
Alyssa sudah selesai berenang 30 menit yang lalu dan kini ia masih berada di kamar setelah membersihkan diri. Ia tengah mengeringkan rambutnya dengan hair dryer ketika suara ketukan pintu terdengar. Alyssa menghentikan kegiatannya dan membuka pintu kamar.
Nathan menatap Alyssa cukup lama. Ia membatin betapa cantiknya Alyssa dengan rambut yang masih setengah basah. Semakin lama ia semakin dibuat gila oleh Alyssa padahal gadis itu tidak melakukan apapun padanya.
“Sa, aku lupa bilangin kamu kalau sekarang kita mau barbekuan” kata Nathan kemudian setelah cukup lama menatap Alyssa.
“Iya, aku sudah tahu. Sarah memberitahuku”.
“Ooh.. ya sudah. Aku tunggu di halaman belakang ya”.
“Iya, sebentar lagi aku kesana”.
Nathan akan berjalan menuju halaman belakang sebelum ia berbalik lagi tepat disaat Alyssa akan menutup pintu kamarnya.
“Emm... Sa”
“Iya?” jawab Alyssa tidak jadi menutup pintu.
“Kamu cantik” kata Nathan sambil tersenyum manis lalu kembali berjalan menuju halaman belakang.
Alyssa tersipu malu dibuatnya, pipinya merona merah setelah mendengar Nathan memujinya cantik. Ia senang Nathan perhatian padanya, tapi ia juga takut kalau Nathan hanya mempermainkannya dan menjadikannya sebagai pelampiasan saja. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlalu berharap pada Nathan agar tidak terlalu sakit hati jika nantinya Nathan hanya mempermainkan hatinya.
Pukul 8 malam Nathan, Alyssa dan Sarah sudah berada di halaman belakang untuk pesta barbeku. Mereka masih menunggu Alvin yang belum terlihat batang hidungnya. Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, Alvin datang dengan mengajak seorang gadis yang penampilannya sangat sederhana tapi terlihat cantik dan kalem.
“Maaf menunggu lama. Kenalin, ini Dina!” Ia memperkenalkan gadis yang diajaknya itu pada semuanya.
“Senang bertemu dengan kalian semua” kata gadis itu sambil tersenyum ramah dan agak sedikit menunduk karena malu.
“Aku Alyssa” kata Alyssa mengulurkan tangannya sambil tersenyum pada Dina.
“Kamu pacarnya Alvin?” tanya Nathan tanpa berbasa basi yang membuat Dina sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.
__ADS_1
“Eh.. emm.. tidak. Kita cuma teman” jawab Dina malu-malu.
“Baguslah. Kamu harus hati-hati sama Alvin. Dia itu playboy” Nathan melanjutkan.
“Nggak usah dengerin dia Din, nggak penting” Alvin sedikit kesal dengan Nathan lalu mengajak Dina dan yang lainnya untuk memulai pesta barbeku mereka.
Walaupun sedikit canggung, tapi Dina selalu berusaha terlihat nyaman. Dia bersama Alyssa sedang menyajikan daging yang telah dipanggang oleh Alvin dan Nathan. Sementara Sarah duduk sendirian sambil menikmati minumannya.
Dina menghampiri Sarah sambil membawa daging panggang yang sudah matang dan meletakkannya di meja dekat Sarah.
“Mbak Sarah, ini sudah matang. Silakan dicoba mbak”.
“Makasi ya Din” jawab Sarah. “Dina, duduk sini. Temenin aku ngobrol sebentar” kata Sarah sambil menarik kursi yang ada di dekatnya.
“Eh, iya mbak. Mau ngobrol apa mbak?”.
“Kamu udah lama kenal Alvin?” tanya Sarah setelah Dina duduk di sampingnya.
“Nggak mbak. Saya kenal mas Alvin baru beberapa hari yang lalu”.
Dina tersenyum mendengar pertanyaan Sarah. “Nggak kok mbak. Saya sama mas Alvin cuma temenan aja mbak. Saya nggak punya perasaan lebih ke mas Alvin. Bener-bener cuma temen aja kok mbak”.
“Terus kalau Alvin suka sama kamu gimana?” tanya Sarah lagi. Entah mengapa ada rasa penasaran dalam diri Sarah.
“Ya nggak mungkin lah mbak. Saya juga nyadar diri mbak, saya nggak pantes sama mas Alvin” jawab Dina sambil tertawa kecil.
“Ehm...” Alvin berdeham membuat dua orang yang sedang mengobrol itu menoleh padanya. “Kalian ngomongin apaan sih?” tanyanya.
“Kepo banget!” jawab Sarah ketus.
“Idihh, siapa juga yang nanya sama kamu” balas Alvin.
__ADS_1
“Kita cuma ngomongin masalah perempuan kok mas” jawab Dina.
“Ayo kita makan!” seru Nathan setelah semua dagingnya selesai dipanggang.
