
Perjalanan menuju tempat Alyssa berada cukup jauh. Memerlukan waktu sekitar lima jam untuk sampai disana. Keempat orang yang berada dalam satu mobil saling bertukar cerita untuk membuat perjalanan mereka tidak terasa membosankan.
“Sepertinya aku pernah kemari” ucap Nathan begitu memasuki kawasan pedesaan.
“Untuk apa kamu kemari?” tanya Alvin.
“Entahlah, aku juga tidak begitu ingat. Yang jelas aku merasa pernah ke tempat ini sebelumnya”.
Nathan berpikir sejenak mengenai tempat yang baru saja ia datangi. Ia memang merasa mengenal tempat itu, seperti pernah berada disana sebelumnya. Melihat sebuah patung petani yang menyambut mereka di perbatasan desa membuatnya yakin jika ia memang pernah kesana. Tapi sekeras apa pun ia memikirkannya ia tidak ingat untuk apa ia datang ke desa itu sebelumnya.
“Kalau dari alamatnya sih seharusnya di sekitar sini” ucap Alvin.
Alan yang mengemudikan mobil kemudian melajukannya dengan pelan setelah mendengar ucapan Alvin. Nathan yang duduk di kursi belakang melihat ke arah luar deretan rumah-rumah yang meskipun kecil tapi sangat indah dengan pemandangan yang masih hijau.
“Sebaiknya kita bertanya saja” ujar Jason.
Alan segera menepikan mobil untuk bertanya pada beberapa gadis desa yang terlihat sedang berjalan. Alvin membuka kaca mobilnya dan bertanya pada salah seorang di antara gadis desa tersebut.
“Permisi, apa ini jalan gurami?” tanya Alvin.
Beberapa gadis desa yang tadi sempat bertanya-tanya siapa yang membawa mobil mewah ke desanya begitu terpesona saat melihat Alvin yang bertanya jalan padanya.
“Wah, ternyata laki-laki tampan yang datang ke desa kita” ucap salah seorang gadis yang berada di belakang berbisik pada temannya.
“Iya, ini jalan gurami” jawab gadis yang berada di depan sambil memperhatikan semua laki-laki tampan yang berada di dalam mobil.
“Jalan gurami no 56 dimana?” tanya Alvin lagi.
“Oh, ini jalan lurus aja terus belok kanan, nanti ada warung makan, itu dia rumah no 56!” jawabnya masih melihat ke arah kursi belakang memperhatikan Nathan yang sejak tadi memalingkan wajahnya ke arah luar jendela.
“Terima kasih!” ucap Alvin sambil menutup kaca mobilnya.
Tapi belum sempat ia tutup tiba-tiba tangan gadis itu menahan kaca mobilnya.
“Apa yang duduk di belakang itu Nathan?”
Nathan menoleh saat mendengar namanya disebut.
__ADS_1
“Iya, benar! Kamu Nathan Alexander kan?” ucap gadis itu bersemangat dan serempak kedua teman di belakangnya maju ke depan untuk melihat Nathan.
“Ya ampun, Nathan ternyata lebih tampan daripada di TV ya”.
“Minggir, aku juga mau lihat!”
Alvin yang melihat tiga gadis itu sudah mulai berebut untuk melihat Nathan memaksa menutup kaca mobil. Meski berusaha di tahan oleh ketiganya tapi Alvin berhasil menutupnya dan Alan segera melajukan kembali mobil menuju rumah no 56.
“Sepertinya akan ada kehebohan selama kamu tinggal disini Nat!” ujar Jason.
Nathan hanya diam saja tidak menanggapi apa yang diucapkan Jason karena ia sudah yakin apa yang dikatakan temannya itu adalah benar. Mobil berhenti agak jauh dari rumah no 56. Beberapa saat Nathan memperhatikan rumah yang sepertinya ia kenal itu. Sampai akhirnya ia melihat bi Lilis yang sedang melayani beberapa pembeli di warung makannya.
“Aku ingat sekarang!” seru Nathan.
“Ingat apa?” tanya Alvin.
“Itu rumah bi Lilis, mantan asisten rumah tangga yang bekerja di rumah papa sejak aku kecil. Pantas saja aku merasa pernah ke desa ini, dulu waktu aku masih kecil aku pernah liburan disini!”
“Jadi maksud kamu sekarang Alyssa tinggal bersama bi Lilis?” tanya Alvin lagi.
“Mungkin, tapi dari tadi aku tidak melihatnya. Alan, jason, coba kalian turun dan pastikan apa ada Alyssa disana”
“Kalian pasti bisa langsung tahu karena Alyssa ku itu yang paling cantik di antara semuanya!”
Alvin, Alan dan Jason hanya menghela nafas berat mendengar jawaban dari Nathan. Alvin lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Alyssa pada Alan dan Jason.
Alan dan Jason turun dari mobil dan berjalan menuju warung makan bi Lilis.
“Bi, pesan nasinya empat bungkus ya!” kata Jason setelah ia dan Alan sampai di warung makan.
“Iya, silakan duduk dulu!” ucap bi Lilis ramah.
Alan dan Jason duduk di kursi kosong yang masih tersisa sambil mengedarkan pandangannya ke semua tempat yang terjangkau oleh mata mencari keberadaan Alyssa. Tapi hasilnya nihil, mereka tak melihat ada Alyssa disana.
