Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Pegangan Hidup


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, Angga semakin yakin dengan perasaan nya pada sang istri. Perasaan cinta dan sayang, bukan nafsu atau pun hanya sekedar karena sering nya kebersamaan.


Angga sudah memantapkan hati untuk menjadi kan Diandra istri yang seutuh nya, meskipun dia sadar bahwa apa yang dilakukan nya saat ini sudah terlambat. Namun, bukankah masih lebih baik terlambat daripada tidak menyadari kesalahan sama sekali?


Siang tadi Angga telah memesan tiket untuk bulan madu bersama sang istri, dan rencananya lusa mereka berdua akan berangkat ke suatu tempat yang indah. Angga juga sudah menyiapkan sepasang cincin berlian, dia merencanakan akan melamar kembali istri nya secara spesial.


Namun Angga masih merahasiakan rencananya pada sang istri, hanya Aditya yang tahu semua rencananya. Angga hanya mengatakan pada istri nya bahwa rencana bulan madu nya di percepat, "Di,, aku tadi udah pesan tiket untuk kita honeymoon selama seminggu, kamu enggak apa-apa kan kalau enggak kuliah selama itu?" Tanya Angga sambil memeluk istri nya dari belakang sebelum mereka tidur.


"Benarkah kak?" Diandra balik bertanya sambil membalikkan tubuh nya menghadap sang suami."


"Iya," jawab Angga singkat, sambil mencuri ciuman pada sang istri sekilas.


"Didi senang mendengar nya kak, kalau pun enggak kuliah selama nya pun Didi rela,,, karena tujuan hidup Didi kini hanya ingin menjadi istri kakak, melayani kakak dengan sepenuh hati," ucap Diandra menatap mesra netra hazel sang suami.


Angga tersenyum, "makasih Di,, kamu mau menerima aku apa ada nya, aku dengan segala kebodohan ku." Lirih Angga sambil mengusap lembut pipi istri nya.


Diandra pun membalas perlakuan sang suami, dia raba alis hitam lebat milik Angga yang selalu dia kagumi. Kemudian turun ke hidung mancung sang suami dan berakhir di bibir seksi suami nya,, "apa Didi boleh menggigit nya?" Tanya Diandra tersenyum nakal.


Sontak Angga menggigit pelan jari sang istri yang mulai nakal, "aw,, sakit kak," Diandra terpekik kaget.


Angga terkekeh pelan, "habis nya kamu nakal sayang,,," ucap Angga sambil membawa sang istri kedalam dekapan nya. "Sudah larut Di, tidur lah," lanjut nya dengan membelai rambut indah sang istri dan mencoba memejamkan mata.


Namun, bukan Diandra nama nya jika dia nurut.. tangan kreatif nya dengan lincah masuk kedalam celana boxer sang suami dam memainkan milik suami nya itu seraya tersenyum seringai.


Angga mendesah pelan,, "kamu benar-benar istri nakal sayang,," lirih Angga menikmati kenakalan sang istri.


"Didi enggak bermaksud nakal kak, Didi hanya butuh pegangan hidup," balas Diandra sekenanya, "pegang aja boleh kan?" Pinta nya seraya memejamkan mata.


"Hmm,, terserah kamu aja yang,,," balas Angga seraya tersenyum, dan mencoba memejamkan mata nya kembali.


Dan mereka berdua pun terlelap dalam kedamaian cinta dan kasih sayang.


°°°°°


Pagi hari di rumah sakit, tepat nya di kamar rawat inap opa Win,, laki-laki tua itu sudah terlihat bugar setelah seminggu dirawat di rumah sakit.


"Opa,," sapa Renny yang baru saja masuk, "opa sudah sehat?" Tanya Renny sambil memeluk opa Win yang tengah duduk bersandar.


"Sudah nak," balas opa Win sambil mengusap lembut punggung sang cucu. "Kamu mau berangkat kuliah Ren," Tanya sang opa seraya melepaskan pelukan Renny.

__ADS_1


Renny mengangguk, "iya opa, hari ini Renny ada kelas sampai sore. Maaf ya... Renny seharian nanti enggak bisa menemani opa," ucap nya pura-pura sedih.


Ya, selama seminggu ini, Renny dan juga mama nya nampak memberikan perhatian lebih pada opa Win, tiap hari Renny dan sang mama berkunjung ke rumah sakit secara bergantian. Mereka berdua melakukan nya dengan tidak tulus, tapi karena ada mau nya.


"Tidak apa-apa Ren, opa sudah boleh pulang kok pagi ini," balas opa Win menenangkan Renny.


"Papa sudah siap?" Tanya papa Chandra dari balik pintu, dan berjalan mendekat kearah opa Win dan juga Renny. Papa Chandra baru saja menyelesaikan urusan administrasi nya.


Opa Win mengangguk, "apa sudah boleh pulang sekarang?" Tanya opa Win memastikan.


"Sudah pa," balas papa Chandra singkat.


"Mang Diman, kita bersiap sekarang. Papa sudah boleh pulang," titah papa Chandra pada mang Diman, salah seorang pekerja setia di rumah megah milik keluarga Winata, sekaligus sopir pribadi opa Win.


