
Seperti hal nya pengemudi lain, Aditya pun turun untuk melihat hal apa yang terjadi di depan sana hingga menyebabkan kemacetan panjang.
"Ada apa pak?" Tanya Aditya pada laki-laki paruh baya yang baru saja dari arah depan.
"Kecelakaan beruntun dek, kabar nya ada mobil sedan yang melaju dengan kecepatan tinggi dan menerabas lampu lalu lintas, dan menabrak truk yang mengangkut alat berat." Ucap laki-laki tersebut.
Feeling Aditya yang sudah merasa tidak enak dari semalam langsung berlari kecil menuju tempat kejadian, dan benar saja.. dari jarak yang cukup jauh Aditya dapat mengenali mobil sedan berwarna hitam yang kondisi nya ringsek tersebut. "Ya Tuhan,, Angga,," Secepat kilat Aditya mendekati kerumunan orang-orang yang sedang mencoba mengevakuasi korban.
Aditya langsung ikut membantu mengangkat tubuh Angga dan membawa nya ke ambulance yang baru saja tiba, Aditya tak tahu pasti siapa yang telah memanggil ambulance tersebut tapi yang jelas dia sangat berterimakasih karena segera ada pertolongan di saat yang tepat.
Setelah meletakkan tubuh Angga yang berlumuran darah di dalam ambulance, Aditya sempat minta tolong sama polisi yang saat itu berada di lokasi kejadian dan menitipkan kunci mobil nya untuk diamankan agar tidak mengganggu arus lalu lintas, sedangkan dia sendiri langsung ikut masuk ke dalam mobil ambulance yang akan membawa Angga ke rumah sakit terdekat.
Ambulance tersebut segera melaju menuju ke rumah sakit, dan tak berapa lama ambulance yang membawa Angga sampai di rumah sakit Medika. Petugas ambulance segera membawa korban kecelakaan tersebut menuju ruang instalasi gawat darurat.
Aditya yang menunggu di luar nampak gelisah, baju nya kotor oleh noda darah dari tubuh Angga. "Didi,, gue harus kasih kabar Didi." Ucap nya hendak menelpon Diandra, namun segera dia urungkan. "Tidak,, tidak,, dia pasti akan panik, sedangkan tidak ada yang mendampingi nya saat ini. Kak Shinta, sebaik nya gue telpon kak Shinta," Aditya pun kemudian melakukan panggilan ke nomor kakak angkat nya itu.
Pada panggilan pertama, Shinta langsung menerima panggilan Aditya. "Halo Dit, ada apa? Tumben kamu telpon kakak? Biasa nya cuma chat?' Cecar Shinta dengan banyak pertanyaan.
"Kak,, Angga kak, Angga kecelakaan dan saat ini masih di tangani dokter di rumah sakit Medika. Tolong kakak ke apartemen dan bawa Didi bersama kakak untuk ke rumah sakit ya kak, Ditya gak berani telpon Didi karena khawatir dia akan shock." Ucap Aditya menjelaskan dengan panjang lebar.
"Ya ampun,, kondisi nya gimana Dit?" Tanya Shinta dengan suara yang panik.
"Ditya juga belum tahu kak, Angga masih di IGD." Balas Aditya lemah.
"Oke, Dit,, kakak meluncur sekarang. Pantau terus keadaan nya dan kabari kakak ya Dit," Pinta Shinta sangat khawatir dengan keadaan adik bungsu nya itu.
"Iya kak, dan tolong bawain baju ganti untuk Ditya ya kak,,, baju Ditya kotor kena noda darah," ucap Aditya sebelum kemudian mengakhiri perbincangan nya dengan Shinta.
Setelah menyimpan kembali ponsel nya ke dalam saku celana, Aditya mendekati pintu IGD dan mencoba mengintip ke dalam. Namun nihil, pandangan nya terhalang korden hijau yang menutupi kaca pintu tersebut.
Dengan lemas, Aditya berjalan menuju ketempat duduk yang tersedia dan mendudukkan diri nya di sana. Dia urut pelipisnya yang terasa berdenyut, kepala nya terasa pusing. Kejadian demi kejadian dari semalam terekam dengan jelas di memori otak nya.
"Harus nya gue enggak masuk ke unit gue dan tetap berjaga di depan unit Angga, hingga kecelakaan ini enggak perlu terjadi. Gue tahu Angga pasti sangat kecewa dengan kejadian semalam, dan apa yang gue takut kan kini benar-benar terjadi. Maaf kan gue Ga,, gue gak bisa jagain lu," bulir bening menetes dari sudut mata pria tampan yang pakaian nya penuh dengan noda darah tersebut.
__ADS_1
Wajah Aditya tampak pucat, dia kurang istirahat dan belum sempat sarapan tadi. Aditya merasa haus dan ingin membeli minuman, saat hendak meninggalkan ruang tunggu tersebut ada seseorang yang memanggil nama nya.
"Nak Ditya?"
Aditya menoleh kearah sumber suara, dan mendapati seorang pria dengan jubah putih yang baru dia kenali semalam. "Om?"
"Maaf, benar anda nak Ditya kan? Saya Chandra, semalam kita belum sempat berkenalan." Papa Chandra mengulurkan tangan nya memperkenal kan diri nya.
