Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Cemburu


__ADS_3

Setelah sarapan dan perdebatan tidak penting akhirnya Kiki pasrah


untuk diantar Yovi ke tempat kerjanya. Kalau kau tidak mau ku antar maka aku


akan ikut denganmu bekerja. Begitulah kira-kira ancaman Yovi.


Tidak ingin membuang waktu dan tenaga Kiki menuruti perkataan


Yovi bukan tidak mungkin jika ia menolak maka ancaman itu akan benar-benar


terjadi.


Pukul 9.00 WIB mereka berangkat ke kantor. Saat ini keduanya


berada di dalam mobil Yovi fokus menyetir sementara Kiki mengingat kembali bagaimana


nekatnya Yovi yang menyusulnya hingga ke tempat kerjanya ini.


Ia bertanya-tanya siapa kira-kira orang yang telah memberi


tahu tempat kerjanya apakah ibunya tapi sepertinya tidak mungkin ibunya sangat


tidak ingin berurusan dengan Yovi. Mungkinkah asisten Iin yang telah


memberitahu Kiki ah iya memang sepertinya dia yang ada dibalik semua ini. Kiki


melupakan Isa yang berpotensi lebih mudah untuk memberi tahu Yovi pikirannya


tidak sampai pada adiknya itu. Tidak terasa mobil telah berhenti didepan kantor


Kiki.


“Nanti siang aku jemput lagi untuk makan siang” Yovi menatap


Kiki yang akan turun dari mobil.


“Sepertinya tidak perlu, aku terbiasa makan siang dengan


rekan kerjaku” Kiki menolak secara halus ajakan Yovi.


“Baiklah memang kau ingin aku menemanimu bekerja ya” Yovi


menaikkan satu sudut bibirnya.


“Hufttt.. lagi-lagi kau mengancamku.. lakukan saja


sesukamu..” Kiki menghela nafas kasar turun dari mobil dan membanting pintu


mobil dengan keras.


Yovi tersenyum licik akan kemenangannya sepertinya ia mulai


bisa mengendalikan gadisnya itu.


Setelah mengantar Kiki, Yovi memutuskan untuk kembali ke hotel


ada sesuatu yang harus dikerjakannya. Semalam ia menerima pesan untuk memeriksa


berkas rekapan nilai ujian dari Vika.


Yovi sudah sampai di hotel kemudian membuka email menggunakan laptopnya untuk


membuka file dari Vika dan mulai memeriksanya.


Di kantor


“Selamat pagi mba” sapa Iin ramah namun ia melihat Kiki


datang dengan raut kesal di wajahnya.


“Pagi-pagi kok mukanya di tekuk gitu mba, ada apa?” tanya Iin


lagi memastikan bahwa Kiki baik-baik saja.


“Tidak apa-apa In.. lanjutkan saja pekerjaanmu” Kiki


malas menanggapi Iin baginya masalahnya tidak begitu penting untuk diketahui


orang lain.


“Baik mba” Iin paham dengan situasi itu tidak ingin bertindak


lebih jauh lagi ia kembali fokus pada monitornya.


***


Pukul 12.00 WIB Yovi menepati janjinya menyusul Kiki ke


kantor mengajaknya untuk makan siang.


“In aku izin keluar sebentar..” Kiki meminta izin setelah


melihat pesan di ponselnya yang tentu saja pesan itu dari Yovi. Kiki sedikit


heran darimana Yovi mendapatkan nomor ponselnya bahkan ia merasa tidak pernah


memberikannya.


“Mau kemana mba?” tanya Iin memastikan.


“Mau makan siang“ jawab Kiki singkat lalu merapikan


penampilannya. Iin hanya mengangguk mengizinkan.


Arief melihat Kiki keluar kantor dan menghampiri meja Iin.


“Mau kemana dia?” tanya Arief penasaran.


“Eh mas Arief, mba Marwa izin mau makan siang katanya ” Iin


menjawab tanpa mengurangi atau menambah.


“Sama siapa?” tanya Arief lagi tidak biasanya ia makan siang


sendiri pasti selalu mengajaknya bukan.


“Kurang tahu juga mas” jawab Iin yang memang tidak mengetahui


dengan siapa Kiki pergi.


“Hemmm” Arief hanya berdehem tidak puas dengan jawaban Iin.


Dih kumat dinginnya. Iin mengerti sepertinya Arief cemburu


mengetahui Kiki pergi dengan orang lain.


“Mas Arief tidak makan siang?” tanya Iin berbasa-basi.


