnya Yovi yang menyusulnya hingga ke tempat kerjanya ini.
Ia bertanya-tanya siapa kira-kira orang yang telah memberi
tahu tempat kerjanya apakah ibunya tapi sepertinya tidak mungkin ibunya sangat
tidak ingin berurusan dengan Yovi. Mungkinkah asisten Iin yang telah
memberitahu Kiki ah iya memang sepertinya dia yang ada dibalik semua ini. Kiki
melupakan Isa yang berpotensi lebih mudah untuk memberi tahu Yovi pikirannya
tidak sampai pada adiknya itu. Tidak terasa mobil telah berhenti didepan kantor
Kiki.
“Nanti siang aku jemput lagi untuk makan siang” Yovi menatap
Kiki yang akan turun dari mobil.
“Sepertinya tidak perlu, aku terbiasa makan siang dengan
rekan kerjaku” Kiki menolak secara halus ajakan Yovi.
“Baiklah memang kau ingin aku menemanimu bekerja ya” Yovi
menaikkan satu sudut bibirnya.
“Hufttt.. lagi-lagi kau mengancamku.. lakukan saja
sesukamu..” Kiki menghela nafas kasar turun dari mobil dan membanting pintu
mobil dengan keras.
Yovi tersenyum licik akan kemenangannya sepertinya ia mulai
bisa mengendalikan gadisnya itu.
Setelah mengantar Kiki, Yovi memutuskan untuk kembali ke hotel
ada sesuatu yang harus dikerjakannya. Semalam ia menerima pesan untuk memeriksa
berkas rekapan nilai ujian dari Vika.
Yovi sudah sampai di hotel kemudian membuka email menggunakan laptopnya untuk
membuka file dari Vika dan mulai memeriksanya.
Di kantor
“Selamat pagi mba” sapa Iin ramah namun ia melihat Kiki
datang dengan raut kesal di wajahnya.
“Pagi-pagi kok mukanya di tekuk gitu mba, ada apa?” tanya Iin
lagi memastikan bahwa Kiki baik-baik saja.
“Tidak apa-apa In.. lanjutkan saja pekerjaanmu” Kiki
malas menanggapi Iin baginya masalahnya tidak begitu penting untuk diketahui
orang lain.
“Baik mba” Iin paham dengan situasi itu tidak ingin bertindak
lebih jauh lagi ia kembali fokus pada monitornya.
***
Pukul 12.00 WIB Yovi menepati janjinya menyusul Kiki ke
kantor mengajaknya untuk makan siang.
“In aku izin keluar sebentar..” Kiki meminta izin setelah
melihat pesan di ponselnya yang tentu saja pesan itu dari Yovi. Kiki sedikit
heran darimana Yovi mendapatkan nomor ponselnya bahkan ia merasa tidak pernah
memberikannya.
“Mau kemana mba?” tanya Iin memastikan.
“Mau makan siang“ jawab Kiki singkat lalu merapikan
penampilannya. Iin hanya mengangguk mengizinkan.
Arief melihat Kiki keluar kantor dan menghampiri meja Iin.
“Mau kemana dia?” tanya Arief penasaran.
“Eh mas Arief, mba Marwa izin mau makan siang katanya ” Iin
menjawab tanpa mengurangi atau menambah.
“Sama siapa?” tanya Arief lagi tidak biasanya ia makan siang
sendiri pasti selalu mengajaknya bukan.
“Kurang tahu juga mas” jawab Iin yang memang tidak mengetahui
dengan siapa Kiki pergi.
“Hemmm” Arief hanya berdehem tidak puas dengan jawaban Iin.
Dih kumat dinginnya. Iin mengerti sepertinya Arief cemburu
mengetahui Kiki pergi dengan orang lain.
“Mas Arief tidak makan siang?” tanya Iin berbasa-basi.
“Bukan urusanmu” jawab Arief ketus lalu meninggalkan Iin.
Lah kenapa jadi aku
yang kena sih hufttt. Iin menghela nafas kasar.
Tidak berapa lama kak Santi datang membawa satu kantung
__ADS_1
plastik di tangannya.
“In kamu sudah makan siang belum?” kak Santi menghampiri meja
Iin.
“Belum bu” jawab Iin jujur.
