Aktor Tampan Pujaan Hati

Aktor Tampan Pujaan Hati
Ide Cemerlang


__ADS_3

“Alyssa, kamu tidak seharusnya minta maaf padaku. Ini semua cepat atau lambat pasti akan kulakukan!”


“Ya tapi akhirnya kamu melakukannya sekarang! Aku tahu pasti sangat berat bagimu untuk melakukannya. Apalagi kakakmu meninggal gara-gara ini!” air mata Alyssa jatuh begitu saja ketika teringat dengan cerita Nathan tentang kematian Kevin, kakaknya yang meninggal karena merasa stres dengan pekerjaannya mengurus bisnis keluarga.


Melihat Alyssa mengeluarkan air matanya dengan reflek Nathan duduk mendekat dan memeluknya. Nathan membenamkan wajah Alyssa di dadanya sambil mengelus lembut kepalanya.


“Aku tidak masalah melakukannya sekarang demi dirimu. Aku sangat mencintaimu Sa dan aku tidak mau kehilanganmu!”


Alyssa mengusap air matanya dan melepaskan diri dari pelukan Nathan.


“Apa kamu sudah memaafkan kesalahanku?” tanya Nathan.


Alyssa mengangguk. Memang sedari awal Alyssa tidak benar-benar bisa membenci Nathan. Meski dirinya berusaha sangat keras untuk membenci Nathan tapi usahanya sia-sia.


“Kalau begitu besok kita akan menikah”.


Alyssa kaget mendengar kata menikah yang keluar dari mulut Nathan. Ia memang sudah memaafkan Nathan, tapi untuk menikah besok terlalu cepat bagi Alyssa.


“Jangan bercanda!” Alyssa memukul bahu Nathan pelan.


“Aku tidak bercanda! Aku serius, aku akan menelpon mama untuk menyiapkan semuanya besok!”


“Nathan, aku nggak mau menikah besok. Setidaknya kamu harus menemui orangtuaku untuk melamar”.


Nathan tersenyum dengan perkataan Alyssa. Inilah yang dia inginkan selama ini, membuat Alyssa mengatakan bahwa dirinya harus melamarnya.


“Kenapa kamu senyum-senyum begitu?”


“Apa kamu benar-benar ingin aku menemui orangtuamu?” goda Nathan.


Alyssa jadi tersipu malu, pipinya mulai merona saking malunya dirinya. Bagaimana bisa ia bicara pada Nathan memintanya menemui orangtuanya untuk melamar. Seharusnya dia harus sedikit jaim agar Nathan tidak besar kepala.


“Lihatlah, wajahmu merona. Apa kamu malu?”


“Sudah, lupakan perkataanku tadi!” Alyssa membuang muka dan melipat tangannya di depan dada.


“Tidak akan aku lupakan! Kalau kamu mau aku melamarmu, baiklah! Aku dengan senang hati akan datang ke rumah orangtuamu untuk melamarmu!” Nathan membalikkan tubuh Alyssa untuk berhadapan dengannya.


“Emm.. Nathan, aku hanya...”


“Hanya apa? Hanya asal bicara?” Nathan seperti sudah tahu apa yang ada di pikiran Alyssa. “Walau pun kamu hanya asal bicara tapi aku sungguh akan melakukannya. Ayo, besok kita pulang! Dan aku akan menyiapkan semuanya”.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu yang berarti di luar ada seseorang yang datang. Nathan menjadi kesal karena pembicaraannya dengan Alyssa jadi terhenti. Alyssa segera berdiri dan berjalan ke pintu, membuka pintu ternyata yang datang adalah Agus.


“Hai!” sapa Agus sambil nyengir kuda.

__ADS_1


“Agus, ada apa kemari?” tanya Alyssa.


Nathan menjadi semakin kesal saat mengetahui bahwa orang yang datang mengganggunya dan Alyssa adalah Agus.


“Aku mencari Nathan, apa dia ada?”


Alyssa sedikit bingung kenapa Agus mencari Nathan. Tapi Nathan yang mendengar Agus mencarinya langsung berjalan ke arah pintu dan menghampiri Agus.


“Ada apa mencariku? Mau minta foto lagi?” kata Nathan ketus.


“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan dan setelah itu baru aku minta foto lagi denganmu!” jawab Agus.


“Mau tanya apa?”


“Kamu kan datang ke desa ini untuk syuting acara XX, tadi pagi aku menontonnya tapi tayangannya bukan di desa ini. Semuanya jadi bertanya termasuk pak kepala desa, kapan syuting di desa ini akan disiarkan di TV?”


Nathan menelan salivanya kasar, ia lupa jika dirinya telah membohongi bapak kepala desa dan semua warganya. Bagaimana syuting itu bisa disiarkan jika itu hanya pura-pura saja?


“Emm.. sabar lah dulu, semuanya butuh proses untuk diedit agar hasilnya lebih bagus lagi. Mungkin minggu depan sudah bisa tayang!” Nathan terpaksa berbohong.


“Baiklah, aku akan sampaikan pada yang lainnya. Kalau begitu aku pulang dulu!”


“Iya!” jawab Alyssa.


“Eh, hampir lupa! Aku minta foto sekali lagi ya” kata Agus yang sudah mengeluarkan ponselnya untuk berfoto bersama Nathan.


