
Nathan terbangun keesokan harinya dengan perasaan yang masih tak menentu. Pikiran tentang keberadaan Alyssa tak bisa membuatnya tidur nyenyak seperti sebelum-sebelumnya. Hari ini Alvin sudah menyiapkan makanan di meja makan, kegiatan yang biasanya dilakukan oleh Alyssa. Dengan malas Nathan menuju ruang makan.
“Kamu yang memasaknya?” tanya Nathan tak berselera dengan makanan yang sudah ada di depannya.
“Bukan! Aku tahu kamu tidak akan memakan masakanku. Ini semua titipan mamamu! Tadi pagi dia menyuruhku mengambilnya di rumahmu!”
“Oh ya Vin, tolong jangan terima tawaran pekerjaan apa pun buatku!”
“Kenapa?” Alvin bertanya dengan bingung lalu ikut duduk untuk sarapan bersama Nathan.
“Papa memintaku untuk mulai belajar tentang bisnis. Dan aku terpaksa melakukannya agar aku bisa menemukan Alyssa”.
“Bagus lah kalau begitu! Setidaknya kamu akan melakukan hal yang paling tidak kamu suka untuk sedikit berkorban demi Alyssa!” ucap Alvin.
Nathan hanya diam saja tidak membalas lagi perkataan Alvin. Karena apa yang dikatakan Alvin memang benar. Meski pun apa yang dilakukannya kali ini tidak sebanding dengan sakit yang dirasakan oleh Alyssa tapi setidaknya ia harus berjuang untuk mendapatkan Alyssa kembali.
“Nih, buatmu!” Alvin menyerahkan ponsel baru untuk Nathan. “Jangan lupa, kamu harus mengganti uangku!” lanjutnya kemudian setelah Nathan mengambil ponsel barunya.
“Dasar pelit!”
“Bukannya pelit bro, tapi kamu kan kaya!” balas Alvin. “Oya, Rangga menghubungiku. Dia bilang mau bertemu denganmu. Sepertinya dia ingin membalas perbuatan Nadia”.
“Kalau begitu suruh dia kemari sekarang!”
Belum sempat Alvin menghubungi Rangga terdengar bel pintu berbunyi. Nathan yang sedang menikmati sarapannya mulai memperlihatkan raut wajah cemberut.
“Itu pasti orang suruhan papa yang mau mengajariku tentang bisnis” gumamnya.
Alvin berjalan cepat untuk membuka pintu. Dan ternyata benar seperti yang dikatakan Nathan. Ben, orang kepercayaan papanya datang untuk mengajarinya mengelola perusahaan. Berpakaian formal Ben sudah duduk di ruang tengah dan mulai mengeluarkan laptop dan beberapa buku yang sangat tebal. Alvin tersenyum jahil melihatnya, sepertinya akan sangat menyenangkan melihat Nathan bertempur dengan buku-buku tebal itu.
“Nat, cepetan makannya! Orang suruhan papamu sudah mengeluarkan peralatan tempurnya!” ucap Alvin sambil terkikik.
“Sepertinya kamu senang melihatku melakukan sesuatu yang tidak aku suka” Nathan menatap Alvin curiga.
__ADS_1
“Ya iya lah bro! Itu hukuman karena kamu udah nyakitin Alyssa!”
Di mulai hari ini Nathan akan mulai belajar tentang bisnis bersama dengan Ben. Ben adalah orang kepercayaan Rudi Aditama. Meski pun usianya baru menginjak tiga puluh tahun tapi kemampuannya tidak perlu diragukan lagi. Itulah yang membuatnya mendapatkan tugas khusus untuk mengajarkan Nathan bagaimana caranya mengelola perusahaan dan bisnis.
Nathan yang sejak awal memang tidak tertarik dengan semua ini terlihat sedikit stres dengan pelajaran yang diberikan oleh Ben. Beberapa kali ia terlihat mengusap rambutnya kasar karena sulit sekali baginya untuk memasukkan semua yang telah dipelajarinya ke dalam otak. Sementara Alvin tengah menikmati cemilannya sambil melihat Nathan yang kesulitan belajar.
”Ben, kamu kan orang kepercayaan papaku, bahkan bisa dibilang kamu itu orang nomor dua di perusahaan. Apa boleh aku juga merekrut orang untuk aku jadikan orang kepercayaan sepertimu?” Nathan bertanya pada Ben di sela-sela pelajaran mereka.
“Boleh, jika kamu sudah mulai bekerja di perusahaan papamu!” jawab Ben tanpa melihat ke arah Nathan karena sibuk memeriksa hasil tes yang diberikan untuk Nathan.
“Kalau menunggu aku bekerja disana pasti akan lama sekali. Aku maunya merekrut orang sekarang. Karena dia juga harus belajar sepertiku kan?”