“Kebetulan ini ada makanan dimakan ya” kak Santi menyerahkan
kantung plastik dan diterima oleh Iin.
“Terimakasih banyak bu” mata Iin berbinar melihat makanan
yang terbungkus mika bening itu.
“Kok sepi pada kemana In, perasaan kendaraan mereka masih
di parkiran, mobil juga masih ada apa mereka tidak pergi makan siang?” kak Santi
mengedarkan pandangannya melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul 12.30
WIB.
“Mba Marwa izin makan siang kalau mas Arief sepertinya masih
di ruangannya” jawab Iin menjelaskan.
“Lho mereka tidak makan siang bersama?” tanya kak Santi heran
tidak biasanya mereka tidak makan siang bersama.
“Tidak bu karena tadi mba Marwa pergi sendiri”
“Ya sudah, jangan lupa dimakan ya saya mau ke ruang wardrobe dulu oh iya tolong kasih saya
laporan minggu ini ya In”
“Baik bu akan siapkan, terimakasih untuk makanannya” ucap Iin
tulus.
Kak Santi berlalu ke ruang wardrobe Iin mulai menikmati makan siangnya setelah itu menyiapkan
laporan.
Di tempat makan
Kiki dan Yovi sudah sampai di restoran yang tidak jauh dari
kantornya. Mereka sudah memesan makanan masing-masing. Selesai makan Yovi
memulai obrolan.
“Kamu kapan akan berhenti bekerja” Yovi tidak bisa menahan
dirinya untuk menanyakan hal ini.
“Mengapa bertanya seperti itu” Kiki menautkan alisnya bingung
sekaligus heran.
“Aku datang kesini untuk menjemputmu sekaligus ingin meminta
bantuanmu” ucap Yovi serius saatnya untuk dia mengutarakan maksud
kedatangannya.
“Hah” Kiki menatap heran tidak mengerti dengan ucapan Yovi.
“Memangnya ada apa” Kiki menatap lurus pada Yovi.
“Ibuku terus saja memintaku untuk menikah dan menjodohkanku
pada seorang gadis tapi aku tidak tertarik dengannya”
“Lalu” ucap Kiki datar.
“Aku datang kesini untuk memintamu kembali.. Aku ingin kau
kembali padaku” Yovi bersungguh-sungguh dengan ucapannya dan meraih jemari
Kiki.
“Mengapa harus aku” Kiki menatap tangan Yovi yang memegang
jemarinya.
“Ki apa kau bodoh aku masih mencintaimu, hubungan kita juga
belum usaikan.. Kau pergi begitu saja tanpa kutahu apa salahku” Yovi
meluap-luap dengan amarahnya.
“Apa kau tahu selama ini aku menunggumu dan merindukanmu
berharap kau juga merasakan hal yang sama.. apa kau tahu aku sangat cemburu melihatmu
dekat dengan lelaki lain”
“Cukup Yovi” Kiki menarik tangannya.
Yovi mendekati kursi Kiki mulai berlutut dan memohon ia rela
melakukan apapun agar Kiki mau kembali padanya.
“Ku mohon Ki kembalilah padaku” banyak pengunjung yang
melihat sikap Yovi ada pula yang berbisik-bisik.
“Apa yang kau lakukan.. bangunlah jangan membuatku malu” Kiki menatap tajam dan menekan kalimatnya
berusaha membuat Yovi agar kembali berdiri.
“Aku akan melakukan apapun agar kau mau kembali padaku” Yovi
tidak bergeming tetap pada posisinya.
“Baiklah aku akan membantumu,, apa yang bisa kulakukan”
mendengar itu Yovi bangkit dan kembali duduk di kursinya.
“Pulanglah bersama ku” mendengar kata pulang Kiki sangat
keberatan ia masih ingin bekerja lebih lama.
“Tidak.. itu tidak akan mungkin terjadi” Kiki menolak
bagaimanapun ia tidak bisa meninggalkan pekerjaan yang sudah dibangunnya sejak
lama itu.
“Apa kau rela melihatku dimiliki orang lain.. Apa rasa
cintamu sungguh sudah hilang.. Baiklah jika memang demikian maka kita bisa
__ADS_1
memulainya dari awal... Tatap aku... Apa kamu mau memulainya dari awal?” Yovi
menatap lurus pada Kiki berusaha mencari jawaban.
