
“Sial, kenapa dia mengikutiku kemari?”
Ben berjalan mendekati Nathan dengan membawa tas yang Nathan sudah tahu isi di dalamnya adalah buku dan laptop.
“Kenapa kemari? Apa papa yang menyuruhmu?” tanya Nathan ketus.
“Kamu sudah menjawab pertanyaanmu sendiri!” kata Ben sembari duduk di kursi yang ada di teras rumah bi Lilis.
Nathan tak punya pilihan lain selain belajar bisnis, mengikuti keinginan papanya. Kali ini ia tidak bisa membantah lagi seperti dulu karena papanya telah membantunya untuk menemukan Alyssa.
“Baiklah, kita mulai pelajarannya sekarang!” Ben hendak mengeluarkan buku dan laptopnya dari dalam tas.
“Hei, jangan terlalu kejam! Setidaknya beri aku waktu untuk sarapan dan mandi terlebih dahulu sebelum mulai belajar!” protes Nathan.
“Kalau begitu silakan lakukan apa yang kamu ucapkan tadi!” kata Ben dengan ekspresi wajah datar.
Nathan berdecak kesal. Bagaimana bisa ia sarapan jika bi Lilis dan Alyssa tidak ada di rumah. Entah kemana mereka pergi, Nathan tidak tahu. Ia akhirnya memutuskan untuk mandi terlebih dulu selagi menunggu bi Lilis dan Alyssa datang.
Beberapa menit kemudian Alyssa dan bi Lilis yang baru pulang dari pasar merasa penasaran dengan mobil yang terparkir di halaman. Tapi rasa penasaran mereka hilang begitu saja ketika melihat Ben yang sudah duduk di teras rumah.
“Wah, rupanya ada nak Ben disini. Gimana kabarnya?” tanya bi Lilis ramah.
“Baik bi! Maaf saya kesini nggak kasih tahu bibi dulu”.
“Nggak apa-apa, pasti kamu kesini atas perintah tuan Rudi kan? Oh ya, kamu datang kemari mau mencari Nathan atau Alyssa?”
“Nathan bi!” jawab Ben singkat.
Bi Lilis tersenyum lalu mempersilakan Ben untuk duduk di dalam sambil menunggu Nathan yang sedang mandi. Bi Lilis menuju dapur, membuatkan minuman untuk Ben.
Alyssa hanya diam saja mendengar percakapan antara bi Lilis dan Ben. Ia sudah mengenal Ben sebelumnya saat ia bertemu dengan om Rudi. Dan Ben juga lah yang mengantarnya ke rumah bi Lilis.
“Nathan, sarapan dulu. Bibi sudah buatkan nasi goreng buat kamu” kata bi Lilis ketika Nathan keluar dari kamar seusai mandi.
“Iya bi! Tadi bibi dan Alyssa kemana?”
“Bibi dan Alyssa tadi ke pasar beli keperluan buat jualan besok”.
__ADS_1
“Kenapa buat besok? Memangnya hari ini bibi nggak jualan?” tanya Nathan sambil menarik kursi dan duduk setelahnya.
“Hari ini ponakan bibi nikah, jadi bibi mau kesana sebentar!” jawab bi Lilis sambil mengambilkan nasi goreng untuk Nathan. “Alyssa, tolong panggil nak Ben, ajak untuk sarapan bersama” lanjut bi Lilis.
Alyssa yang selesai menaruh barang belanjaannya di dapur bergegas untuk ke ruang tamu memanggil Ben. Tak berapa lama kemudian, mereka semua sudah berkumpul di meja makan. Sebenarnya Ben sudah sarapan tadi di perjalanan walau hanya dengan roti saja, tapi karena tidak enak menolak bi Lilis akhirnya ia sarapan yang kedua pagi itu.
Nathan menghabiskan sarapannya dengan perasaan kesal. Bagaimana tidak kesal, seharusnya hari ini ia bisa berdua saja dengan Alyssa di rumah bi Lilis tapi Ben datang mengganggu harinya. Sungguh Nathan merasa ini adalah hari sial baginya karena pasti Ben akan menyuruhnya belajar dari pagi sampai sore.
Setelah sarapan bi Lilis bersiap-siap untuk ke acara pernikahan ponakannya. Tukang ojek langganannya sudah menunggu di depan rumah. Lima belas menit kemudian bi Lilis sudah pergi dengan tukang ojeknya setelah berpamitan dengan Alyssa, Nathan dan Ben.
Duduk di ruang tamu, Ben sudah mulai mengeluarkan laptop dan bukunya sementara Nathan hanya bisa pasrah. Meski masih merasa sedikit kesulitan dalam memahami bisnis tapi Nathan terlihat sudah ada sedikit kemajuan. Hari itu benar-benar adalah hari belajar untuk Nathan. Ia yang awalnya merasa kesal atas kedatangan Ben, mendadak jadi semangat belajar karena beberapa kali ia sempat melihat Alyssa sedang memperhatikannya selama belajar. Hal itu membuat Nathan jadi semakin serius dalam belajar untuk memperlihatkan kesan baik di depan Alyssa.
Alyssa mulai memasak untuk makan siang dengan begitu banyak pertanyaan. Kenapa tiba-tiba Ben datang ke rumah bi Lilis? Apa yang sedang dipelajari Nathan? Kenapa ia dan Ben terlihat serius sekali? Ia sebenarnya ingin bertanya, beberapa kali ia ke ruang tamu untuk menanyakan itu pada Nathan dan Ben tapi urung dilakukan karena melihat Nathan begitu serius dengan pelajarannya.
