
Tante Maya sudah duduk di sofa depan TV tak sabar untuk melihat kejutan apa yang akan diberikan oleh anaknya. Ketika jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, acara yang dimaksud Nathan sudah dimulai. Tante Maya masih menyaksikan dengan biasa saja. Ia masih bertanya-tanya apa yang istimewa dari acara tersebut.
“Memangnya ada apa sih dengan acara ini? Perasaan dari tadi nggak ada yang luar biasa” keluh tante Maya.
Meski mengeluh tapi dirinya berusaha untuk menonton acara itu sampai selesai. Dan kesabarannya membuahkan hasil. Dengan mata yang berkaca-kaca ia menyaksikan anaknya melamar seorang gadis di depan banyak orang. Hal itu membuatnya merasa sangat bahagia. Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya untuk memberitahu apa yang baru saja ia tonton.
“Pa, apa kamu lihat anak kita? Dia melamar Alyssa di TV. Mama tidak menyangka ternyata dia begitu romantis, sama sepertimu”.
“Iya, aku sudah melihatnya juga sayang!”
Tidak berlangsung lama setelah acara itu tayang sekarang media gosip sudah memberitakan berita yang menghebohkan itu. Bahkan orang-orang kini sudah mendapatkan video Nathan melamar Alyssa yang diunggah oleh penduduk desa yang menyaksikan kejadian itu secara langsung. Desa tempat tinggal bi Lilis mendadak jadi viral, bahkan orang-orang menamai tempat Nathan melamar Alyssa sebagai sungai cinta. Tak sedikit dari mereka ingin pergi kesana hanya untu berfoto di tempat itu. Ya, itulah pengaruh Nathan yang sangat berdampak besar bagi desa tersebut. Berkat dirinya kini keindahan desa itu jadi banyak yang mengetahui dan banyak dari mereka ingin berkunjung kesana.
“Hei, coba kalian lihat ini!” salah seorang karyawan kantor memperlihatkan video Nathan melamar Alyssa kepada salah seorang temannya.
“Apa ini sungguhan atau hanya akting?”
“Nathan benar-benar melamar seorang gadis?”
“Kenapa hatiku merasa hancur?”
“Rupanya senyumannya tadi pagi adalah senyuman kebahagiaan”.
“Siapa gadis yang beruntung itu?”
Para karyawan kantor semakin heboh membicarakan Nathan. Setelah tadi pagi mereka dibuat tidak fokus dengan kedatangan Nathan, kini berita yang tengah viral semakin membuat mereka tidak fokus dalam bekerja. Dan itu diketahui oleh Ben yang langsung memberikan peringatan keras kepada siapa saja yang tidak mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Tapi meski pun sudah mendapat peringatan para karyawan jadi membicarakannya dengan bisik-bisik agar tak terlalu kelihatan.
“Hari pertamamu di kantor sukses membuat semua karyawan papa jadi tidak fokus bekerja!”
Nathan yang sedang sibuk dengan laptopnya mendongakkan kepalanya ketika mendengar papanya bicara padanya. Ya, Nathan saat ini sedang di ruangan papanya. Ia diberikan sebuah tugas oleh papanya untuk diselesaikan sebelum jam makan siang dan Ben dengan setia mengawasinya di samping.
“Oke kalau begitu besok aku tidak akan kesini lagi” jawab Nathan santai.
“Besok dan seterusnya kamu akan tetapi kesini! Dan usahakan penampilanmu jangan sampai menarik perhatian banyak orang!”
__ADS_1
“Bukan penampilanku yang menarik perhatian mereka pa, tapi wajahku yang tampan ini yang membuat mereka tertarik!” lagi-lagi Nathan menjawab dengan santainya sambil jarinya sibuk di atas laptop.
Om Rudi hanya bisa mendengus kesal mendegar jawaban ajaib anaknya itu. Sementara Ben terlihat sedang menahan tawanya.
Di kampung halaman Alyssa semua warga juga sangat heboh dengan apa yang baru saja mereka saksikan di TV. Gara-gara itu mendadak toko sembako orangtua Alyssa jadi ramai, bukan untuk membeli tapi untuk menanyakan kebenaran dari apa yang mereka lihat di TV. Saking ramainya yang bertanya membuat Bu Ratna akhirnya menutup toko sembakonya lebih awal dan memilih pulang ke rumah. Bu Ratna dan suaminya bukannya tidak tahu tentang hal itu. Mereka juga sudah menyaksikannya tadi dan langsung menelpon Alyssa untuk menanyakannya. Alyssa sedikit kaget ketika ibunya memberitahu apa yang baru saja ia lihat di TV tapi Alyssa akhirnya membenarkan hal itu.