“Aku... aku.. aku akan memikirkannya” seketika Kiki menyesali
ucapannya bayangan ibu Yovi yang memperlakukannya dulu seketika melintas
membuatnya kembali khawatir.
“Aku harus kembali ke kantor sudah waktunya kembali
bekerja..” Kiki melihat jam yang melingkar di tangannya.
“Baiklah” Yovi bangun menuju kasir untuk membayar tagihannya
dan kembali menghampiri Kiki lalu mereka kembali ke kantor.
***
Setiap orang berhak memiliki rasa cemburu apalagi ketika
melihat apa yang kita punya diganggu orang lain. Cemburu menandakan bahwa kita
mempunyai rasa takut kehilangan pada orang yang kita sayang. Namun bagaimana
jadinya jika merasa takut kehilangan bahkan sebelum memilikinya. Tentu hal itu
membuat dilema bukan.
Arief merenungi dirinya bagaimana jika lelaki yang menemui
Kiki memang benar tunangannya maka dia harus bersiap untuk kehilangan
mungkinkah selama ini ia tidak pernah melihat Kiki berhubungan dengan lelaki lain
selain dirinya karena untuk menjaga hubungannya dengan lelaki itu ah frustasi
rasanya Arief memikirkan itu semua. Lamunannya di buyarkan oleh kedatangan kak Santi
yang masuk ke ruangannya.
“Arief..” kak Santi mendekati Arief yang termenung di depan
monitornya.
“Eh.. ada apa kak?” Arief mengusap wajahnya menatap kak Santi
sekilas.
“Kau sedang apa..?” kak Santi melihat raut wajah Arief
yang terlihat tak bersemangat.
“Tidak ada kak” Arief berusaha menyembunyikan kegundahan
hatinya.
“Sepertinya sedang memikirkan sesuatu?” kak Santi melihat
jelas bahwa Arief menyembunyikan sesuatu.
“Tidak kak aku hanya...” belum selesai kak Santi menimpali ucapan
Arief.
“Kakak tahu kau pasti sedang memikirkan Marwa kan” kak Santi
tersenyum simpul.
“Tidak kak..” Arief mengalihkan pandangannya.
“Sudahlah mengaku saja.. apa ada sesuatu yang mengganggu
pikiranmu?” kak Santi menatap Arief dengan tatapan teduh layaknya seorang ibu
yang siap mendengarkan keluh kesah anaknya.
“Kak aku ingin menanyakan sesuatu pada kakak” entah mengapa
Arief tidak bisa menyembunyikan isi kepalanya kak Santi dengan kelembutannya
mampu membuat Arief bebas mengutarakan keluh kesahnya.
“Bicaralah” kak Santi mendengar dengan sungguh-sungguh.
“Kak jika kita menyukai milik orang lain apa itu salah?”
“Kaka tidak yakin apa ini bisa menenangkanmu atau tidak
tapi menurut kakak lepaskan saja karena dia sudah ada tuannya”
“Memang berat tapi memang itu yang harus dilakukan bukalah
hatimu untuk orang lain masih banyak gadis diluar sana yang menunggumu”
“Tapi kak...”
“Kamu percaya takdir kan jika Tuhan memang ingin dia berjodoh
dengan orang lain seberapa keras kamu mengikatnya maka akan lepas juga begitu
juga sebaliknya”
“Terdengar klise memang tapi itu prinsip yang harus kau ingat”
kak Santi berusaha membuka pikiran Arief agar tidak terlalu berharap pada
sesuatu hal yang tidak pasti.
“Kau tidak makan siang?”
“Nanti saja kak aku belum lapar”
“Oh iya nanti malam kamu ke rumah kakak ya Sherif bilang dia
merindukan pamannya” kak Santi menyindir karena Arief jarang ke rumahnya.
“Baik kak” Arief tersenyum masam mengingat keponakan kecilnya
membuatnya sedikit terhibur.
“Ya sudah kakak keluar dulu ya” kak Santi mendekat dan
menepuk bahu Arief sebagai tanda untuk menyemangatinya. Arief hanya mengangguk.
Arief kembali merenungi ucapan kak Santi benarkah ia harus
merelakan Kiki bahkan sebelum ia bisa memilikinya.
***
selamat membaca..
__ADS_1
mohon dukungannya..