Ben sudah selesai memeriksa hasil tes Nathan.
“Ini, dari sepuluh soal hanya benar satu!”
Nathan tidak mempedulikannya. Ia mengabaikan hasil tes yang diberikan oleh Ben tadi.
Ben tampak berpikir sejenak. “Baiklah! Memangnya siapa orangnya?”
“Dia!” dengan mantap Nathan menunjuk Alvin. Nathan tahu sedari tadi Alvin terus mentertawakannya dan kali ini ia ingin balas dendam pada Alvin.
“Hei, kenapa aku? Aku ini manajermu!” protes Alvin yang langsung bangun dari duduknya dan menghampiri Nathan.
“Kalau aku sudah kerja di perusahaan papa maka aku sudah tidak butuh manajer lagi, yang aku butuhkan adalah orang seperti Ben. Dan kamu sangat cocok menjadi orang kepercayaanku!” jawab Nathan tanpa merasa bersalah.
“Tapi aku tidak mau jadi orang kepercayaanmu!”
“Vin, aku sudah mengenalmu lama dan aku tahu bagaimana kamu. Aku tidak mungkin menjadikan orang lain sebagai orang kepercayaanku. Cuma kamu yang aku percaya, aku nggak bisa jauh dari kamu Vin!” ujar Nathan sambil memperlihatkan wajah polos seperti anak kecil.
“Hiii.. aku jadi merinding mendengar kata-katamu!”
“Baiklah, mulai besok anda bisa ikut belajar bersama dengan tuan Nathan” kata Ben sambil memasukkan kembali buku dan laptopnya ke dalam tas. “Hari ini sampai disini dulu, saya harus kembali bekerja dan saya harap nilai anda besok lebih baik lagi tuan Nathan”.
__ADS_1
“Eh, iya! Kalau begitu sampai ketemu besok Ben!”
Setelah Ben pamit dari apartemen, Alvin langsung meminta penjelasan pada Nathan.
“Kamu itu kenapa nggak nyari orang lain aja sih?” ucap Alvin kesal.
“Ngapain aku ngajak orang lain susah, mending ngajak kamu aja! Kita kan harus susah senang bareng-bareng Vin!”
Alvin hanya bisa mengumpat dalam hatinya pada Nathan. Sebenarnya ia sama sekali tidak tertarik bekerja di perusahaan karena pasti akan membuatnya stres. Tapi demi memberikan semangat untuk Nathan, ia akan melakukannya. Lagi pula apa yang dilakukan Nathan sekarang juga untuk bisa bertemu dengan Alyssa. Ya, semuanya demi Alyssa! Alvin akan mendukung apa pun yang Nathan lakukan untuk menebus kesalahannya pada Alyssa.
Sore harinya Rangga sudah datang ke apartemen Nathan. Sebelumnya ia sudah menghubungi Alvin kalau dirinya akan datang ke apartemen untuk membahas tentang rencananya membuat Nadia mengakui semua perbuatan jahatnya pada Alyssa.
“Apa rencanamu?” tanya Nathan.
“Membuat Nadia mengakui semuanya padamu tanpa melibatkan Rere!” jawab Rangga.
“Tanpa melibatkan Rere? Tapi dia juga ikut terlibat dalam masalah ini!” balas Nathan sengit.
“Aku tahu dia dan adiknya terlibat dalam masalah ini. Tapi mereka juga melakukan ini dengan terpaksa karena Nadia sudah mengancam mereka. Kasihani lah mereka sedikit Nat! Lagian aku sudah menanyakan langsung pada Lucas dan dia tidak melakukan apa pun pada Alyssa!”
“Tapi dia sudah melihat tubuh Alyssa! Tunggu dulu, apa kamu juga melihatnya? Kamu kan ada disana juga!”
“Sedikit!” jawab Rangga dengan senyum jahilnya karena ia sangat suka melihat Nathan cemburu.
“Sini, aku perlu menghajarmu!” Nathan hendak menghampiri Rangga untuk menghajarnya sebelum ia ditarik duduk lagi oleh Alvin.
“Duduk! Jangan dengarkan dia! Dia itu senang melihatmu cemburu!” kata Alvin. “Sekarang katakan bagaimana rencanamu?” lanjut Alvin.
Rangga akhirnya mengatakan rencananya dengan sangat detail. Alvin dan Nathan terlihat sangat serius mendengarkan rencana yang diberikan oleh Rangga itu. Mereka sepakat untuk melakukan rencananya malam nanti karena semakin cepat akan lebih baik.
“Aku harap kamu bisa menahan emosimu nanti malam pada Rere. Ingat, jangan sampai membuat Rere kehilangan pekerjaannya!” ucap Rangga sebelum meninggalkan apartemen Nathan.
***
__ADS_1