Saat makan siang, ketiganya tak banyak bicara. Mereka makan dengan tenang. Usai makan, Nathan dan Ben kembali ke ruang tamu untuk melanjutkan kegiatan mereka. Sementara Alyssa membersihkan piring-piring kotor dan setelahnya ia masuk ke kamar untuk beristirahat.
Nilai Nathan untuk pelajaran kali ini sudah cukup lumayan. Ia bisa menjawab setengah pertanyaan yang diberikan Ben dengan benar. Karena ini adalah nilai tertingginya, Nathan merasa cukup puas.
“Ben, kamu akan menginap disini?” tanya Nathan setelah mengakhiri pelajaran hari itu.
“Tidak, aku harus balik karena besok ada rapat yang sangat penting dan aku harus hadir” Ben kembali memasukkan laptop dan bukunya ke dalam tas.
“Besok aku akan mengirimkan beberapa soal yang harus kamu jawab melalui email. Dan jawabanmu besok akan langsung dinilai oleh papamu sendiri!”
Nathan menelan salivanya kasar. Ia memikirkan apakah ia akan bisa menjawab semua pertanyaan besok? Bagaimana jika ia tidak bisa menjawab?
Ben sudah berada di depan rumah diikuti oleh Nathan dan Alyssa.
“Ben, apa nggak sebaiknya kamu makan malam disini dulu baru pulang? Kamu kan tahu sendiri perjalanannya sangat jauh” ucap Alyssa.
“Aku akan mampir ke rumah makan nanti saat di jalan!”
“Baiklah, kalau begitu kamu hati-hati ya!”
Ben berpamitan dengan keduanya setelah itu ia masuk ke mobil dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah bi Lilis.
“Nathan, bisa kita bicara sebentar?” tanya Alyssa setelah mobil Ben tidak terlihat lagi.
__ADS_1
“Kenapa hanya sebentar? Lama juga tidak apa” jawab Nathan.
Alyssa tidak menanggapi ucapan Nathan lagi. Ia masuk kembali ke dalam rumah dan Nathan menyusulnya. Mereka duduk berhadapan di ruang tamu. Alyssa ingin menanyakan semua pertanyaan yang ada di kepalanya sejak kedatangan Ben tadi.
“Kenapa Ben datang kemari?” tanya Alyssa tanpa basa basi.
“Untuk mengajariku bisnis!” Nathan menjawab jujur.
“Kenapa tiba-tiba kamu belajar bisnis?”
“Cuma pengen aja!”
“Bohong! Aku tahu kamu tidak pernah tertarik dengan bisnis dan sangat aneh melihat kamu mempelajarinya!” Alyssa memang tahu betul dari awal Nathan tidak pernah menyukai bisnis dan karena alasan itulah menjadi salah satu penyebab retaknya hubungannya dengan om Rudi.
“Apa ini semua karena aku?” Alyssa melanjutkan.
Alyssa teringat dengan perkataan Alvin sesaat sebelum ia kembali ke kota. Alvin memberitahunya bahwa Nathan sudah mengalah dengan egonya demi dirinya. Ia jadi mempunyai firasat bahwa Nathan meminta alamat keberadaannya pada om Rudi dan sebagai balasannya Nathan akan mulai belajar tentang bisnis.
“Kenapa tidak menjawab? Apa yang aku katakan itu benar?” tanya Alyssa lagi.
“Itu benar! Tapi aku bisa jelaskan semuanya” ucap Nathan buru-buru agar Alyssa tidak marah padanya. Nathan merasa saat ini Alyssa sudah mulai curiga dengan kedatangannya di desa itu yang seolah-olah hanya sebuah kebetulan bertemu dengannya.
“Aku sangat putus asa mencarimu dan akhirnya aku datang pada papa dan minta bantuannya untuk menemukanmu. Aku tahu dengan banyaknya anak buah yang dimiliki papa bukan hal yang sulit untuk menemukan keberadaanmu. Dan sebagai rasa terima kasihku pada papa, aku menuruti keinginan papa untuk mulai mempelajari tetang bisnis!” kata Nathan jujur.
Alyssa melihat tidak ada kebohongan di mata Nathan saat menjelaskannya. Ia tahu om Rudi sudah memanfaatkannya agar Nathan mau menuruti semua keinginannya. Dan sejujurnya Alyssa menjadi merasa sedikit bersalah pada Nathan karena sudah membuatnya melakukan hal yang sangat tidak disukainya.
“Apa itu berarti hubunganmu dan om Rudi sudah membaik?”
”Sedikit!” Memang itu lah kenyataannya, hubungan Nathan dan papanya sudah sedikit membaik berkat kaburnya Alyssa.
“Maaf!” ucap Alyssa menundukkan kepalanya.
“Kenapa meminta maaf? Seharusnya aku yang minta maaf padamu karena dari awal aku sudah membohongimu. Aku membuat rencana agar pertemuan kita disini adalah suatu kebetulan!”
“Aku minta maaf karena membuatmu melakukan hal yang tidak kamu sukai!”
Nathan merasa sangat menyesal telah menyakiti Alyssa sebelumnya. Bagaimana Alyssa bisa meminta maaf padanya hanya karena hal ini sementara ia melakukan hal yang lebih buruk pada Alyssa. Sungguh rasa cintanya pada Alyssa semakin besar dan ia tidak mau kehilangan gadis yang ada di depannya saat ini.
__ADS_1
***