“Bukan urusanmu” jawab Arief ketus lalu meninggalkan Iin.


Lah kenapa jadi aku


yang kena sih hufttt. Iin menghela nafas kasar.


Tidak berapa lama kak Santi datang membawa satu kantung

__ADS_1


plastik di tangannya.


“In kamu sudah makan siang belum?” kak Santi menghampiri meja


Iin.


“Belum bu” jawab Iin jujur.


“Kebetulan ini ada makanan dimakan ya” kak Santi menyerahkan


kantung plastik dan diterima oleh Iin.


“Terimakasih banyak bu” mata Iin berbinar melihat makanan


yang terbungkus mika bening itu.


“Kok sepi pada kemana In, perasaan kendaraan mereka masih


di parkiran, mobil juga masih ada apa mereka tidak pergi makan siang?” kak Santi


mengedarkan pandangannya melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul 12.30


WIB.


“Mba Marwa izin makan siang kalau mas Arief sepertinya masih


di ruangannya” jawab Iin menjelaskan.


“Lho mereka tidak makan siang bersama?” tanya kak Santi heran


tidak biasanya mereka tidak makan siang bersama.


“Tidak bu karena tadi mba Marwa pergi sendiri”


“Ya sudah, jangan lupa  dimakan ya saya mau ke ruang wardrobe dulu oh iya tolong kasih saya


laporan minggu  ini ya In”


“Baik bu akan siapkan, terimakasih untuk makanannya” ucap Iin


tulus.


Kak Santi berlalu ke ruang wardrobe Iin mulai menikmati makan siangnya setelah itu menyiapkan


laporan.


Di tempat makan


Kiki dan Yovi sudah sampai di restoran yang tidak jauh dari


kantornya. Mereka sudah memesan makanan masing-masing. Selesai makan Yovi


memulai obrolan.


“Kamu kapan akan berhenti bekerja” Yovi tidak bisa menahan


dirinya untuk menanyakan hal ini.


“Mengapa bertanya seperti itu” Kiki menautkan alisnya bingung


sekaligus heran.


“Aku datang kesini untuk menjemputmu sekaligus ingin meminta


bantuanmu” ucap Yovi serius saatnya untuk dia mengutarakan maksud


kedatangannya.


“Hah” Kiki menatap heran tidak mengerti dengan ucapan Yovi.


“Memangnya ada apa” Kiki menatap lurus pada Yovi.


“Ibuku terus saja memintaku untuk menikah dan menjodohkanku


pada seorang gadis tapi aku tidak tertarik dengannya”


“Lalu” ucap Kiki datar.


“Aku datang kesini untuk memintamu kembali.. Aku ingin kau


kembali padaku” Yovi bersungguh-sungguh dengan ucapannya dan meraih jemari


Kiki.


“Mengapa harus aku” Kiki menatap tangan Yovi yang memegang


jemarinya.


“Ki apa kau bodoh aku masih mencintaimu, hubungan kita juga


belum usaikan.. Kau pergi begitu saja tanpa kutahu apa salahku” Yovi


meluap-luap dengan amarahnya.


“Apa kau tahu selama ini aku menunggumu dan merindukanmu


berharap kau juga merasakan hal yang sama.. apa kau tahu aku sangat cemburu melihatmu


dekat dengan lelaki lain”


“Cukup Yovi” Kiki menarik tangannya.


Yovi mendekati kursi Kiki mulai berlutut dan memohon ia rela


melakukan apapun agar Kiki mau kembali padanya.


“Ku mohon Ki kembalilah padaku” banyak pengunjung yang


melihat sikap Yovi ada pula yang berbisik-bisik.


“Apa yang kau lakukan.. bangunlah jangan membuatku malu” Kiki menatap tajam dan menekan kalimatnya


berusaha membuat Yovi agar kembali berdiri.


“Aku akan melakukan apapun agar kau mau kembali padaku” Yovi


tidak bergeming tetap pada posisinya.


“Baiklah aku akan membantumu,, apa yang bisa kulakukan”


mendengar itu Yovi bangkit dan kembali duduk di kursinya.


“Pulanglah bersama ku” mendengar kata pulang Kiki sangat


keberatan ia masih ingin bekerja lebih lama.


“Tidak.. itu tidak akan mungkin terjadi” Kiki menolak


bagaimanapun ia tidak bisa meninggalkan pekerjaan yang sudah dibangunnya sejak


lama itu.