Mang Diman mengangguk patuh dan kemudian segera berkemas.


"Kamu mau berangkat kuliah sekarang nak?" Tanya papa Chandra pada putri nya.


"Iya pa," balas Renny seraya tersenyum.


"Dok, ini mau langsung dibawa ke mobil saja?" Tanya mang Diman yang sudah selesai membereskan barang-barang milik tuan nya.


"Iya, kita keluar sama-sama," balas papa Chandra dan kemudian menuntun opa Win untuk keluar dari kamar.


"Tidak perlu Chandra, papa sudah sangat sehat," tolak opa Win dengan melepaskan tangan putra nya, "papa juga bisa jalan sendiri, tidak perlu di papah seperti ini," protes nya.


"Renny aja yang gandeng opa," pinta Renny sambil menggandeng tangan sang opa.


Papa Chandra tersenyum, dan mereka pun berjalan beriringan menyusuri koridor keluar dari rumah sakit.


Sesampai nya di lobi, "pak Hadi,," sapa seorang wanita paruh baya yang terlihat anggun. "Maaf, anda benar pak Hadi Winata kan?" Tanya wanita tersebut memastikan.


"Iya benar, maaf.. anda mengenal saya?" Opa Win bertanya balik.


"Saya Wati pak, istri dari pak Budiman yang membeli rumah pak Hadi," jawab wanita tersebut yang ternyata adalah bu Wati.


"Oh iya,, ya,, maaf kalau saya tidak ingat, maklum sudah tua," ucap opa Win seraya terkekeh, "bagaimana kabar pak Budiman dan bu Wati?" Tanya opa Win.


"Kabar kami baik pak, saya kesini mau besuk adik ipar saya yang kecelakaan semalam. Pak Hadi sendiri kenapa ada disini, siapa yang sakit?" Tanya bu Wati perhatian.

__ADS_1


"Saya bu, seperti nya faktor usia.. mesti banyak istirahat," balas opa Win tersenyum hangat.


"Mama,, aku cariin, ternyata disini?" Ucap seorang anak gadis pada bu Wati.


"Maaf pak Hadi, saya permisi dulu ya," pamit bu Wati dengan sopan.


"Baik bu, salam buat pak Budiman," balas opa Win dengan ramah.


Baru beberapa langkah, kembali bu Wati memanggil opa Win. "Pak Hadi,,," bu Wati berbalik dan kembali menghampiri opa Win.


Opa Win mengernyit,, "ada apa bu?"


"Maaf, saya lupa mau menyampaikan sesuatu.. sekitar setengah tahun yang lalu, ada sepasang pemuda yang mencari pak Hadi ke rumah," ucap bu Wati sambil mengingat-ingat.


"Siapa? Apa mereka menyebutkan nama?" Tanya opa Win penasaran.


"Iya pak, kalau tidak salah nama nya Angga dan Di,, Di,, aduh Di siapa ya?" Bu Wati nampak mengerutkan kening.


"Diandra?" Tanya papa Chandra dengan mata berbinar.


"Ah iya,, benar pak, Diandra. Anak nya tinggi, putih dan cantik," ucap bu Wati seraya tersenyum mengingat wajah Diandra.


"Sialan,, aku sudah coba menggagalkan penyelidikan opa dan papa dengan mengeluarkan uang banyak untuk om Arman, dan bahkan aku sekarang pun terjebak dan menjadi budak nafsu nya Jeffry! Aku tidak akan membiarkan gadis penjual tas itu mengambil milikku! Ayo Ren... mikir!" Renny bermonolog dalam diam, dia masih berdiri terpaku di samping sang opa.


"Apa yang mereka tanyakan bu?" Tanya opa Win semakin penasaran.


"Tidak ada pak," balas bu Wati sambil menggeleng pelan, "mari pak Hadi, saya buru-buru," bu Wati kembali pamit dan langsung berlalu masuk kedalam rumah sakit.


"Chandra, antar papa ketempat Angga sekarang," pinta opa Win sambil meneruskan langkah nya menuju pintu keluar.


"Papa harus istirahat dulu pa, Chandra janji nanti sore Chandra akan temani papa menemui Angga," balas papa Chandra sambil membukakan pintu mobil untuk sang papa, dan kemudian papa Chandra pun ikut masuk dan duduk di samping opa Win.


"Hmm, baik lah,,, semoga segera ada titik terang," ucap opa Win tersenyum lebar.


"Opa, papa,, Renny berangkat kuliah ya,," pamit Renny sambil melambaikan tangan nya.


"Hati-hati nak, jangan ngebut,' ucap papa Chandra mengingat kan putri nya.


Opa Win tersenyum dan membalas melambaikan tangan pada cucu nya.

__ADS_1


Setelah semua masuk, Mang Diman segera melajukan kendaraan nya meninggalkan pelataran rumah sakit.


Renny yang masih termangu di tempat nya, menatap kepergian opa dan papa nya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ayo Ren,, kamu harus cepat bertindak.. waktu kamu hanya sedikit?!" Gumam nya sambil mengetuk ketuk kening nya.


__ADS_2