Mereka berlima menikmati acara malam itu. Meskipun Dina baru mengenal mereka tapi ia bisa merasakan mereka semua orang baik. Dina pada awalnya mengira kalau Nathan dan Sarah sombong karena mereka artis dan tidak menyangka kalau ternyata mereka bisa menerima keberadaan dirinya disana. Mereka memperlakukan Dina seperti kawan lama, membuat rasa canggung Dina perlahan menghilang.
Sudah hampir tengah malam ketika Alvin tiba di villa usai mengantar Dina pulang ke rumahnya. Semua orang sudah tidur, pikirnya karena melihat keadaan villa yang sepi. Alvin berjalan menuju kamarnya, tapi ia terhenti sejenak karena melihat pintu kamar Sarah sedikit terbuka dengan lampu yang masih menyala. Ia mengintip sedikit, tapi dilihatnya Sarah tidak ada di kamarnya. Perlahan ia memasuki kamar Sarah.
“Sarah? Kamu di kamar mandi?” Alvin mendekatkan kupingnya ke pintu kamar mandi, tapi ia tidak mendengar suara apapun dari dalam. Ia membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak terkunci. Dilihatnya kamar mandi pun kosong, tidak ada Sarah disana.
“Tuh orang kemana sih udah malem begini juga” Alvin mulai sedikit khawatir. Ia mengambil ponselnya hendak menghubungi Sarah tapi dilihatnya ponsel Sarah ada di atas meja. Ia segera keluar dari kamar Sarah dan mulai mencari Sarah di semua ruangan yang ada di villa tersebut. Tapi nihil, ia tidak menemukan Sarah dimanapun.
Alvin bergegas keluar, pikirnya mungkin Sarah tidak bisa tidur dan jalan-jalan di halaman. Dan ternyata benar, Alvin melihat Sarah di pinggir kolam renang masih membawa botol minuman di tangannya. Ia lalu menghampiri Sarah dan menyadari bahwa gadis itu sudah mabuk.
“Ayo masuk! Ini sudah malam” ajak Alvin dan dia meraih tangan Sarah untuk menariknya agar masuk ke dalam.
Sarah menolak, ia menghempaskan tangan Alvin dan melanjutkan minumnya. Alvin merampas paksa minuman itu dari tangan Sarah. Walaupun Alvin sangat membenci Sarah, tapi ia sebenarnya peduli dengan Sarah. Ia tidak suka melihat Sarah mabuk. Alvin menarik Sarah dengan paksa dan mengajakanya masuk ke dalam. Sarah yang memang sudah sangat mabuk terlihat pasrah ditarik oleh Alvin.
“Mendingan sekarang kamu tidur, jangan keluar lagi!” kata Alvin.
Sarah yang sudah terduduk di tepi tempat tidur tersenyum pada Alvin yang membuat Alvin tersadar kalau Sarah sangat manis saat tersenyum.
“Ya udah, kamu istirahat aja. Aku balik ke kamar” Alvin hendak berbalik tapi Sarah menarik tangannya tiba-tiba yang membuat Alvin terjatuh dan menindih tubuh Sarah.
“Kamu mau kemana Vin? Temenin aku minum. Aku kesepian” kata Sarah lalu mengalungkan tangannya pada leher Alvin.
Alvin berusaha melepaskan diri, tapi wajah Sarah yang sangat dekat dengannya membuatnya tidak benar-benar berusaha untuk melepaskan diri lagi. Tanpa peduli apapun Alvin langsung ******* bibir seksi Sarah yang membuat gadis itu memejamkan matanya dan membalas ciuman dari Alvin dengan penuh gairah. Tangan Alvin mulai menyusuri seluruh tubuh Sarah dan hal yang sama juga dilakukan oleh Sarah. Ciuman mereka semakin panas, keduanya saling menikmati sentuhan masing-masing. Alvin sudah tidak tahan lagi, ada yang berontak ingin keluar dari dalam celananya. Sarah membuat Alvin tergoda dengan tubuh indahnya. Tapi Alvin tersadar sebelum ia melakukan tindakan yang lebih jauh lagi. Ia melepaskan ciumannya dan menjauh dari tubuh Sarah.
“Sarah, aku harus ke kamarku. Kamu istirahatlah” kata Alvin lembut dan mengabaikan Sarah yang kelihatannya masih ingin bersama dengan Alvin.
Alvin memasangkan selimut pada Sarah dan mengecup kening Sarah sekilas sebelum meninggalkan kamar gadis itu.
__ADS_1
Pikiran Alvin sangat kacau. Ia bertanya pada dirinya sendiri, bagaimana bisa ia melakukan hal tadi dengan Sarah. Ia sangat membenci Sarah tapi kenapa ia begitu cepat tergoda dengan Sarah? Apa yang akan dipikirkan Sarah besok ketika ia sudah sadar dari mabuknya? Pasti dia berpikir kalau Alvin sengaja memanfaatkan keadaannya yang tengah mabuk untuk mencari kesempatan. Alvin pusing memikirkan tindakan bodohnya tadi. Sulit sekali bagi Alvin untuk tertidur malam itu dengan begitu banyak pikiran yang berseliweran di kepalanya.
***