“Bi Lilis, Alyssanya dimana? Biasanya kan dia yang bantuin jualan” tanya salah seorang pengunjung laki-laki sambil menyantap makanannya.
Mendengar nama Alyssa sontak membuat Alan dan Jason menajamkan telinganya untuk mendengar percakapan.
__ADS_1
“Tadi Mia kesini minta Alyssa nemenin dia ke sungai. Katanya dia mau bikin video alam buat tugas sekolah” jawab bi Lilis menjelaskan.
Mia adalah anak kepala desa yang masih sekolah kelas satu SMA. Mia sudah menjadi teman dekat Alyssa ketika pertama kali Alyssa datang ke desa ini.
“Ini pesanan kalian. Semuanya enam puluh ribu!” kata bi Lilis sambil menyerahkan bungkusan nasi pada Alan dan Jason.
Jason mengambil uang di dompetnya dan membayarnya. “Bi, kalau boleh tahu di dekat sini ada sungai?” tanya Jason.
Bi Lilis yang mendengar pertanyaan Jason menatap curiga ke arahnya.
“Kami dari kota dan mau melakukan syuting. Kebetulan kami syuting menjelajahi alam yang masih hijau. Jadi sepertinya kalau syuting di sungai akan lebih menantang” kata Jason cepat saat tahu jika bi Lilis menatapnya dengan penuh curiga.
“Sepertinya bagus kalau kalian syuting disini, bisa membuat desa kami lebih di kenal. Apa kalian sudah minta ijin ke kepala desa?” tanya laki-laki yang sempat menanyakan Alyssa tadi pada bi Lilis.
“Belum” jawab Alan jujur.
“Kalau begitu biar aku antar kalian bertemu kepala desa. Kalau sudah dapat ijin aku akan antar kalian ke sungai dan tempat-tempat lainnya yang indah di desa ini. Dan kenalkan, aku Agus, laki-laki paling tampan di desa ini”.
Alan dan Jason saling memikirkan hal yang sama dalam otak mereka masing-masing. Bagaimana bisa ada laki-laki yang sangat percaya diri menyebut dirinya orang paling tampan di desa ini. Tapi keduanya akhirnya memperkenalkan diri pada Agus.
Alan dan Jason menyetujui apa yang dikatakan laki-laki tadi. Mereka lalu menuju mobil kembali dan memberitahu Nathan dan Alvin kalau Alyssa sedang di sungai dan mereka akan melakukan rencana mereka disana. Berpura-pura syuting sebuah acara untuk bertemu dengan Alyssa tanpa sengaja. Mobil mereka mengikuti Agus yang menaiki motornya di depan menuju rumah kepala desa.
Hanya butuh waktu lima menit untuk sampai di rumah kepala desa. Alan, Jason dan Alvin turun dari mobil untuk menemui bapak kepala desa dan meminta ijin untuk melakukan syuting. Nathan menunggu ketiganya di mobil, awalnya ia ingin ikut turun tapi begitu melihat di luar ada beberapa orang ibu-ibu akhirnya ia mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin membuat kegaduhan meski pun itu akan terjadi pada akhirnya tapi paling tidak ia bisa menunda kegaduhan itu untuk sementara.
Beberapa menit kemudian Alvin, Alan dan Jason sudah keluar dari rumah kepala desa. Mereka sudah mendapatkan ijin untuk melakukan syuting dan sekarang Agus akan mengantar mereka menuju sungai. Nathan sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Alyssa. Jantungnya sudah berdetak cepat saat memikirkan jika sebentar lagi ia bisa melihat gadis yang ia cintai lagi. Mereka memarkirkan mobilnya di tempat yang tidak terlalu jauh dari sungai. Keempatnya lalu turun dari mobil dan mengikuti Agus berjalan menuju sungai.
“Jadi artisnya adalah Nathan?” kata Agus begitu melihat Nathan turun dari mobil.
Alan hanya mengangguk dan kembali sibuk dengan kameranya.
“Nathan, aku adalah penggemarmu. Bolehkah aku minta foto bareng?” tanya Agus sambil mengelurkan ponselnya dan segera berdiri di samping Nathan dan langsung memotret dirinya dan Nathan.
“Apa-apaan orang ini. Aku belum menjawab dia malah sudah main foto aja. Apa gunanya di bertanya kalau begitu” gerutu Nathan dalam hati.
Selesai dengan foto-fotonya Agus lalu menunjukkan jalan turun menuju ke arah sungai. Baru setengah jalan mereka turun, dari kejauhan Nathan sudah bisa melihat Alyssa sedang merekam seorang gadis menggunakan ponselnya.
Nathan diam terpaku di tempatnya melihat gadis yang sangat dirindukannya kini sudah ada di depan matanya. Ingin rasanya ia berlari ke arah Alyssa dan memeluknya dengan erat. Tapi perasaan rindu yang selama ini ada di hatinya masih bisa ia kendalikan agar rencananya dengan yang lain bisa berjalan degan lancar. Ia harus bisa meyakinkan Alyssa bahwa mereka memang tidak sengaja bertemu di tempat itu.
__ADS_1
“Alyssa, akhirnya aku menemukanmu!”
***