“Terima kasih, berkat foto dengan dirimu pengikut di media sosialku jadi bertambah banyak!” ucap Agus dengan wajah polosnya dan berpamitan sekali lagi pada Nathan dan Alyssa.


Nathan hanya bisa mendengus kesal dan setelah Agus pergi Alyssa menatap Nathan dengan tajam.


“Syuting itu pura-pura kan?” selidik Alyssa.


“Hehe.. iya! Aku pura-pura melakukan syuting untuk bisa bertemu denganmu disini” Nathan menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


“Kamu harus tanggung jawab!”


“Tanggung jawab apa?” tanya Nathan bingung.


“Kamu sudah membuat semua warga di desa ini jadi berharap desa mereka akan masuk TV. Mereka pasti menganggap jika desa mereka masuk TV akan bisa mempromosikan dan banyak orang akan datang ke desa ini berkat dirimu!”


Nathan mencerna ucapan Alyssa. Apa yang dikatakan Alyssa memang benar. Ia jadi merasa bersalah sudah membohongi semua orang.


“Aku tidak mau tahu, kamu harus cari jalan keluarnya agar semua warga tidak kecewa dengan kebohonganmu itu. Kalau kamu tidak bisa mengatasi masalah ini, aku tidak mau menikah denganmu!” Alyssa meninggalkan Nathan di ruang tamu sendirian.


“Alyssa, itu tidak adil. Masalah ini tidak ada hubungannya dengan pernikahan kita!” Nathan menyusul Alyssa ke kamarnya tapi belum sempat ia masuk, Alyssa sudah menutup pintu kamarnya dan mengunci pintunya.


“Alyssa buka pintunya!”

__ADS_1


“Kamu cari solusinya dulu, baru aku mau buka pintunya!” teriak Alyssa dari dalam kamar.


Nathan mengacak rambutnya kasar. Bagaimana bisa Alyssa menyangkutpautkan masalah ini dengan pernikahan mereka? Baru saja ia merasa senang karena akan melamar kekasihnya itu tapi gara-gara kedatangan Agus tadi semua jadi hilang perlahan. Apa yang harus dilakukannya? Di tengah kebingungannya Nathan terpikirkan satu nama yang bisa menyelesaikan masalahnya ini.


Nathan mengambil ponselnya di kamar dan segera menghubungi orang kepercayaannya.


“Halo Vin, aku butuh bantuan!” seru Alvin saat panggilan teleponnya dijawab oleh Alvin.


“Bantuan apa?”


“Kamu hubungi produser acara XX, bilang padanya aku ingin ikut dalam acaranya”.


“Kenapa tiba-tiba ingin ikut? Bukankah dulu kamu menolak acara itu?”


“Apa kamu tahu, semua warga di desa ini menganggap syuting kita itu beneran. Dan mereka menunggu tayangannya di TV. Aku berbohong pada mereka, aku bilang minggu depan akan tayang!”


“Kamu gila apa Nat? Bagaimana kamu bisa bilang begitu? Belum tentu produser acara itu menerimamu di acaranya!”


“Dia pasti akan menerimaku karena aku Nathan! Dan acaranya pasti meraih rating yang tinggi jika aku ikut di dalamnya!”


“Pede sekali kamu ngomong begitu!”


Nathan memang tidak asal bicara, apa yang disampaikannya pada Alvin memang benar. Di acara apapun Nathan tampil pasti akan memperoleh rating tertinggi.


“Baiklah, aku akan menghubunginya!” Alvin menutup panggilan teleponnya.


Nathan merasa lega karena ia sudah menemukan solusi yang tepat untuk masalahnya. Tinggal meminta ijin pada papanya agar ia dibolehkan untuk syuting sehari saja.


“Alyssa, buka pintunya! Aku sudah menemukan solusi!” Nathan tak sabar untuk memberitahu Alyssa ide cemerlangnya.


Alyssa membuka pintu kamarnya.


“Apa solusimu?”


Nathan menjelaskan rencananya untuk mengulang syutingnya dan kali ini bukan bohongan. Dan ia meminta bantuan Alyssa untuk bicara pada papanya agar ia diijinkan untuk syuting acara itu. Karena menurut Nathan, Alyssa akan lebih mudah untuk meminta ijin daripada dirinya. Ia merasa papanya akan lebih mendengarkan Alyssa daripada dia yang tidak bisa terlalu banyak bicara di depan papanya sendiri. Alyssa menyetujui permintaan Nathan itu. Ia segera menghubungi om Rudi dan meminta ijin padanya agar Nathan dibolehkan untuk syuting.


“Bagaimana om? Apa om mengijinkan Nathan untuk syuting?” Alyssa cukup degdegan menunggu jawaban dari om Rudi setelah ia menjelaskan permasalahan yang dibuat oleh Nathan.


“Kenapa kamu yang meminta ijin? Apa hubunganmu dengan Nathan sudah membaik? Kamu sudah memaafkannya?” tanya om Rudi di seberang telepon.


“Iya om, aku sudah memaafkan Nathan!”


“Baiklah, dia boleh syuting karena sudah berhasil membuatmu memaafkan kesalahannya!”


“Terima kasih om!”


“Om yang seharusnya bilang makasih karena kamu mau memaafkan Nathan!”

__ADS_1


***


__ADS_2