"Aditya," balas Aditya singkat sambil menyambut jabat tangan papa Chandra.
"Siapa yang sakit? Lantas, baju nak Ditya,,,?" Tanya papa Chandra menggantung ucapan nya.
"Angga kecelakaan om,," jawab Aditya sendu.
"Angga? Apa dia sendiri? Atau bersama Diandra? Bagaimana kondisi nya?" Papa Chandra mencecar Aditya dengan banyak pertanyaan, terlihat jelas kekhawatiran menyelimuti hati nya.
Aditya menggeleng, "Angga sendiri om, dan saat ini masih di dalam sana," ucap nya sambil menunjuk pintu ruang IGD.
"Om, bisa minta tolong?" Pinta Aditya pada pria yang diyakini nya berprofesi sebagai dokter tersebut.
"Iya, katakan nak,," ucap papa Chandra menatap sahabat baik dari Angga.
"Ditya mau cari minum sebentar, boleh om berjaga dulu gantiin Ditya? Takut nya nanti dokter atau pun Angga butuh sesuatu,," pinta Aditya dengan sopan.
"Pasti nak, silahkan.." balas papa Chandra mengiyakan.
Aditya pun segera berlalu meninggalkan ruang tunggu IGD tersebut.
Sepeninggal Aditya, papa Chandra langsung menghubungi opa Win.
"Halo pa,," sapa papa Chandra sesaat setelah panggilan nya terhubung, "papa bisa ke rumah sakit Medika sekarang? Angga kecelakaan pa,," ucap papa Chandra memberitahu opa Win.
"Apa? Angga kecelakaan? Kok bisa?"
__ADS_1
"Chandra juga belum tahu kejadian nya pa, nanti kita bisa tanyakan pada Aditya. Kebetulan saat melintas di ruang IGD ini Chandra bertemu Aditya dan ternyata dia sedang menunggui Angga. Chandra tunggu ya pa."
"Baik Chandra, papa segera ke sana," ucap opa Win dan langsung menutup telpon nya.
Papa Chandra menarik nafas berat dan kemudian menghembus nya perlahan,, pikiran nya melayang tertuju pada sosok Diandra, putri nya. Ya, papa Chandra sangat yakin bahwa Diandra adalah putri nya, dan untuk beberapa saat papa Chandra tenggelam dalam lamunan nya.
Nampak Aditya telah kembali, dan disaat yang bersamaan pintu ruang IGD tersebut dibuka dari dalam.
"Bagaimana kondisi korban dok?" Tanya Aditya dengan tidak sabar begitu melihat dokter yang menangani Angga baru saja keluar dari balik pintu IGD.
Sedangkan papa Chandra nampak menyalami dokter tersebut yang merupakan rekan kerja nya.
"Dokter Chandra kenal dengan korban?" Tanya dokter yang menangani Angga.
Papa Chandra hanya mengangguk, tak mampu menjawab nya.
Dokter tersebut mengatur nafas nya, dan berdeham.. "kondisi korban kurang baik, selain luka yang cukup serius di sekujur tubuh nya. Korban juga mengalami cedera otak, dan hal itu yang membuat korban mengalami koma saat ini," ucap sang dokter menjelaskan kondisi Angga, menatap papa Chandra dan Aditya bergantian.
"Dokter Chandra, anda dan keluarga bisa urus administrasi nya agar korban bisa segera dipindahkan ke ruang ICU," titah sang dokter, "saya permisi dulu dok," lanjut dokter tersebut sambil menepuk pundak dokter Chandra dan kemudian segera berlalu.
Aditya mengusap kasar wajah nya, "Ya Tuhan,,," Aditya meninju dinding rumah sakit dengan keras, hingga punggung tangan nya terluka.
Papa Chandra mencoba menenangkan nya, "sabar nak, nak Angga pasti sembuh," ucap nya sambil mengusap-usap punggung Aditya, papa Chandra mencoba menenangkan orang lain padahal dia sendiri sangat khawatir.
"Ditya enggak bisa menjaga nya om,, Ditya saudara yang gak berguna!' Seru Aditya frustasi, bulir bening terjun bebas membasahi wajah kusut Aditya.
Aditya memang sangat menyayangi Angga, mereka berdua tumbuh bersama dalam limpahan kasih sayang mama Dewi dan juga almarhum suami nya. Aditya sudah menganggap Angga dan keluarga nya sebagai bagian dari hidup nya.
"Ma,,, maafin Ditya ma,,, maaf," lirih nya sambil berjalan gontai menuju bangku yang tersedia di ruang tunggu, Aditya kemudian mengambil ponsel nya,,, teringat bahwa dia belum menghubungi mama Dewi.
Papa Chandra yang melihat Aditya mulai lebih tenang, berjalan menjauh menuju loket administrasi. Papa Chandra mengurus semua administrasi Angga, dia juga meminta agar Angga diberikan fasilitas terbaik yang dimiliki rumah sakit tempat nya bekerja sekaligus sebagai pemilik dari setengah saham nya itu.
Setelah semua nya beres, papa Chandra segera kembali menemui Aditya. Dan dari kejauhan, dia dapat melihat Diandra sudah berada di sana dan tengah menangis dalam pelukan seorang wanita muda.
__ADS_1