“Aku nggak nyangka ternyata itu juga akan ditayangkan di TV” kata Alyssa pada Alvin yang masih sibuk dengan setir mobilnya.
“Hahaha! Selamat Sa!”
“Selamat apanya?”
“Selamat karena kamu udah sukses bikin banyak wanita iri!”
“Apaan sih Vin, nggak lucu!”
“Emang siapa yang ngelucu?”
“Malu tapi seneng kan diperlakukan istimewa sama Nathan” goda Alvin yang membuat dirinya mendapatkan pukulan di bahunya.
“Nggak usah ngeledek aku! Fokus nyetir aja!” Alyssa memalingkan wajahnya melihat pemandangan di luar dan Alvin hanya tersenyum geli melihat Alyssa yang menjadi malu.
Siang harinya Alvin dan Alyssa sudah sampai di kampung halaman mereka. Tadinya Alvin hanya akan menurunkan Alyssa di depan rumahnya dan ia langsung pulang. Tapi ketika ia melihat ada motor ibunya terparkir di depan rumah Alyssa akhirnya ia ikut masuk ke dalam.
“Bunda, kenapa bunda ada disini?” tanya Alvin.
“Bunda bunda! Sejak kapan kamu manggil ibumu ini dengan sebutan bunda?” ujar Bu Risma.
“Sejak calon menantu bunda memanggilmu dengan sebutan bunda!” jawab Alvin terkekeh lalu duduk di samping ibunya.
Alyssa yang sejak tadi sudah duduk di antara kedua orangtuanya ikut tertawa kecil mendengar jawaban Alvin.
“Sebenarnya bunda ngapain disini?” tanya Alvin karena belum mendapat jawaban.
__ADS_1
“Hush! Jangan panggil bunda lagi. Ibu kesini mau memberikan konsultasi gratis sama bu Ratna”.
“Konsultasi apa?” tanya Alyssa dan Alvin bersamaan karena merasa bingung.
“Konsultasi bagaimana caranya menghadapi orang-orang yang heboh saat tahu kalau ternyata calon mantu kita itu adalah seorang artis!”
Jawaban bu Risma membuat Alyssa dan pak Herman geleng-geleng kepala. Sementara Alvin sedikit terkejut dengan jawaban ibunya. Ia kembali teringat saat dirinya mengajak Sarah ke kampung halamannya. Semua orang pada heboh dan menyerbu rumahnya hanya untuk melihat apakah benar ada Sarah disana atau tidak.
Setelah berbincang sebentar akhirnya Alvin dan ibunya pamit pulang. Bu Ratna sebenarnya mengajak Alvin dan bu Risma untuk makan siang bersama tapi ditolak oleh Alvin karena ia ingin makan siang dengan masakan ibunya.
Di meja makan Alyssa makan dengan lahapnya karena ia sudah sangat merindukan masakan ibunya.
“Pelan-pelan makannya nak!” ucap bu Ratna.
“Masakan ibu enak, aku tambah ya bu!” kata Alyssa.
Bu Ratna tersenyum melihat tingkah anaknya itu lalu mendekatkan lauk ke arah Alyssa.
“Alyssa, apa kamu yakin dengan Nathan?”
Pertanyaan pak Herman membuat Alyssa berhenti mengunyah makanannya. Bu Ratna juga terlihat menghentikan makannya.
“Iya pak!” jawab Alyssa singkat.
“Alyssa, kamu tahu kan bapak sama ibu sangat menyayangimu dan kami tidak mau kamu salah pilih pasangan. Bapak sebenarnya tidak masalah kamu mau nikah sama siapa pun. Tapi kenapa harus Nathan? Kamu pasti sudah tahu kan banyak wanita cantik di samping Nathan dan bapak khawatir kamu akan tersakiti dengan itu nak!”
Alyssa tak menyalahkan orangtuanya yang berpikir demikian karena memang yang mereka lihat di TV Nathan selalu bersama dengan para wanita cantik.
“Pak, Alyssa sangat yakin dengan pilihan Alyssa. Meski pun Nathan dikelilingi wanita cantik tapi Alyssa tahu dia cuma sayang sama Alyssa. Dia sudah membuktikannya pak!”
Pak Herman menghela nafas panjang mendengar jawaban putrinya. Sebenarnya pak Herman bukannya tidak menyukai Nathan, ia sangat menyukai Nathan terlebih karena sikap sopannya saat dulu berkunjung ke rumah mereka. Tapi ia juga tak mau jika anaknya akan merasa sakit hati terus jika melihat Nathan berakting dengan wanita-wanita cantik walau pun itu hanya sebuah pekerjaan. Akhirnya pak Herman tidak berkata apa-apa lagi karena Alyssa sudah sangat yakin dengan pilihannya.
***
__ADS_1