“Apa kau rela melihatku dimiliki orang lain.. Apa rasa


cintamu sungguh sudah hilang.. Baiklah jika memang demikian maka kita bisa

__ADS_1


memulainya dari awal... Tatap aku... Apa kamu mau memulainya dari awal?” Yovi


menatap lurus pada Kiki berusaha mencari jawaban.


“Aku... aku.. aku akan memikirkannya” seketika Kiki menyesali


ucapannya bayangan ibu Yovi yang memperlakukannya dulu seketika melintas


membuatnya kembali khawatir.


“Aku harus kembali ke kantor sudah waktunya kembali


bekerja..” Kiki melihat jam yang melingkar di tangannya.


“Baiklah” Yovi bangun menuju kasir untuk membayar tagihannya


dan kembali menghampiri Kiki lalu mereka kembali ke kantor.


***


Setiap orang berhak memiliki rasa cemburu apalagi ketika


melihat apa yang kita punya diganggu orang lain. Cemburu menandakan bahwa kita


mempunyai rasa takut kehilangan pada orang yang kita sayang. Namun bagaimana


jadinya jika merasa takut kehilangan bahkan sebelum memilikinya. Tentu hal itu


membuat dilema bukan.


Arief merenungi dirinya bagaimana jika lelaki yang menemui


Kiki memang benar tunangannya maka dia harus bersiap untuk kehilangan


mungkinkah selama ini ia tidak pernah melihat Kiki berhubungan dengan lelaki lain


selain dirinya karena untuk menjaga hubungannya dengan lelaki itu ah frustasi


rasanya Arief memikirkan itu semua. Lamunannya di buyarkan oleh kedatangan kak Santi


yang masuk ke ruangannya.


“Arief..” kak Santi mendekati Arief yang termenung di depan


monitornya.


“Eh.. ada apa kak?” Arief mengusap wajahnya menatap kak Santi


sekilas.


“Kau sedang apa..?” kak Santi melihat raut wajah Arief


yang terlihat tak bersemangat.


“Tidak ada kak” Arief berusaha menyembunyikan kegundahan


hatinya.


“Sepertinya sedang memikirkan sesuatu?” kak Santi melihat


jelas bahwa Arief menyembunyikan sesuatu.


“Tidak kak aku hanya...” belum selesai kak Santi menimpali ucapan


Arief.


“Kakak tahu kau pasti sedang memikirkan Marwa kan” kak Santi


tersenyum simpul.


“Tidak kak..” Arief mengalihkan pandangannya.


“Sudahlah mengaku saja.. apa ada sesuatu yang mengganggu


pikiranmu?” kak Santi menatap Arief dengan tatapan teduh layaknya seorang ibu


yang siap mendengarkan keluh kesah anaknya.


“Kak aku ingin menanyakan sesuatu pada kakak” entah mengapa


Arief tidak bisa menyembunyikan isi kepalanya kak Santi dengan kelembutannya


mampu membuat Arief bebas mengutarakan keluh kesahnya.


“Bicaralah” kak Santi mendengar dengan sungguh-sungguh.


“Kak jika kita menyukai milik orang lain apa itu salah?”


“Kaka tidak yakin apa ini bisa menenangkanmu atau tidak


tapi menurut kakak lepaskan saja karena dia sudah ada tuannya”


“Memang berat tapi memang itu yang harus dilakukan bukalah


hatimu untuk orang lain masih banyak gadis diluar sana yang menunggumu”


“Tapi kak...”


“Kamu percaya takdir kan jika Tuhan memang ingin dia berjodoh


dengan orang lain seberapa keras kamu mengikatnya maka akan lepas juga begitu


juga sebaliknya”


“Terdengar klise memang tapi itu prinsip yang harus kau ingat”


kak Santi berusaha membuka pikiran Arief agar tidak terlalu berharap pada


sesuatu hal yang tidak pasti.


“Kau tidak makan siang?”


“Nanti saja kak aku belum lapar”


“Oh iya nanti malam kamu ke rumah kakak ya Sherif bilang dia


merindukan pamannya” kak Santi menyindir karena Arief jarang ke rumahnya.


“Baik kak” Arief tersenyum masam mengingat keponakan kecilnya


membuatnya sedikit terhibur.


“Ya sudah kakak keluar dulu ya” kak Santi mendekat dan


menepuk bahu Arief sebagai tanda untuk menyemangatinya. Arief hanya mengangguk.


Arief kembali merenungi ucapan kak Santi benarkah ia harus


merelakan Kiki bahkan sebelum ia bisa memilikinya.


 


***


selamat membaca..

__ADS_1


mohon dukungannya..


__ADS_2